• LAINYA

FILSAFAT-POLITIK–Islam kerap diklaim identik sebagai agama rahmatan lil alamin, agama rahmat dan penebar kasih sayang bukan hanya bagi umatnya sendiri, tetapi juga bahkan bagi semua manusia dan dunia, makhluk hidup atau benda mati. Identitas ini juga dikuatkan dengan ayat-ayat yang menerangkan status nabi Islam, Muhammad SAW, sebagai rahmat universal:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Kami tidak mengutusmu kecuali hanya sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107).

Selain doktrin “Takdir Tuhan”, ajaran Rahmatan lil Alamin sudah jadi narasi dan konsumsi umum. Sudah sejak lama khalifah dalam sejarah kekuasaan Islam melegitimasi perilaku kekuasaannya dengan doktrin takdir Tuhan. Khalifah Yazid putra Mu’awiyah, misalnya, menggunakan doktrin ini untuk meredam protes warga Damaskus dalam melegitimasi aksi pembunuhannya atas cucu Nabi, Husain bin Ali, di peristiwa yang terkenal dengan Karbala.

Kini, doktrin itu masih diresonansikan dan didukung dengan narasi Rahmatan lil Alamin. Tidak ada yang salah dengan dua ajaran ini. Seperti fungsi baik dan buruknya pisau, ajaran-ajaran agama secara umum juga bisa baik bila berada hanya di hati yang bersih dan pikiran yang jernih. Niat kotor atau kesalahanpahaman atas suatu doktrin agama hanya akan membuat wajah agama itu sendiri jadi buruk.

Dahulu, masyarakat beragama dibuat diam dan pasrah menerima nasib dijajah dan diperbudak dengan teologi “Takdir Tuhan”. Tidak sepenuhnya keliru bila Karl Marx menyebut agama sebagai candu masyarakat, yakni agama yang disalahpahami atau disalahgunakan untuk melumpuhkan kesadaran masyarakat dari kemauan untuk jadi diri sendiri, jadi tuan bagi bangsa sendiri, di atas tanah airnya sendiri.

Membiarkan diri dijajah dan diperbudak adalah haram; tidak diinginkan Tuhan juga dibenci oleh setiap orang. Kodrat dan takdir hakiki manusia dia ialah seperti yang dikatakan Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab, “Setiap orang [ditakdirkan] lahir dari rahim ibunya dalam keadaan merdeka.”

Penjajahan dan perbudakan adalah kejahatan luar biasa besar karena menghancurkan kodrat dan takdir manusia. Dalam tradisi agama, kejahatan ini disebut sebagai dosa. Disebut dosa karena penghinaan dan perlawanan terhadap Tuhan sebagai Realitas Tertinggi Paling Tahu, Paling Berkuasa dan Paling Bijaksana.

KALAU MEMANG SUDAH TIDAK LAGI PERCAYA AKHIRAT, JADILAH MANUSIA MERDEKA DI DUNIA–Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib

Penjajahan dan pembudakan itu tidak kalah jahat dan iblisnya dengan manusia-manusia yang membujuk bangsanya sendiri untuk mendapatkan kewenangan memegang kendali kekuasaan sesaat lantas mereka gunakan, secara langsung atau tidak, memperbudak bangsa sendiri dengan memprioritaskan peluang dan kepentingan diri sendiri, golongan sendiri dan relasi politik serta bisnis sendiri di atas kepentingan dan kebutuhan bangsa sendiri.

Baca Juga :  Masuk Islam karena Alquran (4): Edoardo Agnelli, Putra Mahkota Bisnis Raksasa Italia

Namun, perlu juga dicatat bahwa penjajahan, pembudakan dan penumbalan bangsa sendiri jadi korban pembudakan hanya dan hanya akan terjadi bila bangsa itu sendiri masabodoh terhadap nasib dan masa depannya sendiri sehingga tidak sadar atau malah rela dan merasa enak-enak saja bisa makan-minum padahal dirinya sedang diperbudak dan dimanfaatkan.

Bagi umat Islam yang diajari Tuhannya dengan kepercayaan pada dirinya sendiri sebagai makhluk terbaik (QS. Al-Tin [95]: 4), produk kreativitas paling ideal serta wakil tunggal Tuhan di alam semesta (QS. Al-Baqarah [2]: 30), penjajahan dan perusakan takdir manusia lebih dari sekedar dosa luar biasa.

Dalam penjajahan, ada sekian pelanggaran substansial atas sekian nilai-nilai azasi keadilan manusia. Penjajahan adalah pemaksaaan mengubah posisi manusia yang asalnya sama tinggi jadi beda martabat, pemaksaan mengubah manusia jadi makhluk yang kehilangan kehendak dan cita-cita, memaksakan manusia jadi bukan lagi manusia.

Tegasnya, di tangan penjajah dan kroni penjajahan, manusia yang paling dibanggakan dan dimuliakan Allah justru diperlakukan lebih hina dari binatang dan sampah. Dengan cara begitu, penjajah asing dan kroni penjajah di dalam negeri sesungguhnya sudah mengklaim dirinya jadi Tuhan, bahkan di atas Tuhan, “Aku Tuhanmu yang paling tinggi.”

Sama jahatnya dengan penjajah adalah bangsa terjajah itu sendiri yang membiarkan dirinya dan bangsanya dijadikan jajahan. Diam tanpa reaksi, malas mengubah nasib, masabodoh dengan keadaan, apalagi bangga pernah dijajah dan bekerja sama dengan penjajah sama nilainya di hadapan keadilan: sama-sama penista kemanusiaan. Semua pelanggaran nilai-nilai fundamental keadilan juga diterjang oleh pihak terjajah.

DALAM RUMUSAN MATEMATIKANYA, PENJAJAHAN FISIK ATAUPUN MENTAL MERUPAKAN HASIL KERJASAMA DARI JIWA SERAKAH PENJAJAH DAN JIWA KERDIL TERJAJAH.

Mengajarkan teologi takdir dan pasrah menerima takdir adalah cara lain dari pendukung penjajahan. Atas nama agama dan ayat suci Tuhan, penjajah diuntungkan dengan teologi takdir seperti ini dari bangsa terjajah.

Baca Juga :  Sejarah Negeri Palestina dan Israel dalam Alquran

“Apa yang terjadi itulah yang terbaik” dan “siapa pun yang berkuasa itulah yang terbaik” menyimpan semangat teologis yang sama-sama menghinakan kemanusiaan, kalau bukan justru melawan kodrat pertama manusia: ingin yang terbaik. Dalam Islam, yang terbaik itu bukan di awal, bukan sekarang, bukan juga kemarin, tetapi di depan dan di akhir, “Dan hari akhir itu yang terbaik dan paling kekal.”

Yang tampak seolah-olah bijak, sekarang ini, pembelaan atas penjajahanseperti Israel atas bangsa Palestina ditampilkan atas nama suci kemerdekaan dan kemanusiaan. Mengakui hak penjajah sekaligus membela hak terjajah bukanlah absurd. Ini lantas disebut-sebut semangat perdamaian universal kemanusiaan dan, tentu saja, pelantun lagi perdamaian ini jadi pahlawan dan pembawa pesan teologis rahmatan lil alamin, rahmat Allah untuk dunia.

Konsititusi Negara Republik Indonesia dibuka dengan penolakan segala bentuk penjajahan sebagai sumpah dan tekad mulia menghapuskan segala bentuk penjajahan di muka bumi. Di dalamnya ada kesadaran paling dasar sekaligus jelas bahwa penjajahan tidak akan, sekali lagi, tidak akan bertemu dengan kemerdekaan dan keadilan. Kedamaian yang dipidatokan bukan fundamental karena kehilangan pijakan keadilan.

Rahmatan lil alamin seperti ini di awal saja sudah jadi hadiah bagi penjajah. Jika teologi ini diulang-ulang, sebanyak ulangan itu pula hadiah dikhususkan untuk penjajah sekaligus memperpuruk semangat terjajah merebut kembali hak sepenuhnya.

JANGAN PERNAH JADI BUDAK ORANG LAIN, KARENA ALLAH TELAH MENJADIKANMU MERDEKASayyidina Ali bin Abi Thalib

Penjajahan dan kemerdekaan itu kontradiktif; dari sisi dan hubungannya dengan apa saja tidak akan bertemu. Pengakuan atas penjajahan sama artinya peniadaan hak kemerdekaan, demikian pengakuan atas kemerdekaan identik dengan peniadaan penjajahan.

Sebagai hak, kemerdekaan bisa saja dibagi oleh pemiliknya sendiri, tetapi menjadi tidak sah proposal apa pun diajukan oleh selain pemiliknya yang mengkompromikan kemerdekaan orang lain.

Baca Juga :  Muslim yang Aneh, Ada Solusi masih saja Pesimis dan Menyerah

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ
“Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang zalim, maka kamu pasti disentuh neraka, dan kamu tidak memiliki seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan mendapatkan kemenangan” (QS. Hud [11]: 113).

Alih-alih membuat rancangan perdamaian dalam kerangka teologi, entah berupa takdir mental keterjajahan atau teologi rahmatan lil alamin, penjajahan dilawan oleh perjuangan kemerdekaan dengan nilai-nilai kemanusiaan ilahi seperti: keadilan, opitimisme, tanpa putus asa, sabar, tawakal, bersatu, solid, percaya diri dan percaya pada janji Yang Mahakuasa.

Dalam nilai-nilai ini sudah tentu ada teologi Rahmatan lil Alamin. Dalam teologi takdir pun manusia sudah ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana dengan ketentuan takdir, yaitu setiap orang hidup dengan kehendak bebas dan merdeka. Nilai takdir hidup masing-masing berbeda sesuai tujuan hidup yang menjadi arah gerak dan perubahan kehendak, kebebasan serta kemerdekaan.

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa pun pada suatu bangsa sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”(QS. Al-Ra’d [13]: 11).

Pejabat korup hanya akan berkuasa di tengah orang-orang bodoh. Masyarakat yang sadar dan cerdas tidak akan memberi ruang napas bagi koruptor. Kesadaran akan tetap lebih kuat dan unggul di atas keculasan dan kemunafikan.

Seperti kata Ibnu Rusyd, jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah keburukan dengan kemasan agama. Karena itu, di negara yang dibangun di atas nilai-nilai keagamaan dan keberagamaan, pendidikan agama mutlak dibina, dikokohkan dan ditingkatkan.

Pengabaian dan pengurangan fokus atas kualitas pemahaman dan perasaan keagamaan bangsa akan berdampak pada pembodohan keberagamaan sehingga membuka peluang pertumbuhan dan perkembangan pembodohan bangsa, pengkerdilan bangsa, pembudakan bangsa sendiri melalui penyalagunaan doktrin-doktrin agama mereka itu sendiri.

Share Page

Close