• LAINYA

Setidaknya, dapat dipastikan bahwa ada pengetahuan yang kebenarannya bergantung pada individu. Masing-masing kita, misalnya, sangat mungkin mengetahui enak-tidaknya rasa suatu makanan berdasarkan selera pribadi.

Perbedaan selera tiap orang adalah fakta. Boleh jadi makanan tertentu itu enak bagi seseorang sekaligus tidak enak bagi orang lain.

Demikian pula hal-hal konvensional atau kesepakatan, seperti undang-undang dan hukum hukum positif, adalah relatif, yakni bergantung kebenarannya pada kesepakatan sekelompok orang dalam mengesahkan hukum-hukum tersebut. peraturan berkendara dan lalu lintas termasuk dari hal-hal kesepakatan dan, karena itu pula, peraturan tersebut berbeda-beda di banyak negara. Misalnya, di negara kita, Indonesia, kendaraan harus bergerak di sebelah kiri jalan, sementara di Negeri Jiran, Malaysia, harus bergerak di sebelah kanan jalan.

Demikian pula, boleh jadi kebenaran sebagian pengetahuan bergantung pada kondisi objektif tertentu. Sebagai contoh, sebagian pengetahuan adalah benar hanya dalam kondisi temporal (waktu) tertentu, tidak dalam setiap waktu dan sepanjang masa. Misalnya, jika benar bahwa hari ini adalah hari Jumat, maka pernyataan ini tidak benar di esok harinya.

Ada juga pengetahuan yang hanya benar dalam relasinya dengan tempat tertentu, bukan dengan semua tempat. Contohnya, padi akan tumbuh baik di lahan (tempat) basah.

Selain ruang dan waktu, adakalanya juga perlu diperhatikan kondisi objektif lainnya sehingga ada pengetahuan yang benar dan valid hanya dalam kaitannya dengan kondisi tersebut. Misalnya, air mendidih di suhu 100° CC dalam kondisi: air tersebut murni dan berada dalam tekanan satu atmosfer.

Sekali lagi, tidak dapat diragukan bahwa ada sebagian pengetahuan yang kebenarannya bergantung pada individu, suatu masyarakat, atau kondisi objektif tertentu, sehingga ia tidak valid bagi orang lain, masyarakat lain, atau dalam kondisi berbeda. Pengetahuan seperti ini disebut sebagai pengetahuan relatif atau kebenaran relatif.

Baca Juga :  QS. Al-Ra'd [13]: 1; Semua Pemahaman itu Relatif? Allah saja Men-Share Kebenaran-Nya (1)

Sebaliknya, jika suatu pengetahuan yang kebenarannya selalu valid dan tanpa pengecualian, maka ia adalah pengetahuan absolut.

Relativisme percaya bahwa tidak ada satupun pengetahuan manusia yang bisa disebut absolut. Dengan kata lain, semua pengetahuan kita hanyalah valid sejauh dalam kaitanya dengan seseorang, atau masyarakat tertentu, atau dalam relasinya dengan kondisi objektif tertentu, seperti ruang dan waktu tertentu; ia tidak valid bagi semua orang dan bagi semua masyarakat dalam kondisi apa pun. Maka, tidak ada pengetahuan absolut.

Sebagian penganut relativis berupaya membuktikan klaim tadi dengan “fakta” perubahan realitas. Dalam rumusan rgumen mereka, karena tidak ada sesuatu apa pun di alam realitas ini yang tetap dan tak berubah, maka semua pengetahuan dan kebenarannya juga berubah-ubah serta temporal.

Namun, klaim ini sendiri, yakni segala sesuatu di alam realitas ini berubah,
perlu dibuktikan dan, sejauh ini, tidak ada bukti yang valid.

Bahkan klaim ini tampak sekali self-contradiction, melawan diri sendiri atau senjata makan tuan, karena klaim ini dinyatakan sebagai hukum yang “tetap”, mutlak dan tidak berubah di alam realitas. Artinya, tidak benar bahwa segala sesuatu di alam realitas ini berubah dan tidak tetap, karena ada sesuatu di dalamnya yang tetap dan tidak berubah, yaitu klaim yang bersifat tetap dan absolut tersebut, dan pengetahuan akan klaim tersebut juga universal dan permanen.

Di samping itu, dapat dipastikan ada sebagian realitas yang tidak mengalami perubahan, bahkan ada banyak hukum yang tetap, absolut, universal dan permanen, seperti hukum-hukum matematika dan hukum-hukum atau kaidah-kaidah penyimpulan logis yang valid bagi semua orang, dalam kondisi apa pun, di setiap tempat dan sepanjang masa. Misalnya, 2 + 2 = 4. proposisi ini tidak hanya berlaku bagi orang Iran dan di Iran, tetapi tetap valid di masa sekarang dan akan selalu demikian di semua tempat bagi siapa pun dan kalangan manapun.

Baca Juga :  Visi Keperadaban Filsafat Muhammad Iqbal (2): Alquran Roh Agenda Perubahan

Tidak sedikit dari kaum relativis yang berupaya membuktikan klaim mereka dengan mengandalkan subjektivisme. Bertolak dari klaim bahwa semua pengetahuan manusia itu bergantung kebenarannya pada kondisi kondisi mental dan modus subjek mengetahui sesuatu, mereka menarik kesimpulan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya, dan tidak valid bila bebas dari kondisi kondisi mental dan kognitif subjek penahu.

Dengan kata lain, semua pengetahuan manusia tidak valid dalam kaitannya dengan semua orang dan dengan fakta objektif.

jenis relativisme ini pada dasarnya berujung pada arus skeptisisme, karena kalangan relativis secara logis tidak dapat menyatakan pendapat, penilaian dan kesimpulan apa pun tentang realitas objektif tanpa memperhatikan modus dan proses pikiran kita mengetahui objek. Jadi relativisme jenis ini ragu terhadap kesesuaian setiap pengetahuan dengan fakta, dan ini tidak lain adalah pendirian skeptisisme.Bersambung

Share Page

Close