• LAINYA

LOGIKA–Pola-pola argumentasi dan seni penalaran dalam Alquran merupakan salah satu isu yang sangat penting dalam studi qurani. Salah satu karya menonjol dalam bidang ini adalah Al-Qisthas Al-Mustaqim, karya Imam Ghazali (450-505 H).

Topik ini kembali disorot secara serius belakangan ini, di antaranya, oleh sarjana studi keislaman Amerika Serikat, Rosalind Ward Gwynne, yang aktif mengajar di Department of Religious Studies, University of Tennessee, USA. Hasil penelitiannya tertuang dalam Logic, Rhetoric and Legal Reasoning in the Qur’an: God’s Arguments (Routledge, Year: 2004)

Bila Imam Ghazali melakukan upaya yang cukup ekstensif untuk mengidentifikasi berbagai pola penalaran hingga brhasil menghimpun lima mizan (silogisme) dari Alquran, Gwynne percaya bahwa Alquran sesungguhnya menerapkan lebih dari 30 pola argumentasi, entah secara secara eksplisit maupun implisit, baik berupa teknik maupun demonstrasi logis.

Joseph Lawry (2008) menilai upaya Gwynne dalam karya ini sangat kreatif hingga ia menganjurkan agar sarjana dan masyarakat umum memaksimalkan karya ini dalam upaya menganalisis kandungan  Alquran serta seni-seni keindahan bahasanya.

Sejauh pembacaannya, Lawry percaya bahwa Alquran mengimplementasikan berbagai pola dan tehnik argumentasi yang begitu kuat dan kokoh sehingga karya Gwynne berhasil menampilkan aspek-aspek penting dari kekuatan argumentasi dan penalaran Alquran.

Pada umumnya, umat Islam, terutama kalangan ulama, selalu menggunakan ayat-ayat Alquran untuk mendukung pendapat masing-masing tentang akidah, hukum, moral, sosial, politik, atau kehidupan manusia dan alam semesta secara umum. Tetapi, hampir tidak ada perhatian yang memadai bagaimana Alquran memahamkan dan meyakinkan ajarannya sendiri sebagai keterangan-keterangan Tuhan untuk manusia yang berpijak di atas argumentasi yang logis dan masuk akal.

Umat Islam, terutama kalangan ulama, selalu menggunakan ayat-ayat Alquran untuk mendukung pendapat masing-masing tentang akidah, hukum, moral, sosial, politik, atau kehidupan manusia dan alam semesta secara umum. Tetapi, hampir tidak ada perhatian yang memadai bagaimana Alquran memahamkan dan meyakinkan ajarannya sendiri sebagai keterangan-keterangan Tuhan untuk manusia yang berpijak di atas argumentasi yang logis dan masuk akal.

Baca Juga :  Balada Cinta Istri Kepala Keamanan Raja dan Ajudan Tampan dalam Alquran (1): Kekerasan Perempuan terhadap Lelaki

Seperti masalah-masalah mengenai esensi Tuhan, atribut-atribut-Nya, tindakan dan alasan-alasan tindakan-Nya, mengenai bagaimana manusia seharusnya berpikir jernih tentang hidup dan nasibnya, sejarah masa lampau dan masa depan, umat Islam serta ulama telah berusaha menginternalisasi pola-pola penalaran Alquran agar dapat dimengerti betapa kitab suci ini memikat naluri, akal sehat dan intelekualitas.

Dalam Logic, Rhetoric and Legal Reasoning in the Qur’an: God’s Arguments (Routledge, Year: 2004), Rosalind Ward Gwynne mengiventarisasi pola-pola penalaran dan argumentasi Alquran sekaligus  sejarah intelektualitas Islam dan muslimin. Penelitian atas argumenasi Alquran berdasarkan bentuk dan pola, bukan isi dan materi, membantu pembaca untuk menemukan pentingnya ayat-ayat yang kerap terabaikan oleh ulama bahkan dalam tafsir mereka juga oleh orang beriman yang berfokus pada hukum-hukum dan pengaturan hidup.

Kontribusi ilmiah Gwynne dalam buku ini memungkinkan sarjana tafsir, kalam, filsafat, dan hukum Islam untuk memperkaya temuan mereka dengan cara lain dengan kapasitas intelektual teks suci yang diyakini umat Islam sebagai kalam dan firman Tuhan.

unduh di sini: Rosalind Ward Gwynne: Logic, Rhetoric and Legal Reasoning in the Qur’an: God’s Arguments (2004) 

Share Page

Close