• LAINYA

Shadr Al-Muta’allihin Al-Syirazi–Sekali lagi kami memohon perlindungan kepada Allah dari mereka, seperti juga kami berlindung kepada Allah dari setan terkutuk dan agar kami, dengan cahaya fitrah, dapat melenyapkan bekas-bekas mereka dari hati yang bersih untuk, selanjutnya, kami menyelami pengetahuan Alquran yang mulia dan peringatan yang bijak (al-dzikr al-hakim) dengan membaca kalimat sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT:

أَعُوذُ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ

Aku berlindung dengan Allah dari setan yang terajam.”

[Isti’adzah]

Dalam al-Mafatih,[1] telah dilakukan penelitian tentang esensi setan, balatentaranya, pengaruh-pengaruhnya, juga tentang esensi malaikat, para pengikutnya dan cahaya-cahayanya. Semenara yang akan kami kemukakan di sini sekarang adalah menafsirkan kalimat di atas tadi, mengurai kosakata-kosakatanya dan menjelaskan kandungan makna aklani (al-ma‘ani al-‘aqliyyah)-nya. Maka, pembahasan seputar kalimat itu berkaitan dengan (a) terjemah kosakata-kosakatanya atau dengan (b) makna-makna aklaninya.

[Analisis Kebahasaan]

Ketahuilah bahwa a‘ūdzu (aku berlindung) berasal dari kata dasar al-‘awdz yang mengandung dua makna: pertama, berlindung dan meminta perlindungan; kedua, melekat. Misalnya, athyabu al-lahm a‘wadzuhu, yakni daging yang paling enak adalah yang paling lekat; maksudnya, bagian daging yang paling lekat dengan tulang.

Berdasarkan makna pertama, kalimat a‘udzu bi-Allah yaitu “aku berlindung kepada kasih-Nya dan perlindungan-Nya”. Dan berdasarkan makna kedua, kalimat tadi berarti “aku lekatkan diriku pada kemurahan Allah dan kasih-Nya”.

Adapun mengenai kata al-syaythan (setan), ada dua pendapat: pertama, ia bermakna jauh. Orang Arab mengatakan, sathana daruka, yakni rumah kamu jauh. Sudah barang tentu, siapa saja yang menyimpang, entah ia dari bangsa jin, atau manusia ataupun binatang, disebut sebagai setan, karena ia telah menjauh dari petunjuk dan kebenaran.

Baca Juga :  QS. Al-Furqan [25]: ayat 33; Sampaikan Kebenaran dan Dengan Cara Efektif

Dalam sebuah cerita, ada raja menunggangi seekor kuda barang. Kuda itu pun mulai meronta-ronta. Raja lantas memecutnya. Alih-alih berkurang, setiap pecutannya justru membuat kuda semakin meronta. Dengan nada kesal, raja mengatakan kepada jajaran ajudannya, “Kalian tidak membuatku jadi penunggang kecuali di atas syaythan.”

Pendapat kedua, syaythan berasal dari kata dasar syātha – yasyīthu, yakni sia-sia. Maka, setiap manusia yang memberontak disebut sebagai setan, tak ubahnya dengan sesuatu yang, pada dirinya sendiri, rusak karena kenyataannya telah merusak kebaikan diri sendiri.

Adapun kata al-rajīm berarti al-marjūm (yang terajam). Ia berbentuk subjek, namun bermakna objek. Dalam menceritakan ayah Ibrahim a.s., Allah berfirman, “Jika kamu tidak berhenti, aku sungguh akan merajammu” (QS. [19]: 46). Menurut suatu pendapat, merajam di sini yakni dengan perkataan. Demikian pula tentang umat Nuh a.s., Allah menceritakan perkataan mereka, “Jika kamu tidak berhenti, hai Nuh, sungguh kamu termasuk orang-orang yang dirajam” (QS. 26: 116). Demikian pula di surat Yasin, “Jika kalian benar-benar tidak berhenti, sungguh kami akan merajam kalian” (QS. 36: 18).

Aspek kedua, setan dinyatakan keberadaanya sebagai makhluk yang terajam karena Dia Yang Mahatinggi telah memerintahkan para malaikat agar melempari setan-setan dengan bintang-bintang berapi sebagai cara mengusir mereka dari alam lelangit. Kemudian setiap orang jahat dan bejat lantas disebut setan.Bersambung

Share Page

Close