• LAINYA

FILSAFAT-SEJARAH–Biasanya filsafat diidentikkan dengan Barat karena, di antaranya, berasal dari Yunani dengan tokoh utamanya, Sokrates. Filsafat Barat punya catatan dan rekam jejak sejarah yang panjang antara jatuh dan bangun di tengah kreativitas atau juga mungkin keliaran lahirnya begitu banyak aliran yang bertentangan satu dengan yang lain. Eksistensialisme, misalnya, satu arus yang di dalamnya menghimpun filosof dari yang teis hingga ateis.

Pada hemat Alfred North Whitehead (1861-1947), filosof sekaligus matematikawan abad 20, hanya ada tiga pemikiran filsafat yang benar-benar sistemik: Sokrates-Platon, Hegel dan Immanuel Kant asal Jerman (1724–1804). Nama terakhir ini sudah pasti salah satu filosof terbesar sepanjang sejarah pemikiran Barat. Pengaruhnya masih kental tercecer di berbagai bidang ilmu, sampai sekarang.

Terobosan Kant dalam filsafat seperti Copernicus dalam astronomi, menjungkirbalikkan tatanan pengetahuan yang asalnya objek-subjek jadi subjek-objek, yang asalnya fokus pada objek jadi terpusat pada subjek. Dia menuangkan revolusi copernicusiannya, di antaranya, dalam adikarya, Critique of Pure Reason.

HAKIKAT MANUSIA MENGENDAP DALAM BASMALAH, DAN KALIMAT SUCI INI JUGA DESKRIPSI SEUTUHNYA TENTANG MANUSIA.

Karya yang 33 tahun mendahului magnum opus Kant tadi adalah Principiorum Primorum Cognitionis Metaphysicae Nova Dilucidatio, sebuah disertasi doktoralnya tertanggal 17 April 1755.

Di naskah disertasi itu, ada yang membuat pembaca di Barat juga di Timur bertanya-tanya. Tepatnya di bagian paling atas halaman judul karya penelitian tingkat tinggi ini, ada kata-kata Arab “Bismillah al-rahman al-rahim” (Dengan nama Allah Yang Mahakasih Maha Pengasih).

Diakui oleh Roy Jackson (2014), “Ungkapan pendek dan puitis ini dianggap kandungan esensial Alquran (kitab suci Islam) dan sering dikutip pada doa sehari-hari dan pada konteks lainnya oleh umat Islam.”

 

BISMILLAH DAN DISERTASI

Pertanyaan umumnya kita, mengapa kalimat kunci Alquran ini muncul di bagian muka disertasi doktoral Kant? Ini masih misterius, membingungkan, dan kita mungkin tidak akan pernah tahu jawabannya, karena memang tidak ada penjelasan di dalam ataupun di luar disertasi, bahkan tentang Islam itu sendiri.

Yang pasti, kalimat Basmalah muncul di sana tidak begitu saja. Tentu ada sebab dan alasan. Tapi, apakah sesungguhnya itu dari Kant sendiri atau memang ada tangan lain yang membubuhkan kalimat suci itu di halaman muka disertasinya?

Masih di buku yang sama, Roy Jackson menyangsikan kuat kalimat Bismillah itu dibuat oleh tangan Kant sendiri. Tidak ada keterangan kapan basmalah itu mulai menempel di naskah asli disertasi Kant.

Baca Juga :  Memaafkan: Karakter Tangguh, Kepribadian Mulia dan Jiwa Merdeka tanpa-Dendam

Pada tahun 1755 itu, ada 3 publikasi yang diluncurkan Kant, (a) buku keduanya tentang sejarah alam dan teori langit, (b) karya magisterarbeit-nya tentang api, dan (c) karya habilitationsschrift-nya tentang principle of sufficient reason, atau dalam istilah Kant sendiri, “determining reason” yang ada basmalahnya itu.

SAINS MENGELOLA PENGETAHUAN, KEBIJAKSANAAN MENGELOLA KEHIDUPAN–Immanuel Kant

Karya principiorum ini sendiri masih digolongkan pada karya-karya pra-Kritik Kant. Di titik baliknya, ada karya Kant di tahun 1770 berbarengan dengan penerbitan disertasinya untuk mendapatkan status guru besar di Konigsberg, dimana dia mulai meletakkan dasar-dasar untuk karya-karya Filsafat Kritik-nya.

 

KANT DAN ISLAM  

Memberi kemungkinan dibubuhkannya kalimat Bismillah oleh Kant menunjukkan kontak filosof besar Jerman ini dengan Alquran dan Islam. Karena itu, sikapnya terhadap Islam bisa membantu upaya mengukur kemungkinan pembubuhan kalimat suci itu.

Sejauh catatan Roy Jackson dalam buku itu, tidak ditemukan keterangan seputar hubungan Kant dengan Islam ataupun Alquran. Dalam buku terbarunya, Muslim and Supermuslim (2020), Roy mengulas hubungan tersebut dengan kesan tidak baik: Kant sepertinya punya masalah dengan Islam. Ia mengganggap Islam bukan saja pemikiran yang irasional, tak memiliki dasar filosofis serta penuh takhayulm, tetapi juga sebagai keyakinan tanpa spiritualitas, dogma yang kejam, tak beda dengan “gereja” tanpa ritual dan ketaatan.

Ini tidak perlu direspon dengan raut heran, karena Kant percaya bahwa rasionalitas dan pengetahuan manusia itu memiliki perbatasan (boundaries), dan perbatasan itu didefinisikan secara geografis: Eropa. Ada semacam kecenderungan rasis pada Kant terhadap Islam sebagai Arab dan Muhammedanisme.

Dalam risalahnya tahun 1764, Essay on the Illness of the Head (Über die Krankheit des Kopfes), Kant menyinggung nabi Islam, Muhammad SAW, dan mengulang cara Luther mengasosiasikan Islam dengan pemberontakan Anabaptis dalam tradisi kekristenan. Anabaptisme, dalam berbagai wujudnya, merupakan sayap yang lebih radikal dari Lutheranisme maupun Kalvinisme

Di mata Kant, Islam tampaknya tidak lebih dari fantasi murni sehingga disimpulkan sebagai salah satu dari sekian “illness of the head” itu. Dalam tulisan Ian Almond (2009), karya-karya berikutnya Kant seperti: Physical Geography (1802) dan Religion within the Limits of Reason Alone (1793), ada upaya menghubungkan beberapa status monoteisme dengan Islam sebagai agama.

Ian mencatat bahwa di situ Islam dipandang cukup sederhana sebagai dampak dari imajinasi yang berlebihan. Di antara dua alasan yang sama buruknya mengapa Era Pencerahan di Barat menolak Nabi Muhammad SAW, Kant memilih kegilaan dan kekacauan daripada manipulasi dan penipuan nabi Islam itu. Dalam hal ini Islam, seperti dikatakan Leibniz, adalah “wabah” Muhammedanisme dan semacam virus corona yang bisa menjangkiti rasionalitas seseorang kapan saja jatuh dimangsa “monster-monster” fanatisme (schwärmerei).

Baca Juga :  Kebenaran Absolut; adakah pengetahuan yang mutlak valid? (1)

Ini berbeda dengan seorang Yahudi Swiss, Marcus Huge (1966). Sejak masuk Islam, ia aktif melakukan perbandingan Islam dengan pendirian tokoh-tokoh Jerman seperti: Goethe, Nietzsche, Spinoza, dan tentu saja Kant, untuk selanjutnya menyatakan bahwa Islam adalah komponen yang diperlukan dalam mendesain Manusia Baru dan manusia masa depan seperti yang disinggung oleh Roy dalam buku terbarunya itu.

Sebagai Kantian, Marcus percaya begitu banyak pararelitas antara konsep-konsep dalam Filsafat Kritik Kant dan ajaran Islam. Dalam Der Islam und die Philosophie Europas, ia berusaha “men-Jerman-kan” Islam dengan konsep-konsep Kant tersebut seperti: ide-ide imperatif, yakni Tuhan, kebebasan, keabadian. Atau cinta universal (allgemeine menschenliebe) adalah juga postulat tertinggi dalam ajaran Islam yang memegang nilai utama kebaikan atas semua kebajikan lainnya.

Marcus percaya bahwa Islam bukan hanya agama alami yang dipromosikan oleh Kant, tetapi juga sebangun dengan konsepsi Kant tentang kosmopolitanisme, karena ajaran moral menawarkan rencana untuk kebaikan masyarakat dan cinta umat manusia, mempromosikan perdamaian dan kebahagiaan dunia. Usaha Marcus yang menekankan kesesuaian Islam dengan prinsip-prinsip filsafat Kantian menimbulkan kesan seolah-olah dia sedang “memuslimkan” Kant.

Keterangan kontradisktif dari para ahli tentang hubungan Kant dengan Islam dan Nabi Muhammad di atas tadi sekaligus menjelaskan posisi Bismillah dalam disertasinya itu. Jika Kant anti-Islam, maka besar kemungkinan kalimat Bismillah itu bukan dari Kant. Tapi jika Kant tidak anti-Islam, maka kemungkinan menjadi sebaliknya.

Boleh jadi terbuka kemungkinan jalan tengah: kalimat itu dibubuhkan Kant pada saat ia berpandangan positif tentang Islam. Ini seperti pengalaman Kant berubah dari yang tadinya berfilsafat dogmatis menjadi kritis, skeptis, idealis karena skeptisisme dan agnostisisme Hume.

Betapapun kuatnya kemungkinan ini, tampaknya sulit mengungguli kemungkinan pertama yang diungkapkan Ian Almond mengenai begitu banyak rekam jejak kasar dan aroma busuk Kant yang menyengat tajam dalam karya-karyanya terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW. Ini akan lebih membuat pembaca karya Kant, Critique of Practical Reason, putus asa terhadap konsistensi Kant sendiri tatkala dia menekankan maxim sebagai prinsip universal setiap orang dalam beretika dan bertindak. Kata-kata indahnya, “Der bestirne himmel über mir und das moralische gesetz in mir” (Langit berbintang di atasku, dan hukum moral di batinku), hanya gincu yang akan segera luntur menampilkan warna asli wajah asli batinnya.

 

Baca Juga :  Filsafat Manusia dalam Alquran (4): Kesatuan Manusia (2): Kesatuan Ruhani Manusia (Integrasi)

KANT DAN BISMILLAH: KECELAKAAN KONSENSUS

Sederhananya, Basmalah sesungguhnya kesadaran manusia akan hakikat dirinya. Tidak berlebihan bila kalimat suci ini kemudian teraktikulasikan meski dalam bentuk tiga pertanyaan secara disadari atau tidak oleh Kant sendiri dalam karya magnum opusnya itu:

  • Apa yang bisa aku ketahui? Itulah sistem pengetahuan tentang nama-nama (asma’), atribut, sebagai lawan dari substansi dan realitas objektif sebagaimana adanya atau, dalam bahasa Kant, nyaris identik dengan noumena. Kalimat basmalah dimulai dengan bismi “dengan nama”.
  • Apa yang harus aku lakukan? Itulah cinta dan kasih sayang yang merupakan nama/atribut paling primitif dan utama dalam fitrah dan hakikat manusia. Sifat pertama Allah dalam kalimat basmalah adalah al-rahman “Mahakasih” dan, selanjutnya, al-rahim “Maha Pengasih”.
  • Apa yang bisa aku harapkan? Dialah Tuhan yang niscaya adanya dengan kesadaran moral, dan Dia pula yang membuat hidup ini bernilai. Sebagaimana nama berfungsi sebagai alamat yang menunjukkan tujuan, yakni Allah, demikian pula sifat Mahakasih dan Maha Pengasih akan mengantarkan manusia pecinta kepada Dia yang Mahakasih dan Maha Pengasih.

Tiga pertanyaan ini oleh Kant sendiri disarikan menjadi: APAKAH MANUSIA? Artinya, hakikat manusia terdapat dalam Basmalah, dan kalimat suci ini juga merupakan deskripsi seutuhnya tentang manusia.

Kant, tentu saja, seorang filosof Barat, bukan filosof Islam. Dugaan kuat yang menempatkan dirinya sebagai filosof yang anti Islam membuat penilaian Roy Jackson agaknya berlebihan bahwa Kant sangat mungkin menjadi milik Barat dan berorientasi Islam pada saat yang sama.

Namun, seperti ajaran Ali bin Abi Thalib, kebenaran dan kebijaksanaan hanya akan kembali kepada pemiliknya. Tentu, jawaban Kant atas tiga pertanyaan kuncinya sendiri tidak sama meski tidak mutlak berbeda dengan Islam. Tetapi membuat pertanyaan kunci itu saja sudah merupakan keberhasilan di Barat.

Jauh bahkan sebelum para pendahulu Kant, sejak generasi awal Islam, tiga pertanyaan ini sudah dirumuskan dalam hadis yang dikutip oleh Mulla Sadra dalam pengantar karya agungnya, Al-Hikmah Al-Muta’aliyah, “Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada seorang hamba yang telah mempersiapkan dirinya dan telah siap untuk kematiannya, dan dia tahu dari mana, di mana dan ke mana.”

  • Detail referensi dapat menghubungi penulis via e-mail: ammarfauziheryadi@gmail.com

Share Page

Close