• LAINYA

TAFSIR-SOSIAL-SUFI—Bagaimana posisi Potifar, selaku kepala rumah rangga sekaligus pimpinan tertinggi keamanan negara, di hadapan fakta Yusuf? Apakah dia konsisten dengan bukti objektif di hadapannya hingga kesatria menerima fakta yang menyakitkan dan mencoreng martabat keluarga? Atau justru kecintaannya pada istrinya membutakan hati dan pikirannya hingga turut merancang skenario?

Di mata Yusuf, Potifar selama hidup bersamanya adalah orang baik, negarawan dan berperilaku mulia. Itu tercermin dari perlakuan baiknya kepada orang sedekat dan selemah Yusuf. Tidak keliru bila dipribahasakaan bahwa kesaksian orang lemah dan orang dekat atas seseorang adalah indikasi kualitas moralnya: jika Anda ingin tahu seseorang, tanyakan kepada orang dekatnya atau orang lemah di bawahnya. Orang menjadi lebih mudah mengabaikan berbuat mulia di ruang tertutup, di antaranya terhadap orang dekat dan di tengah keluarga sendiri. Orang juga jadi berbeda saat dia berkuasa dan bersama orang lemah, di hadapan ajudan, bawahan dan pembantu rumah tangga.

Kesaksian Yusuf bernilai dan mengungkapkan fakta karena statusnya sebagai orang lemah sekaligus orang dekat yang hidup seatap dengan Potifar. Artinya, kesaksian Yusuf atas kebaikan kepala keamanan negara besar ini bukan basa-basi, bukan merayu apalagi menjilat, tetapi ekspresi kejujuran dan ketulusannya. Kesaksian ini telah diungkapkan di ayat sebelumnya, Sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku. Dia telah memperlakukan aku dengan baik” (QS. Yusuf [12]: 23).

Selanjutnya, kita akan mengamati apakah Potifar konsisten ataukah berubah. Kasus kekerasan dalam rumah tangganya juga merupakan ujian besar bagi Potifar sendiri, karena kasus ini adalah skandal yang melibatkan istrinya, mencederai kehormatan keluarga serta status tingginya sebagai pejabat publik.

Maka, ketika melihat bajunya (Yusuf) terkoyak di bagian belakang, dia (suami perempuan itu) berkata, ‘Sesungguhnya ini adalah tipu daya kalian (hai wanita). Sesungguhnya tipu daya kalian benar-benar hebat’” (QS. Yusuf [12]: 28).

Baca Juga :  Masuk Islam karena Alquran (8): Cousteau, Ilmuwan Kaliber Perancis Temukan Cahaya Islam di Surah Al-Rahman

Secara hukum, Potifar berstatus sebagai saksi; dia orang pertama berada di TKP dan menemukan langsung alat bukti, yaitu terkoyaknya baju Yusuf di bagian belakang. Seperti yang diyakini Yusuf, suami Zulaikha itu, sekali lagi, adalah tuan yang baik, bukan hanya sebagai seorang negarawan, tetapi juga pejabat tinggi yang bermoral, berintegritas dan taat hukum. Dalam ayat ini, cinta insani Potifar pada kebenaran dan komitmennya pada kejujuran telah mengungguli cintanya pada sang istri.

Perlu dicatat di sini, pertama, cinta tuhani Yusuf masih dapat bertemu dengan cinta insani Potifar, namun kedua cinta tuhani dan insani mereka tidak bertemu dengan cinta hewani apalagi setani Zulaikha.

Kedua, cinta insani merupakan penengah antara cinta tuhani dan cinta hewani. tentu saja, perubahan dan perbaikan ideal adalah menyelamatkan seseorang dari cinta terhina ke cinta termulia. Namun, dalam realiasasi perubahan dan perbaikan maksimal diperlukan proses dan asas kebertahapan.

Tidak berhenti sampai di situ. Ayat selanjutnya mengungkapkan kebaikan dan cinta insani Potifar dari caranya menangani kasus kekerasan tersebut:

Wahai Yusuf, lupakanlah ini, dan (wahai istriku) mohonlah ampunan atas dosamu, karena sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang bersalah (QS. Yusuf [12]: 29).

Di tahap awal, Potifar menempuh dua cara bijak dan adil dalam menangani kasus internal rumah tangganya:

Pertama, melokalisir kasus, yakni tidak mengekspos dan memviralkan kasus. Dia meminta cara ini agar dipenuhi, terutama, oleh Yusuf karena utusan Tuhan ini berposisi sebagai korban kekerasan.

Cara kedua, bersikap objekif terhadap pihak yang terlibat kasus. Potifar dengan tegas dan adil menghujat sang istri sebagai pelaku kekerasan agar bertaubat: yaitu (a) menyadari kesalahannya, (b) menyesali tindakannya dan (c) meminta maaf kepada Yusuf.

Baca Juga :  Vera Verinak, Mualaf Pertama Hapal 30 Juz Alquran dari Ukraina

Semua pihak berkomitmen mematuhi dua cara ini. Di dua ayat berikut nanti, tampak bagaimana Zulaikha menyadari dan menyesali perbuatannya. Kesadaran inilah yang lantas membuatnya bisa berpikir jernih dan mengambil tindakan bijak dalam membuat skenario cerdas, tepatnya pada saat kasusnya bocor ke keluar rumah.

Meski begitu, dua cara ini tidak berjalan mulus. Selain mereka bertiga, ada pelayan-pelayan yang hidup seatap dengan mereka. Alhasil, Zulaikha dicemooh dan dinyinyir, setidaknya, oleh wanita-wanita bangsawan negara karena cinta butanya yang membuat dirinya jadi bodoh dan skenarionya jadi bahan olok-olok elite.

Para wanita di kota itu berkata, ‘Istri al-Aziz menggoda pelayannya untuk menaklukkannya. Pelayannya benar-benar telah membuatnya mabuk cinta. Kami benar-benar memandangnya dalam kesesatan yang nyata (QS. Yusuf [12]: 30).

Mabuk cinta adalah orang yang sudah kehilangan akal dan kewarasan sehingga, tentu saja, akan membuat keputusan dan perilakunya tersesat dan kehilangan arah kewajaran serta kepatutan. Orang yang mabuk cinta akan melakukan hal-hal yang bahkan memalukan diri sendiri. Karena itu, para wanita pejabat negara lantas mempermalukannya.

Respon dan opini buruk kalangan perempuan elite negara segera sampai ke telinga istri al-Aziz, yakni Zulaikha. Lantas, reaksi apa yang akan ia ambil?

Bersambung ke: “Balada Cinta Istri Kepala Keamanan Raja dan Ajudan Tampan dalam Alquran (6): Skenario Sukses, Buah Belajar Cinta

Share Page

Close