• LAINYA

Shadr Al-Muta’allihin Al-Syirazi–Pembahasan mengenai makna-makna aklani (rasional) di tahapan dari telaah ini akan bertumpu pada lima topik:

  1. Memohon perlindungan (al-isti‘adzah)
  2. Pemohon perlindungan (al-musta‘idz)
  3. Yang dimohon perlindunganna (al-musta‘adz bihi)
  4. Objek perlindungan (al-musta‘adz minhu); dan
  5. Tujuan memohon perlindungan (ma yusta‘adzu li ajlihi).

Topik Pertama: Memohon Perlindungan

Pembahasan tentang hakikat memohon perlindungan (al-isti‘adzah) dan apa saja ang melekat padanya. Di dalamnya terdapat beberapa isyarat:

Isyarat Pertama

Memohon perlindungan dan pertolongan tidak akan terlaksana kecuali dengan ilmu, keadaan (hal) dan perbuatan (‘amal). Ilmu di sini ialah pengetahuan hamba akan dirinya sendiri, akan kenyataan dirinya sebagai makhluk yang lemah (tak berdaya) dalam mendatangkan keuntungan dan menolak bahaya agamawi (ukhrawi) dan duniawi, dan akan kenyataan Allah sebagai Yang Mahakuasa atas dua hal itu (mendatangkan keuntungan dan menolak bahaya) hingga tidak ada apa pun yyang mampu melakukan itu kecuali Dia.

Jika keyakinan ini terbangun dalam hati, akan lahir di dalamnya suatu keadaan, yaitu ketakberdayaan-diri dan kerendahan-diri di hadapan Allah. Keadaan ini disebut juga dengan bergantung-diri pada Allah dan tunduk kepada-Nya.

Jika keadaan ini telah diperoleh, akan muncul karaker lain di hati dan karakter di lisan. Karakter di hati yaitu hamba menjadi berlindung kepada Allah sehingga ia hanya menginginkan agar Dia menjaganya dari marabahaya dan memberikan keistimewaan kepadanya dengan mencurahkan kebaikan dan keberkahan. Adapun karakter di lisan ialah kecenderungan mengharap semua kebaikan itu dengan lisannya sebagai ekspresi dari apa yang terdapat di dalam batinnya, yaitu meminta perlindungan dengan kata-kata: a‘udzu bi-Allah “aku berlindung kepada Allah”.

Jika Anda paham ini, maka akan tampak bagi Anda bahwa inti dari memohon perlindungan kepada Allah adalah pengetahuan hamba tentang dirinya sendiri dan tentang Tuhannya. Maka, seseorang yang tidak mengenal keluhuran rububiyah (kedudukan Tuhan) dan kehinaan ubudiyah (kedudukan hamba) tidak akan mungkin memohon perlindungan kepada Allah. Berikut penjelasannya:

Baca Juga :  Indonesia dapat Hadiah Alquran Sulaman Tangan Asli dari Pemeluk Konghucu

Sesuatu yang keluar-muncul dari seorang hamba adalah [salah satu dari dua ini:] perbuatan atau pengetahuan dan, dalam dua hal ini, dia berada di titik ekstrem ketakberdayaan. Dalam hal pengetahuan, betapa besar kebutuhan hamba untuk memohon perlindungan kepada Allah dalam melenyapkan skeptisisme, menyanggah berbagai falasi, isu dan keragu-raguan. Asas fitrah saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan ini, sama tidak cukupnya peran undang-undang keneracaan (Logika), karena betapa banyak orang-orang cerdas, pakar peneliti, ulama populer dengan kepandaian dan ketinggian ilmu, namun kita justru menyaksikan mereka menemui kebuntuan dalam menghadapi sekedar satu kasus sepanjang hidup mereka; mereka tidak tahu jawabannya, lalu mereka memperoleh pengetahuan yang kokoh dan argumen yang jelas, kemudian terbukti nyata dengan cahaya kasyf (peningkapan-hakikat) serta bukti-bukti tuhani yang berlainan dengan apa yang telah mereka yakini dan bertentangan dengan yang telah mereka pahami.

Jika demikian itu bisa terjadi pada sebagian orang, maka itu juga bisa terjadi pada semua orang. Dan jika faktor penyebab (kebutuhan begitu besar) itu tidak ada, maka tidak akan terjadi perselisihan di antara para pengikut agama-agama dalam aliran agama dan mazhab, umat Rasulullah SAW tidak akan terpecah menjadi 73 golongan, sementara golongan yang selamat di antara mereka hanyalah satu, dan masing-masing golongan itu akan menganggap diri merekalah golongan yang selamat, dan selain mereka berada dalam neraka. Mengapa demikian? Karena setiap orang hanya menginginkan untuk dirinya sendiri agar memiliki agama yang benar dan keyakinan yang sahih, dan setiap orang tidak akan membiarkan dirinya puas berada dalam kebodohan dan kekafiran. Andai saja segala sesuatunya berlaku sesuai usaha dan keinginannya, maka semua manusia pasti menjadi orang-orang yang benar, terutama mereka yang konsisten menggunakan pikiran dan akal sekaligus waspada terhadap kesalahan dan kekurangan, kendati mereka ini langka dan sedikit sekali.

Baca Juga :  QS. Al-Hujurat [49]: Ayat 6; Polos dan Gampang Percaya, Sumbu Kebohongan

Namun, faktanya tidaklah demikian. Kita menemukan orang-orang yang benar dibandingkan orang-orang yang salah seperti sehelai bulu putih di kulit sapi hitam. Karena itu, kita sadar bahwa tidak ada pintu keselamatan dari jejaring kegelapan kecuali dengan pertolongan Tuhan bumi dan lelangit. Maka, betapa besarnya kebutuhan manusia untuk memohon perlindungan kepada Penganugerah hikmat-kebijaksanaan dan makrifat, kepada Pencipta manusia dan jin. Itulah mengapa Dia Yang Mahatinggi memerintahkan Nabi-Nya SAW untuk memohon pertolongan dan perlindungan kepada Tuhannya:

وَقُلْ رَّبِّ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزٰتِ الشَّيٰطِيْنِ ۙ

Dan katakanlah (hai Muhammad)! Tuhanku! Aku berlindung kepada-Mu dari bisikan setan-setan” (QS. Al-Mu’minun [97]: 23).

Memohon perlindungan di ayat ini bersifat mutlak (umum), tidak dibatasi oleh keadaan tertentu. Adapun ayat di bawah ini adalah memohon perlindungan dari (isti‘ādzah minhu):

فَاِذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ

Lalu apabila engkau membaca Alquran, maka memohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terajam” (QS. 16:98).

Penelitian atas topik ini membutuhkan penjabaran luas agar tersingkap fakta bahwa setiap orang dalam setiap keadaan dan derajat memiliki setan tertentu yang wajib memohon kepada Allah perlindungan darinya. Setiap saat seseorang menjadi lebih mulia, lebih utama dan derajatnya lebih tinggi serta lebih sempurna, sudah barang setannya tentu lebih hebat, lebih bulus menipu dan lebih menyesatkan. Dalam berbagai kehebatan tipu-daya, setan memiliki cara-cara yang paling halus, paling rahasia, paling menyimpang dari jalan konsistensi, paling cenderung jauh dari rambu-rambu petunjuk, dan paling juling dari melihat kebenaran.

Mengingat derajat membaca wahyu dan mendengar ayat-ayat itu termasuk derajat paling mulia, maka di dalamnya berlaku perintah agar memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang sudah sangat jauh dan terusir dari Kedudukan Mahaunggal (Allah SWT). Karena itu, setan dideskripsikan dengan sifat superlatif dalam keterajaman.Bersambung

Share Page

Close