• LAINYA

FILSAFAT-POLITIK-Harkat setiap orang senilai pikirannya; tinggi-rendahnya diukur oleh apa yang dia pikirkan. Kriteria ini mudah dijumpai pada sosok sekaliber Sir Muhammad Iqbal. Apa yang dia pikirkan? Sebesar apa mimpinya? Sejauh apa visinya menatap dunia? Perubahan dan dunia bagiamana yang dia cita-citakan? Semua tertuang dalam buku yang akan dibedah di sini, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, magnum opus yang terbit 15 tahun sebelum Indonesia merdeka dan berdaulat.

Baca selanjutnya: Visi Keperadaban Filsafat Muhammad Iqbal (2): Alquran Roh Agenda Perubahan

Kalangan sarjana di tanah air sudah mempelajari buku ini sejak awal dekade 80-an. Sejak kurun itu hingga kini sudah ada dua terjemahan Indonesia dari dua penerbit yang berbeda: Pembangunan Kembali Alam Pemikiran Islam (Osman Ralibi, Bulan Bintang, 1983) dan Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam (Gunawan Muhammad, dkk., Jalasutra, 2002).

Empat tahun lalu, buku ini kembali terjemahkan dan diterbitkan oleh Mizan dengan judul Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam—selanjutnya disebut Rekonstruksi. Dengan judul yang mirip, buku itu diterjemahkan ke bahasa Melayu dan diterbitkan IRF (Islamic Renaissance Front), Kuala Lumpur, 2017.

Peluncuran dan bedah buku Rekonstruksi oleh IRF, Kuala Lumpur, Oktober 2017

Dua terjemahan Bahasa Indonesia dan Melayu ini menandai, untuk kesekian kalinya, nilai penting pemikiran Iqbal dalam buku ini sebagai referensi yang masih diandalkan relevansinya oleh para pemikir regional dalam merespon dinamika dan desakan intelektual di era mutakhir. Pertanyaannya, setalah nyaris satu abad karya ini digagas, mengapa pemikiran Iqbal masih aktual diterbitkan dan bahas? Ada beberapa faktor:

Pertama, Iqbal tidak berhenti berkarya sebagai pemikir dan ideolog, tetapi juga tampil gigih sebagai aktivis pejuang dan pelaku pelopor peradaban dunia Islam di masanya. Ia percaya pada prinsip perubahan dan perbuatan nyata yang mengisi nilai gagasan dan pemikiran. Rekonstruksi sendiri dibuka dengan keyakinan prinsipalnya sebagai Muslim, “Alquran adalah kitab suci yang menekankan perbuatan daripada pemikiran.”

Pada prakteknya, persoalan disintegrasi dan politik identitas India yang dihadapi Iqbal semasa Mahatma Ghandi hingga lahirnya Pakistan dengan prakarsanya bersama Muhammad Ali Jinnah hanyalah batu lompatan aktivismenya yang menyeberangkan pemikiran dan cita-cita luhurnya ke dunia nyata kejayaan umat Islam sedunia. Sekali lagi, sedunia. Wajar bila kelak ia dikenal bersama tokoh-tokoh pergerakan lainnya dengan Pan-Islamisme.

“BACALAH ALQURAN SEAKAN DITURUNKAN UNTUK DIRIMU!”

Kedua, daya jelajah pemikiran Iqbal tidak sebatas wilayah negara dahulu (India) dan barunya (Pakistan). Sepanjang lima tahun menggali pemikiran orisinalnya hingga terkompilasi menjadi buku Rekonstruksi, ia konsisten membahas isu menangani persoalan dengan menaikkannya ke tingkat global, dalam skala internasional. Sejumlah konsep kunci universal bermunculan seperti: umat adil (ummat-e adil) dan bangsa putih (millat-e baedha). Mentalitasnya bukan hanya seorang filsul dan sufi, ia juga sosok yang melebur dan bi khudi, yakni terserap hingga lenyap-diri dalam masyarakat (sosial-politik).

Baca Juga :  Palestina dalam Alquran (3): Fatwa Alquran dalam Masalah Palestina dan Israel

Ketiga, Iqbal menangani persoalan bukan semata-mata ekstensif (berskala internasional), tetapi juga radikal, yakni fundamental dan substantif. Karena itu, gugus pemikirannya dikenal juga filsafat khudi, filsafat kedirian yang menekankan autentisitas diri manusia sebelum menempatkan diri dalam masyarakat.

Radikalismenya tidak berhenti pada sosoknya sebagai filosof yang mengelaborasi filsafat Islam seperti dalam disertasinya, The Development of Metaphysics in Persia, dan filsafat Barat seperti pemikiran Henry Bergson yang kerap ia rujuk dalam Rekonstruksi, tetapi bangkit menjulang dalam kecenderungan kuatnya ke tasawuf. Masih dalam Rekonstruksi, pembaca dikenalkan berulang kali Rumi, Hallaj, dan nama besar sufi lainnya.

Sebelum di Asia Tenggara, Iqbal sudah menemukan posisi terhormat di kalangan pemikir, aktivis dan politisi di Eropah dan, tentu saja, di kawasannya sendiri. Bila namanya populer menjadi nama anak-anak di tanah air, di Iran namanya dipilih jadi nama lembaga pusat kajian dan komunitas seniman puisi. Sudah barang tentu, banyak pemerhati Iqbal yang mendiskusikan gagasannya di berbagai forum dan media. Uniknya, para pemerhati dan pengagum Iqbal datang dari latar belakang beragam, dari yang moderat hingga liberal.

Sudah cukup melimpah penelitian berupa kertas kerja di berbagai jenjang akademik ataupun berupa buku dan artikel diterbitkan. Beberapa nama seperti: Zuklarnain, Amran Suriadi, Rohmat Suprato, Mustofa Anshori Lidinillah, Muhammad Mukti, Syarif Hidayatullah, Suhermanto Ja’far, Ali Kartawinata dan Darmawan Tia Indrajaya mengkaji serius pemikiran Iqbal. Masing-masing membidik aspek tertentu dari filsafatnya: metafisika, tasawuf, hukum, pendidikan, dan politik.

Tulisan ini mencoba mendekonstruksi atau memetakan pemikiran dan filsafat Iqbal dengan jubah keperadaban. Denyut visi keperadaban ini dapat dideteksi sepanjang urat nadi Rekonstruksi dengan alat uji yang sudah tersedia dalam Empat Sebab Aristoteles, prinsip filosofis-metafisik yang mentradisi dalam filsafat Islam. Dengan peta visioner ini kiranya aliran darah pemikiran Iqbal dapat ditelusuri ke berbagai organ bidang dan konsentrasi.

Dalam rangkaian ini dan dengan Empat Sebab itu, kelengkapan visi keperadaban Iqbal akan ditelusuri melalui sejumlah pertanyaan berikut?

    • Apa basis dan denyut visi peradaban Iqbal?
    • Siapa pelaku peradaban dan apa saja kriteria dasarnya?
    • Apa realitas faktual di medan pembangunan peradaban?
    • Bagaimana model ideal dari peradaban Islam?
    • Apakah Iqbal utopis? Apakah ada referensi konkret dari peradaban Islam?
    • Apa langkah strategis memulai pembangunan peradaban tersebut?

 

Baca Juga :  Profil Pemimpin Ideal dalam Tasawuf Politik Platon dan Khomeini (1): Parodi Kekuasaan

SEKILAS TENTANG IQBAL

Lahir di Sialkot, Punjab, India, pada 09 Novermber 1877, dengan nama Muhammad Iqbal di keluarga taat agama. Ia wafat di Lahore, Pakistan, 21 April 1938. Dalam memoar masa kecilnya, ia bercerita bagaimana ayahnya selalu mengingatkan dia saat membaca Alquran setelah Salat Subuh, “Bacalah Alquran seolah-olah ia diturunkan untukmu!”

Seperti reformis muslim lainnya, Iqbal mendapat pendidikan di dua tradisi yang berbeda: Timur dan Barat. Mula-mula ia mengenyam pendidikan klasik, lalu berpindah ke Sialkot, kemudian terbang ke Eropa untuk menempuh jenjang doktoralnya di University of Munich. Selama di Eropah, ia seolah berada di atas bukit yang memudahkannya mengamati negerinya, bangsanya, dan umatnya secara lebih komprehensif dan objektif.

ALQURAN KITAB SUCI YANG MENEKANKAN PERBUATAN DARIPADA PEMIKIRAN–Sir Muhammad Iqbal

Dalam perjalanan hidupnya, Iqbal dihadapkan pada realitas bangsa India dan dunia Islam yang memprihatinkan. Penindasan dan penjajahan terjadi di mana-mana. Kemunduran di berbagai bidang jadi rangkaian fakta Muslimin di berbagai negara. Dalam analisisnya, kemunduran kebudayaan dan ketertinggalan peradaban umat Islam sudah berlangsung separoh milenial, terhitung sejak Ibnu Khaldun wafat.

Salah satu fenomena dekaden dunia Islam ialah kepercayaan kaum Muslimin bahwa pintu ijtihad sudah tertutup, maka yang tersisa hanyalah taqlid buta. Sebagian mereka bahkan menanggalkan kepercayaan itu dengan berkiblat sepenuhnya pada budaya Barat seolah-olah, dengan cara itu, dirinya sudah merdeka dari taqlid buta tersebut. Situasi kompleks inilah yang membuat Iqbal bangkit melakukan reformasi di dunia Timur, khususnya Islam.

Dari mana memulai? Dari khudi, dari diri. Segalanya dan sebelum segala sesuatunya adalah dari diri sendiri. Dari agama, dari ilmu pengetahuan, dari pencerahan akal dan hati, serta dari kepedulian pada alam dan sains. Iqbal menjadi Iqbal tidak di Barat. Ia menemukan dirinya dan haluan hidup serta pemikirannya setelah kembali dan berkiprah di negeri kelahiran sebagai pusat gravitasi pergulatan pemikiran dan aktivismenya. Di sanalah ia kelak menjadi sufi Rumian, penyair Persian, filosof Bergsonian dan, tentu saja, penggali kandungan saintifik Alquran.

Semua dapat dilacak dari konsep-konsep kunci pemikiran Iqbal seperti: khudi dan bi-khudi. Lahirnya magnum opus Rekontruksi membuat dirinya layak menyandang pemikir sekaligus aktivis reformis Muslim abad 20. Lahirnya beragam karya adiluhung dalam sastra Persia dan Urdu seperti  Zabur-e Ajam (Zabur non-Arab), Asrar-e Khudi (Rahasia Diri), Bang-e Dara (Genta Lonceng), Rumuz-i Bikhudi (Sandi Nir-Diri), Payam-e Mashriq (Pesan Timur), Javidnamah (Surat Keabadian), Pas che Bayad Ey Aqwam-i Syarq (Apa yang harus engkau Lakukan, Hai Bangsa Timur?), Bal-e Jibril (Sayap Jibril), Musafir (Pengembara), Zarb-e Kalim (Pukulan Musa), Armaghan-e Hijaz (Hadiah dari Hijaz), menunjukkan penguasaannya atas dunia sastra.

Baca Juga :  Profil Pemimpin Ideal dalam Tasawuf Politik Platon dan Khomeini (3): Ulama sama dengan Nabi

Sebagian dari sekian catatan gemilang Iqbal seperti di atas sudah memadai kiranya dalam mempengaruhi nalar dan semangat para reformis setelahnya. Fazlur Rahman dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Peradaban, terlihat dengan jelas keterpengaruhannya oleh semangat reformis Muhammad Iqbal, tepatnya di Bab 13 tentang Perkembangan Modern.

Di Barat sendiri yang jadi sasaran kritik Iqbal, pengaruh itu tidak kalah besarnya. Banyak penelitian di sana berkisar pada pemikiran dan kiprah politiknya. Nicholson menerjemahkan Asrar-e Khudi ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Secrete of the Self. Hadi Hussain menerjemahkan Payam-ei Mashriq ke bahasa Inggris dengan judul A Massage from the East. Gelar ‘Sir’ diterimanya dari inisiasi langsung kerajaan Inggris sebagai tanda pengormatan atas peran pentingnya.

Dunia Arab juga tak luput dari pengaruh Iqbal. Buku Payam-i Mashriq tadi diterjemahkan oleh Abdul Wahhab ‘Azzam ke bahasa Arab-Mesir dengan judul Risalah al-Masyriq. Karya terakhir ini juga dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia oleh Abdul Hadi W.M. dengan judul, Pesan dari Timur. Sementara itu, Annemarie Schimmel menerjemahkan Bal-i Jibril ke dalam bahasa Inggris dengan judul “Gabriel Wings.” dan karya lainnya.

Buku Javidnamah diterjemahkan oleh Mahmud Ahmad dengan judul, The Pilgrimage of the Eternity, sementara diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Muhammad Sadikin dengan judul Kitab Keabadian. Tak ketinggalan Annemarie Schimmel turut menerjemahkannya ke bahasa Jerman dengan judul, Buch der Ewigheit, ke bahasa Turki dengan judul, Gavidname, ke bahasa Belanda dengan judul, Einige Benerkungen Zu Mohammad Iqbal’s Gavidname, dan ke bahasa Perancis oleh Mayerovitch Mohammad Mokri dengan judul, Le Livre de L’eternite.

Sedikit laporan bibliografis tadi menunjukkan betapa pemikiran Iqbal disambut positif di berbagai kalangan, dan secara otomatis pemikirannya mempengaruhi pembacanya dalam upaya dan karsa mengoperasikan visi peradaban yang hendak ia bangun. Tentang bagaimana usaha kerasnya merealisasikan visi dan cita-cita itu di dalam dan di luar negerinya, akan diuraikan lebih lanjut.BERSAMBUNG

Share Page

Close