• LAINYA

TAFSIR-Q&A–Sejak di awal-awal halaman, Alquran sudah dikenalkan sebagai kebenaran yang jelas dan pemberi petunjuk. Falsafah keberadaannya ini terulang kuat di sejumlah surah. Dalam ayat penurunan Alquran ditegaskan:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“[Inilah] bulan Ramadhan yang diturunkan di dalamnya Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan jelas dari petunjuk dan pemilah” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Tetapi, ada juga ayat yang menerangkan Alquran sebagai penyesat, sumber kesesatan. Dalam sebuah ayat, semakin banyak membaca Alquran semakin jauh dari petunjuk dan kebenarannya.

وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ
“Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surah itu bertambah kekafiran mereka di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir” (QS. Al-Taubah [9]: 125).

Surah yakni ayat-ayat Alquran yang dibacakan kepada mereka tidak akan menambah kecuali kesesatan dan kekafiran mereka. Kendati ayat ini terkait khusus dengan orang-orang munafik, tetapi ayat pertama menyatakan petunjuk Alquran untuk seluruh manusia, tanpa kecuali, termasuk untuk orang-orang munafik.

Maka, pertanyaannya tetap relevan: bagaimana mungkin Alquran pemberi petunjuk untuk semua orang sekaligus berfungsi menyesatkan sebagian orang?

Pemecahan
Alquran juga diumpamakan layaknya cahaya yang nyata (QS. Al-Nisa’ [5]: 174). Sebagai pendekatan indrawi, cahaya Alquran tak ubahnya dengan lampu lampion atau lampu senter. Allah datangkan lampu Alquran untuk semua manusia di manapun sampai akhir kehidupan.

Tinggal bagaimana manusia sendiri merespon Alquran dan menggunakannya. Jika berada di tangan orang yang memerlukan cahaya dan berhati bersih, lampu itu akan berguna untuk penerangan hatinya, pikirannya, masyarakatnya, untuk penelitian, penggalian dan kemajuan peradaban.

Baca Juga :  Filsafat Maulid Nabi: Merayakan Kemanusiaan atau Kebinatangan Diri Sendiri

Namun, jika berada di tangan manusia yang hatinya keras dan pikirannya kotor, lampu itu bukan hanya tidak berguna, sinar dan cahayanya malah disalahgunakan untuk kepentingan hati dan pikiran kotor tersebut. Sekian terangnya cahaya lampu tidak membuatnya kecuali lebih pandai lagi memenuhi kepentingan kotornya itu.

–SAAT PENCURI DATANG DENGAN PELITA, DIA MEMILIH BARANG LEBIH TELITI.

Dalam peribahasa Persia ini, Alquran di tangan orang munafik dan orang-orang yang hatinya kotor seperti lampu di tangan pencuri; ia akan dipergunakan untuk mencuri sesuatu, dan lampu yang lebih terang hanya akan membuatnya lebih pandai dan lebih teliti memilih-milih mana barang yang paling berharga untuk dibawa kabur.

Jadi, masalahnya bukan pada Alquran, bukan pada penurunnya, yakni Allah SWT, bukan pula pada pembawanya, yakni Nabi SAW. Tidak ada masalah dengan Alquran sebagai cahaya dan petunjuk untuk semua manusia. Ini kandungan ayat pertama di atas.

Sebagai cahaya, Alquran itu terang dan memberi terang, seperti matahari bersinar dan menyinari bumi. Manusia asal mau saja membiarkan bumi hatinya terbuka menerima cahaya Alquran yang datang kepadanya.

AYAT PERTAMA ADALAH DESKRIPSI TENTANG ALQURAN SEBAGAI PEMBERI, AYAT KEDUA DESKRIPSI TENTANG MANUSIA SEBAGAI PENERIMA.

Alquran pasti memberi cahaya, tetapi apakah cahaya beriannya pasti diterima semua orang. Ayat kedua di atas menyatakan belum tentu. Kenyataannya, ada yang menerima, ada yang tidak mau menerima. Ada manusia yang tidak mau terkena sinar Alquran karena dia sendiri menutup hatinya dengan nafsu malas, nafsu angkuh, nafsu marah, nafsu ingin cepat dan untung sendiri, ingin populer, ingin dihormati, berkuasa dan dipertuankan betapapun caranya.

Maka, masalahnya ada pada manusia itu sendiri, yakni pada kesungguhan, kesiapan dan ketulusan hati menerima cahaya Alquran.

Baca Juga :  Tafsir Sekularisme (1): Ayat-ayat Sekuler (4): Pemisahan Praktis Kenabian dari Kekuasaan

Demikian juga air hujan hanya akan berfungsi sesuai jenis tanahnya. Apabila tanahnya bagus, akan tumbuh bunga dan tetumbuhan yang baik. Sebaliknya jika tanahnya tidak baik, yang tumbuh hanyalah ilalang dan pohon-pohon berduri.

Ayat kedua menunjukkan bahwa ketika suatu ayat turun, orang-orang munafik dan sejenis mereka (yang lahiriahnya bersih berwibawa tapi batinnya kotor) semakin bertingkah buruk dan keras, menentang, memusuhi dan melawan. Karena itu tidak mengherankan bila ayat-ayat suci membuat orang-orang seperti mereka semakin tersesat dan kian pandai dalam menyalahgunakan ayat-ayat suci dan kebenaran Ilahi.

KETAUHILAH, PADA SETIAP TUBUH ADA SEGUMPAL DARAH YANG, APABILA BAIK, MAKA BAIKLAH TUBUH DAN, APABILA RUSAK, MAKA RUSAKLAH TUBUH. KETAUHILAH ITU ADALAH HATI–Baginda Nabi SAW (HS. Bukhari, no. 50)

 

Referensi:
1. Wahbah Al-Zuhaili, Tafsir Al-Munir fi Al-‘Aqidah wa Al-Syari’ah wa Al-Manhaj.
2. Makarim Syirazi, Al-Amtsal fi Tafsir Al-Qur’an.

 

Share Page

Close