• LAINYA

Filsafat-Politik–Mati belum tentu lenyap, dan tidak semua mayat itu bungkam. 1970 adalah tahun wafat Bertrand Russell, namun masih saja hadir dan bicara kepada dunia, sekarang ini, tentang isu dunia hari ini yang paling krusial dan kompleks: apa lagi kalau bukan Palestina, dengan sikap yang tidak populer bahkan cenderung aneh bagi masyarakat Barat “maju”: mengutuk keras Israel.

Tiga peran utama: aktivisme sosial yang sudah lama ada, banyaknya tulisan tentang isu-isu sosial dan politik pada zamannya, dan keprihatinan yang lebih teoretis dan teknis di bidang filsafat, logika, matematika serta ilmu alam, semua ini telah menunjang pengaruh sosial Russell yang signifikan berasal dalam skala global.

Filosof kebanggaan Inggris ini bukan sekedar filosof dalam pengertian paling mutakhir dan lazim dikenal di lingkungan ilmu dan ilmuwan seelite akademik hari ini. Sudah pasti ia tidak sama dengan sejajaran filosof di Timur bahkan sebagian mereka di dunia Islam sekarang yang, galibnya, hanya atraktif berpikir dan fasih bicara.

Ia juga sepenuhnya berbeda dari Jorgen Habermas, Slovaj Zizek dan para sarjana  sekelas Yoval N. Harari, Rainer Forst, Nicole Deltelhoff dan Klaus Guenther yang dihantui horor Holocaust di masa lalu hingga hilang kewarasan saat menyebut genosida Israel di Gaza sebagai kewarasan dan keberadaban.

Bukan rahasia lagi bila Russell sangat hormat sekaligus menentang filsafat Plato. Celakanya, murid Sokrates ini seolah hantu yang tidak punya jadwal gentayangan membayangi para filosof Barat, termasuk Russell sendiri. Entah sadar atau tidak, di akhir usianya, peraih Penghargaan Nobel Kesusastraan (1950) ini kerap mewujudkan utopia Plato 24 abad silam dan berperan aktif sebagai seorang anjing yang kini juga dapat dijumpai pada profil seperti filosof bahasa AS berdarah Yahudi, Noam Chomsky.

Ya, filosof utopian adalah seorang anjing, bukan seekor binatang. Ia simbol dari kewarasan tingkat tinggi dan keberadaban utama yang, dalam kriteria dan idelisme Plato, menghimpun berbagai karakter berlawanan dan menjaga keseimbangan kepribadian antara tahu dan berani, antara rasional dan emosional, antara cerdas dan gigih. Profil anjing filosof ini tidak terlampau berlebihan bila dibandingkan dengan riwayat anjing-nya Ashabul Kahfi dalam Alquran.

Baca Juga :  Palestina dalam Alquran (1): Minimal 10 Kali Disinggung Alquran

Derita Gaza dan Genosida Israel di sana merupakan ujian yang efektif menyingkapkan wajah asli setiap orang, setiap kalangan, setiap bangsa. Respon para filosof yang mengklaim posisi terhormat ilmu pengetahuan sudah pasti lebih penting lagi; mereka bisa sama posisinya setingkat aktor intelektual, dan kegagalan mereka dalam ujian itu bisa menjusifikasi kekejaman dan bencana kemanusiaan di sana, di Gaza, tidak kurang dari kejamnya filosof dan tokoh pemikiran yang memilih diam apalagi masa bodoh. Untungnya atau sialnya, gelar “filosof” atau “pemikir” bukan seperti status “kaya” dan “miskin” yang  berganti dan hilang, tapi seolah takdir sosial abadi, seburuk apa pun kenyataan sikap dan perubahan pandangannya.

Surat Russell di bawah ini menyatakan kesukesannya sepanjang memasuki medan ujian itu. Posisi tegasnya hingga mengutuk agresi Israel dan membela hak-hak kedaulatan Palestina adalah sikap yang, bukan hanya “penyimpangan gila” di dunia Barat sekarang, bahkan beresiko tidak kecil di sana, seperti yang sebelumnya sudah ia alami dari cara CIA menetralisir gugatannya mengenai pembunuhan JFK dengan meluncurkan Memo 1035-960 dan menyerang karakternya sebagai “teorisian konspirasi”, sebuah kata yang merendahkan bagi siapa pun yang mempertanyakan laporan pemerintah AS.

Seperti kesetiaan terkenal seekor anjing pada majikan, keteguhan Russell pada “tuan” kebenaran telah mempertahankan konsentrasinya untuk menitipkan suara hati dan akalnya kepada generasi manusia dan dunia hari ini melalui sepucuk surat. Pandangan di dalamnya sekaligus menggugat secara implisit keputusannya jadi orang pertama yang mau menerima Penghargaan Yerusalem dari Israel pada 1963.

Meski ditulis tepat di tanggal yang sama dengan hari ini (31 Januari 1970) dalam menanggapi agresi Israel ke dalam wilayah Mesir pada tahun yang sama, catatan emas 20 karat (!) surat filosof analitik Inggris ini masih saja mengkilau dan menusuk hingga ke jantung kemanusiaan, seakan ia masih hidup dan menyimak rangkaian peristiwa kelam di tanah suci agama-agama, Palestina.

Kematian di esok lusanya (2 Februari 1970), yakni dua hari setelah surat itu ditulis, menjadi kemuliaan hidup Russell; kematiannya telah menutup pintu revisi apa pun dari dirinya sendiri terhadap seluruh sikap dan pendirian yang tertuang di dalamnya. Sebegitu berharga surat Bertrand Russell ini hingga satu hari berikutnya, pada 3 Februari 1970, panitia Konferensi Internasional Anggota Parlemen di Kairo membacakannya di sidang terbuka. Berikut terjemah lengkapnya: ​

Baca Juga :  Palestina dalam Alquran (2): Bani Israel Nama Surat dalam Alquran

*****

Fase terakhir perang yang tidak dinyatakan di Timur Tengah berlangsung karena salah perhitungan yang sangat fatal. Serangan bom jauh ke dalam wilayah Mesir tidak akan membuat warga sipil untuk menyerah, malah akan memperkuat tekad mereka untuk melawan. Ini adalah pelajaran dari semua pemboman udara.

Rakyat Vietnam telah mengalami pemboman Amerika selama bertahun-tahun, dan mereka tidak meresponnya dengan menyerah, namun justru dengan menembak jatuh lebih banyak pesawat musuh. Pada  1940, rekan senegara saya melawan serangan bom Hitler dengan persatuan dan tekad yang belum pernah ada sebelumnya.

Oleh karena itu, serangan Israel belakangan ini akan gagal mencapai tujuan utamanya. Namun pada saat yang sama, serangan tersebut harus dikutuk dengan keras di seluruh dunia.

Perkembangan krisis di Timur Tengah berbahaya sekaligus memberikan pelajaran. Selama lebih dari dua puluh tahun, Israel melakukan ekspansi dengan kekuatan militer. Di akhir setiap tahap ekspansi ini, Israel menggunakan “akal sehat” dan mengajak “negosiasi”.

Ini merupakan modus tradisional dari rezim imperialis, karena mereka ingin mengkonsolidasikan krisis dengan cara yang paling mudah dari yang telah mereka ambil melalui kekerasan. Setiap penaklukan terbaru menjadi dasar baru bagi kekuatan imperialis untuk mengusulkan negosiasi yang menyia-nyiakan keadilan atas agresi sebelumnya.

Agresi yang dilakukan Israel harus dikutuk, bukan hanya karena tidak ada negara yang berhak mencaplok wilayah asing, namun karena setiap ekspansi juga merupakan eksperimen untuk melihat seberapa besar agresi yang akan ditoleransi dunia.

Pengungsi yang berjumlah ratusan ribu di sekitar Palestina baru-baru ini dijelaskan oleh jurnalis Washington, I.F. Stone, sebagai “tonggak moral di leher umat Yahudi dunia”. Banyak dari para pengungsi kini memasuki dekade ketiga dari kehidupan mereka yang berbahaya di pemukiman sementara.

Baca Juga :  Alquran Bertinta Emas Abad 18 di Palembang

Tragedi rakyat Palestina adalah [fakta bahwa] negaranya “diberikan” oleh kekuatan asing (Inggris) kepada bangsa lain demi terciptanya negara baru. Dampaknya, ratusan ribu orang tak berdosa dipaksa kehilangan tempat tinggal secara permanen. Dengan setiap konflik baru, jumlah mereka meningkat. Berapa lama lagi dunia mau menanggung kekejaman yang sewenang-wenang ini?!

Sangat jelas terlihat bahwa para pengungsi mempunyai hak atas tanah air tempat mereka diusir darinya, dan penolakan terhadap hak ini merupakan jantung konflik yang terus berlanjut.

Tidak ada orang di dunia ini yang mau menerima pengusiran massal dari negaranya; bagaimana bisa seseorang menuntut rakyat Palestina untuk menerima hukuman yang tidak akan ditoleransi oleh siapa pun?! Permukiman permanen yang adil bagi para pengungsi di tanah air mereka sendiri merupakan unsur penting dalam penyelesaian hakiki di Timur Tengah.

Kita sering kali diberitahu bahwa kita harus bersimpati dengan Israel karena penderitaan orang-orang Yahudi di Eropa di tangan Nazi. Dalam pesan ini, saya melihat bahwa tidak ada alasan untuk meneruskan penderitaan mereka.

Namun, apa yang dilakukan Israel saat ini tidak dapat dimaafkan, dan menggunakan kengerian [derita] di masa lalu untuk membenarkan apa yang terjadi di masa kini adalah sebuah kemunafikan yang besar.

Israel tidak hanya menindak jumlah besar pengungsi dalam kesengsaraan; tidak hanya banyak orang Arab di bawah pendudukan yang dijatuhi tindakan militer. Namun, Israel juga menghukum negara-negara Arab, yang baru saja bangkit dari status kolonial, yang terus mengalami pemiskinan, karena tindakan militer lebih diutamakan daripada pembangunan nasional.

Siapa pun yang ingin mengakhiri pertumpahan darah di Timur Tengah harus memastikan bahwa solusi apa pun tidak mengandung bibit konflik di masa mendatang.

Keadilan mensyaratkan bahwa langkah pertama menuju penyelesaian harus berupa penarikan Israel dari seluruh wilayah yang diduduki pada Juni 1967. Kampanye dunia baru diperlukan untuk membantu memberikan keadilan bagi masyarakat Timur Tengah yang telah lama menderita.

Bertrand Russell, 31 Januari 1970

Share Page

Close