• LAINYA

TAFSIR-FILSAFAT—Setiap penganut agama pasti percaya (beriman) pada Tuhan. Apa pun perbedaan mereka tentang konsep dan identitas Tuhan, semua percaya dan yakin akan keberadaan-Nya. Maka, keberagamaan seseorang dipastikan, pertama-tama, dengan keyakinannya pada keberadaan Tuhan.

Beragama bukan paksaan, tetapi pilihan. Setiap orang punya kesempatan bebas untuk memilih beragama atau memilih tidak beragama. Maka, ada tanggung jawab sekaligus pertanggungjawaban dalam memilih dan tidak memilih untuk hidup beragama atau tidak.

AWAL AGAMA ADALAH MENGENAL-NYA–Ali bin Abi Thalib ra.

Sebagai makhluk berakal sehat, dalam setiap pilihan tentu ada pertimbangan yang memuaskan dan menenteramkan jiwa. Kita tidak akan menjatuhkan pilihan pada sesuatu bila hati kita masih ragu dan belum mantap. Pertimbangan itu adalah argumentasi dan pembuktian. Dengan argumen, kita melenyapkan keraguan, mendapatkan kepastian, kemantapan jiwa dan kenyamanan batin.

Maka, jika beragama itu diawali dengan bertuhan, yakni dengan keimanan pada keberadaan Tuhan, tentu saja bertuhan dan memilih percaya pada keberadaan Tuhan harus didasari oleh pertanggungjawaban, pertimbangan dan argumen.

Pertanyaannya, apa argumen atas keniscayaan adanya Tuhan? Pernahkah mencoba dan berusaha membuktikan keberadaan Allah sebagai bukti pertanggungjawaban atas iman kita? Atau kita masabodoh saja dan menjalani hidup beragama dengan warisan iman dari keluarga dan lingkungan?

Ada banyak argumen dan cara membuktikan keniscayaan keberadaan Tuhan. Seperti disebut-sebut oleh filosof Inggris Abad 20, Bertrand Russell, argumen First Cause (Sebab Pertama) adalah argumen paling simpel dan paling mudah dipahami, (walaupun dia kemudian membantah argumen ini sebagaimana yang akan dijawab di bagian kedua dari tulisan ini).

Dalam tradisi kaum Mutakallim dan para filosof Muslim, argumen ini lazim dikenal dengan nama Burhan al-Imkan, yakni Argumen Kemungkinan. Di sini akan dikemukakan argumen yang mirip dengan argumen itu.

Sebangun dengan kaidah “Awal menentukan akhir”, maka dari mana kita memulai berargumen? Memulai dari diri sendiri. Ya, dari diri sendiri dan menyadari keberadaan dan keadaan diri sendiri. Dalam sabda Nabi SAW, “Orang yang mengenal dirinya niscaya mengenal Tuhannya.”

Baca Juga :  Etika Berpikir, Meneliti dan Beriman dalam Alquran (1): Kesadaran "Tidak Tahu" dan Tahu Diri

Pertama: diri kita ini menjadi ada tidak tiba-tiba dan begitu saja. Keberadaan masing-masing kita ada sejarahnya, ada asal-usulnya. Pasti ada sebab yang membuat kita jadi realitas yang nyata-ada. Setidaknya, sejak kita sadar punya orang tua, sejak itu pula kita tahu dari mana keberadaan kita berasal; bapak dan ibu kita itulah yang turut berperan membuat kita yang asalnya tidak ada menjadi ada. Keberadaan dan keberasalan orang tua kita pun, pada gilirannya, sama seperti kita tadi; mereka juga menjadi ada akibat dari orang tua mereka yang telah ada sebelumnya.

Tidak hanya tentang kita dan keluarga. Perubahan keadaan-keadaan diri kita sendiri juga ada sebabnya. Sehat dan sakitnya tubuh kita, sedih dan bahagianya jiwa kita, marah dan senangnya hati kita, semua ini pasti ada sebabnya. Berbagai situasi baik dan buruk di lingkungan, kota dan negeri pasti ada sebabnya. Benda-benda dan beragam peristiwa di luar juga terjadi bukan tanpa sebab. Sama pastinya dengan adanya sebab tertentu dalam pergantian siang-malam dan reshuffle kabinet, virus Covid-19 melanda dunia ini juga bukan tanpa hujan tanpa angin.

Kedua: Dapat dipastikan bahwa semua fenomena dan kejadian pasti ada sebabnya; masing-masing adalah akibat, produk dan hasil penciptaan dari sebab tertentu. Ini sudah sesuai dengan fakta yang pasti bahwa setiap akibat pasti memiliki sebab.

Ketiga: Jika sebab itu, katakan saja, terjadi dan menjadi ada karena faktor lain, maka faktor itu adalah sebab yang mengadakan dan menciptakan sebab tersebut.

Keempat: Betapa pun panjangnya rangkaian sebab-sebab itu, pada akhirnya semua sebab itu pasti akan berasal dan berhenti di suatu sebab yang tidak memiliki sebab. Yakni, dia sama sekali bukan akibat, bukan ciptaan, bukan produk penciptaan dari sebab apa pun selain dirinya.

Kelima: Sebaliknya, jika rangkaian semua sebab itu tidak berhenti di sebab yang tak ber-sebab, maka yang nyata-ada sesungguhnya hanyalah rangkaian akibat-akibat tanpa sebab atau, singkatnya, yang nyata-ada hanyalah akibat-akibat tanpa sebab. Ini seperti membayangkan rangkaian efek domino tanpa sebab awalnya. Tentu saja ini mustahil terjadi, karena bertentangan dengan premis kedua di atas tadi, yaitu setiap akibat pasti memiliki sebab.

Baca Juga :  Realitas Manusia dalam Kebijaksanaan Luhur (1): Ruh dan Badan

Konklusinya, karena ketidakberhentian rangkaian sebab-sebab itu mustahil terjadi, maka rangkaian sebab-sebab itu, pada akhirnya, pasti berasal dari, berhenti di dan bergantung pada suatu sebab yang tak ber-sebab (tidak memiliki sebab apa pun). Sebab ini adalah Sebab Pertama dan Utama. Berkat keberadaan Sebab Pertama ini, maka apa saja selainnya menjadi nyata-ada. Begitu pula keberadaan apa saja selain-Nya menunjukkan dan membuktikan keniscayaan adanya Sebab Pertama.

Sampai di sini, ada empat kepastian:
1. Segala sesuatu yang ada dan berstatus sebagai akibat pasti memiliki sebab.
2. Ada dua macam sebab: sebab yang ber-sebab (memiliki sebab) dan sebab yang tak ber-sebab.
3. Sebab yang ber-sebab adalah akibat.
4. Setiap akibat dan sebab yang ber-sebab, pada akhirnya, pasti berasal ‘nasab keberadaan’-nya dari suatu sebab yang tak bersebab, tak berasal, dan bukan akibat dari apa pun. Dia adalah Sebab Pertama.

REALITAS APA PUN YANG ANDA AMATI KEBERADAANNYA, JIKA ADA DENGAN SENDIRINYA, MAKA ITULAH TUHAN, ATAU ADA TIDAK DENGAN SENDIRINYA, MAKA DIA ADA KARENA DIADAKAN OLEH SELAINNYA, YAITU OLEH TUHAN–Ibnu Sina

َArgumen Sebab Pertama ini juga senafas dengan kandungan ayat tentang Allah berikut ini:“Apakah mereka tercipta dari bukan sesuatu ataukah mereka itulah pencipta [diri sendiri]?!” (QS. Al-Thur [52]: 35).

Lalu, siapakah sebab yang tak ber-sebab, yakni Sebab Pertama, itu? Siapakah sebab yang keberadaannya merupakan sumber dan asal segala peristiwa, akibat dan sebab yang ber-sebab? Beberapa ayat di bawah ini menerangkan identitas Sebab Pertama ini:

قُلْ كُلًّ مِّنْ عِندِ اللّهِ
“Katakanlah bahwa semua adalah dari Allah” (QS. Al-Nisa’ [5]: 78).

صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الْأُمُورُ
“[Yaitu] jalan Allah yang milik-Nyalah apa yang ada di langit-langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah bahwa kepada Allah-lah segala urusan kembali” (Al-Syura [42]: 53).

Baca Juga :  QS. Al-Ra’d [13]: 17; Mana Posisi dan Partai Anda? (1) Polarisasi Kubu Politik

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ
“Allah pencipta segala sesuatu dan Dialah Pengurus segala sesuatu” (QS. Al-Zumar [39]: 62).

Berdasarkan argumen rasional itu dan ayat-ayat ini, Tuhan yang terbukti ada dan nyata itu adalah Realitas yang merupakan Sebab Pertama, Sebab Utama, Sebab segala sebab (musabbib al-asbab), asal dan sumber keberadaan segala sesuatu.

Ini pertama. Kedua, argumen rasional di atas itu hanya terfokus pada pembuktian atas keberadaan Tuhan. Jika ada pakar filsafat mengkritik dan menganggap argumen First Cause itu lemah karena (a) tidak sampai membuktikan keesaan Tuhan, atau (b) tidak sampai membuktikan status tuhan sebagai Yang Makakuasa dan Mahabaik, atau (c) dia tidak mengidentifikasi Tuhan sehingga jelas perbedaan dan kesamaannya dengan akibat-akibat-Nya, dia sesungguhnya terlampau berlebihan mengharapkan konklusi yang lebih besar dari premis-premis argumen itu.

Sekali lagi, argumen itu sejak awal kali digagas sudah dikenal sebagai argumen atas keberadaan Tuhan. Artinya, ia dirumuskan hanya dan hanya dalam rangka membuktikan keniscayaan ada-nya Tuhan, tidak lebih. Jika argumen ini tidak sampai meniscayakan keesaan Tuhan atau status lainnya, hal ini bukan lantas jadi kegagalan, kekurangan dan kelemahan argumen, juga tidak merusak kehandalannya membuktikan keniscayaan keberadaan Tuhan. Keesaan Tuhan atau tauhid dibuktikan tidak dengan argumen ini, tetapi dengan argumen lain, seperti Burhan Tamanu’ yang tertuang dalam QS. Al-Anbiya’ [21]: 22.

Bertolak dari ayat terakhir ini, muncul pertanyaan serius berikutnya: Kalau semua ini ciptaan Allah, lantas siapa yang menciptakan Allah? Inilah pertanyaan yang kelak dijadikan oleh Bertrand Russell sebagai kritik atas argumen rasional itu sebelum akhirnya dipegang sebagai alasan untuk memilih jadi agnostis (tidak yakin entah Tuhan itu ada atau tidak ada). BERSAMBUNG

Share Page

Close