• LAINYA

TAFSIR-FILSAFAT–Manusia, suka atau tidak, sadar atau lengah, pasti cenderung ingin benar; mencari, mengharapkan dan mengusahakan kebenaran. Saking suci dan agungnya nilai kebenaran, dia bahkan mengaku sampai mengaku-ngaku kebenaran, walaupun dirinya salah. Kecenderungan ini sudah menjadi bawaan fitrah dan tabiat manusia; ingin benar dan selalu ingin benar.

Karena kerinduan dan fanatisme pada kebenaran, banyak manusia yang siap berkorban dan mau menderita. Akan mudah dijumpai nama-nama dalam sejarah perjuangan dan kemerdekaan yang telah memilih mati demi kebenaran, keadilan dan kehormatan.

Baca juga: QS. Al-Ra’d [13]: 1; Semua Pemahaman itu Relatif? Allah saja Men-Share Kebenaran-Nya (2)
Baca juga: Toleran dan Intoleran: Dua Praktek Beragama yang Sama-sama Radikal

Tetapi perlu juga dicatat, kebenaran yang dinginkan, diperjuangkan dan layak dibayar oleh nyawa adalah kebenaran yang pasti dan mutlak. Setiap orang tidak menginginkan kebenaran yang setengah-setengah, kebenaran yang tanggung. Kodrat setiap orang tidak menyukai kebenaran relatif.

Masalahnya, adakah kebenaran mutlak? Dari mana dan bagaimana manusia bisa memperoleh pemahaman yang pasti benar? Berikut beberapa keterangan Alquran dalam ayat berikut:“Alif Lam Ra. Itu adalah ayat-ayat Kitab (Alquran), dan yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah benar, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman” (QS. Al-Ra’d [13]: ayat 1)

Pertama: Benar sepenuhnya bahwa kebenaran hakiki dan absolut adalah milik Tuhan: “… dari Tuhanmu adalah benar.”

Kedua: Kebenaran milik Allah bukan berarti selain Allah, yakni manusia, tidak bisa menjangkau dan tidak bisa memahami kebenaran Allah. Kata-kata seperti: “dari Tuhanmu” dan “diturunkan” menyatakan secara eksplisit bahwa kebenaran hakiki dan absolut yang berada pada Allah itu diturunkan oleh Allah kepada manusia sehingga setiap orang dapat mengakses dan juga memperolehnya.

Frasa “dari Tuhanmu” menyatakan bahwa kebenaran yang dipahami manusia dari teks Alquran adalah berasal dari Allah.

Ayat-ayat senada dengan frasa “diturunkan dari Tuhanmu” juga banyak dijumpai secara lebih tegas seperti “Maka ketika telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami (QS. Al-Qashash [28]: 48; QS. Yunus [10]: 76 &108; QS. Ghafir [40]: 25).

Ketiga: Makna “keberasalan” dalam frasa “dari Tuhanmu” menegaskan adanya keindentikan antara kebenaran Allah dan kebenaran manusia. Ayat lain juga menjamin keidentikan ini: “Sesungguhnya Kami telah menteturunkan Al-Dzikr (Alquran) dan sesungguhnya Kami adalah penjaganya” (QS. Al-Hijr: 9).

Baca Juga :  Direktur Markas Islam Hamburg: Al-Quran Memperkenalkan Nabi Isa dengan Bentuk yang Terbaik

Ini tidak beda dengan seorang jubir kabinet yang membacakan keputusan presiden lalu mengatakan, “Keputusan ini adalah dari Bapak Presiden”, yakni keputusan yang ada di tangan jubir itu, tidak lain tidak bukan, adalah keputusan yang sebelumnya sudah dibuat oleh dan berada di tangan presiden.

Jika keidentikan itu tidak ada, maka akan ada dua keputusan yang berbeda sehingga, atas dasar asumsi ini, keberasalan dan kedatangan serta, tentu saja,  kata dari jadi tidak bermakna atau jubir itu telah berani berbohong.

Keempat: Makna keberasalan dan keidentikan itu juga dipertegas di beberapa ayat lainnya: Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu” (QS. Al-Baqarah [2]: 147; Imran [3]: 60; Yunus [10]: 94).

Dalam ayat ini ada larangan “jangan jadi orang ragu”, sekaligus bermakna perintah: “jadilah orang yang yakin”, pada kebenaran yang berasal dan asal-aslinya dari Tuhan.

Tentang Alquran sebagai kebenaran dari Tuhan, ditegaskan, “Itulah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya sebagai petunjuk bagi orang bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]: 2).

Perhatikan ayat berikut:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۙ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ
“Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka” (QS. Muhammad [47]: 2).

Yakni, wahyu dan ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi SAW lalu dibacakan dan dipahamkan oleh beliau hingga disimak dan diamalkan oleh sahabat dan umat adalah kebenaran yang berasal dari dan ada pada Allah SWT.

Tentu saja, jika wahyu Allah kepada Nabi hanya bisa disimak dan tetapi tidak bisa dipahami sepenuhnya oleh orang-orang, maka wahyu itu tidak dapat disebut sebagai kebenaran datang dari dan berada pada Allah.

Sekali lagi perhatikan ayat berikut lainnya:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ
“Wahai Rasul! sampaikanlah apa (amanat) yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu! Jika engkau tidak melaksankan, berarti engkau tidak pernah menyampaikan amanat-Nya” (Al-Ma’idah [5]: 67).

Baca Juga :  QS. Al-Taubah [9]: 111; Menimbang Dungu-Gilanya Manusia Merespon Proposal Allah

Dalam ayat yang turun di masa-masa akhir kehidupan Nabi SAW ini terdapat peringatan keras dari Allah SAW agar beliau tidak lalai hingga meninggalkan perintah-Nya, yaitu tidak menyampaikan sebuah amanat yang telah diturunkan pada saat itu. Amanat itu tentu saja sangat penting, sebanding dengan keseluruhan risalah dan kerasulan Nabi, hingga dikawal dengan peringatan keras dan jaminan keselamatan.

Amanat ini juga dipertegas dengan kata “diturunkan dari Tuhanmu”, yakni amanat ini, pertama, bukan karangan dan kehendak Nabi, akan tetapi, kedua, berasal dari Allah, Tuhan yang mengutus Nabi.

Kata “dari” dalam ayat ini menegaskan bahwa amanat yang mahapenting itu adalah benar-benar dan sungguh-sungguh asal dan aslinya dari Allah. “… diturunkan dari Tuhanmu” menerangkan bahwa amanat yang diterima Nabi adalah berasal dari Allah, asli, sama serta identik dengan amanat yang dimaksudkan Allah.

Dan Nabi benar-benar layak disebut sebagai rasul (penyampai agama Allah), “Wahai Rasul!”, bila ia telah menyampaikan amanat itu seasli-aslinya dan menjelaskannya seutuh-utuhnya kepada umat.

Kelima: Ironisnya, ayat ini (QS. Al-Baqarah [2]: 147; Imran [3]: 60) justru dijadikan argumen oleh sebagian orang yang meniadakan kebenaran Tuhan dari jangkauan manusia. Dengan menggunakan ayat ini, dia hendak memastikan (baca: memutlakkan) kebenaran klaimnya sendiri bahwa kebenaran hakiki dan absolut itu hanya ada pada Allah.

Mereka tidak sadar bahwa pemahaman mereka ini sendiri atas ayat ini merupakan kebenaran hakiki yang, setidaknya dalam pemahaman mereka ini, pasti benar dan tidak salah. Kalau pemahaman atas ayat ini juga bukan hakiki dan masih bisa salah, maka tidak patut berargumen dengan ayat Tuhan ini, karena ayat ini juga masih bisa salah dipahami dan belum tentu sama dengan maksud yang ada pada Tuhan!

Ini pertama. Kedua, dalam epistemologi agama (Islam), tidak sedikit adanya kebenaran-kebenaran Islam dan Tuhan yang bisa diketahui secara absolut oleh setiap Muslim. Di antaranya, manusia itu bukan pencipta dirinya sendiri adalah kebenaran absolut; Tuhan itu satu adalah kebenaran absolut; Muhammad putra Abdullah itu hamba dan utusan Allah adalah kebenaran absolut; tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad adalah kebenaran absolut.

Baca Juga :  QS. Al ‘Imran [3]: 139; Merasa Diri Lemah, Kecil dan Rendah, Tanda tidak Beriman

Alquran ini bukan karangan Nabi adalah kebenaran absolut; Alquran ini buku petunjuk adalah kebenaran absolut; Isa putra Maryam itu bukan Tuhan adalah kebenaran absolut; Isa putra Maryam itu nabi dan hamba Allah adalah kebenaran absolut; kehidupan setelah kematian itu pasti terjadi adalah kebenaran absolut; pengadilan Tuhan itu pasti terjadi adalah kebenaran absolut; orang tahu dan orang tidak-tahu itu tidak sama adalah kebenaran absolut; orang adil dan tidak-adil itu tidak sama adalah kebenaran absolut.

Tentu, di samping kebenaran-kebenaran absolut, dalam Alquran juga ada ayat-ayat yang tidak absolut pemahaman manusia atas ayat-ayat tersebut.

Keenam: Masih dalam ayat Al-Baqarah [2]: ayat 147 ini, ada larangan hakiki agar tidak menjadi orang ragu. Larangan ini menerangkan:

(a) Lawan kebenaran adalah keraguan;

(b) Larangan itu tertuju pada tindakan bebas, maka ayat ini mendorong manusia untuk berusaha dengan kehendak bebasnya keluar dari keadaan ragu dan mendapatkan kebenaran sebagai pilihan dan kesadaran; dan

(c) Kebenaran tidak mungkin dipaksakan, hanya bisa dijelaskan secara objektif untuk diyakini oleh hati secara subjektif. “Tidak ada pemaksaan dalam agama; sungguh telah nyata kebenaran [berbeda] dari kesesatan” (Al-Baqarah [2]: 256).

Berada dan bertahan di atas kebenaran atau kesesatan bergantung pada pilihan dan kehendak setiap orang yang kelak harus dipertanggungjawabkan oleh dirinya sendiri (lihat. QS Al-Kahfi [18]: 29).

Ketujuh: Yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah benar”, artinya Allah sendiri tidak memonopoli kebenaran mutlak-Nya, tetapi juga Dia maha pemurah “menurunkan”, membagi-bagikan dan men-sharing kebenaran-Nya kepada manusia secara langsung (ditanamkan di dalam jiwanya) atau lewat para nabi, bahkan lewat orang-orang bodoh.

“Belajarlah kemuliaan dari orang-orang keji.”

Kedelapan: Di antara kebenaran Allah adalah ayat Alquran ini: Itu adalah ayat-ayat Al-Kitab (Alquran) dan yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah benar.”

Jika ayat ini juga bukan kebenaran Allah yang bisa diakses manusia, maka ayat ini juga tidak sah dijadikan argumen untuk secara radikal meniadakan kemampuan manusia mengkses kebenaran Allah dan secara ekstrem pula mengafirmasi agama atau pemahaman manusia atas agama/Alquran hanyalah penafsiran setiap orang. BERSAMBUNG

Share Page

Close