• LAINYA

Selain menata kehidupan personal, Islam juga menaruh perhatian besar terhadap hubungan sosial. Pola hubungan perkataan dan perbuatan manusia, dalam agama ini, mempunyai nilai dan efek yang besar sekali. Jujur, amanah, bereaksi santun, … adalah keutamaan moral yang dijunjung dan diperintahkan secara istimewa.

Sebaliknya, berbohong, berkhianat, memfitnah, menuduh adalah kehinaan moral yang sangat dibenci dan dilarang Islam. Berdebat (al-jidâl) juga termasuk masalah moral yang berkaitan lidah dan mulut manusia dalam konteks hubungan dengan sesama. Hubungan ini adakalanya menonjol dalam bentuk penyakit lidah dan mulut yang harus segera diperiksa dan diobati secara serius.

Berbagai aspek berdebat diuraikan secara komprehensif oleh Prof. Mujtaba Tehrani sepanjang topik-topik di bawah:

  • Definisi debat
  • Macam-macam debat
  • Kecaman dan sanjungan syariat terhadap debat
  • Faktor internal debat
  • Dampak buruk debat
  • Mengobati penyakit debat

1. Definisi Debat

Kata ini, dalam bahasa Arab, sepadan dengan al-jidâl yang dipergunakan dalam berbagai makna, antara lain: Jadala al-hablah, yakni menguatkan seutas tali dan jadala al-binâ’, yakni mengokohkan bangunan. Jaddala juga berarti memukul tanah.

Debat dalam Ilmu Akhlak

Salah satu makna debat yang menjadi subjek ulama akhlak adalah percekcokan, silat lidah dan perang mulut untuk mengalahkan pihak lawan dan membungkam mulutnya. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan berdebat dalam ilmu Akhlak adalah percekcokan dan berbantah-bantahan kata dengan maksud mengalahkan pihak lawan. Cekcok dan beradu mulut dalam diskusi dan forum, baik seputar isu ilmiah ataupun masalah agama, termasuk dalam kategori debat.

Perbedaan antara Debat dan Bertengkar

Al-Mirô’ atau bertengkar mempunyai cakupan yang lebih luas dari debat. Memang benar bertengkar dapat berarti adu mulut dan saling serang kata-kata, akan tetapi perilaku ini tidak terbatas hanya dalam perkara ilmiah dan masalah agama, melainkan juga meliputi apa saja yang bisa menjadi bahan pertengkaran.

Baca Juga :  Hoaksologi Big Data: antara Monopoli dan Rekayasa Fakta

Di samping itu, dalam praktik bertengkar, ada pihak yang mengatakan sesuatu lalu pihak lain membantahnya, sedangkan dalam berdebat tidak perlu ada pihak yang lebih dahulu mengatakan sesuatu, yakni boleh jadi pengetahuannya tentang pemikiran atau kepercayaan pihak lain membuat dirinya terdorong untuk berdebat dengannya.

Poin berikutnya, dalam bertengkar, seseorang bermaksud pamer diri dan berambisi menjatuhkan lawan. Oleh karena itu, selama lawan tidak berkata apa-apa, dia tidak menemukan peluang untuk membuka pertengkaran dengannya. Sementara dalam berdebat, seseorang bermaksud memperlihatkan rusaknya pemikiran atau kepercayaan lawan dan, karena itu, tidak harus didahului angkat suara dari lawan.

Perbedaan Debat dengan Bertikai

Debat dipergunakan dalam arti perselisihan mengenai masalah agama atau isu ilmiah, adapun bertikai (al-khushûmah) lazim dipergunakan dalam arti perselisihan mengenai sengketa hak dan harta. Meski demikian, bertikai juga adakalanya dipergunakan dalam arti berdebat, dan ini dapat dipahami dari indikasi yang mengecualikannya dari makna lazimnya.

Kendati kata-kata Arab ini: al-jidâl (berdebat), al-mirô’ (bertengkar, dan al-khushûmah (bertikai) memiliki arti yang berdekatan, bahkan terkadang dipergunakan pada bergantian, akan tetapi masing-masing memiliki keistimewaan khas yang memisahkan satu dari yang lain.Bersambung

Share Page

Close