• LAINYA

HADIS-MORAL—Tidak semua orang mampu memaafkan orang lain yang berbuat buruk kepada kita, melukai hati kita, tanpa alasan apa pun. Apalagi bila kita dalam posisi mampu membalasnya. Bahkan, orang begitu mudah merawat rasa kesal, dendam dan hawas sehingga tidak sedikit orang yang kesulitan melupakan perlakuan buruk orang lain terhadap dirinya dalam urusan pribadi, maka dia juga akan sulit memaafkannya.

وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْ ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 22)

Memaafkan adalah sifat mulia dari orang-orang yang karakter kuat dan berhati mulia. Bagaimana Nabi SAW, dengan memaafkan, membuat orang tergetar hatinya hingga jadi beriman, bagaimana dengan memaafkan, Nabi menjaga sahabat tetap loyal kepadanya. Dalam QS. Al Imran [3]: 159, Allah SWT mengingatkan Nabi SAW sebagai pemimpin umat dan negara bahwa seandainya beliau tidak memaafkan para sahabat setelah kalah dalam perang Uhud dan bersikap keras terhadap mereka, tentu mereka akan menjauhi beliau. Dengan Rahmat Allah, hati Nabi menjadi lemah lembut dan welas asih.

Sekali lagi, tidak semua orang punya kemampuan dan berhasil memaafkan orang lain. Karena itu pula kedudukan orang pemaaf itu tinggi. Jika dalam Alquran diajarkan agar kita membalas keburukan orang dengan kebaikan, yakni memperlakukan baik orang yang menyakiti pribadi kita, maka cara paling mudah memperlakukan baik orang itu ialah dengan memaafkannya.

memaafkan berarti tidak mempermasalahkan, tidak memperlanjang, tidak mengingat-ingat, tetapi melupakan, dan menghapus keburukan orang dari ingatan di pikiran, dari perasaan di hati, dari pembicaraan di lisan. ”

وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ
“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.”
(QS. Fussilat 41: Ayat 34)

Baca Juga :  Etika Kekuasaan: Keteladanan Halim Nabi dan Profil Negarawan

Sekaitan dengan memaafkan, seorang sahabat bernama Abdullah bin Abbas atau dikenal juga dengan nama pendek Ibnu Abbas menceritakan suatu pertemuan para sahabat dengan Nabi Muhammad SAW, kisah yang membuat Nabi terenyuh pilu sekaligus terharu biru.

Suatu hari, Rasulullah SAW berkumpul dengan para sahabat. Di tengah asyiknya dengan para Sahabat, tiba-tiba Rasulullah tersenyum bahagia sampai-sampai terlihat gigi depannya.

Umar bin Khattab yang berada di situ bertanya, “Wahai Utusan Allah! Demi Ayah dan ibuku! Apa yang membuatmu tersenyum begitu senang?”

Rasulullah SAW berkata, “Aku telah diberitahu oleh Malaikat Jibril bahwa kelak di hari Kiamat, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala di hadapan Allah SWT.”

“Salah satunya mengadu kepada Allah SWT, ‘Tuhanku! Ambilkan pahala ibadah dan kebaikan dari orang ini untukku, karena duhulu dia pernah menzalimiku.’

“Allah SWT berfirman, ‘Bagaimana mungkin Aku mengambil kebaikan saudaramu ini sedangkan dia sendiri tidak punya lagi pahala kebaikan sedikitpun!’.

“Orang itu berkata lagi, “Tuhanku! Kalau begitu, biarlah dosa-dosaku ditimpakan kepadanya.’”

Sampai di sini, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca. Ia tampak begitu terenyuh sedih hingga tak lagi mampu menahan tetesan air matanya. Ia menangis.

Tak lama kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Hari itu adalah hari yang begitu genting mencekam, dimana setiap orang ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosanya.”

Rasulullah SAW melanjutkan kisahnya, “Lalu Allah berkata kepada orang pertama yang mengadu tadi, ‘Sekarang, engkau angkat kepalamu!’

“Orang itu pun mengangkat kepalanya. Selang beberapa saat, ia berkata, ‘Tuhanku! Aku melihat di depanku ada istana-istana mewah nan megah, terbuat dari emas, dengan bangunan dan singgasananya dari emas dan perak bertatahkan intan berlian.

Baca Juga :  Kenapa Harus Ada Bencana? 5 Penjelasan Pandemi dari Alquran

“Istana-istana mewah itu untuk nabi manakah, wahai Tuhanku? Untuk orang shiddiq manakah, wahai Tuhanku? Untuk syahid manakah, wahai Tuhanku?

“Allah SWT berfirman, ‘Istana itu untuk orang yang mampu membayar harganya.’

“Orang itu berkata, ‘Tuhanku! Siapakah yang mampu membayar harganya?’

“Allah SWT berfirman, “Engkau sendiri juga mampu membayar harganya.’

“Orang itu terperanjat terheran-heran. Segera ia berkata, ‘Dengan cara apakah aku membayarnya, Tuhanku?”

“Allah SWT berfirman, “Memaafkan! Caranya, engkau maafkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, orang yang telah engkau adukan kezhalimannya kepada-Ku.’

“Orang itu berkata, ‘Tuhanku! Aku telah memaafkannya.’

“Allah SWT berfirman, ‘Kalau begitu, gandeng tangan saudaramu itu dan ajak dia masuk ke surga Firdaus bersamamu!’”

Setelah menceritakan kisah ini, Rasulullah SAW bersabda:

“Bertakwalah kalian kepada Allah dan kalian hendaklah saling berdamai dan mendamaikan. Sungguh Allah SWT mendamaikan perkara orang-orang beriman di Hari Kiamat.” (Tafsir Ibn Katsir, jld. 2, hlm. 286).

“Dengan memaafkan, rahmat Allah akan tercurahkan”. Kata-kata hikmah Sayyidina Ali bin Abi Thalib ini menyimpulkan kisah di atas. Memaafkan dan melenyapkan dendam dari hati mendatangkan berkah dan rahmat Allah, bukan hanya di dunia, tetapi juga di hari setelah kematian, di hari itulah kita benar-benar membutuhkan rahmat dan kemurahan Allah saat tidak ada lagi yang bisa kita andalkan.

Namun perlu dicatat:

Pertama, memaafkan di sini adalah dalam urusan pribadi dan di dalam keluarga, bukan dalam urusan sosial dan kepentingan banyak orang, bukan pula urusan umat, bangsa dan negara.

Kedua, dalam urusan sosial dan kepentingan bangsa serta negara, yang diutamakan adalah keadilan, menindak sesuai hak dan tanggung jawab, seperti praktik korupsi, KKN, kebijakan yang tidak adil, penyebaran berita bohong dan konten kotor, penyelewengan dalam pengelolaan dana umat, dll.

Baca Juga :  QS. Al-Ra'd [13]: 1; Semua Pemahaman itu Relatif? Allah saja Men-Share Kebenaran-Nya (2)

Sayyidina Ali bin Abi Thalib ditanya, “Mana yang lebih utama: kemurahan hati ataukah keadilan?”

Ia menjawab, “Keadilan meletakkan urusan pada tempatnya, sedangkan kemurahan hati (al-jud) mengeluarkannya dari arahnya. Keadilan adalah pemimpin umum, sedangkan kemurahan hati adalah peristiwa tertentu. Maka keadilan lebih mulia dan lebih utama.” (Nahj al-Balaghah, hlm. 553).

Ketiga, keburukan sosial pun perlu diungkap kepada pihak-pihak yang bisa, sekali lagi, yang bisa dan layak menyelesaikan masalah. Tidak dibenarkan mengungkap dan membicarakan apalagi menyebarkan keburukan orang lain kepada siapa saja melalui sembarang media hanya dengan alasan amar ma’ruf nahi mungkar.

Keempat, perhiasan orang yang punya otoritas, kewenangan dan kekuasaan (di keluarga, di lingkungan, di daerah, di negara) ialah menyayangi rakyat, saudara sekeluarga dan sebangsa. Pemimpin akan diuji kekuasaan dan otoritasnya dengan kebodohan, kekurangan dan kelancangan bawahannya.

Kelima, kemuliaan dan derajat tinggi orang pemaaf dan bukan-pendendam adalah karekter yang dapat dibangun dan dibina kokoh dengan memulai tidak mengingat-ingat, tidak mengungkit-ungkit keburukan orang lain, tidak juga membicarakan, merumpi dan membukan aib orang lain. Caranya, cukup fokus pada diri sendiri. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Beruntunglah orang yang peduli pada kekurangan diri sendiri daripada pada kekurangan orang lain.”

Keenam, ikut campur dalam urusan orang lain, membicarakan urusan keluarga orang, menumpahkan perasaan dan rasa sakit hati karena perlakukan buruk orang lain adalah tanda-tanda kegagalan membangun karakter memaafkan, kehilangan derajat kemanusiaan apalagi keilahian.

Share Page

Close