• LAINYA

TAFSIR-ETIKAPOLITIK–Halim kerap dipadankan dengan sabar. Memang mirip dengan sabar, tapi tak sama. Seseorang disebut sabar bila dia jadi objek perlakuan buruk orang lain dan dia tidak mempu membalasnya sehingga dia terpaksa menahan emosinya.

Akan halnya orang halim hanya akan disebut halim dan tabah bila ia jadi objek perlakuan buruk orang lain, sementara ia mampu dan sangat mampu membalas balik keburukan orang itu, tetapi ia tidak melakukannya dan tidak membalasnya, bahkan justru sebaliknya: memaklumi, memaafkan dan membalasnya dengan perlakuan yang baik.

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan keburukan. Tolaklah [keburukan] itu dengan cara yang lebih baik sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman setia” (QS. Fushshilat [41]: 34).

Lanjutan ayat di atas menegaskan bahwa sifat-sifat mulia itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan orang-orang yang memiliki keuntungan yang besar. (Lihat juga QS. Al-Mukminun [23]: 96; QS. Al Imran [3]: 134; QS. Al-Syura [42]: 43).

Orang halim adalah orang yang punya kekuatan, keunggulan dan keistimewaan. Hanya saja, ia tidak menggunakan kemewahan, akomodasi dan fasilitas hidup seperti: kekayaan, relasi dan jaringan, golongan dan organisasi, status sosial, ekonomi, media, jabatan dan kewenangan, untuk melampiaskan emosi dan menuntut hak pribadi, sekalipun ia dibenarkan secara hukum dan moral. Halim adalah orang menjunjung nilai-nilai keutamaan di atas norma-norma hukum dan moral.

Halim dapat diperankan oleh siapa saja, terutama oleh mereka yang punya sedikit apalagi banyak otoritas, mulai dari kakak, suami, orang tua, teman, ketua, guru, dosen, direktur, khususnya tokoh masyarakat seperti: ustad, ulama, pakar, aparat keamanan dan, terutama lagi, pejabat publik, penentu kebijakan negara serta masa depan bangsa.

MENJADI HALIM PASTI MEMIMPINAli bin Abi Thalib

Pada masanya, Nabi memiliki segenap kemewahan itu hingga membuat Abu Sufyan, tokoh sentral Quraisy, terkagum-kagum seolah tidak masuk akalnya ketika dia menemui para elite di Makkah dan mengungkapkan kesan melihat Nabi di Madinah, “Muhammad sudah seperti Kaisar.”

Baca Juga :  "The Qurʾan and the Just Society", Peran Alquran Membangun Masyarakat Adil

Nabi SAW diperlakukan umatnya seolah-olah ia adalah kaisar Romawi. Ini kesaksian musuh utama atas kualitas dan kedudukan Nabi SAW. Namun, Nabi sendiri tidak pernah berusaha menampatkan dirinya sebagai kaisar. Ia justru lebih senang berada di tangah orang-orang lemah dan lapisan bawah masyarakat hingga makan dan duduknya pun seperti cara makan dan duduknya budak.

Apakah Nabi juga menggunakan keistimewaan, penghargaan dan kepercayaan dari Langit (Tuhan) dan bumi (manusia) untuk keinginan dan kepentingan dirinya? Bagaimana etika Nabi memimpin umat, bangsa, negara dan dunia?

Sekali lagi, dengan halim, yakni tabah dan berjiwa besar. Sifat ini sangat krusial dalam pembangunan jiwa kepemimpinan, etika berkuasa dan manajemen konflik. Sifat halim adalah bentuk agung dari idealisme keberadaban yang melapisi keadilan Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Dalam sebuah pengalaman sosial era awal Islam, dilaporkan ada seorang Arab Baduwi atau Arab kampung datang menjumpai Nabi SAW. Tidak seperti orang sekarang membunuh karakter dari belakang lewat media di ruang paling privat, orang Arab itu berdiri di depan Nabi, langsung mengutuk-ngutuknya dan berkata:

“Hai Muhammad! Kamu ini penyihir dan pembohong. Tidak ada yang paling fasih kata-katanya dalam berbohong lebih dari kamu. Kamu mengaku-ngaku bahwa kamu punya Tuhan di negeri ini yang telah mengutusmu ke semua orang putih dan hitam.

“Demi Lata dan Uzza! Seandainya aku tidak takut kaumku akan menyebutku anak sapi, pasti aku sudah menebasmu dengan pedangku!”

Mendengar cemoohan itu, Umar bin Al-Khattab spontan murka dan melompat ke arahnya untuk menyerangnya. Namun, Nabi SAW segera menahannya dan memerintahkannya untuk tenang, “Duduklah, hai Abu Hafs (Umar)! Karena orang yang halim hampir menjadi nabi.”

Kemudian Nabi SAW menghadap ke orang Baduwi dan berkata kepadanya:

“Wahai saudara dari Bani Sulaim! Beginilah orang-orang Arab menyerang kami di ruang-ruang pertemuan kami; mereka memperlakukan kami dengan kata-kata yang kasar.

“Wahai Arab Baduwi! Demi Dia Yang telah mengutusku dengan kebenaran sebagai nabi! Siapapun yang menyakiti aku di dunia ini kelak dia akan dibakar di neraka!

Baca Juga :  Memaafkan: Karakter Tangguh, Kepribadian Mulia dan Jiwa Merdeka tanpa-Dendam

“Wahai Arab Baduwi! Demi Dia Yang mengutus aku dengan kebenaran sebagai nabi! Seluruh penduduk langit ketujuh memanggilku dengan nama Ahmad Al-Shadiq.

“Wahai Arab Baduwi! Berislamlah, engkau pasti selamat dari neraka! Engkau mendapatkan hak dan kewajiban seperti hak dan kewajiban kami, dan engkau menjadi saudara kami dalam Islam.”

Perlakuan Nabi SAW terhadap orang Arab Baduwi itu sedemikian mulia, santun dan penuh kasih sayang hingga meluluhkan hati kerasnya dan hingga dia sendiri memutuskan masuk Islam. Keislamannya lantas diikuti oleh enam ribu orang dari kaumnya (Ibn Asakir, Tarikh Dimasyq, jld. 4, hlm. 383).

Dalam teguran kepada sahabat senior, Umar bin Khattab, Nabi SAW mengingatkan bahwa orang halim nyaris menjadi nabi.

Nabi SAW menahan dan mengingatkan sahabat sesenior Umar bin Khattab adalah pelajaran agar, sebelum memulai agenda dan upaya perubahan masyarakat, melakukan perbaikan, pematangan, penertiban dan pendisplinan di lingkungan internal, khususnya lingkaran terdekat.

Orang halim adalah manusia berjiwa besar, berhati lapang dan luas hingga mampu menampung dan menaungi kehadiran siapa pun sesama manusia, apalagi seumat dan sebangsa, sedemikian hingga meneduhkan dan meluluhkan hati yang keras.

Orang halim adalah warga juga pemimpin yang mencerminkan kelembutan hati, cinta dan kasih sayang, tanpa kata-kata kasar dengan nada mentang-mentang atau dengan cara menantang-nantang, sekalipun ia lebih tahu, lebih menguasai dan lebih berkuasa.

Orang halim adalah negarawan yang mengayomi warga tanpa mengutamakan kepentingan diri sendiri, kelompok dan partainya kecuali kebaikan dan masa depan bangsa.

Orang halim bukan manusia reaksioner sehingga mengambil tindakan karena tersulut emosi dan ketersinggungan yang dibalut dengan alasan-alasan suci: membela kebenaran dan agama atau membela martabat dan simbol negara.

Sikap-sikap reaksioner dan emosional tidaklah membuat agama Nabi menjadi mulia dan unggul selain justru mencoreng kesucian dan kewibawaan yang sudah dibangun oleh Nabi dan para sahabatnya.

Orang halim adalah manusia yang berakal sehat dan mampu mengendalikan diri dan situasi sekitar untuk tujuan mulia dengan tetap tangguh beristiqamah dan konsisten.

Baca Juga :  Tahukah Anda Ayat Alquran paling Agung? Ini Dia!

Orang halim adalah manusia yang berprinsip dan fokus dengan tujuan-tujuan keutamaan sehingga perlakuan buruk, sikap sinis, kritik deskruktif, penghinaan dan penistaan terhadap dirinya tidak membuatnya panik, putus asa atau marah.

Orang halim ialah manusia yang siap dan mau menderita. Penderitaan adalah konsekuensi dan harga manusia halim. Tentu saja tidak masuk akal bila ada pejabat mengaku negarawan atau ulama mengklaim pewaris nabi tetapi dia sendiri tidak siap mewarisi penderitaan, ketabahan dan jiwa besar para nabi. Lebih sulit lagi mempercayai mereka jika mereka sendiri bahkan tanpa malu menyatakan tuntutan hingga memaksa untuk diperlakukan berbeda dan istimewa di tengah situasi serbasulit warga biasa.

Ketika sahabat bertanya, “Siapa orang yang paling menderita?”, Nabi SAW menjawab, “Orang yang paling keras penderitaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang di bawah mereka yang paling mirip dengan mereka.”

Karena itu, di tahun terakhir sekaligus paling keras dari periode dakwah di Mekkah, Nabi bertolak Thaif dengan harapan mendapatkan dukungan dari warga Arab di sana. Namun, ia justru dibalas dengan lemparan batu hingga terluka.

Malaikat Jibril datang dan menawari beliau untuk membinasakan warga Thaif dengan menjatuhkan gunung kepada mereka. Hanya Nabi menolak dan, dalam keadaan menderita, ia berkata, “Mereka adalah umatku, hanya saja mereka tidak mengerti.”

Pengalaman seperti ini terulang tidak hanya di perang Uhud, tetapi juga dalam banyak peristiwa. Namun, Nabi SAW tetap konsisten dan mengatakan, “Mereka adalah umatku, hanya saja mereka tidak mengerti.” Maka benar Allah dengan firman-Nya, “Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat untuk alam semesta.”

Sebagai penutup, berikut ini dialog singkat Nabi SAW dengan sahabat. “Tidakkah kalian ingin aku beritahukan orang yang paling mirip denganku?”, tanya Nabi. “Tentu, wahai Utusan Allah”, balas mereka. Nabi bersabda, “Dialah orang yang paling ramah, paling besar halimnya, paling baik kepada kerabatnya dan paling kuat mengendalikan diri dalam keadaan marah dan senang.”

Share Page

Close