• LAINYA

FILSAFAT–Di mana Allah? Dia sedang berada di mana sekarang? Kerap kita bertanya atau ditanya seperti ini. Biasanya kita membayangkan Allah ada di langit sana, di atas sana, seolah dia berada di suatu tempat. Pertanyaan ini sudah lama digelontorkan berulang kali. Bukan hanya sekarang, pertanyaan seperti ini sudah dibahas sejak jaman Nabi SAW dan para sahabat mulia. Salah satunya dilaporkan dalam sejumlah riwayat yang memuat pertanyaan ini dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra.

Pertanyaan tentang di mana Allah berada muncul dalam dialog lintas-iman. Disebutkan bahwa sekelompok pendeta Yahudi datang menemui Khalifah Abu Bakar dan bertanya, “Apakah kamu khalifah nabi umat ini?”

Khalifah Abu Bakar menjawab, “Ya.”

“Beritahukan kepada kami tentang Tuhanmu, dilangit atau di bumi?”  Tanya mereka.

“Dia berada di langit, di atas ‘Arsy,” jawab Khalifah Abu Bakar.

“Kalau begitu, bumi kosong dari-Nya dan berarti Tuhan berada di sebuah tempat dan tidak di tempat yang lain?” debat pemuka Yahudi.

Khalifah Abu Bakar menukas, “Ini adalah ucapan orang-orang zindiq (kafir), pergilah kalian!”

Mereka pergi sambil mencemooh Islam. Maka Ali bin Abi THalib menemui mereka dan berkata, “Aku sudah tahu apa yang kalian tanyakan dan kalian bantah. Sekarang aku akan jelaskan:

“Ketauhilah bahwa kita tidak bisa mengatakan Allah ada di mana. Allah pencipta tempat; Dia maha agung dan suci dari tempat dan apa pun. Dia ada dan pengawas atas semua tempat; Dia meliput segala sesuatu; tidak ada sesuatu apa yang meliput-Nya dan menyentuh-Nya. Hanya ilmu Allah yang meliput diri-Nya.

“Kini, aku mengabarkan apa yang telah aku lihat dalam kitabmu. Jika yang aku kabarkan itu sesuai dengannya, apakah kamu akan beriman?”

Baca Juga :  Relasi Merdeka dan Adil dalam Ketuhanan Berkebudayaan

Pemuka Yahudi itu berkata, “Tentu, aku akan beriman.”

Sayyidina Ali ra. melanjutkan, “Dalam kitabmu disebutkan bahwa Musa bin Imran, pada suatu hari, sedang duduk, tiba-tiba malaikat datang. Musa bertanya, ‘Dari mana engkau datang?’ Malaikat menjawab, ‘Dari sisi Tuhanku.’

Lalu malaikat lain datang. Musa bertanya, ‘Engkau datang dari mana?’ malaikat itu menjawab, ‘Aku datang dari sisi Tuhanku dari arah barat.’

Lalu malaikat lain datang. Musa bertanya, ‘Engkau datang dari mana?’ Malaikat itu menjawab, ‘Aku datang dari langit ketujuh dari sisi Tuhanku.’

Lalu malaikat lain lagi datang dan Musa bertanya, ‘Dan engkau datang dari mana?’ Ia menjawab, ‘Aku datang dari tingkat ketujuh bumi dari sisi Tuhanku.’

“Ketika itulah Musa berkata, ‘Mahasuci Allah yang tidak ada tempat yang kosong dari keberadaan-Nya, namun Dia tidak di tempat mana pun, dan dia lebih dekat dari setiap tempat.’”

Segera pemuka Yahudi itu bersyahadat, “Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan bahwa engkau adalah washi dan khalifah utusan Allah.”

Sumber: Ibn Duraid, Kitab Al-Mujtana, hal. 253

Share Page

Close