• LAINYA

FILSAFAT-Q&A–Sejak kecil, keluarga Muslim dan beriman tentu sudah akrab dengan nama Tuhan, Allah, pencipta alam dan sumber segenap keberadaan. Sejak kecil itu juga kerap kita membayang-bayangkan bagaimana sih Allah itu. Selanjutnya muncul pertanyaan macam-macam yang, adakalanya, dianggap orang dewasa nakal atau bahkan lancang dan sesat.

Sekedar bertanya dan membuat pertanyaan tidak ada salahnya. Hanya jangan berhenti di bertanya, tetapi bertanya jadi alat untuk mendapatkan kebenaran. “Bertanya adalah kunci pengetahuan.” Tinggal selanjutnya bagaimana membuat pertanyaan yang benar. Adakalanya pertanyaan itu tidak perlu dijawab atau sudah terjawab dengan sendirinya hanya karena pertanyaannya yang salah.

Kembali ke atas, biasanya pertanyaan yang “katanya” macam-macam itu muncul karena membayangkan Allah semirip diri kita, manusia. Maka muncullah pertanyaan seperti: di mana Allah berada? Kapan Allah berada? Sedang apa Dia? Sebelum aku ada, Allah di mana? Setelah aku ada sekarang, Dia ada di mana? Di atas sana atau di dekat sini?

Tampaknya tidak mudah. Pertanyaan “nakal” justru serius dibahas di kalangan pemikir sekelas filosof dan teolog. Misalnya, dalam filsafat dinyatakan bahwa keberadaan Allah adalah Realitas Absolut, Maha sempurna, Wujud yang tak terbatas oleh ruang dan waktu.

Atas dasar ini lalu kita menyimpulkan: sebelum menciptakan alam dan segala makhluk yang terbatas ini, Allah ada di mana-mana. Dari kesimpulan ini kemudian muncul pertanyaan berikut:

Kalau memang begitu, lantas bagaimana Allah menciptakan alam/makhluk? Apakah Dia menciptakan alam di dalam wujud-Nya?
Atau, apakah Allah menciptakan alam ini di luar wujud-Nya? Jika demikian, Tuhan berarti tidak bersama dengan ciptaan-Nya?
Atau, apakah wujud Allah adalah wujud alam ini? Bukankah ini sama dengan doktrin yang salah yang dikenal wahdat al-wujud itu?
Lalu, bagaimanakah Tuhan menciptakan alam semesta tanpa harus timbul kekurangan dan merusak ketak-terbatasan wujud-Nya?

Baca Juga :  QS. Al-Hijr [15]: Ayat 99; Falsafah Ibadah; Untuk apa dan Sampai kapan Kita Beribadah?

Pada dasarnya, pertanyaan-pertanyaan ini salah lantaran bertolak dari kesimpulan yang salah itu.

Coba amati kembali: di pendahuluan pertanyaan disebutkan begini: “Wujud Allah yang Maha Esa adalah Realitas yang tak terbatas. Dan sebelum menciptakan alam ciptaan yang terbatas, Allah ada di mana-mana.” Kalimat terakhir ini tidak dapat dibenarkan, karena sebelum penciptaan, kata “tempat” tidak memiliki arti apa-apa, apalagi kata “di mana-mana”. Ini adalah jawaban pertama.

Kedua, kita telah membayangkan Allah berwujud materi yang tak terbatas. Karena itu lantas kita mengatakan Allah ada di mana-mana dengan pengertian: Allah adalah realitas materiil yang menempati segenap ruang dan seluruh tempat sehingga tak sedikit pun ruang yang kosong dari wujud Allah.

Padahal, wujud Allah bukan wujud materi. Allah mahasuci dan bebas dari semua itu. Disebutkan benar bahwa keistimewaan Allah adalah berbeda dengan alam/makhluk (mukhalafatun li al-hawadith). Ini juga sesuai dengan ayat, “Tidak ada seperti Dia sesuatu apa pun” (QS. Al-Syura [42]: 11).

Jadi, kita tidak dapat membayangkan Allah bertempat dan berada dalam batasan waktu. Bagi-Nya tidak berlaku makna ataupun kata “dalam” dan “luar” sehingga lantas ditanyakan Dia di dalam ataukah di luar. Allah tidak berada di dalam sesuatu, tidak pula berada di luar sesuatu, karena tempat, waktu, di mana dan kapan adalah hukum-hukum materiil yang hanya berlaku pada realitas berwujud materi.

Dengan demikian, makhluk tidak berada di luar wujud Allah, tidak berada di dalam wujud Allah. Juga wujud Allah bukan wujud makhluk-Nya, karena Dia Maha Pencipta, sementara makhluk hanyalah realitas ciptaan-Nya. Pencipta bukanlah ciptaan, Khaliq bukanlah makhluk. Maka, arti ketakterbatasan Tuhan tidak seperti yang kita bayangkan.

Baca Juga :  Filsafat dan Etika Kritik (1): Teliti dan Adil

Ketakterbatasan Allah adalah kehakikian wujud-Nya yang benar-benar nyata tanpa harus ada ruang, waktu dan batasan lainnya. Makna “Allah bersama makhluk” bukan berarti Allah menempati suatu tempat bersama makhluk, berbagi tempat atau saling mengisi tempat dengan makhluk, akan tetapi kebersamaan-Nya dengan makhluk ialah kemeliputan mutlak ilmu, kekuasaan, dan kehendak-Nya atas semua makhluk.[HCF]

Share Page

Close