• LAINYA

FILSAFAT–Terlalu banyak alasan untuk tidak mengenalkan Imam Ghazali saking begitu populernya terutama di kalangan tokoh ilmu pengetahuan dari berbagai bidang. Popularitas dan kedudukan terhormat itu tentu tidak lepas dari pengalaman dan gejolak hidupnya yang kreatif sekaligus berani untuk mengkritik diri sendiri dan mengubah radikal pendirian intelektual bahkan caranya beriman pada kebenaran agama.

Kritiknya atas diri sendiri tidak kalah kerasnya dalam mengkritik orang lain. Ini seperti yang lazim kita jumpai dalam salah satu karya monumentalnya, Tahafut Al-Falasifah (Inkoherensi Para Filosof). Imam Ghazali begitu gigih dan cadas menyerang pandangan-pandangan para filosof (Peripatetisme), mulai dari Aristoteles di Barat (Yunani) hingga Al-Farabi dan Ibnu Sina.

BAGI GHAZALI, PENGEMBANGAN ILMU, SUKA ATAI TIDAK, HARUS BERTOLAK DARI BELAJAR LOGIKA.

Sikap agresif Imam Ghazali itu bukan tanpa alasan. Ia mengkritik filsafat dengan cara filosof memecahkan masalah dan menarik konklusi, yakni pola-pola inferensial logika. Seperti kata Aristoteles, menggugurkan filsafat juga harus berfilsafat.

Dari sekian motif dan keputusan mengkritik filsafat, ada satu alasan Imam Ghazali yang unik sekaligus ekspesi dari opini publik yang negatif di kalangan ulama. Ia menentang para filosof Muslim karena filsafat mereka, selain kontradiktif dengan teks suci, berasal dari Yunani sehingga ia, dalam buku itu, mengadili mereka dalam 20 masalah dengan vonis sesat hingga kafir.

Alasan ini juga tadi dicatat unik karena, faktanya, Imam Ghazali sangat menggemari Logika (manthiq) yang ia akui sendiri juga datang dari negeri filsafat itu berasal. Lagi-lagi Yunani.

Kepercayaan Imam Ghazali pada Logika tampak kuat dari jumlah karyanya dalam bidang ini. Dia meninggalkan 5 buku untuk generasi Muslim: bagian pertama dari Maqashid al-Falasifah, Mi’yar Al-‘Ilm, Mahakk Al-Nadzar, Al-Qisthas Al-Mustaqim, dan bagian terakhir dari karya Ushul Fiqih, Al-Mustashfa.

Sebagaimana dicatatkan di pengantar Tahafut Al-Falasifah, Imam Ghazali menegaskan bahwa Logika bukan hanya untuk filsafat, tetapi juga dibutuhkan oleh semua bidang ilmu, bahkan oleh ilmu Fiqih. Karena itu ia menyebut Logika sebagai referensi akal (madarik al-uqul).

Baca Juga :  Apa benar Filsafat itu haram? Begini keterangan Alquran

Bisa diamati dari penjudulan buku-buku itu, bagaimana Imam Ghazali memilih tiga nama untuk tiga dari lima karya logikanya tadi, yaitu Mi’yar Al-‘Ilm (Standar Ilmu), Mahakk Al-Nadzar (Tolak-ukur Berpikir) dan Al-Qisthas Al-Mustaqim (Neraca yang Lurus) sebagai nama-nama penimbangan, penakaran, pengukuran dan, tentu saja, pengadilan.

Karena itu Logika, menurut Imam Ghazali, merupakan standar dalam menimbang dan mengadili kesahihan ilmu-ilmu dan, karena itu pula, dia memandang wajib membahas kaidah-kaidah Logika sebelum mempelajari bahkan ilmu Ushul Fiqih. Ini menjadi pijakannya untuk memulai pembahasan Ushul Fiqih dalam Al-Mustashfa dengan pertama-tama mengemukakan kaidah-kaidah Logika secara singkat.

SADAR ATAU TIDAK, PEMBUDAYAAN LOGIKA JUGA BERDAMPAK LANGSUNG PADA KETAHANAN FILSAFAT.

al-Qisthas al-Mustaqim, karya Imam Ghazali

Lain lagi dengan Mahakk Al-Nadzar. Imam Ghazali menulis buku Logika ini dengan pertimbangan agar kaidah-kaidah Logika dirumuskan dengan bahasa kaum mutakallim dan fuqaha. Karena itu, dalam buku ini, juga di buku sebelum ini, alih-alih menggunakan istilah-istilah populer Logika, ia justru menerangkan kaidah-kaidah Logika dengan terminologi yang populer dalam Kalam dan Usul Fiqih. Misalnya, mawdhu’ (subjek) diganti jadi mahkum ‘alayh, mahmul (predikat) jadi hukm, kulli (universal) jadi muthlaq, tashawwur (konsepsi) jadi ma’rifat, tashdiq (asersi) jadi ilm.

Pengaruh Alquran baru tampak dalam Al-Qisthas Al-Mustaqim. Buku ini tidak beda dengan buku lainnya selain dua keunikan yang hanya milik Imam Ghazali. Ia merujuk Alquran sebagai landasan untuk kemudian menggali dan mengeluarkan kaidah-kaidah logika dari dalam rahim ayat-ayat.

Dalam sejarah keilmuan Islam, upaya ilmiah ini sampai masa itu benar-benar baru. Seperti yang akan kita simak di akhir, kebaruan ini tetap bertahan sampai beberapa abad setelahnya, dan keberadaan upaya serupa dari tokoh yang datang belakangan hanya menyegarkan kebaruan tersebut.

Baca Juga :  Filsafat Alquran (2): Sejarah Jatuh-Bangun Manusia dalam Relasi Akal dan Wahyu

Agar lebih konkret, berikut ini beberapa contoh dari upaya ilmiah tersebut. Imam Ghazali mengacukan peristilahan itu kepada beberapa ayat dari QS. Al-Rahman [55]: 7-9:

“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca.
“Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.
“Dan tegakkanlah timbangan dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca.”

Bila Imam Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menarik kembali istilah-istilah keilmuan Islam (seperti: fiqih, ilmu, hikmah, tauhid) ke Alquran sebagai sumber asalnya, namun dalam buku ini ia menonjolkan keunikan tersebut dengan membuat peristilahan baru dari ayat-ayat Alquran menggantikan istilah-istilah baku Logika. Bahkan memilih nama untuk karyanya itu dari frasa literal Alquran, yaitu QS. Al-Isra [17]: 35:

وَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا۟ بِٱلْقِسْطَاسِ ٱلْمُسْتَقِيمِ

“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang lurus.”

Imam Ghazali menjelaskan alasannya, “Saya mengubah peristilahan Logika dengan bahasa Alquran agar orang-orang yang akalnya lemah dapat mudah menerimanya.” Penjelasan ini tidak jauh berbeda dengan pertimbangan politis Al-Farabi dan Ibnu Sina dalam mempopulerkan nama “hikmah” dan “hakim” sebagai ganti dari nama filsafat dan filosof; hikmah dan hakim ada dalam Alquran dan bisa segera diterima awam.

TIDAK SEPERTI KEBIASAAN KITA, IMAM GHAZALI MENGRITIK DIRI SENDIRI LEBIH KERAS DAN PALING RADIKAL DARIPADA MENGKRITIK ORANG LAIN.

Masih banyak lagi hal-hal dalam Logika yang diubah Imam Ghazali kendati hanya di lapisan permukaan, yakni pengislaman dan peng-Alquran-an istilah-istilah Logika. Walaupun memang tidak cukup untuk dianggap sebagai pelopor pengagasan islamisasi ilmu, namun cara ilmiah ini dengan motif sebagaimana ia nyatakan adalah itikad mulia dan kontribusi pembudayaan Logika. Entah sadar atau tidak, pembudayaan ini juga secara langsung mempertahankan filsafat dan berfilsafat tetap hidup.

Baca Juga :  Profil Pemimpin Ideal dalam Tasawuf Politik Platon dan Khomeini (3): Ulama sama dengan Nabi

Alhasil, menjelaskan kaidah-kaidah Logika dengan cara Imam Ghazali ini selanjutnya tidak menjadi fokus para logikawan yang datang setelahnya. Kita baru lima abad kemudian menemukan cara itu agaknya sama dalam Mafatih Al-Ghayb, karya Mulla Sadra, pendiri Kebijaksanaan Utama (al-hikmah al-Muta’aliyah). Dalam karya tasawuf dan tafsir isyari ini, ia mengangumi cara Imam Ghazali hingga juga teosofi Syiah Persia asal Syiraz ini mengutip redaksi-redaksi kalimat sufi Sunni Persia dari Thus itu.

 

Referensi:

  • Imam Ghazali: Tahafut Al-Falasifah.
  • Imam Ghazali: Al-Qisthas Al-Mustaqim.
  • Imam Ghazali: Al-Mustashfa.
  • Imam Ghazali: Mahakk Al-Nadzar.
  • Imam Ghazali: Mi’yar Al-‘Ilm.
  • Imam Ghazali: Ihya’ ‘Ulum Al-Din.
  • Sadrul Mutaallihin (Mulla Sadra): Mafatih Al-Ghayb.
  • Ali Ashgar Sulaimani: Tarikh Manthq.
  • Rafiq Al-Ajam: Al-Manthiq inda Al-Ghazali.
  • Detailnya silakan kontak via e-mail: ammarfauziheryadi@gmail.com

Share Page

Close