• LAINYA

QURANIKA-ETIKA–Media itu nirnilai, tidak baik juga tidak buruk, tergantung penggunaan dan tujuannya. Demikian media dan jejaring sosial juga ditentukan nilainya oleh tujuan pengguna dan cara menggunakannya. Sebagai medan pengaruh dan terpengaruh, media sosial menjadi saluran tujuan di pikiran pengguna dan cara penggunaannya akan berdampak luas.

Harapannya, dampak itu positif dan bermanfaat bagi diri dan masyarakat. Bagaimana memastikannya? Berikut ini 10 norma dari Alquran yang, bila dipatuhi, jadi garansi aktivitas kita di medsos dan bicara di depan publik lebih tertib dan menunjang kebaikan lebih banyak.

Baca juga: QS. Al-Baqarah [2]: Ayat 42; Cara Membuat Hoax
Baca juga: QS. Al-Hujurat [49]: Ayat 6; Polos Dan Gampang Percaya, Sumbu Kebohongan

1. Terbuka menerima berita dan informasi. Dalam ilmu Statistika, beda antara data dan informasi; yang pertama adalah informasi mentah yang belum terkonfirmasi benar-salahnya, sementara yang kedua adalah data yang sudah matang yang sudah terkonfirmasi benar-salahnya. Baik data maupun informasi layak ditampung. Betapapun, tahu itu lebih baik daripada tidak tahu. “Maka sampaikan berita bahagia kepada hamba-hamba-Ku. [Yaitu] orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik” (QS. Al-Zumar [38]: 18).

“Ya Allah, wahai Tuanku! betapa banyak keburukan yang Engkau tutupi …
Betapa banyak ketergelinciran Engkau selamatkan …
Dan betapa banyak sanjungan indah yang bukan milikku Engkau tebarkan.”

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib

2. Penting, mengidentifikasi mana berita yang penting bagi diri kita, meninggalkan apa saja yang tidak berguna bagi kita. “Hai orang-orang beriman! Perhatikanlah dirimu sendiri! Tidaklah akan membahayakanmu orang yang sesat apabila kamu telah mendapatkan petunjuk” (QS. Al-Maidah [5]: 105). Tidak semua data dan informasi ada hubungan dengan dirinya dan penting bagi dirinya. Nabi bersabda, “Bagian dari kesempurnaan islam seseorang ialah meninggalkan apa yang tidak penting bagi dirinya” (Al-Albani, al-Targhīb wa al-Tarhīb, hadis no. 2339).

Baca Juga :  Prank Pertama dalam Dinamika Politik Islam; Gusarnya Abu Musa Asy'ari dan Lahirnya Khawarij

Baca juga: Cara Filsafat Menaklukkan Bencana
Baca juga: Kenapa Harus Ada Bencana? 5 Penjelasan Dari Alquran

3. Sabar. Adakalanya suatu informasi, saking pentingnya bagi dirinya, langsung saja direspon tanpa pikir panjang. Maka, perlu kesabaran. Tandanya, tidak panik dan tidak tergesa-gesa (QS. Al-Isra’ [17]: 11). Dalam surah Al-Kahfi, Allah menggambarkan bagaimana Nabi Musa belajar kesabaran dalam mendapatkan keterangan fakta dari Nabi Khidir (lihat QS. Al-Kahfi [18]: 66-69). Dengan begitu, ia tidak terbawa emosi sendiri, ikut-ikutan arus kehebohan, rumor dan opini yang berkembang.

4. Kritis, menampung dan mencerna informasi secara hati-hati untuk memastikan nilai benar-salah isinya dengan cara, di antaranya, mengamati konsistensi isinya, atau membandingkan dengan data dan informasi yang lain, atau mengkonfirmasi ke sumber terpercaya, “Wahai orang-orang beriman! Jika seorang fasik membawa suatu berita kepadamu, maka telitilah kebenarannya” (QS. Al-Hujurat [49]: 6).

“Kebenaran tidak diukur dengan status orang. Kenalilah kebenaran, engkau akan tahu orang yang benar.”
Amirul Mukminin Ali bin Ali Thalib

5. Ragu adalah alarm peringatan, yakni sedikit saja ada keraguan apalagi menduga-duga tentang nilai suatu teks atau gambar berita sudah cukup menjadi alasan untuk diam, tidak men-share dan tidak memviralkan. “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan itu tidak mencukupi sedikit pun dari kebenaran” (QS. Al-Najm [53]: 28).

Ragu berbanding sama dengan mungkin. Adakalanya kiriman suatu teks berita atau analisis diselipkan kata-kata seperti: mungkin, boleh jadi, sepertinya, jangan-jangan. Maka, penilaian dan konklusi yang dibangun atas dasar kata-kata itu tidak bersifat pasti dan, karena itu, tempatkan pengirim teks dan pembuat analisis itu tidak tahu pasti, dan kita sendiri cukup merespon dengan keraguan. Dalam keadaan ragu, logisnya kita diam dan mendiamkan teks tersebut sampai terbukti benar-salahnya.

Baca Juga :  Sufi Persia: "Ga usah Salat saja!"

Baca juga: QS. Al-Dhaha [93]: Ayat 7; Nabi Sesat (1): Antara Tidak Tahu, Bingung Dan Lengah
Baca juga: QS. Al-Nur [24]: Ayat 35: Wahdatul Wujud (1); Kafir Atau Tidak?

6. Objektif, terserah pada dan argumen. Seringkali kita justru lebih percaya pada teman, kubu atau kebanyakan orang, “Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS. Al-An’am [6]: 116). Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Kebenaran tidak diukur dengan status orang. Kenalilah kebenaran, engkau akan tahu orang yang benar” (Mīzān al-Hikmah, jld. 1, hlm. 658).

7. Bijak, maka memastikan nilai suatu data/informasi, kendati perlu, tidak cukup; perlu disempurnakan dengan menimbang asas maslahat: apakah bila dishare akan berdampak positif dan pada moment yang tepat ataukah tidak. “Dan kesudahan [urusan] itu adalah bagi orang-orang bertakwa” (QS. Al-Araf [7] 128), yakni orang-orang yang menjaga diri.

8. Baca bismillah sebelum menshare teks atau gambar. Sebagai orang beriman sudah sepatutnya memulai apa saja dengan bismillah agar sadar bahwa ia tidak dalam rangka melakukan perbuatan tercela, tetapi tulus untuk ibadah dan sesuai dengan keinginan Allah. Tatkala Ratu Balqies menerima surat dari Nabi Diraja Sulaiman a.s., ia membaca pembukaannya dengan bismillah, “Dan sesungguhnya [surat] itu adalah dari Sulaiman, dan itu sesungguhnya adalah “Dengan Nama Allah yang Mahakasih dan Maha Pengasih” (QS. Al-Naml [27]: 30). Baca bismillah barangkali pekerjaan sepele, tapi itu energi yang kuat mengawasi kesadaran kita berbuat.

Baca juga: Tafsir Sekularisme (1): Ayat-Ayat Yang Diklaim Mendukung Sekularisme
Baca juga: QS. Qaf [50]: Ayat 18; Diam Atau Berkata Baik

9. Konsisten, tetap berada pada kebenaran, dan tidak coba-coba berdusta atau sedikit mentolelir keraguan dalam dirinya tentang sesuatu agar selanjutnya pantas menasihatkan kesabaran dan kebenaran kepada orang lain, “… dan saling menasihati kebenaran dan saling menasihati kesabaran” (QS. Al-Ashr [103]: 3).

Baca Juga :  Indonesia dan Potensi Normalisasi Hubungan dengan Israel

10. Kesatria. Manusia tempat kesalahan, dan tidak ada kesalahan yang tidak bisa diperbaiki. Pintu taubat senantiasa terbuka. Entah disengaja atau tidak kesalahan itu, perbaikan dapat tercapai cukup dengan insaf, optimis dan berjiwa besar untuk meminta maklum dan maaf serta tidak mengulang kembali. “Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan meaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kalian kerjakan” (QS. Al-Syura [42]: 25).

Dan terakhir mesti diingat agar kita tidak sesekali memperolok apalagi merayakan dan membicarakan terus menerus kesalahan orang lain, karena tidak ada yang tahu kesalahan serupa juga menimpa diri kita sendiri. Sebagai gantinya, perbanyak bersyukur dengan istighfar, menjadikannya sebagai pelajaran hidup serta fokus pada norma-norma di atas. Berdoalah kepada Allah agar rahmat dan kasih sayang-Nya menyertai kita sehingga keburukan batin kita tetap terjaga sebagai rahasia antara kita dan Dia.

“Ya Allah, wahai Tuanku! betapa banyak keburukan yang Engkau tutupi
Betapa banyak bencana berat Engkau sirnakan
Betapa banyak ketergelinciran Engkau selamatkan
Betapa banyak musibah Engkau singkirkan
Dan betapa banyak sanjungan indah yang bukan milikku Engkau tebarkan.”

Munajat Ali bin Abi Thalib.[HCF]

Share Page

Close