• LAINYA

ETIKA–Awalnya datar dan biasa-biasa saja. Obrolan dan perbincangan jadi tidak biasa lagi karena munculnya ide atau tanggapan yang beda. Perbedaan ini bisa menciptakan ketegangan hingga pertengkaran atau ke-asyik-an dan keseruan. Faktor pembeda itu adalah kritik. Suatu masalah dan obrolan jadi serius dan dinamis jika ada kritik.

Dalam mendorong kritik, Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Benturkan pandanganmu satu sama lain, akan kamu temukan kebenaran.” Dalam pesan ini, ada kata “benturkan”. Sengaja diksi ini dipilih sebagai padanan untuk kata “idhribu” yang ia gunakan.

Bentuk dasar kata Arab itu ialah kata kerja dhoroba. Bagi siapa saja yang pernah belajar sedikit saja bahasa Arab tentu tahu artinya, yaitu memukul. Maka, arti harfiah idhribu itu ialah pukullah atau pukulkanlah.

Dalam pesan itu ada semangat besar dalam mencari kebenaran. Bukan hanya sekedar berdiskusi, berdialog dan berdebat, berbagi atau bertukar pikiran, tetapi juga harus siap berpukul-pukulan pandangan sekeras dan sealot mungkin. Bukan lagi membenturkan, kalau perlu bahkan juga saling menghantam.

Sepanjang proses sosial saling memukulkan pandangan, kritik selalu menjadi semen perekat. Tetapi umumnya, menyampaikan dan memperoleh kebenaran tanpa kritik serta menanggung beban jawab, bagi banyak orang, adalah keadaan ideal. Sebaliknya, orang lebih suka mengkritik dan tidak suka dikritik; kita lebih suka mempertanyakan daripada berada dalam posisi dipertanyakan.

Tidak jarang ketahanan rendah emosi dikritik begitu rapuh dengan bersikap reaksioner, panik, hawas, dan gak sabaran hingga mengabaikan substansi kritik. Jika Anda menghadapi situasi ini, berusaha tidak terhasut hingga jadi ikut-ikutan panik dan membalas marah, tetapi diam saja dan maklumi keadaannya atau sampaikan doa untuknya dalam hati, “Semoga Allah memberi kedamaian untuk Anda!”

Baca Juga :  Etika Berpikir, Meneliti dan Beriman dalam Alquran (1): Kesadaran "Tidak Tahu" dan Tahu Diri

Dalam budaya bahasa percakapan juga di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “kritik” ini kerap dikonotasikan dengan protes hingga identik dengan sanggahan dan bantahan. Ada semacam serangan yang mesti diwaspadai atau malah membuat orang jadi resisten atau malah putus asa.

Barangkali salah satu alasannya, kritik acapkali dilakukan dengan cara-cara liar, kasar, membabi buta, seperti teror yang mengganggu jaminan keamanan dalam berbeda pikiran dan berubah sikap, merusak martabat pribadi serta kehormatan sosial seseorang. Tidak jarang hubungan jadi renggang, hambar dan putus hanya karena kritik dan saling kritik.

Alasan lainnya, bisa jadi karena kritik berkekuatan mengjungkirbalikkan kemapanan, kebulatan, kepuasan intelektual. Ini jelas berdampak hingga merusak kenyamanan emosi. Kritik terasa begitu nyelekit, mulai dari kemasan narasinya yang kaku-kasar sampai terlihat ramah dan lembut.

 

TELITI DAN MENELITI

Sedikit mundur ke asal katanya, kritik itu sendiri adalah kata serapan dari bahasa Inggris, critic, yang aslinya dari kritikos. Kata Yunani ini berarti kemampuan menilai. Kritikos sendiri, masih dalam bahasa Yunani, berasal dari kata krinein, yaitu memilah dan memisahkan dalam rangka krinesthai: menjelaskan.

Makna memilah ini muncul sebagai konsekuensi dari akarkata krinein, yaitu krei yang berarti mengayak dan menyaring. Akarkata krein inilah yang lantas menjadi dasar pembentukan  sejumlah kata-kata dalam bahasa Inggris seperti di bawah ini:

Ascertain, certain, concern, concert, crime, criminal, crisis, critic, criterion, decree, diacritic, discern, discreet, discriminate, endocrine, excrement, excrete, hypocrisy, secret, secretary. Di antara kata-kata Inggris ini, ada kata yang bermakna positif di samping yang bermakna negatif.

Kembali ke akarkata krein, orang hanya akan disebut mengayak dan menyaring jika dia dapat memilah dan memperoleh mana yang-disaring dan mana yang-tersaring. Ini seperti tukang bangunan atau pembuat kue yang mengayak pasir dan tepung untuk memisahkan dan menjadi jelas: mana yang kasar dan mana yang lembut, untuk kemudian menggunakan sesuai fungsi dan kebutuhan masing-masing.

Baca Juga :  Immanuel Kant dan Misteri Tulisan Bismillah di Halaman Judul Disertasinya

Jadi, mengkritik dan dikritik menampilkan nilai keadilannya dengan mendengarkan dan memahami dengan baik, lalu menyaring dan mengamati dengan teliti hingga dapat memilah, memisahkan, menjelaskan dan menganalisis (mengurai) berbagai aspek, dimensi, relasi dan perspektif: mana yang-positif mana yang-negatif, mana kesamaannya mana perbedaannya. Selanjutnya terbuka pemutusan dan pemilihan satu di antara berbagai aspek dan relasi tersebut.

“Maka, sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang berakal sehat” (QS. Al-Zumar [39]: 18-19).

Sebelum manusia, Tuhan sudah lebih dahulu menyatakan keadilannya dalam menjelaskan dan menunjukkan jalan kebenaran:

“Dan Kami tunjukkan kepadanya dua jalan” (QS. Al-Balad [90]: 10).

“Tidak ada pemaksaan dalam agama. Sungguh telah nyata mana kebenaran dan mana kesesatan”  (QS. Al-Baqarah [2]: 256).

Pentingnya amanah memilah dalam makna dasar kritik ini, selain mengupas lapisan-lapisan masalah dan meninjaunya secara relatif komprehensif, juga menunjang kita dalam mendudukkan dan mengidentifikasi masalah secara lebih jernih dan lebih teliti.

 

KEADILAN: BERANI, JUJUR DAN TULUS 

Tidak kalah pentingnya, kritik dan teliti memilah aspek-aspek masalah dapat meningkatkan kualitas dan nilai kebebasan, yaitu adil menggunakan kebebasan memilih dan bersikap. Kita tidak jarang menilai negatif suatu fenomena alam atau sosial, tetapi fenomena yang sama justru bernilai negatif dari aspek yang lain.

Begitupula sebaliknya, perilaku yang dihukum buruk menyimpan nilai baik dari aspek tertentu. Maka, mengabaikan suatu aspek masalah, gagal mengidentifikasi dimensi lainnya dan fokus hanya pada relasi tertentu dapat membentuk generalisasi yang tidak adil. Berpikir absolut, menilai mutlak dan memukul rata adalah ketidakadilan dalam mengkritik dan ketakseimbangan dalam berpikir.

Baca Juga :  Antony Flew, Filosof Legendaris Ateis Abad 20 (2): Gugus Riwayat Pemikiran dan Sikapnya

Selain kisah-kisah keutamaan dan orang-orang utama, Alquran juga menceritakan sejarah dan nasib orang-orang buruk bukan hanya untuk disimak, tetapi lebih dari itu untuk memberi dan diambil pelajaran darinya dan dimanfaatkan dalam menjalani hidup.

Dalam keburukan mereka, terdapat aspek-aspek hikmah dan kebaikan yang seharusnya ditangkap dan diserap oleh pembaca Alquran. Nabi SAW bahkan mendorong umat Islam agar juga belajar dari kebodohan orang bodoh.

Kritik yang adil adalah mengamati suatu masalah dari berbagai aspek serta relasi secara relatif komprehensif, menyatakan dukungan, penolakan dan penilaian sesuai dengan aspek-aspek positif serta negatif suatu perkara secara berani, jujur dan tulus, sekalipun tidak menguntungkan diri sendiri.

Wujud pertama dari keadilan mengkritik ialah memahami kata dan makna kritik sebagaimana asalnya untuk kemudian mempraktikkannya dalam keseharian. Sebaliknya, mengartikan kritik dengan semata-mata sanggahan, kecaman dan perlawanan adalah awal ketidakadilan dalam mengkritik.BERSAMBUNG

Share Page

Close