• LAINYA

FILSAFAT-ETIKA—Siapa bilang beretika dan bermoral itu hanya saat kita menilai, berbuat dan berinteraksi dengan orang lain. Tindakan dan keadaan apa pun, termasuk diam dan tidak berbuat, selama terjadi sebagai pilihan dan atas dasar kehendak-bebas, dapat dievaluasi dan harus dipertanggungjawabkan nilai moralnya.

Sekarang ini saja, Anda tentu punya pilihan di hadapan Anda: apakah akan melanjutkan membaca tulisan ini? Jika Anda bersedia meluangkan waktu, itu berarti Anda membuat keputusan: ya. Sekarang, pikirkan kembali keputusan Anda: apakah itu keputusan bebas? Bisakah Anda menghentikan pembacaan tulisan ini? Sangat dan sangat bisa, karena Anda punya kehendak-bebas.

Evaluasi dan pertanggungjawaban moral seperti ini juga berlaku sampai pada keadaan yang paling privat dan aktivitas paling rahasia sebelum berbuat, yaitu berpikir, mengetahui, meneliti, memahami dan meyakini. Memilih tidak tahu, ingkar atau ragu juga ada pertanggungjawaban moralnya.

Sebagai manusia berakal sehat, kita tahu dahulu kemudian bersikap dan berbuat. Sebelum bersikap dan berbuat, kita perlu tahu, sadar dan yakin apa yang akan kira perbuat. Sebaliknya, orang yang bersikap dan berbuat tanpa tahu dan yakin bukan manusia, bukan makhluk berakal sehat. Dalam Alquran bahkan menjalani seluruh hidup dan mati harus berdasarkan kejelasan dan bukti:

“Agar orang yang binasa itu binasa dengan bukti yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidup dengan bukti yang nyata” (QS. Al-Anfal [8]: 42).

Dengan pengetahuan, penelitian dan keyakinan itulah tindakan dan perbuatan kita jadi bernilai dan dapat dipertanggungjawabkan. Orang yang berbuat sesuatu dalam keadaan tidak tahu atau tidak sadar atau tidak yakin, perbuatannya tidak bernilai baik juga tidak bernilai buruk, tidak dapat dipertanggungjawabkan atau, kalaupun bernilai, hanya bernilai buruk.

Mempercayai suatu ajaran, menjadi muslim atau berideologi Pancasila, misalnya, adalah keputusan dan tindakan yang seharusnya, secara rasional dan manusiawi, dilatarbelakangi oleh berpikir, pengetahuan dan keyakinan. Menjadi muslim dan menganut Pancasila tanpa pemikiran, pengetahuan dan pemahaman, dia bukan manusia muslim juga bukan manusia pancasilais, tetapi hewan muslim dan binatang pancasilais.

“Dan sungguh, akan kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia; mereka memiliki hati yang dengannya tidak memahami, mereka memiliki mata yang dengannya tidak melihat, dan mereka memiliki telinga yang dengannya tidak mendengarkan. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raf [7]: 179).

Barangkali atas dasar ayat ini pula Ibnu Sina mengatakan orang yang menerima suatu kebenaran tanpa argumen telah keluar dari kemanusiaan. Hewan muslim dan binatang pancasialis adalah predikat paling lembut kekasarannya dan konsekuensi paling ringan keburukannya. Dalam Alquran, konsekuensi terburuknya, di bawah binatang, adalah berada sejajar dengan iblis.

Dengan sila pertama, yakni ketuhanan, bangsa Indonesia adalah makhluk beragama. Dan dengan sila kedua, yakni keberadaban, bangsa Indonesia adalah manusia beragama. Bangsa beradab yaitu manusia-manusia yang beragama dengan sadar, kehendak-bebas, yakin dan bertanggung jawab. Dengan dua sila pertama ini, bangsa Indonesia adalah manusia tuhani atau, dalam bahasa Ibnu Sina, tuhan manusiawi (rabb insani).

Baca Juga :  Toleran dan Intoleran: Dua Praktik Beragama yang Sama-sama Radikal

Mengetahui, berpikir, berdialog dengan batin sendiri, menyadari serta mengimani sesuatu adalah tindakan dan aktivitas yang berkehendak-bebas dan berkesadaran. Dengan kehendak-bebas, semua pemikiran, pengetahuan dan keimanan merupakan pilihan berperikemanusiaan. Sebagai tindakan dan aktivitas yang berkehendak-bebas itu pula berpikir, mengetahui dan mengimani memiliki nilai moral (the ethics of belief) dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya” (QS. Al-Isra’ [17]: 36).

Ini tentu saja juga berlaku pada Alquran itu sendiri. Kitab suci ini menyerukan kebenarannya atas dasar pengetahuan dan argumen. Sebaliknya, ia tidak mengizinkan siapapun mengimaninya tanpa pengetahuan yang benar, tanpa argumen, sekedar dugaan, begitu saja dan seadanya karena dari sananya (QS. Al-Isra’ [17]: 36; QS. Al-Najm: 23; QS. Al-Najm: 28). Alquran adalah kitab manusia, bukan kitab binatang. Ajaran-ajaran kitab Tuhan ini hanya ditujukan kepada manusia sebagai makhluk berakal sehat.

“Maka, sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang berakal sehat” (QS. Al-Zumar [39]: 18-19).

Lalu, nilai utama moral apa saja yang harus dipatuhi sejak memulai aktivitas-aktivitas mengetahui, berpikir, meneliti dan beriman?

 

KEUTAMAAN PERTAMA: SADAR AKAN KETIDAKTAHUAN DIRI

Entah bagaimana cerita dan asal-usulnya, nyaris mustahil ditemukan manusia yang tidak punya kecenderungan penasaran (kuriositas) dan menginginkan kebenaran. Setiap orang juga tidak suka ketidaktahuan, tidak suka jadi orang bodoh. Tidak keliru bila, sebelum segala sesuatunya, kalimat pertama yang ditulis Aristoteles di Metaphysics ialah “Kodrat manusia cenderung ingin tahu.”

Pertanyaan dan bertanya hanya satu dari sekian fenomena kecenderungan kodrati cinta setiap orang untuk tahu dan mengetahui. Karya tulis serta wicara adalah bagian dari dampak dan implikasi kodrat ingin tahu. Dua fakta ini, bertanya dan berkarya, menjadi dasar dalam memahami dua ayat Alquran:

“Maka bertanyalah kepada orang yang mengerti jika kamu tidak tahu” (QS. Al-Nahl [16]: 43) dan “Dan demi pena dan apa yang mereka tuliskan” (QS. Qalam [68]: 1).

Karena kodrat ingin tahu manusia bertanya, dan berkat kodrat yang sama ini pula manusia membuat pena dan menuangkan konsekuensi, dampak-dampak serta hasil-hasil dari ingin tahu.

Boleh jadi kecenderungan ingin tahu ini juga ada pada selain manusia. Binatang seperti kambing, kucing, anjing dan tikus, memeriksa sesuatu sebelum memakannya. Memeriksa dan meneliti yaitu upaya mengetahui serta memastikan kenyataan sesuatu. Banyak juga binatang yang bisa bicara dan berkomunikasi. Tidak sedikit juga binatang merespon saat ditanya, tetapi nyaris tidak ada seekor binatang yang berkomunikasi dengan bertanya apalagi bertanya-tanya lantas menanti jawaban.

Baca Juga :  Dialektika Wahyu Tuhan dan Nalar Manusia

Barangkali ini bedanya manusia dengan binatang. Berbedaan lainnya, kodrat ingin tahu pada manusia itu tidak terbatas. Dia tidak hanya ingin tahu, tetapi serbaingin tahu, ingin tahu apa saja, tidak menyukai ketidaktahuan apa pun. Kalau tidak ada sesuatu (fakta) yang nyata, manusia suka dan bisa juga membuat-buat fakta serta mencipta pengetahuan, yaitu dalam imajinasi.

Sebegitu kuat dan luasnya kodrat ingin tahu itu, sampai-sampai ketidaktahuan diri sendiri ditimpakan kepada pihak lain, seperti yang dilakukan oleh sebagian orang ateis juga orang beragama terhadap Tuhan di situasi pandemi sekarang ini. Entah karena tergesa-gesa atau tidak sabaran hingga mempertanyakan kemahakuasaan dan kemahabaikan Tuhan hanya karena dia sudah menilai final dan pasti suatu bencana seperti COVID-19 dan perang sebagai keburukan yang sesungguh-sungguhnya, seolah penilaian finalnya sudah berdasarkan pengetahuannya akan segenap aspek, implikasi dan seluk-beluk bencana tersebut.

Di sisi lain, Alquran mendefinisikan manusia sebaga khalifah dan raja-Nya Tuhan di bumi (QS. Al-Baqarah [2]: 30). Sebangun dengan itu, Allah menjadikan manusia penakluk dan pengelola alam semesta (QS. Al-Jatsiyah [45]: 13). Maka, manusia punya kecenderungan sekaligus potensi mengetahui segala objek yang dapat ditaklukkan dan dikelolanya di jagad raya ini.

Namun pada praktiknya, manusia di dunia yang serba-terbatas ini tidak mengetahui segala sesuatu. Hidupnya bermula dalam keadaan tidak tahu (QS. Al-Nahl [16: 78), lalu tumbuh dewasa antara tahu dan tidak tahu. Pengetahuannya justru, praktis, adakalanya terbatas atau malah keliru—tidak sesuai fakta. Ada banyak hal yang berhasil diketahuinya, tetapi juga lebih banyak lagi hal-hal yang tidak diketahui sepanjang hidupnya.

“Dan kalian tidak diberi dari pengetahuan kecuali sedikit” (QS. Al-Isra’ [21]: 85).

Dalam surat wasiatnya, Ali bin Abi Thalib menulis, “Sejak awal kamu diciptakan dalam keadaan tidak tahu, lalu kamu diberi tahu. Dan betapa banyak perkara yang tidak kamu ketahui dan membuatmu bingung di dalamnya hingga pandanganmu tersesat kemudian kamu mengerti setelah itu” (Nahj al-Balaghah, surat 31).

Serbaingin tahu, terbatas dan keliru adalah fakta-fakta nyata dan swanyata dari realitas pengetahuan manusia yang membangkitkan kesadaran moral bahwa dirinya serba-tidak tahu dan serbakurang, yakni tahu bahwa aku tidak tahu. Dalam budaya bahasa Indonesia, kesadaran ini dinyatakan dengan frasa “tahu diri”, yakni sadar akan kekurangan dan batas kapasitas diri sendiri seperti dalam surat wasiat Ali tadi.

Dalam Logika, kesadaran ini disebut dengan al-jahl al-basith, ketidaktahuan tunggal. Kesadaran ini pula yang menempati jantung kebijaksanaan filosof pertama, Sokrates. Dalam kata-kata terkenalnya, “Kebijaksanaanku hanyalah aku tahu bahwa aku tidak tahu.”

Baca Juga :  Teaching Plato in Palestine: Menguji Eskalasi Studi Filosofis di Titik Picu Ketegangan Dunia

Kesadaran moral, ketahu-dirian dan ketidaktahuan tunggal ini selanjutnya menciptakan konsekuensi sekaligus indikator-indikator denyut hidupnya:

  • Cinta pengetahuan. Ini implikasi langsung dari kesadaran akan ketidaktahuan diri. Cinta pengetahuan berarti gairah mencari kebenaran, gigih menyingkap rahasia alam, antusiasme meneliti dan mencoba-coba peluang memperoleh pengetahuan.
  • Ragu dan bertanya menjadi kekuatan serta alat pendorong untuk meneliti lebih dalam dan lebih dalam lagi, kunci pembuka saluran arus cinta pengetahuan. Ragu, bertanya dan berdialog yaitu meneliti dan menguji apa saja yang terkait dengan diri seseorang untuk memastikan identitas, nilai dan pola hidupnya (QS. Al-Hujurat [49]: 6; QS. Saba’ [34]: 24). “Hidup yang tak teruji tidak layak dijalani.”
  • Bebas berpikir, meneliti, mengimani dan menghendaki. Cinta pengetahuan, bertanya dan berdialog hanya akan berarti bila ada kebebasan berpikir, menentukan pilihan dan menerima konsekuensinya (QS. Ibrahim [8]: 22; QS. Saba’ [41]: 32-33; QS. Al-Shaffat [37]: 27-33). Kebebasan ini juga terdapat pada ayat-ayat yang menolak pemaksaan dalam beragama (lihat QS. Al-Baqarah [2]: 256, QS. Al-Ghasyiyah [88]: 22; QS. Qaf [50]: 45).
  • Aktifnya sarana-sarana pengetahuan: indera, imajinasi, akal, hati (QS. Al-A’raf [7]: 179). Optimalisasi segenap saran aini dipraktikkan oleh Ibrahim dalam meneliti dan menemukan realitas Tuhan (QS. Al-An’am [6]: 75-79).
  • Hormat dan menghargai sumber pengetahuan (QS. Fushsilat [41]: 53) serta pendapat (QS. Saba’ [34]: 24; QS. Al-Zumar [39]: 18). Hormat berarti tidak menyelepekan apalagi menolak mentah-mentah suatu pendapat dan keterangan. Dalam sabda suci Nabi saw., “Ambillah kebijaksanaan walaupun dari mulut orang munafik.”

Sebaliknya, lemah hingga matinya kesadaran moral ini dapat diidentifikasi dari gejala-gejala seperti: malas berpikir, masabodoh, taklid buta, merasa jumawa dan lebih tinggi dari yang lain, menyepelekan orang lain, pasrah pada status quo, menyerahkan urusan pengetahuan dan kebenaran kepada orang lain, termasuk kesukaan membicarakan pribadi orang daripada pemikirannya. Gejala-gejala ini sekaligus tanda-tanda derajat kebinatangan seseorang yang, oleh Alquran, dikecam begitu keras sebagai warga neraka Jahannam seperti di ayat di atas (QS. Al-A’raf [7]: 179).

 

KEUTAMAAN KEDUA: TEGUH DAN KOMIT PADA PENGETAHUAN

Tahu berarti yakin akan kebenaran sesuatu. Seberapapun sedikitnya, pengetahuan dan keyakinan manusia adalah dasar dalam menilai, memutuskan dan berbuat. Dalam kaidah rasional Ushul Fiqih dinyatakan, “Keyakinan adalah bukti”. Yakni, pengetahuan yang benar (meyakinkan) bagi seseorang adalah dasar dirinya mengambil keputusan dan tindakan. Maka, hukum moral kemanusiaan mengatur agar setiap orang menimbang, bermaksud, memutuskan dan bertindak atas dasar keyakinan dan pengetahuan yang jelas dan pasti-benar.

Sebaliknya, hukum moral ini juga tidak mengizinkan siapapun berbuat tanpa pengetahuan. Memaksakan diri untuk terus berbuat tanpa pemahaman yang jelas dan pengetahuan yang pasti sama dengan menerjang kemanusiaan sebelum jatuh sederajat dengan binatang.BERSAMBUNG

Share Page

Close