• LAINYA

FILSAFAT-HUMANIORA–Ada hidup, ada mati. Ini hukum kehidupan di dunia. Bukan hanya setelah kehidupan ada kematian, tetapi dalam kehidupan justru ada kematian. Hari-hari yang sedang kita jalani ini merupakan proses berlalunya hidup, berkurangnya usia.

Apapun ajaran, pandangan dunia, ideologi, falsafah dan pemikiran yang merancang dan menjanjikan kebahagiaan untuk manusia dan masyarakat menjadi palsu dan gombal bila kematian tidak terpetakan secara konkret dalam rencana kebahagiaannya. Ada-tidaknya pendirian dan jelas-tidaknya pandangan tentang kematian merupakan indikator pantas-tidaknya suatu ajaran dan falsafah sebagai pedoman hidup manusia.

Menjalani hidup seperti mencicil kematian. Laksana jam pasir, kehidupan ini tetesan butir-butir ajal. Tidak berlebihan bila ada sabda kebijaksanaan: satu tarikan napas adalah satu langkah menuju kematian. Kesenangan dan derita hidup yang sedang kita jalani menipiskan muatan oksigen dari tabung hidup kita sekaligus mempertebal kemungkinan mati jadi kenyataan.

Sekali lagi, ada hidup, maka ada mati. Hukum universal ini hukum kemanusiaan. Konsekuensinya, orang yang tidak mau mati sesungguhnya juga tidak mau hidup selain hidup setengah-setengah atau, dalam bahasa Alquran, tidak hidup juga tidak mati sehingga dunia tak ubahnya dengan jahanam (QS. QS. Thaha [20]: 74).

Hanya ingin hidup saja dan tidak mau mati bukanlah manusia. Firaun, misalnya, tidak berpikir akan mati. Pengalaman hidupnya yang tak pernah sakit, berlimpah kesenangan dan begitu kuasanya di Mesir membuatnya merasa di atas manusia (takabbur) hingga mengklaim, “Aku tuhan kalian yang paling tinggi”.

Bukan manusia yaitu berwajah manusia, berhati binatang. Seperti orang yang tidak menggunakan akalnya, manusia yang masabodoh atau tidak mau mati adalah senilai binatang ternak; menternakkan diri untuk kehidupan dirinya atau, lebih nista dan hina lagi, diternak dan dipiara hidup-matinya oleh orang lain untuk kepentingan kehidupan orang lain.

Baca Juga :  Keteladanan Hakim Adil: Etika Hakim dalam Bersidang (1)

Dalam sabda Nabi SAW, “Orang paling merugi adalah manusia yang menjual akhiratnya untuk dunianya, dan yang lebih merugi dari itu dialah orang yang menjual akhiratnya untuk dunia orang lain.” (Shahih Ibn Majah, hadis no. 3966).

Baik Firuan juga elite penjilat sama-sama gagal jadi manusia. Dengan ilmu dan kekuatannya, Firaun gagal jadi tuhan selain justru jadi iblis; dengan kekerdilan mental dan kebodohannya, warga penjilat gagal jadi binatang selain setingkat dengan binatang piaraan.

Kematian merupakan alat penimbang dan penegak identitas seseorang sebagai manusia. Dalam hadis, “Orang-orang ini tidur. Jika mati, mereka barulah sadar.” Kematian membuat orang sadar dari kesombongan iblis dan kelalaian binatang dirinya agar hidup dengan identitas hakiki dirinya sebagai manusia.

Alquran mendefinisikan falsafah kematian bersama kehidupan sebagai pengujian dan pemastian nilai diri manusia. Dalan dalam hadis, “Nilai seorang beriman itu surga. Maka jangan pernah menjual dirinya kecuali dengan surga.” Karena itu, kehidupan sesorang perlu diuji nilai dan “harga jual”-nya hingga layak dijalani secara manusiawi, bukan binatangi ataupun setani. Dan pengujian itu tidak akan tuntas tanpa menguji diri dengan menyikapi kematian.

Amal dan perilaku, yang lahir maupun yang batin, adalah unsur pembentuk identitas. Ini hukum kedua realitas manusia. Tanpa berbuat, ilmu dan motivasi tidak bernilai, tidak juga membentuk identitas seseorang. Seperti peribahasa kita, “Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya”, orang Arab juga mengatakan, “Pohon dikenali dari buahnya”, karena “Ilmu tanpa amal laksana pohon tanpa buah”.

Melalui kematian, nilai setiap amal dan perbuatan lahiriah ataupun batiniah akan tampak, “Di hari ditampakkannya rahasia-rahasia.” Setiap orang akan melihat bahkan bentuk wujudnya sekecil apa pun dari perbuatan baik-buruknya (Al-Zalzalah [90]: 7-8). Di hari itu pula wajah asli dan identitas hakiki setiap orang akan menjelma di hadapannya.

Baca Juga :  Muslim yang Aneh, Ada Solusi masih saja Pesimis dan Menyerah

یوْمَ تَجِدُ کُلُّ نَفْسٍ ماعَمِلَتْ مِنْ خَیرٍ مُحْضَراً

Di hari setiap orang menjumpai kebaikan yang telah dikerjakannya dihadapkan kepadanya(QS. Al Imran [3]: 30).

Bentuk wujud orang-orang di dunia ini tampak sama, sama-sama berbentuk manusia. Di kehidupan setelah kematian, wujud masing-masing akan berbeda; ada yang datang dan dihadapkan dengan rupa-rupa binatang, ada pula yang dihadapkan dengan rupa-rupa indah.

Ayat penciptaan mati-hidup di atas tampaknya juga dapat dipahami bahwa mati yang akan dialami dan hidup yang sedang dijalani adalah pengujian, kritik (penyaringan dan pengayakan) agar gugur buah-buah busuk, jatuh butir-butir kasar, lenyap sifat-sifat buruk sehingga identitas seseorang kembali murni dan asli. Identitas asli manusia adalah cahaya ilahi dan fitrah suci insani.

صِبْغَةَ اللّٰهِ ۚ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ صِبْغَةً ۖ وَّنَحْنُ لَهٗ عٰبِدُوْنَ

“[Itulah] warna Allah. Maka, siapakah yang lebih baik warna-nya daripada Allah?! Dan kepada-Nya kami menyembah” (QS. Al-Baqarah [2]: 138).

Pengujian, penyaringan dan pengayakan itu, dalam Alquran, dinyatakan sebagai pencelupan Allah atas manusia beriman sehingga membersihkan kotoran-kotoran ruhani, memurnikan realitasnya sebagai semata-mata budak. Dalam statusnya sebagai budak dan hamba murni, dia berada di derajat taslim (pasrah) dan ridha (senang) dengan apa pun keputusan dan hukum Allah. Dalam kebeningan jiwa, kehendak Allah akan mewarnai realitas hamba dengan celupan-Nya.

Sebagai pengujian, kematian merupakan penyaringan dan pemurnian Tuhan realitas manusia menjadi budak yang hanya menyembah kepada-Nya. Ingat-mati akan mengendurkan keterikatan pikiran dan emosi kita pada dunia, meluluhkan gairah nafsunya, melenyapkan kesombongan dan perasaan unggul dan sudah sempurna.

Dengan sadar-mati, setiap akan tahu diri. Ingat mati akan menyadarkan dirinya sama sekali tidak berdaya, seperti budak yang tak berdaya apa-apa di hadapan tuannya. Dengan sadar-mati, ia tertuntang untuk mempertahankan keutuhan status aslinya sebagai budak dengan mempersiapkan diri dan membangun identitas diri. Hakikat diri ditentukan di kematiannya: husnul khatimah atau su’ul khatimah.BERSAMBUNG

Share Page

Close