• LAINYA

FILSAFAT-ETIKA–Iman adalah bagian terpenting dari kehidupan orang beragama. Seakar kata dengan al-amn (aman, damai, tenang dan tentram), iman mengandung kemantapan, ketenangan dan kenyamanan jiwa yang berdasar pada keyakinan batin sebagai dasar mengambil keputusan serta tindakan.

Dalam kapasitasnya sebagai keyakinan dan kenyamanan jiwa, iman merupakan ikatan batin dan kebulatan hati pada kebenaran-kebenaran yang bersifat mutlak (epistemologis) dan realitas-realitas yang bersifat gaib (ontologis). Selain keberadaan Tuhan yang Esa, akhirat atau kehidupan setelah kematian adalah realitas yang bersifat gaib dan ditanamkan oleh agama/wahyu sebagai kebenaran mutlak.

Dari sini saja iman sudah paradoks dan membingungkan: ada unsur kegaiban yang mengandung kemisteriusan dan ketidaktahuan, sekaligus ada unsur kebenarannya yang menuntut pengetahuan. Dalam iman ada pengetahuan juga ada ketidaktahuan.

Dengan kata lain, iman sebagai ikatan batin mengikat jiwa manusia dengan pengetahuan dan kepastian juga dengan ketidaktahuan, kemisteriusan dan ketidakjelasan. Lantas, jika iman itu kedamaian dan ketetapan jiwa, bagaimana orang beriman hidup dengan kedamaian batin dalam ketidaktahuan?

Dalam tradisi Filsafat dan Tasawuf, pertanyaan ini justru jadi salah satu masalah poros dalam dialog-dialog dari Sokrates-Platon di Barat hingga karya-karya Ibnu Arabi di Islam. Di sini persoalan yang sama akan ditinjau dalam tradisi Alquran.

 

MENGUJI HIDUP ATAU DIUJI KEHIDUPAN

Dalam Islam, doktrin tauhid (keberadaan Tuhan yang Esa) dan doktrin kehidupan setelah kematian adalah jawaban atas dua pertanyaan fundamental manusia: dari mana aku berasal dan akan ke mana aku menuju; apa asal hidupku dan apa akhir hidupku?

Dua doktrin ini dikapsulkan dalam satu ayat singkat: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (kita milik Allah dan kepada-Nya pula kita kembali). Allah adalah sebab asal-keberadaan dan Dia pula tujuan keberadaan.

Dalam Islam, seseorang itu muslim bila ia juga percaya pada kehidupan setelah kematian. Dia belum berislam selama ragu dan tidak percaya pada kehidupan abadi itu, entah di surga atau di neraka. Dalam Alquran, orang yang masih ragu akan kenyataan kehidupan setelah kematian disebut sebagai kafir. Lalu, pernahkah menguji atau diuji keimanan kita akan surga? Dan sudahkah mempersiapkan diri untuk menguji dan diuji?

HIDUP YANG TAK TERUJI TIDAK LAYAK DIJALANI–Sokrates

Siapa sih yang tidak ingin surga, entah di dunia ini atau di alam sana. Bicara surga berarti bicara masa depan, bicara nasib dan harapan hidup, bicara akhir hidup ini, bicara alasan untuk tetap hidup di dunia meski harus menjalani derita.

Bagi Muslim, tanpa surga sama saja kehilangan alasan untuk bertahan hidup, bekerja gigih dan berjuang mati-matian. Tanpa surga, hidupnya hanya basa-basi dan sandiwara, kebahagiaan dan penderitaannya juga semu, bukan hakiki atau, dalam bahasa Alquran, la’ibun wa lahwun (permainan dan senda-gurau).

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ ۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا ۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu” (QS. Al-Hadid [57]: 20).

Seperti di awal surat Al-Mulk, hidup ini pengujian (bala’); jika tidak menjadi subjek yang menguji diri sendiri secara suka rela, pasti akan objek pengujian pihak luar (orang atau alam) secara dipaksa dan sangat mungkin spontan, tak terduga-duga. Jika tidak siap-siap, kemungkinan besar gagal menghadapi ujian.

Ujian hanya terlaksana dan dialami tatkala seseorang berada dalam masalah, yakni kondisi tak normal, situasi tak wajar, keadaan terdesak, tertekan, menghadapi pilihan, keputusan dan sikap yang serbasulit.

Saat, misalnya, keuangan kita normal dan baik-baik saja hingga kita mampu dan mudah berbagi dengan orang yang kesulitan, tentu perbuatan mulia ini berbeda nilainya dengan saat kondisi keuangan kita sama-sama sulit seperti dalam situasi pandemi dan COVID 19 sekarang ini.

Pada kondisi kedua inilah pilihan hidup keuangan kita diuji: apakah masih mau berbagi atau tidak? Apakah masih percaya dan memilih imbalan “kredit” dari Allah atau lebih percaya pada uang “kontan” yang terbatas itu di rekening kita?

Ketertekanan dan sulitnya pilihan itu bisa terkait dengan harta milik, kehormatan diri dan keluarga atau, yang paling penting, menyangkut jiwa antara hidup atau mati: mana yang harus dikorbankan dan mana yang harus dipertahankan?

Baca Juga :  Makna Ihsan, lebih Tinggi mana: Melihat Allah atau tidak Melihat-Nya?

 

PROFIL KETELADANAN HIDUP TERUJI

Dahulu, generasi pertama umat Islam seringkali diuji dan tertekan untuk menentukan pilihan antara hidup dan mati, yaitu tatkala berada dalam situasi diserang, dikepung dan berperang dengan musuh: apakah akan ikut berperang dan berkorban ataukah tetap berada di rumah bersama keluarga.

Peperangan Nabi SAW bersama sahabat berbeda-beda tingkat tantangan dan pengujian untuk tetap beriman dan bersabar. Salah satu pengujian paling dahsyat dan paling menentukan eksistensi Islam dan Muslimin ialah perang Koalisi (Ahzab) atau disebut juga perang Parit (Khandaq). Alquran menggambarkan detail keadaan batin Muslimin di perang itu berikut ini:

اِذْ جَاۤءُوْكُمْ مِّنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ اَسْفَلَ مِنْكُمْ وَاِذْ زَاغَتِ الْاَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوْبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ الظُّنُوْنَا۠ ۗهُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُوْنَ وَزُلْزِلُوْا زِلْزَالًا شَدِيْدًا
“(Yaitu) ketika mereka (musuh) datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sekeras-kerasnya” (QS. Al-Ahzab [33]: 10-11).

Demikian pula keadaan Muslimin di perang Ahzab diungkapkan sebelumnya dalam surat Al-Baqarah:

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ
“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu sudah dekat” (QS. Al-Baqarah [2]: 214).

Deskripsi dari dua ayat di atas menerangkan surga hanya diperoleh dengan kesabaran untuk teguh beriman pada janji Allah dan adanya surga serta kebahagiaan hakiki setelah kematian. Kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.:

“Tidak ada harga senilai dirimu kecuali surga. Maka janganlah engkau jual dirimu kecuali dengan surga.”

Ini bukan sekedar kata-kata seorang khalifah, pemimpin dunia Islam dahulu, yang diucapkan lantas diperdengarkan, tetapi itu bagian dari pengalaman hidupnya dalam beriman dan percaya Tuhan. Ayat di Al-Baqarah tadi menerangkan bagaimana Sayyidina Ali sudah mentransaksikan dirinya dengan nilai tertinggi melampuai surga, yaitu ridha dan cinta Allah; dia menjual diri dan hidupnya di dunia untuk mendapatkan cinta Allah, seperti yang dia sudah lakukan di Malam Hijrah.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk meraih keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya” (Al-Baqarah [2]: 207).

Para mufasir menyebutkan ayat ini turun mengenai Sayyidina Ali yang di Malam Hijrah mengorbankan nyawanya dengan berbaring di tempat tidur Nabi SAW, menggantikan posisi beliau yang berhijrah meninggalkan Mekkah menuju Madinah di malam yang telah direncanakan oleh pasukan elite Quraisy untuk membunuh beliau di tempat tidur itu.

 

FUNGSI TIDAK-TAHU DALAM MENJALANI HIDUP  

Menguji iman ini tampak berat dan sukar karena, di antaranya, surga yang dijanjikan dan neraka yang diancamkan itu adalah hal-hal gaib, tidak tampak, masih belum nyata, sementara umumnya orang cenderung percaya pada yang konkret, sudah ada di depan mata dan hadir sesegera mungkin, yakni ingin kontan.

Di ayat Al-Baqarah di atas itu, Allah menjawab penantian Nabi SAW dan para sahabat dengan kata-kata, “sudah dekat”. Artinya, dalam situasi begitu gentingnya, Allah masih menguji iman kaum Muslimin agar percaya pada janji Allah pasti datang nyata, karena frasa “sudah dekat” tidak memberikan penjelasan waktu yang pasti. Orang yang tidak sabar akan bertanya, “Lalu, “sudah dekat” itu sampai kapan?” Dia tidak sabar karena dia tidak tahu. Artinya, dia tidak sabar menghadapi ketidaktahuan dirinya sendiri.

Pada dasarnya, dalam ujian ada ketidaktahuan. Semua pengalaman itu merupakan ujian bagi Nabi dan para sahabat di perang Koalisi itu karena mereka adalah manusia-manusia yang tidak tahu kapan pertolongan Allah akan tiba. Kata “sudah dekat” tidak menjelaskan secara konkret, tepat dan pastinya. Bagi orang yang rapuh imannya dan rendah kesabarannya, kata “dekat” ini akan dipahami bahkan dengan makna sebaliknya: jauh, sehingga dia terasa berat menunggu tibanya pertolongan.

TAHU-HAKIKAT IALAH ADANYA KETIDAKTAHUANMU DI SAAT ENGKAU TAHU–Junaid

Karena itu, orang beriman diuji agar sempurna imannya sehingga dia mudah bersabar dan bertakawal. Bertawakal yakni berusaha keras dengan sabar dan keyakinan pada tujuannya sekaligus mempercayakan hasil usaha, yakni takdirnya, kepada Allah. Tawakal yaitu manusia berencana dan berusaha, Allah menentukan hasil dan takdir usahanya.

Baca Juga :  Cara-cara Logis Tuhan dalam Alquran Meyakinkan Ajaran-Nya; Karya Rosalind Ward Gwynne

فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
“Kemudian, apabila engkau telah menetapkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal” (QS. Al Imran [3]: 159).

Seperti dalam ujian, dalam tawakal juga ada semacam ketidaktahuan. Tawakal hanya akan berarti bila seseorang tidak tahu apa yang persisnya akan terjadi. Seperti juga dalam kesabaran, dari satu sisi, ada ketidaktahuan.

Orang yang sudah tahu apa yang akan terjadi tidak akan terdorong untuk lantas bersabar dan bertawakal. Dengan pengetahuan dan sudah tahu, semua jadi tuntas dan selesai.

وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّكَ يَضِيْقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُوْلُوْنَۙ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَۙ وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ ࣖࣖ
“Dan sungguh Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau di antara orang yang bersujud (salat), Dan sembahlah Tuhanmu sampai keyakinan datang kepadamu” (QS. Al-Hijr [15]: 97-99).

Ayat ini menerangkan keadaan Nabi SAW yang diuji oleh perlakuan buruk masyarakat, namun ia terus berusaha konsisten fokus pada Allah dengan tetap bersabar dalam beribadah (berusaha dan berjuang) hingga memperoleh pengetahuan dan keyakinan.

Maka ujian, selain di dalamnya ada ketidaktahuan, juga dimaksudkan agar manusia jadi tahu dan yakin. Ini tidak bedanya dengan ujian-ujian yang dilaksanakan pada anak didik. Dalam menjalani ujian, setiap orang berharap sukses, yakni tahu pasti dan yakin dengan hasil yang diperoleh dari ujian tersebut, setidaknyaa dia tahu-yakin telah sukses menjalani proses menempuh dan meraih hasil secara sempurna, yakni dengan kesabaran dan tawakal.

Tawakal tidak sempurna tanpa kesabaran. Dua sifat ini bagaikan dua sayap burung kesuksesan dan kebahagiaan. Bila kesabaran dimulai dari kesungguh-sungguhan yang aktif dalam merancang tekad, berencana dan berusaha sampai datangnya hasil, tawakal juga dimulai bersama dengan dan sepanjang kesabaran.

Orang yang sabar dan bertawakal mempunyai pengetahuan dan keyakinan akan janji pasti Allah di masa depan, pada saat yang sama dia tidak tahu pasti, minimalnya, waktu dan kapan persisnya janji itu terjadi nyata.

Maka, hidup ini ada aspek misterius dan, tentu saja, menghadirkan banyak juga kejutan. Salah satu kejutan dan surprise besar yang membangkitkan kebahagiaan ialah tercapainya hasil yang didatangkan Allah di luar kalkulasinya, dalam ketidakpastian pengetahuannya tentang waktu tercapainya hasil yang dinantikan dari Allah.

Karena itu, Allah menyebut pertolongan yang dijanjikannya sudah “dekat” untuk Nabi SAW dan kaum Muslimin di perang Koalisi itu merupakan karunia yang patut selalu diingat oleh setiap orang beriman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ جَاۤءَتْكُمْ جُنُوْدٌ فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيْحًا وَّجُنُوْدًا لَّمْ تَرَوْهَا ۗوَكَانَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرًاۚ
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak terlihat olehmu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ahzab [33]: 9).

Salah satu medan ringan pembuktian atas kesabaran dan tawakal adalah berdoa. Kembali ke surat Al-Baqarah, ayat 214, di sana Nabi bersama sahabat, masih di perang Koalisi, meminta (berdoa) dengan perkataan, “Kapan pertolongan Allah itu [akan tiba]?”, atau dalam bahasa kondisi diri kita sekarang, “Kapan keadaan ini kembali normal, Ya Allah?”

Doa ini juga doa-doa lain yang ditumpahkan di hadapan Allah merupakan ungkapan dari ketidaktahuan dan ketidakberdayaan diri sendiri sekaligus ekspesi dari pengetahuan/keyakinan serta iman kita pada kekuasaan, kebijaksanaan dan kecintaan Allah. Karena itu, syarat berdoa adalah iman, sabar dan tawakal.

Ketiadaan atau lemah dalam berpengetahuan, dalam ketidaktahuan, dalam bersabar dan bertawakal akan berpengaruh pada nilai kesungguhan doa-doa kita. Orang yang tidak sabar saja akan menganggap janji pengabulan doa dari Allah tidak lagi dekat, tetapi jauh hingga bisa jadi akan putus asa dari Allah atau, sebaliknya, terlalu percaya diri dengan kekuasaan dan kemampuannya hingga melupakan kebaikan Tuhan Yang Mahakuasa di balik segenap keberhasilannya.

Maka, bukan hanya kesabaran dan tawakal, tahu dan tidak-tahu juga seperti dua sayap yang diperlukan untuk meningkatkan kesabaran dan tawakal. Tingkat kesabaran dan tawakal amat bergantung pada tingkat dan kualitas pengetahuannya.

Baca Juga :  Filsafat Alquran (2): Sejarah Jatuh-Bangun Manusia dalam Relasi Akal dan Wahyu

Semakin tahu-yakin, semakin kokoh sifat kesabaran dan tawakal pada Allah sehingga akan bekerja dan menjalani hidup dengan serius dan semangat. Demikian pula, semakin tidak tahu tentang hasil usahanya secara pasti (dari sisi waktu dan bentuknya), semakin membuat orang beriman kuat bertawakal dan bergantung pada Allah.

Pengetahuan adalah daya dorong, sementara ketidaktahuan adalah daya tarik. Dua motor penggerak ini mengarahkan orang beriman mencapai (mengetahui) hasil dan takdir yang diharapkan dari Allah.

Dalam tasawuf Ibnu Arabian, orang beriman yang berhasil menyingkap tabir takdir Allah adalah manusia wali yang memulai Perjalanan Ketiga (dari Tuhan menuju makhluk dengan Tuhan), menyaksikan entitas-entitas tetap (a’yan tsabitah) dan rahasia takdir (sirr al-qadar).

Alhasil, bagaimana lantas bila telah memperoleh keyakinan sepenuhnya, yakni tahu hasil dan takdir dari amal usahanya?

 

TAHU TAKDIR, PASRAH DAN BAHAGIA

Orang yang berhasil mencapai keyakinan tertinggi, yakni haqqul yaqin, yakin senyata-nyatanya, maka baginya tidak ada lagi kesabaran, tidak ada pula tawakal. Dia sudah bisa tahu realitas takdir yang akan terjadi, hakikat di balik realitas, dan fakta yang sesungguhnya. Di titik inilah tidak ada lagi yang gaib, tetapi tampak dan ditampakkan oleh Allah. Iman orang yang mengetahui tampaknya yang gaib memuncak ke titik yakin.

Dalam keadaan sudah tahu-yakin akan hasil (akhir sesuatu) dan takdir Tuhan tak lagi gaib, orang beriman akan mengalami ridha, yakni senang dan puas pada ketentuan, qadha dan qadar Allah. Seperti yang dikatakan Siti Zainab, cucunda Nabi SAW, “Aku tidak melihat kecuali keindahan,” dalam memandang tragedi pembunuhan saudaranya, SAyyidina Husain bin Ali, dan pembataian 70-an sahabatnya di Karbala (61 H) serta pengarakan keluarganya sebagai tawanan sepanjang perjalanan ke Damaskus.

Namun juga perlu dicatat, meskipun derajat ridha diperoleh dari tahu takdir, tetapi tahu takdir bukan satu-satunya sebab mencapai derajat ridha. Ada manusia-manusia yang, kendati sudah punya kelayakan diberi kehormatan Ilahi (karomah) mengetahui takdir Tuhan, tetap ingin berada sebagai budak, yakni manusia yang tidak punya apa-apa.

Jadi budak dan tidak punya apa-apa yakni dirinya tidak berkehendak, tidak menyandang apa-apa; dia memilih tidak tahu takdir, bahkan tidak melihat dirinya ada. Tentu ini ujian tertinggi dan, karena itu pula, kesuksesan yang diraih merupakan derajat utama dan kebahagiaan terbesar.

Dalam keridhaan pada takdir Allah yang Mahapeduli, Mahakasih dan Maha Bijaksana itu ada kedamaian dan ketenangan. Maka, tidak ada rasa takut, tidak ada rasa sedih. Inilah surga manusia sempurna, sempurna pengetahuan dan sifatnya, sempurna iman dan amal-usahanya.

بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗٓ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ ࣖ
“Tidak! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih” (QS. Al-Baqarah [2]: 112).

Keridhaan dan kedamaian jiwa manusia sempurna ini terungkap dalam kecintaannya beribadah, yakni menjadi budak Allah dan menghambakan diri hanya demi dan di hadapan Allah semata. Menjadi budak dan menghambakan-diri ditandai dengan ketiadaan kehendak diri sendiri, kekosongan keinginan sendiri.

Ketiadaan dan kekosongan kehendak inilah yang memungkinkannya diisi oleh kehendak Allah. Dia tidak mengaktifkan karamah dari Allah kecuali dengan izin Allah, dan dia tidak memilih tahu takdir Allah kecuali jika Allah menghendaki. Terserah Allah, tergantung Allah!

Manusia budak-Allah ini hanya akan hidup dalam kebahagiaan berpasrah-diri (taslim), terserah Allah, tergantung kehendak Allah. Keinginan dan pilihannya adalah pilihan Allah. Kepasrahan-diri ini itulah lapisan batin dari islam dan ibadah.

Maka, perintah berserah-diri juga berlaku pada orang yang sudah beriman agar masuk ke dalam kepasrahan-diri sepenuh-penuhnya dan menjadi semata-mata budak Allah, bukan budak selain Allah, sama sekali. Dengan kepasrahan ini dia mencapai derajat tertinggi islam dan taslim.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً
“Wahai orang-orang beriman! Masuklah ke dalam kepasrahan-diri secara keseluruhan” (QS. Al-Baqarah [2]: 208).

Sejauh ini, kiranya dapat dirumuskan arti hidup manusia dalam keterangan ayat-ayat di atas:

Hidup ini sepenuhnya ujian (QS. Al-Mulk [67]: 2) yang ditempuh dengan ibadah (usaha sungguh-sungguh dan fokus) dalam kesabaran dan tawakal untuk menjadi tahu (QS. Al-Hijr [15: 99) akan hasil dan takdir Allah menjadi nyata (tak lagi gaib). Di situlah diraih kebahagiaan dan ketenangan, tanpa cemas, tanpa sedih (QS. Al-Baqarah [2]: 112), hingga hidupnya hanyalah pasrah dan menjadi budak-Allah sepenuhnya (QS. Al-Baqarah [2]: 208).

Share Page

Close