• LAINYA

TASFIR-SOSIAL--Shalat itu kecintaan Nabi, pilar agama, amal yang pertama dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Efeknya melampaui kualitas pribadi. Ia bukan hanya meningkatkan kedekatan manusia dengan Tuhan Maha Pencipta, tetapi juga membuat keberadaannya bermanfaat bagi masyarakat dan dunia.

Jika memang begitu, lantas kenapa banyak orang yang shalat masih berbuat maksiat dan merugikan banyak orang?

Pertama, benih yang kopong tidak akan tumbuh dan berkembang, tidak akan berevolusi dan berubah jadi tumbuhan. Begitu juga shalat tanpa kehadiran hati, seperti benih yang kopong, kosong, tak berisi tadi, tidak akan berkembang dan berdampak positif.

Shalat hanya akan berdampak “melindungi” seseorang dari berbuat maksiat bila dia melakukannya dengan khusyuk dan kehadiran hati. Seberapa besar-kecil dampak positif shalat ditentukan oleh kualitas kekhusyukan dan tingkat kehadiran hati peshalat.

Sebaliknya, shalat tanpa khusyuk dan dengan hati lalai, pikiran mengambang dan melayang-layang hanyalah getaran suara dari kerongkongan, komat-kamit mulut, mengulang-ulang naik-turun badan, tidak beda dengan senam pagi. Badannya saja yang shalat, tapi hatinya meninggalkan shalat.

Perumpamaan lainnya, semua sekolah dibuat untuk mengembangkan potensi anak. Namun, ini tidak berarti setiap anak yang bersekolah pasti berkembang potensi pengetahuannya. Sekolah akan menjadi tempat pengembangan potensi anak asalkan dia sendiri juga belajar serius.

Begitupula shalat, jika dilakukan dengan sepenuh syarat lahiriah dan batiniah pelakunya, akan mencegah dirinya dari berpikiran kotor, bermaksud jahat dan berbuat keji.

Shalat yang dilakukan seorang pemimpin, misalnya, dengan sepenuh kehadiran hati akan menunjang dirinya berlaku adil dan bijak dalam memerintah, melindungi dirinya dari dendam dan ketidakadilan. Demikian warga yang hatinya shalat dengan khusyuk akan patuh pada pemimpin yang adil dan menentang korupsi, penindasan serta ketidakadilan.

Baca Juga :  Pandemi dan Argumen Ateis atas Ketiadaan Tuhan (2): Respon “Tidak Tahu” dari Pemimpin Para Filosof

Kedua, matahari akan memancarkan sinarnya dan menerangi bumi. Ia membagikan cahaya kepada ruang dan makhluk apa saja yang bisa dijangkaunya.

Kalau di siang hari, sepanjang matahari terbit, ternyata masih ada rumah yang gelap, itu karena pemiliknya menutup pintu, jendela dan semua celah rumah sehingga tidak mau ditembus dan diterangi oleh sinar matahari. Maka, salah bila pemilik rumah menyalahkan matahari: mengapa tidak menerangi rumahnya.

Demikian shalat juga sesungguhnya penjernih pikiran, penerang hati, penguat motivasi dan mencipta energi berbuat. Shalat jadi kehilangan efek positifnya bukan karena shalat itu sendiri, tetapi karena peshalat tidak membuka jendela hatinya, menyiapkan jiwa dan pikirannya untuk disinari cahaya shalat dan dihangatkan oleh energi spiritualnya, sehingga pikiran dan hatinya shalat sepanjang bacaan dan gerakan lahiriah shalat.

Sekali lagi, hanya shalat yang dilakukan dengan konsentrasi pikiran dan kehadiran hati itulah yang akan menjadi kekuatan ilahi dan menolongnya dari tekanan, kesulitan, penderitaan serta ujian.Shalat bukan sekedar rutinitas, dilakukan asal sah, cepat selesai dan bebas tanggung jawab di hadapan Tuhan. Shalat yang dilakukan seperti ini bukan lagi memuji dan menuja Allah, tetapi justru penghinaan terhadap-Nya. Shalat adalah aktivitas serius dengan sepenuh jiwa dan hati untuk peningkatan kualitas hidup personal dan transformasi sosial.

Dengan shalat, semakin dekat dengan Tuhan, maka semakin dekat pula dengan makhluk. Shalat karena Allah adalah juga shalat demi masyarakat dan dunia.–AFH

 

Share Page

Close