• LAINYA

Politik–“Rasa hormat saya kepada para pemimpin Hamas lebih besar daripada kepada para pemimpin Israel”. Kata-kata ini berasal dari pemikir politik ternama Perancis dan, dalam waktu singkat, menggemparkan kalangan politisi dan media di sana dalam skala nasional hingga dataran Eropa.

Ia bernama François Burgat, lahir pada 2 April 1948, tepat di tahun berdirinya Israel di atas tanah Palestina. Ia aktif dan masih terus aktif dalam profesinya sebagai pakar dan peneliti politik yang spesialis mendalami gerakan-gerakan Islam politik.

“L’islamisme en Face” (1995) dan “Sphere in Europe and the Middle East” (2002) adalah dua dari sekian karyanya. Namun statemen yang turut membuat namanya jadi buah bibir dan fokus media di Barat adalah kata-kata ini:

“Kekerasan Islam tidak berasal dari Islam sendiri, tetapi itu hanya merupakan dampak dan konsekuensi dari sejarah kolonialisme yang mengakomodasi pembentukan negara Israel.”

Burgat adalah segelintir pemikir Barat yang percaya bahwa Islam politik tidak lain hanyalah reaksi terhadap hegemoni penjajahan dan kolonialisme. Adapun yang selama ini disebut-sebut sebagai “terorisme Islam” dan “Islam teroris”, kebanyakannya, tidak lain adalah tindak kekerasan yang bersifat reaktif dan resistensif (perlawanan).

Selanjutnya, Burgat bahkan melangkah lebih jauh dengan percaya bahwa tujuan agenda-agenda Islam yang digagas, misalnya, oleh gerakan Ikhwanul Muslimin, justru lebih berorentasi sekuler dan demokratis ketimbang religius dan ideologis.

Burgat jadi sosok yang tidak begitu disukai oleh sejumlah media di Perancis karena kritik-kritik tajamnya yang terus berlangsung terhadap gejala-gejala dan aksi-aksi islamofobia di negaranya.

Burgat dan Operasi Badai Aqsa  

Untuk kesekian kalinya, Burgat mendidihkan polemik dalam skala nasional Prancis karena dukungan terbukanya terhadap Operasi Badai Aqsa yang dilancarkan Hamas melalui sayap militernya, Brigade Al Qassam, pada 7 Oktober 2023.

Baca Juga :  Balada Cinta Istri Kepala Keamanan Raja dan Ajudan Tampan dalam Alquran (5): Cinta Segi Tiga dan Manajemen Kasus

Sikap kemanusiaan ini, untuk kesekian kalinya, membangkitkan berbagai reaksi politis dan propagandis yang menuduh pemikir Perancis ini sedang terorisme dan antisemitisme. Ini tepatnya setelah ia membuat status di akun X (Twitter) begini:

“Tanpa batas… saya katakan tanpa batas (bebas sepenuhnya) bahwa saya menyimpan rasa hormat dan apresiasi besar ang lebih besar kepada para pemimpin Hamas daripada yang saya berikan kepada para pemimpin negara Israel.”

Sebelumnya, Burgat telah mengambil bagian dalam melayangkan penyataan terbuka untuk gerakan Hamas di akun X-nya sebagai respon tegas yang membantah tuduhan-tuduhan dalam laporan menyesatkan dari New York Time tentang pembunuhan pejuang-pejuang Hamas atas anak-anak dan pemerkosaan Wanita-wanita Israel dalam Operasi Badai Aqsa 7 Oktober itu.

Ia menulis, “Keniscayaan mengakui eksistensi suatu gerakan yang terkesan teroris pada 7 Oktober lalu sama sekali tidak menyebabkan saa lantas mengkriminalisasi gerakan pembebasan Palestina.”

Sebaliknya, akankah media Barat berhasil merancang aneka skenario tentang apa yang terjadi di Palestina untuk membuat masyarakat Barat dan dunia berpikir sesat dan bodoh?

Share Page

Close