• LAINYA

TAFSIR-SEJARAH–Apakah Islam, pada dasarnya, agama kekerasan? Tidak sedikit yang berpikir begitu. Survei Pew yang dirilis pekan lalu menemukan seperlima orang Amerika berpikir bahwa beberapa ajaran agama menjadi sumber kekerasan, dan sebagian besar dari mereka menyebut nama Islam secara khusus.

Di antara mereka adalah seorang pendeta Indonesia yang berdomisili di sana bernama Saifuddin Ibrahim alias Abraham Ben Moses. Dari AS dan melalui akun Youtubenya, pekan lalu dia meminta Menteri Agama RI agar menghapus 300 ayat dari Alquran karena mengandung unsur-unsur kekerasan dan terorisme. Kontan membuat heboh tanah air.

Sekali lagi, apakah sudah benar menghubungkan Islam dengan kekerasan?

Awal 2016, media Inggris, Independent, menurunkan laporan riset dengan judul “Violence more common in Bible than Quran”, dan segera dibubuhi anak judul bahwa dalam Perjanjian Lama, ditemukan kekerasan lebih dari dua kali lipat daripada dalam Alquran.

Penelitian dan satu dari sekian kesimpulannya juga dimuat dalam situs christiantoday. Berangkat dari jawaban negatif singkat atas pertanyaan di atas, tidak adanya hubungan antara Islam dan kekerasan itu dibuktikan oleh seorang peneliti, Tom Anderson, yang menerapkan keahliannya dalam komputerisasi analisis teks atas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (Alkitab/Bible) dan Alquran. Dengan motode yang benar-benar empiris dan matematis, ia membandingkan seberapa banyak ajaran kekerasan dalam tiga teks kitab suci ini.

Proyek ini diakui Tom Anderson sendiri terinspirasi oleh debat publik yang sedang berlangsung seputar: apakah terorisme dan fundamentalisme mencerminkan sesuatu yang inheren dan jelas kekerasan dalam Islam dalam perbandingannya dengan agama-agama besar lainnya.

Menggunakan program lunak analisis teks berbasis komputerisasi yang telah dikembangkan, bernama Odin Text, Tom menganalisis versi baru internasional Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru serta Alquran versi bahasa Inggris 1957. Sebelumnya, dia pernah menggunakan program ini untuk melayani klien perusahaan dengan informasi pemasaran, lalu dia mencoba menerapkannya pada isu krusial yang, dalam hal ini, Islam dan umatnya kerap dirugikan.

Baca Juga :  Realitas Manusia dalam Kebijaksanaan Luhur (2): Gerak Menyempurna

Program OdinText Anderson mendeteksi gejala-gejala sentimen dan emosi dalam teks Alkitab dan Alquran, tapi juga melibatkan istilah-istilah khas agama seperti: Tuhan, Allah dan Yesus. Dan dia menunjukkan dengan cukup puas bahwa OdinText hanya membutuhkan kurang dari dua menit untuk membaca dan menganalisis dua kitab suci itu sekaligus.

Lalu, apa yang dia temukan?

Dengan tegas Tom Anderson menyatakan bahwa “Kami tidak dalam rangka membuktikan atau menyangkal bahwa Islam lebih keras daripada agama lain, dan kami sangat menyadari bahwa ada banyak ajaran Kristen, Yahudi dan Islam lebih dari sekedar kitab suci mereka.”

Namun, mereka menemukan bahwa, dalam membandingkan delapan emosi utama: sukacita, antisipasi, marah, muak, sedih, terkejut, takut-cemas dan iman-percaya, Perjanjian Lama adalah “paling pemarah” dan berisi minim “sukacita”.

Mereka juga menemukan Alquran mengandung paling banyak “takut-cemas” dan masalah-masalah kepercayaan-keyakinan.

Mereka menyimpulkan bahwa “Sebuah pengamatan kata per kata atas teks kitab suci menunjukkan bahwa kandungan Alquran tidak lebih keras daripada kitab-kitab suci Yahudi-Kristen. Bahkan faktanya, dari tiga teks kitab suci, kandungan Perjanjian Lama tampaknya paling keras.”

Memang, pembunuhan dan penghancuran sedikit lebih sering menjadi referensi dalam Perjanjian Baru (2.8%) daripada dalam Alquran (2.1%), tapi Perjanjian Lama (5.3%) secara jelas memimpin rekor penyebutan tentang penghancuran dan pembunuhan, yakni lebih dari dua kali lipat dari al-Quran.

Hasil komputerisasi analisis teks ini juga menerbitkan adata bahwa Perjanjian Baru adalah tertinggi dalam soal cinta, sementara Alquran tertinggi dalam konsep “belas kasih” atau “maaf”.

Para peneliti mengakui bahwa hasil ini adalah karena Allah sering digambarkan sebagai “Maha Penyayang”. Bahkan mereka mengatakan, “sejumlah kalangan mungkin mengabaikan hal ini sebagai topik atau judul, tapi kami percaya hal itu berarti karena belas kasih diprioritaskan di atas atribut lain seperti “Maha Kuasa” yang bisa dibilang lebih berkonotasi dengan dewa-dewi.

Baca Juga :  Perdebatan Qurani (1): Dibanding Injil, kenapa Alquran Mudah Dihapal?

Ada juga perbedaan utama seputar konsep “iman/percaya”, dimana lagi-lagi Alquran berada di atas Perjanjian Baru, sementara Perjanjian Lama berada di posisi ketiga.

Anderson menyimpulkan, “Mereka yang belum membaca atau tidak cukup akrab dengan isi dari ketiga teks kitab suci itu mungkin akan terkejut saat mengetahui fakta bahwa Alquran benar-benar tidak lebih kejam daripada kitab-kitab suci Yahudi-Kristen.”

“Secara keseluruhan, ketiga teks kitab suci itu dinilai sama dalam hal sentimen positif dan negatif, tetapi juga dari pembacaan emosional, Alquran dan Perjanjian Baru tampak lebih mirip satu sama lain.” imbuhnya.

Tentu saja, seperti yang pertama kali diakui Anderson, masih banyak lagi yang bisa diungkap tentang bagaimana ketiga teks kitab suci itu benar-benar berbicara. Yahudi dan Kristen mungkin ingin bertanya tidak hanya seberapa sering kekerasan dan kebencian muncul dalam Perjanjian Lama, tetapi dalam konteks apa dua gejala ini muncul. Namun pada saat yang sama, jika seseorang ingin merujuk Perjanjian Lama dalam rangka membenarkan kekerasan, ia akan menemukan banyak referensi di dalamnya.

Penelitian Tom Anderson ini memperingatkan kita agar tidak jatuh dalam kemalasan meneliti, mencari fakta atau mudah percaya dan gampang menelan bulat-bulat setiap berita. Dalam kapasitasnya sebagai konsultan dan programmer analisis komputeral, dia memberi pesan masing-masing dapat berkontribusi dalam kralifikasi berita dan mengungkap fakta.

Share Page

Close