• LAINYA

TAFSIR-SUFI—Di kalangan peneliti, ada upaya peninjauan eksternal (dari luar) terhadap tasawuf dan sufi yang kerap menghubung-hubungkannya dengan tradisi di luar Islam. Namun, kalangan sufi sendiri mengasalkan ilmu dan praktik mereka kepada sumber utama Islam, yakni Alquran.

Sebagian mereka meyakinkan tasawuf atau irfan sebagai upaya lain dari tafsir atas Alquran. Pada praktiknya, capaian utama dan tertinggi sufi sepanjang mengungkapkan rahasia pengalaman lembut ruhaninya adalah menafsirkan Alquran.

Dalam Ulumul Quran dan Metodologi Tafsir, tafsir sufi diakui dan dikenal sebagai tafsir isyari, tafsir faydhi, takwil dan, agaknya, tafsir batini. Banyak upaya yang dilakukan para sufi untuk mengadaptasikan ajaran dan doktrin tasawuf mereka melalui tafsir Alquran untuk menegaskan bahwa ilmu dan amal mereka masih berada dalam koridor agama.

Lebih dari itu, ajaran suluk dan kebenaran sufi justru diyakini dan diyakinkan sebagai lapisan batin dari kebenaran Islam dan Alquran. Klaim ini cenderung memicu reaksi keras dari masyarakat umum dan, sedcara khusus, mengusik “kenyamanan” ulama ahli hukum.

Terutama kaitannya dengan doktrin Wahdatul Wujud atau Kesatuan Ada, tidak sedikit sufi yang mempertahankan doktrin ini meski dikafirkan, dipersekusi, diinkuisisi, dipenjarakan bahkan dihukum hingga dieksekusi mati oleh peradilan agamawan.

Sebagai capaian tertinggi dari pengalaman dan penempuhan ruhani, Wahdatul Wujud diupayakan klarifikasi dan adaptasinya oleh para sufi sebagai bagian inti atau bahkan representasi autentik dari prinsip Tauhid. Banyak ayat yang diacu untuk menerangkan konsistensi doktrin ini dengan Alquran, kendati kebanyakan ayat itu menunjukkan Wahdatul Wujud secara implisit.

Pertanyaannya, apakah ada ayat yang secara eksplisit menyatakan Wahdatul Wujud? Sebangun dengan “Tiada tuhan kecuali Allah”, para sufi merumuskan kalimat Tauhid ini dengan narasi Wahdatul Wujud berikut ini: “Tidak ada apa pun kecuali Allah” (mā tsamma illā Allāh).

Baca Juga :  Menimbang Kasus Syekh Siti Jenar, dari Sufi Syi’ah hingga Korban Politik

Allah adalah ada, dan ada adalah Allah. Dalam penjelasan Imam Ghazali, ada pada hakikatnya adalah milik Tuhan, sementara apa saja selain Tuhan tidak memiliki ada kecuali ada pinjaman (al-wujud al-musta’ar). Maka, apa saja selain Allah, pada hakikatnya, bukanlah ada dan tidak nyata. Bila “ada” dipredikatkan dan dinyatakan pada selain Allah, maka predikasi dan pernyataan itu tidak hakiki, tetapi metafor dan kiasan saja. Jadi, perkataan “Aku ada” adalah ungkapan metafor yang makna hakikinya adalah “Aku Tuhan”.

Sekali lagi, adakah ayat yang secara eksplisit dan literal menyatakan: “Aku adalah Tuhan”?

Sepanjang penelitian singkat, tampaknya tidak ada yang redaksi literalnya menyatakan begitu. Baik sufi maupun ulama dan mufasir non-sufi “nyaris-nyaris” sepakat atas ketiadaan ini. Perumus Wahdatul Wujud, yakni Ibnu Arabi sendiri, hingga Mulla Sadra yang memfilsafatkan doktrin tersebut, sejauh ini, tidak mengajukan satu ayat pun yang secara eksplisit menyatakan “Tidak ada kecuali Allah” atau “Aku adalah Tuhan,” baik dalam karya-karya tafsir, filsafat ataupun tasawuf mereka.

Masih sepanjang penelusuran singkat, ada catatan relatif pendek dalam tafsir Al-Furqān fī Tafsīr al-Qur’ān, karya Syaikh Muhammad al-Shadiqi (v. 18, p. 95), yang menebarkan aroma Wahdatul Wujud dari surat Al-Kahf, ayat 38.

Sepintas, tampaknya tidak ada yang ganjil dan janggal dalam ayat ini. Penggalan kedua, yakni “dan aku tidak mempersekutukan dengan Tuanku sesuatu apa pun” merupakan kalimat yang lazim dijumpai sepanjang Alquran seperti QS. Al Imran [3]: 64, QS. Al-Nisa’ [4]: 36, QS. Al-Ra’d [13]: 36, QS. Al-Hajj [22] 26, QS. Al-Jinn [72]: 20. Ayat keenam yang datang berikutnya di surat yang sama ini juga mengulang kalimat tersebut.

Baca Juga :  Sekilas Kitab-kitab Tafsir Indonesia

Kesan ini berbeda dengan yang tampak dari penggalan pertama. Sepintas saja mengamatinya sudah cukup mengusik pikiran. Selain tidak ada kalimat dalam ayat-ayat Alquran yang semirip dengan redaksi dari penggalan pertama ayat ini, makna yang tersurat, literal dan harfiah dari ayat itu tampak ganjil, Tetapi aku Dialah Allah, Tuanku….

Bukan hanya tidak ada pembedaan, tetapi dalam ayat ini justru ada semacam kesamaan, kesatuan dan keidentikan antara aku (manusia) dan Tuhan. Kata-kata sufi, “Aku adalah Tuhan” adalah sepadan dengan “…. aku Dialah Allah.“.

Penggalan pertama dari ayat dengan redaksi ini justru merupakan testimoni Wahdatul Wujud yang kerap diulang-ulang oleh sejumlah sufi seperti: Abu Manshur Al-Hallaj di negeri Persia dalam kata-katanya, “ana al-haqq” (aku adalah [Tuhan] Yang Mahanyata), termasuk sufi asal Persia di tanah Jawa, Syekh Siti Jenar, dalam ungkapannya, “manunggaling kawula gusti”.

Sampai di sini, jawaban atas pertaanyaan utama sudah diperoleh bahwa ada ayat yang secara eksplisit menyatakan Wahdatul Wujud, dan artikulasi para sufi atas doktrin ini dengan statemen, “Aku adalah Tuhan” merupakan pengulangan atas penggalan pertama dari ayat di atas.

Ini dapat diterima sepenuhnya bila dan bila ayat tersebut diterjemahkan dan dimaknai demikian di atas. Maka, yang perlu dan penting dicermati ialah penerjemahan atas ayat: apakah sudah tepat ataukah distorsif? Pertanyaan ini yang akan ditangani sepanjang topik “Makna Literal Ayat dalam Tafsir dan Terjemah Alquran”.BERSAMBUNG

Share Page

Close