• LAINYA

TAFSIR-TASAWUF–Di dunia ini, setiap orang tidak sama. Satu sama lain bisa beda status dan posisi bahkan karena hal-hal di luar kehendak dan pilihannya. Setiap orang berusaha membangun diri dan hidupnya untuk jadi tampak beda, unik dan unggul. Tapi di hadapan Allah, dalam pandangan Allah, manusia sama saja, sama-sama bukan apa-apa.

Kesempurnaan seseorang di “mata” Allah bukan menjadi sesuatu dan berbeda, tetapi bagaimana mempertahankan diri seperti awal kali diciptakan, “lam yakun say’an madzkura”: bukan sesuatu yang bisa disebut (QS. Al-Insan [76]: 1), dia bukan apa-apa maka tidak ada klaim punya apa-apa. Itulah ubudiyyah, maqam budak.

Tidak ada hakikat dan status manusia di hadapan Allah selain sebagai budak. Di ayat pertama dari surah Al-Isra’, Allah memanggil dan memperkenalkan manusia paling purna, Muhammad SAW—dalam deskripsi perjalanan isrā’ dan mi’rāj— dengan sebutan ‘abd, yakni hamba, sahaya, budak.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Mahasuci Yang telah memperjalankan [pada waktu malam] hamba-Nya pada waktu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekitarnya untuk Kami tunjukkan dari tanda-tanda Kami kepadanya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Melihat (QS. Al-Isra’ [17]: 1).

Kata ‘abd berasal dari ‘abada ya‘budu yang berarti menyembah, mengabdi, dan menghinakan diri di hadapan Allah. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia, kata hamba diartikan budak dan biasanya dilawankan dengan tuan.

Seseorang hanya akan disebut tuan jika dan hanya jika dia memiliki kekuatan dan kewenangan yang menentukan nasib dirinya dan orang lain. Ketika kita menyerahkan hidup ini sepenuhnya kepada seseorang untuk menentukan nasib dan masa depan kita, maka orang tersebut telah menyandang tuan bagi diri kita, sebaliknya kita sudah menjadi budak di tangannya. Atas dasar itu, perbedaan antara tuan dan budak itu terletak pada kehendak.

Dalam ayat di atas, Allah SWT mendefinisikan Nabi Muhammad SAW sebagai budak bagi diri-Nya. Maka sebenarnya Nabi adalah makhluk yang tidak punya kehendak. Seluruh pilihan dan keputusannya diserahkan hanya kepada Allah secara total. Ia menyerahkan kehendaknya untuk ditentukan oleh Allah. Di sinilah tampak arti Islam, yaitu kepasrahan mutlaak dan sepenuh-penuhnya.

Baca Juga :  Filsafat Pancasila dan Pancasilais; antara Realitas, Realistis dan Utopis

وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat baik, maka sesungguhnya dia telah berpegang pada taali yang kukuh. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan” (QS. Luqman [31]: 22).

Islam bukan semata menyatakan syahadat tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya, kemudian melakukan salat, zakat, puasa, dan haji. Muslim sejati ialah manusia yang berkomitmen menyerahkan segenap keinginan dan kehendaknya secara total kepada Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam silm (kepasrahan) secara menyeluruh, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya dia (setan itu) musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 208).

Yakni, menyerahkan diri sehabis-habisnya; tidak ada sisa sedikit pun dari keinginan dan kehendak kita yang berbeda dengan keinginan dan kehendak Allah. Hamba sempurna ialah manusia yang tidak memiliki sedikit pun kehendak. Sebelum berkehendak, ia akan bertanya terlebih dahulu apakah keputusan dan kehendak ini sesuai dengan kehendak Allah atau tidak.

AKU MENJADI BUDAK ENGKAU ADALAH KEMULIAAN TERBESARKU, DAN ENGKAU TUHANKU ADALAH KEBANGGAAN TERAGUNGKU–Ali bin Abi Thalib ra.

Ketiadaan kehendak dan pilihan sendiri itulah ubudiyyah dan kehambaan. Sebaliknya, adanya kehendak dan keinginan sendiri dalam diri, sedikit apa pun itu, adalah tanda ketiadaan penghambaan dan klaim jadi tuan bagi dirinya. Tanda ini pada Iblis tampak dalam pembangkangannya terhadap Allah, dimulai dari penolakannya dan merasa dirinya sesuatu yang besar:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan tatkala Kami katakan kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kepada Adam!’ Maka mereka bersujud kecuali Iblis, ia menolak dan merasa diri besar, dan ia termasuk golongan yang kafir” (QS. Al-Baqarah [2]: 34).

Baca Juga :  Tadabur: QS. Al-Rum [30]: ayat 41 (Bagian Kedua)

Ibadah dan penghambaan tulus Iblis selama ribuan tahun tak lagi berarti apa-apa tatkala merasa dirinya sesuatu yang bernilai, menghendaki keinginan diri sendiri sehingga berbeda dengan keinginan (perintah) Allah, kemudian mempertahankan kehendaknya dengan menolak perintah Allah sampai pada akhirnya menjadi kafir.

Maka, untuk menjaga ibadah, penghambaan dan esensi diri sebagai hamba Allah tetap utuh dan murni, perlu berlatih menguasai kehendak kita tidak menguasai diri kita, dengan beriman pada Allah dan mempercayakan segenap diri dan urusannya kepada Dia. Manusia sempurna adalah manusia utuh sejak pertama kali diciptakan hingga akhir penciptaannya: tetap sebagai hamba yang tidak punya pilihan, segenap hidup dan wujudnya lenyap dalam pilihan Allah.

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan (QS. Al-Qashash [28]: 68)

Karena itu, dalam tasawuf diajarkan bahwa manusia sempurna ialah berada di titik nol (faqr wujudi). Maksudnya, ia menyadari dirinya fakir (tidak punya apa-apa) dan fana’ (lenyap), bahkan tidak mengklaim bahwa dirinya ada. Ia menyadari keberadaannya itu hanyalah mutlak milik Allah SWT.

Beriman pada Allah yaitu percaya dan mempercayakan segenap keberadaan dan urusannya kepada Allah. Iman ini adalah derajat tawakal; menjadikan Allah sebagai wakil pemegang tunggal kewenangan mengelola hidup lahir-batinnya. Dalam ilustrasi Ibnu Arabi, “Orang-orang yang menjadikan Allah sebagai wakilnya telah mati di tangan-Nya, seperti mayat di tangan pemandinya. Karena itu, Allah memberi mereka sifat kudus dan kesucian.” (Ibnu Arabi, Rahmat min Al-Rahman, jld. 4, hlm. 404).

Maka, keberadaan kita karena keberadaan-Nya. Kebesaran kita karena kebesaran-Nya. Kemuliaan kita karena kemuliaan-Nya. Kekayaan kita karena kekayaan-Nya. Tanpa keberadaan-Nya, kita hanyalah budak dan mayat; keberadaan kita tidak ada apa-apanya. Karena itu, janganlah sombong, angkuh, merasa menjadi penguasa atas segalanya, karena keberadaan kita tidak ada apa-apanya tanpa keberadann-Nya.

Baca Juga :  QS. al-Ikhlas [112]: ayat 3, (1) Konsekuensi Tauhid

“Dan janganlah engkau memalingkan pipimu (wajahmu) dari manusia dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri.” (QS. Luqman [31]: 18)

Ketika Nabi Muhammad SAW telah mencapai maqām hamba, saat itu juga Allah SWT menganugerahinya menjalani perjalanan yang mahadahsyat, yaitu isrā’ dan mi’rāj. Peristiwa agung itu menunjukkan betapa tinggi maqām Nabi. Di puncak perjalanan itu pula ia mendapati kedekatan spiritual paling ekstrem yang nyaris tak berjarak dengan-Nya. Alquran melukiskan Sejarak dua busur panah atau lebih dekat dari itu.” (QS. Al-Najm [53]: 9).

Maka dari itu, menjadi manusia sempurna ialah kembali ke posisi sebagai hamba sejati dan budak sempurna Allah dengan cara menghilangkan nafsu dan ego kita, menyadari semua kepemilikan dan posisi ini palsu, permainan dan sementara.

Diri kita dan keberuntungan di dunia hanya menjadi hakiki dan abadi tatkala dimaksimalkan untuk memurnikan diri menjadi muslim sepenuhnya, yaitu memasrahkan segenap pikiran, keputusan, pertimbangan, dan kehendak kita agar sesuai dengan kehendak dan keinginan Allah.[Diadaptasikan dari: www.nurulwala.id]

Share Page

Close