• LAINYA

1. Wahdatul Wujud: Cahaya Allah atau Cahaya Makhluk

Sekilas saja mencermati penggunaan kata nur (cahaya) di sepanjang Alquran, akan dijumpai banyak makna tafsiran, di antaranya Islam, petunjuk, kebenaran, nabi, Alquran, bukti, ilmu, iman, keadilan, termasuk sinar empirik seperti sinar bulan.

Terkait cahaya dalam ayat Cahaya, para mufasir umumnya menafsirkan dengan cahaya iman, cahaya ilmu, bahkan cahaya sinar empirik tadi seperti dari Sudiy yang, dalam catatan kaki atas Tafsīr Al-Jalālayn, dinilai tidak relevan, karena tidak sesuai dengan makna lelangit dan bumi sebagai apa saja yang ada di dalam keduanya dan apa saja selain keduanya, yakni seluruh alam (jamī‘ al-kawn), sedangkan cahaya sinar empirik dari matahari dan bulan tidak mencakup seluruh alam (al-Mahalli et al., 2008, p. 1302). Cahaya empirik hanya membantu orang dalam melihat dengan mata kepala, tetapi tidak terlibat juga tidak diperlukan dalam mengaktifkan indra selain mata.

Baydhawi merangkum penafsiran para mufasir atas cahaya di ayat Cahaya dalam tiga makna tafsiran:

  1. Penyinar dan penerang (al-munawwir, al-munīr) lelangit dan bumi. Penyinar yakni pencahaya, pemberi cahaya kepada alam.
  2. Pengelola (al-mudabbir) dan pemberi-petunjuk (al-hādī) langit dan bumi. Dalam bahasa Arab, pemimpin yang bijak disebut sebagai nūr al-qawm (cahaya bangsa), karena kemampuannya mengarahkan dan mengelola kehidupan rakyatnya dengan baik dan adil.
  3. Pewujud dan pengada (al-mūjid) langit dan bumi. Allah adalah cahaya yaitu Allah pengada dan pencipta seluruh alam (al-Baydhawi, tanpa tahun, v. 2, p. 107; Ibnu Katsir, 1999, v. 6, p. 57-58; Ibnu Asyur, 1984, v. 18, p. 186-187).

Bagaimanapun, Allah dalam ayat Cahaya ini secara harfiah dan literal, yakni sejauh redaksi tektualnya berbunyi, tidak memperkenalkan Diri-Nya sebagai pelaku. Penyinar, penerang, pengelola, pemberi-petunjuk, pewujud dan pengada, semua ini mengasumsikan Allah sebagai pelaku, yakni Allah sebagai pencahaya dan penyinar. Ayat ini tidak berbunyi pencahaya, tetapi cahaya itu sendiri. Bunyi literal ini juga dicatatkan Quraish Shihab sebagai terjemahannya atas ayat, sekalipun ia segera menganulirnya dengan mendesak pembaca untuk bersama-sama memaknai kata nur (cahaya), jika dinisbatkan kepada Allah, sebagai Dia pemilik dan [pelaku] pemberi cahaya (Shihab, 2001, v. 9, p. 343 & 347). Pengutipan langsung Shihab atas kalimat Imam Ghazali juga tidak cukup kuat mempertahankan pemaknaannya itu agar konsisten dengan terjemahannya semula bahwa Allah [adalah] cahaya, bukan pencahaya (Shihab, 2001, v. 9, p. 347).

Baca Juga :  Profil Pemimpin Ideal dalam Tasawuf Politik Platon dan Khomeini (3): Ulama sama dengan Nabi

Cahaya (nur) berbeda dengan pencahaya (munawwir, munir). Cahaya adalah sifat esensial Allah (al-shifat al-dzātiyyah), sementara pencahaya adalah sifat aksional Allah (al-shifat al-fi‘liyyah). Dalam makna kedua ini, Allah tampil cahaya-Nya dalam kerangka relasi-Nya dengan tindakan kepenciptaan dan kepengaturan-Nya atas makhluk, sementara dalam makna pertama (sifat esensial), Allah cahaya terang, entah sebelum ataupun setelah makhluk dicipta.

Tentu ada relasi antara cahaya dan pencahaya. Pencahaya merupakan identitas esensial cahaya, sebagaimana pencahaya juga konsekuensi alami dari bercahaya. Maka, sesuatu itu cahaya maka bercahaya sehingga ia berperan sebagai pencahaya yang mencahayakan yang lain. Tanpa cahaya, sesuatu tidak mungkin bercahaya apalagi aktif sebagai pelaku pencahaya; dia hanya akan berada sebagai bercahaya dan pencahaya jika dirinya sendiri adalah cahaya.

Perlu ditegaskan sekali lagi bahwa cahaya tidak sama dengan bercahaya. Sejauh pemeriksaan atas beragam versi terjemahan Bahasa Indonesia atas ayat Cahaya, tidak ada penerjemah yang memadankan kata nur dalam ayat itu dengan bercahaya, bersinar dan sinonim lainnya. Dalam bahasa Logika Klasik, relasi komparatif antara cahaya dan bercahaya adalah subseksi (al-‘umum wa al-khusus muthlaq), yakni setiap cahaya pasti bercahaya, tetapi tidak setiap bercahaya pasti cahaya. Relasi subseksi ini yang kelak akan diklarifikasi sepanjang penggalian doktrin Wahdatul Wujud dari dalam ayat Cahaya.

Sekadar teks ayat Cahaya itu berbunyi, pemaknaan ghalibnya kalangan sufi terfokus pada Allah sebagai cahaya, bukan bercahaya, bukan pula pencahaya. Mereka lalu menafsirkan cahaya dalam ayat ini juga identik dengan Ada (wujud). Penafsiran cahaya seidentik dengan Ada ini sebenarnya juga dapat dijumpai dalam karya-karya tafsir nonsufi (lih. Al-Shawi, 1924, v. 3, p. 139; Al-Qurtubi, 2006, v. 12, p. 256; Al-Tayyibi, 2013, v. 11, p. 90; Fadhlullah, 1986, v. 16, p. 322).

Baca Juga :  Ayat Wahdatul Wujud (1): Al-Kahf [18]: 38, “Aku Dialah Allah”

Tafsiran ini tampaknya juga tidak keliru, karena setiap Ada itu nyata dan, karena itu, Ada adalah sehakikat dengan cahaya, yaitu nyata pada dirinya sendiri dan membuat yang lain jadi nyata. Dengan kata lain, Ada adalah ada pada dirinya sendiri sekaligus mengadakan selainnya.Dengan tetap utuh hakikat dan esensinya tadi, cahaya dan Ada itu hierarkis dan ambigu (musyakkik), yakni gradasional, bertingkat-tingkat. Seperti iman dan ilmu juga bergradasi, mulai dari yang terlemah, kuat, lebih kuat hingga yang terkuat.

Demikian Cahaya dan Ada Allah merupakan tingkatan tertinggi dan dapat diakses (disaksikan mata hati) manusia sebanding-pararel dengan derajat iman dan ilmunya (Hamka, 2003, v. 7, p. 4942). Ada Allah bahkan bisa juga diingkari orang meski mata di kepalanya normal; dia bisa melihat dan menikmati sebatas permukaan keindahan natural alam tanpa bisa menyaksikan Ada Allah dan keagungan-Nya di balik keindahan alami tersebut. “Sebenarnya bukan mata penglihatan yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada” (QS. Hajj [22]: 46).

Allah dalam ayat Cahaya tidak mengatakan, “Allah adalah langit dan bumi”. Penggunaan kata cahaya merupakan penegasan atas hakikat cahaya seutuhnya, yaitu nyata pada dirinya sendiri dan membuat yang lain jadi nyata. Kalau suatu entitas ber-Ada (baca: memiliki Ada) namun tidak pada dirinya sendiri, atau ber-Ada tetapi tidak membuat yang lain jadi ber-Ada, maka entitas itu bukan cahaya, tetapi sesungguhnya kegelapan dan ketiadaan.

Karena itu, makhluk apa saja yang selama ini dirasakan, dipikirkan, diklaim serta disebut ada dan nyata, pada hakikat dan realitasnya, bukanlah ada dan tidak nyata (negasi), tetapi kenyataan dan Ada mereka itu sesungguhnya Cahaya dan Ada Allah itu sendiri (afirmasi). Maka, meski tampaknya ada tiga variabel dalam hubungan ontologis makhluk dengan Allah, namun pada dasarnya hanya ada dua: Allah dan Cahaya-Nya.

Baca Juga :  Dosa-dosa tidak Merdeka (2): Mencari Kemerdekaan dalam Pancasila, di Sila yang mana?

Telah dicatat sebelum ini, dalam tafsiran para mufasir dan terjemahan para penerjemah, cahaya di awal ayat Cahaya diartikan sebagai pencahaya (pemberi cahaya) lelangit dan bumi sehingga, atas dasar itu, penggalan ayat ini bisa didudukkan jadi tiga variabel: (a) Allah sebagai subjek pemberi, (b) cahaya sebagai objek yang diberikan Allah, dan (c) lelangit-bumi sebagai penerima objek (cahaya) dari Allah.

Dalam redaksi ayat: “Allah cahaya lelangit dan bumi”, jika diamati lebih teliti, maka yang sesungguhnya ber-Ada dan nyata bukan tiga variabel, bukan pula dua variabel, tetapi pada hakikatnya hanya ada satu dan tunggal, yaitu Allah. Allah adalah cahaya, dan cahaya adalah Allah. Cahaya Allah adalah Diri Allah sendiri, karena jika cahaya Allah bukan Allah itu sendiri, maka Allah pada Diri-Nya bukan cahaya, yakni tidak nyata pada diri-Nya sehingga, tentu saja, tidak akan membuat yang lain jadi bercahaya dan nyata.

Sampai di sini, dengan metode terjemah literal, sudah dijumpai kecenderungan awal ke arah Wahdatul Wujud. Hanya berikutnya perlu diuji: apakah kecenderungan itu berlanjut ke tingkat Wahdatul Wujud sebagai doktrin dari dalam redaksi literal ayat Cahaya atau tidak. Pengujian ini juga sekaligus upaya klarifikasi atas kelengkapan konsep tasawuf itu dan perbedaannya dari dua doktrin: hulul (kemenempatan) dan ittihad (kemenyatuan).

Bersambung ke: “Isyarat Literal Ayat Cahaya: Menggali Wahdatul Wujud dari Terjemah Alquran (3): antara Kafir dan Tidak”

Share Page

Close