• LAINYA

2. Wahdatul Wujud, Hulul dan Ittihad: antara Kafir dan Tidak

Secara sangat sederhana dan alakadarnya, dalam redaksi ayat Cahaya hanya ada tiga kata kunci: Allah, cahaya, langit dan bumi (makhluk). Hamka menyinggung tiga kata kunci ini dalam judul “Allah Cahaya Alam”. Ini masih tampak konsisten dengan terjemahannya, “Allah cahaya bagi semua langit dan bumi.” (Hamka, 2003, v. 7, p. 4940-4941). Dikatakan sangat sederhana karena doktrin Wahdatul Wujud sudah bisa diklarifikasi benar-salahnya, kafir-tidaknya, sekedar seseorang memahami secara murni literal tiga kata kunci tadi tanpa perlu membangun argumentasi di luar ayat ini. Memahami secara murni literal yaitu menggali makna harfiah tiga kata kunci dari dalam Alquran melalui definisi kata (al-ta‘rif al-lafdzi), dimulai dari pertanyaan elementer: apakah.

 

A. Apakah Allah?

Muayyiduddin Jandi, salah satu sufi komentator tertua dan terbaik Fushush al-Hikam karya Ibnu Arabi, membawakan sepuluh makna leksikologis dan etimologis kata “Allah” (Jandi, 1983, p. 33-35). Sementara Alquran sendiri mengemukakan banyak jawaban atas pertanyaan di atas. Dalam beberapa ayat, Allah dideskripsikan sebagai Mahakasih (rahman), Maha Pengasih (rahim), Tuan (rabb) seluruh alam, pencipta (khaliq, fathir), Esa (ahad), Mahanyata (al-haqq) dan nama-nama terbaik lainnya. Namun, ayat Cahaya hanya mendefinisikan Allah sebagai cahaya. Definisi ini juga diriwayatkan Imam Muslim dalam sahihnya.[1]

 

B. Apakah Cahaya?

Cahaya, apa pun cahaya itu, adalah nyata pada dirinya sendiri dan menyatakan selainnya (al-zdāhir li nafsihi wa al-muzdhir li ghayrihi) (Ibnu Mandzur, 1414 H, v. 14, p. 321). Cahaya apa pun pasti terang dan tampak pada dirinya sendiri dan, pada saat yang sama, membuat yang lain jadi terang, tampak dan nyata. Nyata yaitu ada; setiap yang ada pasti nyata dan tampak (Lih. al-Baydhawi, Thabathaba’i, Ibnu Arabi, Shihab, v. 9, p. 347).

Baca Juga :  Balada Cinta Istri Kepala Keamanan Raja dan Ajudan Tampan dalam Alquran (4): Tidak Ada Kebohongan Sempurna

Lalu, jika ada sesuatu yang nyata namun kenyataannya tidak pada dirinya sendiri, tetapi ber-Ada dan nyata dengan selain dirinya, maka sesuatu itu pada dirinya sendiri bukan cahaya, yakni dia pada dirinya sendiri adalah lawan dari cahaya, yaitu gelap, tidak nyata dan tidak ada. Ia baru ber-Ada dan menjadi nyata berkat Ada dan kenyataan suatu realitas selain dirinya (Ghazali, 1986, p. 136).

Dengan demikian, berdasarkan bunyi literal dari nash dan redaksi ayat ini, Allah didefinisikan sebagai cahaya, yakni nyata dan ada pada Diri-Nya Sendiri dan membuat selain-Nya menjadi nyata dan ber-Ada. Dia Cahaya lelangit dan bumi yakni cahaya dan Ada-Nya adalah bagi apa saja selain Diri-Nya.

 

C. Apakah Langit dan Bumi?

Langit dan bumi yang dimaksud dalam ayat di atas tentu saja bukan berupa dua makhluk: yang satu di bawah kaki kita dan lainnya di atas kepala kita. Ungkapan ini akan tetapi merepresentasikan apa saja selain Allah (ma siwa-Allah); sebut saja singkatnya, makhluk atau alam (Al-Mahalli, 2013, p. 1302). Maka, Allah cahaya langit dan bumi yaitu cahaya makhluk (apa saja selain Allah).

Jika dua definisi cahaya dan langit-bumi ini digabungkan, maka makhluk menjadi jelas status realitasnya, yaitu setiap makhluk pada dirinya sendiri (pada hakikatnya) adalah tidak nyata dan tidak ber-Ada (memiliki ada), tetapi meng-Ada dan menjadi nyata berkat selainnya (Allah). Maka, apa saja selain Allah adalah bukan cahaya, yakni nir-cahaya dan ketiadaan cahaya, dan apa saja yang nircahaya dan bukan cahaya, pada hakikat dirinya, adalah gelap dan tiada. “Apa saja yang ber-Ada (memiliki Ada) dari selain dirinya, jika ditinjau dirinya sebagai esensinya sendiri, maka dia ketiadaan murni (‘adam mahdh)” (Ghazali, 1986, p.137).

Baca Juga :  Konsep Umat: Menggali Nilai-nilai Apriori dan Aposteriori Sosial Alquran (1): Esensi Umat

Kejelasan status makhluk ini juga sekaligus menerangkan status Allah, yaitu Dia Realitas Hakiki, Realitas Swasungguh, Realitas Mahanyata, Realitas Esa, keesaan absolut yang tidak menyisakan Ada bagi selain-Nya selain bayang-bayang Ada-Nya. “Maka, Ada Hakiki adalah Allah SWT, sebagaimana Cahaya Hakiki dialah Allah SWT” (Ghazali, 1986, p.137).

Atas dasar itu, “Allah Cahaya lelangit dan bumi” yaitu Allah adalah Nyata pada Diri-Nya Sendiri juga Ada Hakiki bagi apa saja selain-Nya yang sesungguhnya tidak nyata dan tiada pada dirinya sendiri sehingga ia hanya dapat dianggap nyata dan ada sejauh dengan selain dirinya, yakni Allah Yang Esa. Dari penjelasan dan definisi atas Allah, cahaya dan langit-bumi sebagai tiga unsur pembentuk seutuhnya ayat Cahaya itu saja sudah cukup kiranya menilai benar-salah atau kafir-tidaknya doktrin Wahdatul Wujud.

Dengan demikian, Wahdatul Wujud, dalam Alquran, adalah ajaran Tauhid yang badihi, swajelas, swabukti dan tidak perlu argumentasi. Inferensi dan penalaran premis sampai konklusinya bukanlah argumentasi, tetapi sebatas penyadaran dan pengingatan (tanbih) atas sesuatu yang sudah jelas. Sekedar menjelaskan makna literal dari kata-kata kunci: cahaya dan makhluk, sudah cukup tampak kebenaran konsep Tauhid ini.

Maka, keyakinan pada Wahdatul Wujud bisa membuat muslim jadi kafir, bisa juga merupakan pencapaian tertinggi mentauhidkan Allah, tergantung bagaimana dipahami. Membuat muslim jadi kafir bila keyakinan ini menyatu-samakan dua Ada: Allah dan makhluk, dengan status yang sama, yakni sama-sama hakiki dan sama-sama ada-nyata pada dirinya sendiri, entah dalam bentuk hulul (menempati dan mengambil tempat dalam sesuatu yang lain) ataukah ittihad (menyatu, menjadi satu dengan yang lain, menjadi bagian dari yang lain).

Wahdatul Wujud bisa merupakan pencapaian tinggi tauhid bila keyakinan ini mendudukkan dua Ada: Allah dan makhluk, dalam dua status yang berbeda: Allah adalah Realitas Hakiki yang ada pada Diri-Nya Sendiri, sementara makhluk adalah realitas non-hakiki, yakni tidak nyata-ada pada hakikat dirinya sendiri dan, kalaupun ber-Ada, maka segenap Ada-nya hanyalah kiasan dan pinjaman Allah, baik dalam keberawalan Ada-nya (huduts) maupun dalam kelangsungan Ada-nya (baqa’).

Baca Juga :  Ayat Wahdatul Wujud (1): Al-Kahf [18]: 38, “Aku Dialah Allah”

Selanjutnya, pemahaman Wahdatul Wujud dari ayat Cahaya ini akan berlanjut pengujiannya dengan menempuh telaah kompatarif antara ayat ini dengan ayat-ayat lain seperti di dua surat: Al-Ikhlas dan Al-Fatihah.

Bersambung ke: “Isyarat Literal Ayat Cahaya: Menggali Wahdatul Wujud dari Terjemah Alquran (4): Makhluk antara Ada dan tidak Ada”

———————

[1] Definisi yang sama juga dikemukakan Nabi SAW. Lih. Shahih Muslim, hadis no. 291 (178).

Share Page

Close