• LAINYA

Dalam Alquran, ada banyak kosakata yang menerangkan gerak manusia seperti: berjalan, bekerja keras, berhijrah, pulang, datang dan menjadi. Beberapa di antaranya, seperti dalam ayat berikut, “Dialah yang membawamu berjalan di daratan dan lautan” (QS. Yunus [10]: 22), berkaitan dengan perpindahan dan gerak dalam-tempat. Ada juga kata “menjadi” (shayrūrah), mengacu kepada gerak menyempurna seperti dalam ayat-ayat, “Dan milik Allah seluruh kerajaan lelangit dan bumi serta apa yang ada di antara mereka. Dan kepada-Nya semua akan kembali” (QS. Al-Nisa’ [5]: 18), “Dia menciptakan lelangit dan bumi dengan benar, dan dia membentukmu maka menyempurnakan bentukmu, dan kepada-Nyalah menjadi” (QS. Al-Taghabun [64]: 3) dan “Dan mereka berkata, ‘Kami dengar dan kami taat. Ampunilah Tuhan kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mulah menjadi” (QS. Al-Baqarah [2]: 285).

“Menjadi” (al-mashīr) di sini bukan semata-mata perpindahan dalam tempat dan waktu serta gerak pertumbuhan makhluk sebagaimana yang juga diterangkan Alquran melalui kata-kata seperti: tumbuh (nabt), menciptakan (khalq). “Menjadi” mengandung pengertian gerak adawi menyempurna (harakat istikmālī wujūdī).[1] Karena itu, kata ini memiliki posisi khusus dalam Alquran terkait dengan gerak. Kata “berhijrah” juga, berdasarkan ayat, “dan tinggalkanlah segala yang keji” (QS. Al-Muddatstsir [74]: 5), menyinggung transformasi batiniah, namun boleh jadi memiliki pengertian yang lebih sempit daripada “menjadi”.

Ayat lain yang mengakomodasi makna gerak seperti: “Mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya” (QS. Al-Baqarah [2]: 46), “Wahai manusia! Kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya” (QS. Al-Insyiqaq [84]: 6), “Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku” (QS. Al-Syu‘ara’ [26]: 78) termasuk bahkan ayat, “Telah ditetapkan bahwa siapa yang berkawan dengan dia, maka dia akan menyesatkannya dan membawanya ke azab neraka” (QS. Al-Hajj [22]: 4), semua ayat ini secara eksplisit mengungkapkan makna gerak menyempurna atau gerak adawi (harakat wujūdī).

Artinya, dalam ayat-ayat seperti ini dapat ditemukan suatu transformasi hakiki atau gerak esensial dan evolusi adawi, karena perubahan yang disinggung oleh ayat, pada hakikatnya, berkaitan dengan realitas dan hakikat manusia. Gerak manusia yang dibuktikan melalui berbagai ekspresi seperti: menjadi, berhijrah, kembali, kerja keras, memberi petunjuk, sesat dan sejenisnya, sama sekali tidak menyoroti bentuk lahiriah dan kualitas aksidental seseorang, juga tidak menyinggung perubahan perkembangan (kuantitatif ataupun kualitatif), bentuk, waktu dan tempat.

Begitu pula, beberapa ayat menggambarkan sekelompok orang sebagai makhluk berhati keras yang bahkan lebih keras dari batu dan lebih hina dari binatang. Ayat-ayat seperti: QS. Al-Baqarah [2]: 31, QS. Al-A’raf [7]: 179 dan QS. Al-An’am [6]: 75, menunjukkan bahwa jiwa dapat mencapai berbagai aktualitas dan bahkan yang saling bertentangan seperti: lebih keji dari binatang dan lebih keras dari batu atau menjadi guru malaikat dan penyaksi alam luhur (malakut).

Baca Juga :  Isyarat Literal Ayat Cahaya: Menggali Wahdatul Wujud dari Terjemah Alquran (3): antara Kafir dan Tidak

Ada juga sekelompok ayat yang menjelaskan secara bersamaan dua macam aktivitas manusia dan mendeskripsikannya secara saling bertentangan. Ayat-ayat semacam ini bersama ayat-ayat yang menerangkan berbagai kelompok manusia dengan sangat tebal menggarisbawahi kemungkinan keberagaman aktivitas manusia dan menyinggung kebebasan esensialnya. Jika manusia bisa bergerak di antara dua kutub: kebaikan dan kejahatan, “Mereka itulah sejahat-jahat makhluk” dan “Mereka itulah sebaik-baik makhluk” (QS. Al-Bayyinah [98]: 6-7), sudah barang tentu realitas mereka tidak menentu, dan kebebasan merupakan karakter esensial atau identik dengan esensi mereka sendiri. Jadi, kesatuan realitas manusia tidak bertentangan dengan ketakmenentuan mereka.

Penggunaan makna “menjadi” dalam Alquran menunjukkan bahwa gerak menyempurna bukan hanya keunikan manusia, tetapi dapat diperluas hingga juga terdapat pada seluruh makhluk. Namun demikian, ada perbedaan mendasar antara manusia dan makhluk lainnya—perbedaan yang bersumber dari perbedaan esensial manusia dengan makhluk lain. Meskipun seluruh adaan di alam semesta—mulai dari yang paling tinggi, yaitu malaikat yang memiliki maqām ma‘lūm (kedudukan yang tertentukan),[2] hingga makhluk paling rendah, yaitu benda mati dan elemen, mereka semua memiliki batasan tertentu, individualitas yang khas dan tidak akan pernah menyimpang ketentuan ilahi, “padahal berserah diri kepada-Nya apa yang ada di lelangit dan bumi” (QS. Al Imran [3]: 83).

Akan halnya manusia memiliki kebebasan esensial dan tidak memiliki identitas final serta realitas tertentu dan tuntas. Ia memiliki purwabentuk kemanusiaan dan potensi melimpah dan, secara khusus, jalan ketaktaatan terbuka baginya. Kehendak bebas membuka medan baru di hadapan manusia sebagai ajang pengujian dan disebut sebagai alam pengurusan (‘ālam al-tasyrī‘) yang berbanding imbang dengan alam penciptaan (‘ālam al-takwīn). Alam pengurusan tegak di atas pengujian yang, pada gilirannya, bergantung pada kehendak bebas. Ketakmenentuan manusia membuat kemenjadiannya, tidak seperti adaan yang lain, juga tidak menentu.

Dalam bahasa kaidah, Alquran menyatakan, “Kepada Allah segala urusan kembali!” (QS. Al-Syura [42]: 53). Semua urusan, termasuk peristiwa dan fenomena alam, menjadi dan kembali kepada Allah. Sebagai bagian dari alam Ada, manusia juga menjadi dan kembali kepada Allah, “Dia menciptakan lelangit dan bumi dengan benar, dan dia membentukmu dan menyempurnakan bentukmu, dan kepada-Nya tempat menjadi” (QS. Al-Taghabun [64]: 3). Akan tetapi, mengacu kodrat kebebasan, kemenjadian ini bukanlah gerak yang sudah terarah dan tertentukan sebelumnya. Konsekuensinya, kemenjadian manusia adakalanya “menuju siksa neraka” (QS. Al-Hajj [22]: 4) dan adakalanya “dan hanya kepada Engkaulah kami kembali” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4). Kemenjadian manusia, baik menuju kesesatan atau menuju hidayah, pada akhirnya “kepada-Nya mereka kembali”.

Baca Juga :  QS. Al-Ahzab [33]: Ayat 36; Dua Perempuan yang Terpaksa Menikah dan Berakhir Berkah

Memandang penting kebebasan dalam kemenjadian manusia membebankan tanggung jawab ke atas subjek-pegerak (yang-bergerak) agar memilih jalan gerak dan penggerak. Dalam keadaan demikian, jika dia secara suka rela memilih ikut setan (QS. Ibrahim [14]: 22), dia berakhir di neraka (QS. Al-Hajj [22]: 4). Namun, jika dia secara suka rela memilih ikut kehendak Allah, dia akan meraih cahaya (QS. Al-Baqarah [2]: 256).

Akan tetapi, berdasarkan Tauhid dalam-Nama (tawhīd asmī’ī), menuruti setan berarti menuruti lokatampak nama “Penyesat” (al-mudhill), sementara menuruti Manusia Sempurna (nabi atau wali) berarti menuruti lokatampak nama Pemberi-petunjuk (al-hādī) Tuhan. Dengan demikian, tidak hanya Asal Yang Esa itu pelaksana kedua kemenjadian manusia, tetapi Dia juga akhir dari kedua kemenjadian yang sepenuhnya kontradiktif ini. Inilah mengapa Alquran secara serempak mengaitkan kesesatan dan petunjuk kepada Tuhan, “Apakah kamu tidak melihat sesungguhnya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk mendesak mereka dengan tidak sabar?” (QS. Maryam [19]: 83 dan QS. Ibrahim [14]: 4).

Bahkan dengan ungkapan umum, Alquran menyatakan, “Kita adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kita kembali.” Pernyataan ini menjelaskan tauhid (satunya) awal dan akhir manusia secara sekaligus dan menunjukkan bahwa kemenjadian ke arah mana pun tetap saja mengarah kepada Tuhan, karena ke mana pun Anda menghadap, itulah wajah Tuhan (QS. Al-Baqarah [2]: 115). Tidak ada ruang yang kosong dari-Nya, dan tidak ada seorang pun yang mandiri dan lepas dari-Nya.

Realitas tak-menentu manusia membuka peluang di hadapannya untuk menempuh berbagai jalan. Peluang ini tidak terbatas hanya pada dua kutub: petunjuk dan kesesatan, tetapi jalan-jalan petunjuk dan kesempurnaan juga tidak menentu dan tak terbatas.[3] Kesempurnaan manusia bukan kesempurnaan tertentu, tertutup dan terbatas. Perjumpaan dengan Tuhan Yang Nirbatas tidak pernah mungkin menjadi pertemuan yang terbatas. Jika esensi manusia adalah ketakmenentuan dan kesempurnaannya adalah kedekatan dengan dengan Tuhan yang Nirbatas dan tak-Tertentu, maka jalan-jalan meraih kesempurnaan juga tidak akan terbatas. “Milik Allah nama-nama yang terbaik, maka berdoalah pada-Nya dengan itu” (QS. Al-A’raf [7]: 180).

Tuhan memiliki nama-nama indah yang tak terhitung, dimana memanggil Tuhan dengan setiap nama itu berarti juga kemenjadian dalam nama tersebut. Dengan menempuh berbagai jalan kemenjadian, manusia dapat menjadi lokatampak berbagai nama Mahanyata sehingga, konsekuensinya, ia berposisi sebagai wakil (khalifah) Tuhan di bumi. Peluang ini tidak terbuka bagi makhluk lain. Karena itu, [posisi] khilafah secara eksklusif hanya milik manusia.

Baca Juga :  Realitas Manusia dalam Kebijaksanaan Luhur (2): Gerak Menyempurna

Tentu saja, khilafah ilahi yang merupakan lokatampak Nama Penghimpun (ism jāmi‘) Mahanyata, yaitu nama “Allah”, adalah khusus Manusia Sempurna dimana kemenjadiannya dalam kerangka Nama Teragung (ism a‘zham) dan menjadi abdullah (hamba Allah) dan abduhu (hamba-Nya).[4] Alquran memuji Tuhan dengan seluruh nama dan sifat-Nya, dan menyebut mereka sebagai jalan-jalan kemenjadian menjumpai Allah.[5] Di antara bukti nyata atas ketakmenentuan esensi manusia ialah keberagaman aktualitasnya sebagaimana telah disinggung dalam banyak ayat dan akan terungkap kelak di suatu alam yang disebut dengan alam akhirat atau alam barzakh.[6]

Seperti yang telah dicatat tebal, berlakunya gerak esensial pada diri manusia tentu saja akan memandu kita tiba di prinsip kebebasan esensial. Kedua prinsip ini (gerak esensial dan kebebasan esensial) adalah dua sisi logam, karena manusia bergerak dengan gerak esensialnya dan, meskipun memiliki bagian dari keabstrakan di sepanjang tahap-tahap gerak, tetapi kebastrakan ini pada mulanya bersifat khayali, wahami dan hewani.[7] Ia baru meraih keabstrakan aklani hanya saat tiba di tahap insani.

Keabstrakan aklani manusia di tahap awal kehidupannya disebut dengan “fitrah” yang bisa menguat atau melemah, lalu mencapai baligh atau menjadi aktual setelah lahir. Yakni, jiwa yang identik dengan kebebasan dapat, dengan dukungan usaha yang tepat, berkembang dan menyempurnakan fitrah awalnya (fitrah ilahiah) yang mengandung kebenaran-kebenaran tentang Ada dan tiada dan sehimpunan proposisi normatif tentang harus dan tidak-harus[8], atau sebaliknya, meredupkannya akibat dukungan usaha yang tidak tepat dan tidak konsisten.Bersambung

___________________________

[1] Jawadi Amuli, Shūrat va Sīrat Insān dar Qur’ān, hlm. 115-116.

[2] Berdasarkan ayat, “Dan tidak ada dari kami kecuali memiliki kedudukan tertentu” (QS. Al-Syu’ara [26]: 38), malaikat tidak bermaksiat, “Mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka (hanya) mengerjakan perintah-Nya” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 27).

[3] Lebih lanjut tentang kenirbatasan gerak substansial dan kebebasan esensial manusia, lihat Hasanzadeh Amuli, Majmū‘eh Maqālāt, hlm. 144.

[4] Jawadi Amuli, Shūrat va Sīrat Insān dar Qur’ān, hlm. 116-124.

[5] Eksklusivitas posisi khilafah bagi manusia bersumber dari ketakpastian dan ketakmenentuan esensi manusia dan kenirbatasan kemenjadiannya. Setiap orang adalah khalifah Allah dari aspek tertentu sebanding dengan tingkat kesempurnaan yang dperolehnya.

[6] Seperti QS. Al-A’raf [7]: 38, 166 dan 179, QS. Al-Baqarah [2]: 31,74, QS. Al-An’am [6]: 75, QS. Fushshilat [41]: 19, QS. Al-Isra’ [17]: 99.

[7] Mishbah Yazdi, Syarh Jild Hasytum Asfār Arba’ah, hlm. 247-251 & 346.

[8] Jawadi Amuli, Fithrat dar Qur’ān, hlm. 204-205.

Share Page

Close