• LAINYA

Banyak ayat telah mengingatkan posisi istimewa manusia di alam semesta. Sedangkan ayat-ayat yang menyinggung kekhalifahan manusia dari Tuhan secara eksplisit menunjukkan keunggulannya di atas seluruh makhluk. Khilafah ilahi manusia bergantung pada aktualisasi dan penyempurnaan jiwanya yang, pada gilirannya, bergantung pada pengetahuan akan faktor-faktor penggerak dan pelindung jiwa. Aktualisasi dan penyempurnaan jiwa, selain sebagai pendahuluan untuk mengenal Mahanyata, juga merupakan syarat perlu untuk pengelolaan, kekuasaan dan kekhalifahan di dalamnya.

Wilayah pengelolaan manusia atas dunia atau domain kekhalifahannya di bumi berbanding imbang dengan derajat aktualisasi jiwanya. Karena aktualisasi potensi dan kapasitas jiwa meningkatkan berbagai fasilitas pengeloaan alam, maka setiap orang menjadi khalifah Tuhan di bumi dan dapat melaksanakan pengelolaan tersebut dan memanfaatkannya untuk peningkatan hidupnya sendiri seimbang dengan tingkat aktualisasi jiwanya.

Tentu saja, terlepas dari pandangan populer yang menganggap penguasaan atas alam sebagai poros hubungan manusia dengan alam, setidaknya ada empat macam hubungan antara manusia dan alam dalam Alquran:

  1. Beberapa ayat membandingkan manusia dengan alam, “Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung” (QS. Al-Isra’ [17]: 37), “Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?” (QS. Al-Nazi’at [79]: 27), “Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih dari itu lebih besar daripada penciptaan umat manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ghafir [40]: 57) dan “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi mereka enggan memikulnya dan kawatir tidak akan melaksanakannya, lalu manusialah yang memikulnya. Sungguh manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh” (QS. Al-Ahzab [33]: 72).
  2. Sekelompok ayat menyinggung supremasi alam atas manusia, misalnya: “Dan milik Allah bala tentara langit dan bumi. Dan Allah Mahaperkasa Mahabijaksana’ (QS. Al-Fath [48]: 7) dan “Milik-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi, Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki, dan membatasinya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Syura [42]: 12). Begitu pula ayat-ayat yang secara langsung bergeser dari penciptaan alam ke kebangkitan manusia setelah kematian menunjukkan pengendalian manusia oleh alam.
  3. Sekumpulan ayat berkaitan dengan hubungan pengetahuan antara alam dan manusia serta memandang alam sebagai media pengetahuan ketuhanan seperti: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga menjadi jelaslah bagi mereka bahwa Dialah mahanyata” (QS. Fushshilat [41]: 53), “Dan di bumi terdapat tanda-tanda bagi orang yang yakin, bahkan pada dirimu sendiri. Apakah kamu tidak memperhatikan?!” (QS. Al-Dzariyat [51]: 20-21).[1]
  4. Beberapa ayat juga mengingatkan penaklukan alam untuk manusia, “Allah-lah yang menundukkan laut untuk kamu” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 12-13), “Dan Dia menundukkan untukmu malam dan siang, matahari, bulan dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintah-Nya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal” (QS. Al-Nahl [16]: 12), “Dia yang menjadikan bumi sebagai tempat menetap bagimu … Dan yang menciptakan pasangan-pasangan semuanya dan menjadikan kapal untukmu dan hewan ternak yang kamu tunggangi” (QS. Al-Zukhruf [43]: 10-12).[2]

Dalam kelompok ayat itu, manusia bukanlah subjek penaklukan dan penguasaan, tetapi penerima objek penaklukan. Ungkapan seperti: “Kami menaklukkan tunduk untuknya”, “Allah Dialah yang menaklukkan untukmu” dan “bintang-bintang yang ditundukkan dengan perintahnya” menunjukkan bahwa penguasaan alam adalah oleh Tuhan untuk manusia; di dalamnya tidak ada penyerahan fungsi, tetapi alam ditundukkan oleh Tuhan untuk manusia.[3]

Baca Juga :  Tasawuf Islam, Esoterisme Jawa, dan Agama-Agama Lokal

Hubungan kepenaklukan dan kepenundukan antara alam dan manusia bukanlah hubungan sepihak, tetapi Tuhan telah menciptakan manusia untuk memakmurkan bumi sebagai bagian dari alam, “Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmur di dalamnya” (QS. Hud [11]: 61), dan menempatkannya di bumi agar ia dapat mengubah alam dengan bantuan alam itu sendiri. Mengamati ladang pertanian, perkotaan, jalanan, dan lain-lain menunjukkan secara nyata kontribusi manusia kepada alam dan pemakmurannya oleh manusia.

Dalam mengulang kata-kata Nabi Saleh a.s., Alquran menegaskan bahwa konsekuensi keberadaan manusia di bumi adalah terciptanya kota-kota dan kemakmuran negeri, “Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu khalifah-khalifah setelah [kaum] ‘Ad, dan menempatkan kamu di bumi; kamu dirikan istana-istana di tempat yang datar dan kamu pahat menjadi rumah-rumah di bukit-bukit. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi” (QS. Al-A’raf [7]: 74).

Manusia tidak bisa lepas dari alam. Penguasaannya atas alam tidak keluar dari hukum dan dominasi alam itu sendiri. Manusia tidak memiliki status trans-natural, tetapi ia hanya dapat mencari perlindungan di satu bagian alam dari bagian lainnya, atau meminta bantuan dari alam itu sendiri untuk dapat hidup aman. Dia bisa mendapatkan kehidupan yang nyaman dengan melakukan perubahan pada alam.

Sepanjang telaah atas ayat-ayat yang berbicara tentang penguasaan manusia atas alam, ada dua poin yang sangat penting:

Pertama: tujuan penaklukan alam untuk manusia menjadi jelas. Misalnya, dalam surat Al-Nahl, penguasaan alam oleh Tuhan untuk manusia dijelaskan secara detail.[4] Ada empat tujuan disebutkan: berakal (ta‘aqqul), berpikir (tafakkur), bersyukur (syukr) dan mengingat (tadzakkur). Keempat tujuan ini seluruhnya menunjuk ke satu tujuan utama, yaitu mengenal dan mengabdi pada Tuhan.

Kedua: penekanan agar menjaga batasan dan pedoman pemanfaatan alam. Misalnya, Alquran sering dan dalam banyak ayat memperingatkan kita agar tidak merusak bumi, ladang pertanian, sumber-sumber alam, juga tidak berperilaku boros dan mubazir: “Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima, yang serupa dan yang tidak serupa. Makanlah buahnya apabila ia berbuah, dan berikanlah haknya pada waktu memanennya, tetapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. Di antara hewan-hewan ternak itu ada yang dijadikan pengangkut beban dan ada pula untuk disembelih. Makanlah apa yang telah Allah berikan kepadamu dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, dia sungguh musuh yang nyata bagimu” (QS. Al-An’am [6]: 141-142).

Para mufasir menafsirkan kalimat “dan berikanlah haknya pada waktu memanennya” di ayat ini mengacu pada zakat dan infak. Tetapi tampaknya, kata ganti “nya” di “haknya”, seperti juga kata ganti yang sama di “memanennya” dan di “buahnya”, hampir pasti merujuk kepada satu satu hal, yaitu taman yang penuh dengan bebuahan berwarna-warni dan, karena itu, tidak ada lagi alasan untuk menafsirkan kalimat “dan berikanlah haknya pada waktu memanennya” dengan memberi zakat, berinfak dan menunaikan hak-hak lapisan fakir dan semacamnya.

Dengan begitu, terbuka peluang agar menunaikan hak [asasi] pepohonan, tanah atau sumber daya alam sebagai bagian dari tafsiran ayat ini, terutama jika juga dicermati dua penggalan ayat di atas, “tetapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan”. Ungkapan ini jatuh langsung setelah kalimat tadi, maka dapat dikatakan bahwa, meskipun mengeluarkan zakat itu mulia, tetapi tidak mengeluarkannya belum tentu merupakan bentuk dari pemborosan (berlebih-lebihan), sedangkan tidak memenuhi hak-hak alam yang berakibat pada kerusakan lahan pertanian, perhutanan dan perkebunan sudah pasti merupakan pemborosan.

Baca Juga :  Al-Iksir Karya Al-Thufi Al-Baghdadi, Referensi Klasik dalam Kaidah-Kaidah Tafsir

Demikian pula, hubungan berbasis kepatuhan bukan hanya milik dunia dan manusia, karena hubungan seperti itu juga dapat ditemukan antarindividu, “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka di atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Al-Zukhruf [43]: 32).

Cara ekspresi tertentu yang digunakan dalam ayat ini tidak menunjukkan ketakpatutan hubungan kepenguasaan antarmanusia, tetapi mengungkapkan suatu hubungan kepenguasaan yang segaris dengan tujuan penciptaan dan hukum-hukumnya. Oleh karena itu, sebagian mufasir memaknai “memanfaatkan” dalam ayat ini sebagai penguasaan bilateral untuk lantas mereka menyimpulkan bahwa hubungan kepenguasaan dan kepenaklukan unilateral antarmanusia adalah buruk, akan halnya kepenaklukan bilateral merupakan faktor ketangguhan sistem sosial.

Dalam penggalan ayat di atas, “meninggikan sebagian mereka di atas sebagian yang lain beberapa derajat”, terdapat kata sambung lām (agar) yang mengaitkan penggalan ini dengan penggalan berikutnya, “sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain”. Tampaknya, penggalan pertama itu mengakui pemanfataan dan penguasaan unilateral atau, setidaknya, penguasaan tak-setara antara sebagian lapisan masyarakat yang berderajat lebih tinggi dan lapisan lain yang berderajat lebih rendah. Dalam menafsirkan ayat-ayat tadi, Mulla Sadra mengatakan bahwa orang-orang yang tertinggal dari gerak menyempurna, yakni tidak berhasil mencapai aktualitas jiwa, tercipta hanya untuk memakmurkan bumi dan menyiapkan fasilitas kehidupan manusia-manusia unggul.[5]

Namun tampaknya, sekilas saja meninjau hubungan sosial sudah cukup menunjukkan bahwa setiap orang secara alami telah saling memanfaatkan dan melayani satu sama lain. Misalnya, bapak dan ibu siap melayani anak mereka dan dimanfaatkan olehnya tanpa mengharap imbalan apa pun. Begitu pula umumnya suami istri secara alami saling melayani. Pengamatan atas berbagai upaya tanpa pamrih dan ketulusan orang tua merawat anak-anak cacat sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan kita bahwa sebagian kita telah ditundukkan oleh Tuhan menjadi pelayan bagi sebagian yang lain. Ini realitas yang tidak hanya berlaku dalam komunitas manusia, tetapi juga dalam habitat binatang.

Secara keseluruhan, tampaknya ayat-ayat di atas itu menerangkan empat macam relasi:

  1. Relasi kepenaklukan (alam ditaklukkan untuk manusia dan manusia dijadikan penguasa untuk memakmurkan alam).
  2. Relasi komparatif (alam lebih besar dan lebih kuat dari manusia).
  3. Relasi pengetahuan (alam sumber pengetahuan manusia); dan
  4. Relasi pengawasan (alam pengawas perilaku manusia).

Seiring dengan empat relasi ini, ayat-ayat itu mengingatkan posisi utama manusia juga tanggung jawabnya yang lebih banyak, karena kodrat manusia adalah memilih dan berakal sehingga ia bisa mengubah relasi penaklukan, komparatif, pengetahuan dan pengawasan antara dirinya dan alam. Pengubahan relasi-relasi ini bergantung pada pihak yang berkehendak bebas, bukan pada pihak terpaksa. Berbasis di atas dasar-dasar Islam, manusia memiliki kodrat esensial ini, maka ia memegang kendali pengelolaan relasi dengan alam dan dapat mengatur perubahan setiap relasi tersebut.Bersambung

____________________________

[1] Lihat juga ayat-ayat lainnya seperti: QS. Al-Jatsiyah [45]: 3-6, QS. Fushshilat [41]: 9-11 dan QS. Al-Hijr [16]: 14-17.

[2] Lihat juga QS. Al-Baqarah [2]: 22, 29, dan QS. Ibrahim [14]: 31-33. Beberapa ayat seperti: QS. Al-Zukhruf [43]: 12-13, QS. Al-Furqan [25]: 47-50 dan QS. Fathir [35]: 3, secara bersamaan berkaitan dengan kategori ketiga dan keempat, karena keduanya mengandung hubungan pengetahuan dan kepenaklukan antara alam dan manusia.

Baca Juga :  Apa benar Filsafat itu haram? Begini keterangan Alquran

[3] Titik fokus dari ayat-ayat ini, secara umum, adalah menafikan kemandirian dan pelimpahan (tafwīdh) dari alam, baik dalam penciptaan atau dalam pengelolaan, tidak untuk manusia juga tidak untuk makhluk lain. Tentu saja, mengingat penafian atas kemandirian dalam penciptaan dan pengadaan lebih sedikit dialami manusia, penekanan pada penafian atas kemandirian lebih banyak dijumpai dalam kaitannya dengan Tauhid Kepengurusan (tawhīd rubūbī), karena biasanya titik utama kesalahan dalam mengidentifikasi kemandirian adaan-adaan alam adalah hubungan erat antarsebab dekat. Karena itu, ayat-ayat sebegitu kuatnya menafikan melucuti sebab-sebab dekat dari status mereka sebab sebab, misalmnya dalam menafikan kemandirian kesebaban dari manusia, Alquran menegaskan, “Kamukah yang menciptakannya ataukah Kami penciptanya? … Maka pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan? Kamukah yang menumbuhkan kayu itu ataukah Kami yang menumbuhkan?” (QS. Al-Waqi’ah [56]: 59-72) dan, dalam pernyataan universal, menekankan, “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat” (QS. Al-Shaffat [37]: 96), sebagaimana Alquran telah berbicara tentang seluruh makhluk bahwa “Allah adalah Pencipta segala sesuatu” (QS. Al-Ra’d [13]: 16).

[4] QS. Al-Nahl [16]: 5-17: “Dan hewan ternak telah diciptakan-Nya, untuk kamu padanya ada yang menghangatkan dan berbagai manfaat [lainnya] dan sebagiannya kamu makan” (5). “Dan kamu memperoleh keindahan padanya ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat pengembalaan” (6). “Dan dia mengangkut beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya kecuali dengan susah payah. Sungguh Tuhanmu Maha Pengasih dan Maha Penyayang” (7). “Dan kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi, dan untuk perhiasan, dan Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui” (8). “Dengan Allah menerangkan jalan yang lurus, dan di antaranya ada yang menyimpang, dan jika Dia menghendaki Dia memberi petunjuk kamu semua” (9). “Dialah yang telah menurunkan air dari langit: untuk kamu darinya menjadi minuman dan darinya [menyuburkan] tumbuhan tempat kamu menggembalakan ternakmu” (10). “Dengan itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda bagi yang berpikir” (11). “Dan Dia menundukkan untukmu malam dan siang, matahari, bulan, dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintah-Nya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang mengerti” (12). “Dan apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi dengan berbagai jenis dan macam warnanya sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang mengambil pelajaran” (13). “Dialah yang menundukkan lautan [untuk keuntunganmu] sehingga kamu dapat memakan daging yang segar, dan mengeluarkan darinya perhiasan yang kamu pakai– dan kamu melihat perahu padanya – dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur” (14). “Dia menancapkan gunung di bumi agar tidak goncang bersama kamu, dan [membuat] sungai dan jalan-jalan, agar kamu mendapat petunjuk” (15). “Dan [juga] tanda-tanda, dan dengan bintang-bintang mereka mendapat petunjuk” (16). “Maka apakah Dia menciptakan sama dengan yang tidak dapat menciptakan? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (17).

[5] Shadr al-Muta’allihin, Al-Tafsīr al-Khāshsh, jld. 5, hlm. 190.

Share Page

Close