• LAINYA

Karena jiwa manusia adalah tanda Mahanyata (Tuhan) dan, dibandingkan dengan semua adaan, ia tanda terunggul Mahanyata. Tanda ilahi terbesar ini memiliki kesatuan kepenghimpunan (wahdah jam‘iyyah) yang merupakan bayangan dari kesatuan kepenghimpunan ilahi, dimana dalam kesatuannya itu mencakup berbagai derajat dan tahapan, yakni jiwa manusia di derajat aklani adalah realitas aklani, di derajat khayali adalah realitas pengkhayal, dan di derajat indrawi adalah realitas pengindra. Demikian pula di derajat hewan, jiwa adalah realitas pengembang dan penggerak badan. Karena itu, beragam sifat dan aneka kualitas yang teridentifikasi untuk jiwa seperti: penahu makna umum, perekam konsep dan akalan, pengkhayal, yang-berkehendak dan sifat lainnya, sama sekali tidak merusak kesatuannya.(1)

Argumen atas kesatuan jiwa, pada dasarnya, terfokus pada pengetahuan kehadiran (‘ilm hudhūrī) diri kita, yaitu kita tahu dengan kehadiran bahwa pelaku (sebab) semua perbuatan dan penahu semua pengetahuan adalah satu-sama. Dialah “aku” yang melihat, mendengar, mengkhayal, berpikir, merasakan, bergerak, tumbuh-berkembang dan mencerna. Memang, untuk realisasi tiap-tiap efek ini, jiwa membutuhkan sejumlah daya dan kesiapan tertentu. Tetapi, daya dan kesiapan ini bukanlah sesuatu yang ada dalam jiwa, tetapi suatu derajat dari jiwa.

Jiwa adalah realitas yang satu yang memiliki berbagai derajat dan keadaan dan, pada saat yang sama, memiliki kesatuan kepenghimpunan: al-nafs fī wahdatihā kull al-quwā, “jiwa dalam kesatuannya adalah seluruh daya”. Dalam bahasa Sadrian, kesatuan kepenghimpunan adalah suatu kesatuan dimana realitas yang satu, dalam kesederhanaan realitas itu sendiri, adalah penghimpun berbagai derajat dan tingkatan. Dengan kata lain, dari sekian derajat Ada yang satu dan pemilik derajat jiwa, diperoleh satu konsep yang merepresentasikan suatu realitas bernama daya (quwwah) atau kesiapan (isti‘dād).

Dalam filsafat Ibnu Sina, daya dan kesiapan jiwa dianggap sebagai kuiditas tersendiri-mandiri yang digunakan oleh jiwa. Namun pada hemat Mulla Sadra, semua daya jiwa adalah derajat-derajat jiwa dan mereka, pada dasarnya, ada-aktif untuk setiap pengetahuan atau gerak jiwa di derajat terkait.(2)

Pada kenyataannya, jiwa itulah yang mengetahui semua pengetahuan indrawi dan non-indrawi juga yang menggerakkan semua gerak alami dan non-alami kita, sehingga semua aksi-reaksi yang terjadi pada diri kita atau, lebih tepatnya, semua gerak dan pengetahuan kita terjadi melalui jiwa kita. Jiwa kita adalah penahu semua pengetahuan dan penggerak semua gerak kita. Kesatuan dalam kepelakuan jiwa ini tidak merusak atau bertentangan dengan Ada berbagai daya nabati dan hewaninya.

Pendekatan hierarkis [jiwa dalam] Kebijaksanaan Luhur ini telah menyajikan definisi baru atas daya dan kesiapan manusia. Dalam definisi ini memang digunakan istilah daya (quwwah), namun tidak dalam pengertian umumnya. Dalam definisi ini, daya dan kesiapan manusia bukanlah realitas tersendiri dan terpisah yang terhimpun dalam suatu gabungan bernama jiwa. Tetapi jiwa sesungguhnya realitas yang satu yang menampak-nyata dalam berbagai bentuk atau dalam aneka derajat dan tingkatan yang berbeda-beda sebagai kesiapan-kesiapan yang khas dan menunjukkan efek-efek dari dirinya.

Baca Juga :  Sejarah Wahyu dan Kenabian: Studi atas Kisah Waraqah bin Naufal

Dalam piramida hierarkis jiwa, daya yang unggul akan mendominasi daya yang lebih rendah. Misalnya, derajat akal teoretis (‘aql nazharī) dominan atas akal praktis (‘aql ‘amalī), dan akal praktis ini dominan atas derajat apa saja di bawahnya hingga mencapai daya penindak (quwwah fā‘ilah) yang mengatur pergerakan organ tubuh.

“Manusia adalah satu individual (hid syakhshī) dari spesiesnya yang bisa memiliki banyak alam (bendawi, nafsani, aklani) dengan tetap utuh kesatuan individualnya. Ini berbeda dengan binatang lainnya.”(3)

Oleh karena itu, semua kesiapan manusia tak lain adalah derajat-derajat jiwa cakap. Jiwa ini merupakan satu realitas yang menampak-nyata dalam bentuk akal teoretis di satu derajat, dalam akal praktis di derajat lain, dan bahkan dalam keadaan-keadaan kebinatangan di suatu derajat sehingga, di derajat kebinatangan ini, kesiapan dan potensi jiwa hewani menampak-aktual, mencakup apa saja yang terkait dengan daya marah, daya nafsu, dan daya waham.

“Sebagian orang mengira bahwa ada tiga jiwa pada kita: jiwa insani, jiwa hewani dan jiwa nabati. Namun, kebanyakan filsuf percaya bahwa jiwa yang ada pada kita adalah satu, yaitu jiwa cakap. Akan tetapi jiwa ini, berdasarkan tindakan dan efek yang muncul darinya, memiliki berbagai daya dan pengetahuan.”(4)

Poin pentingnya, ada dua konsep yang dapat dipahami dari jiwa cakap dan kedua-duanya digunakan dalam terminologi fislafat dengan dua pengertian. Jiwa adalah Ada pada-dirinya untuk-selainnya (wujūd fī nafshih li ghyrih); ia memiliki dua aspek adawi: pada-dirinya dan untuk-selainnya. Jadi, adakalanya yang disoroti adalah aspek keterikatan dengan badan, dan adakalanya aspek keabstrakannya. Tentu saja, aspek kedua bergantung pada aspek pertama. Namun, tanpa aspek kedua, aspek pertama tetap valid, karena:

“Ada untuk-selainnya jiwa serta bentuk-bentuk abstrak untuk bahan/materi berimplikasi pada Ada pada-dirinya mereka. Tetapi, ketiadaan Ada untuk selainnya tidak menyebabkan atau bukan argumen atas kerusakan Ada pada-dirinya mereka.”(5)

Karena itu, kemunculan berbagai efek dari jiwa memiliki asal (sumber) yang satu. Asal yang satu ini akan menampak-nyata sesuai dengan kapasitas tiap-tiap efek yang mungkin muncul dan mengelola serangkaian mekanisme dan interaksi tertentu. Misalnya, untuk gerak spasial atau gerak posisional yang melibatkan aktivitas organ tubuh, jiwa mengada di derajat penggerakan (tahrīkī) dan menciptakan daya pergerakan umum yang memengaruhi semua organ tubuh. Untuk aktivitas lain seperti: memperoleh (mengetahui) konsep universal dan pemikiran yang tidak memerlukan aktivitas organ, jiwa tidak menampak-nyata di derajat penggerakan sehingga tidak memiliki daya pergerakan umum.

Baca Juga :  Kitab Suci Fiksi; Benarkah Penistaan Agama?

Dengan demikian, jiwa adalah aktif sebagai pelaku (sebab) semua aksi dan menerima semua reaksi. Hanya saja, ia melakukan sebagiannya dengan perantara kesiapan/daya yang bersifat badani bendawi seperti: daya pangan, daya pencerna, daya penumbuh dan lain-lain. Daya-daya ini, tentu saja, bukan sesuatu di luar hierarki derajat dan keadaan jiwa.

Hal ini tidak berarti bahwa keberkaitan berbagai efek gerak dan pengetahuan (aksi-reaksi) dengan jiwa adalah karena penggunaan daya yang berbeda-beda oleh jiwa cakap dan pelaku sejati semua efek itu adalah daya-daya ini. Hubungan jiwa dengan daya-daya bukan seperti hubungan penguasa dengan aparatnya dimana masing-masing memiliki Ada mandiri. Semua daya itu tidak memiliki realitas selain sebagai keadaan-keadaan jiwa. Karena itu, asal segala aktivitas dan gerak kita adalah realitas yang satu (jiwa).(6)

Berdasarkan Ada pemeragu jiwa dan keidentikan daya-daya jiwa dengan deerajat-derajatnya, jelas bahwa jiwa cakap, meskipun sederhana, adalah penghimpun semua daya kecakapan, kehewanian dan kenabatian dengan tetap utuh kesederhanaannya. Jiwa adalah pelaku langsung dan sebab sejati semua gerak dan pengetahuannya, dan ia melakukan setiap kualitas itu sesuai dengan derajatnya masing-masing. Berkat daya-daya realitas satu (jiwa) ini yang muncul dalam tiga derajat: bahani/material, ideal dan aklani dengan bentuk kesiapannya masing-masing, manusia menyaksikan dalam dirinya sendiri berbagai kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan dan keinginan yang berhubungan dengan derajat bahani/material jiwa seperti: rasa lapar, haus, dorongan seksual, disebut juga dengan kebutuhan dan keinginan bendawi (alami).

Sebaliknya, ada kebutuhan dan keinginan yang dirasakan manusia seperti: cinta kebenaran, keadilan, altruisme dan lain-lain, dikaitkan dengan fitrah manusia. Topik fitrah secara khusus akan ditelaah di bagian selanjutnya. Untuk sementara di sini cukup ditekankan bahwa fitrah dan benda bukanlah dua bagian yang terpisah dalam Ada manusia, tetapi mereka merupakan derajat tinggi dan derajat rendah satu realitas: jiwa.

Dengan kata lain, jiwa manusia bukan hanya sesuatu yang tetap, tuntas dan tertentu, tetapi suatu realitas yang tidak tetap dan tidak statis. Jiwa manusia sepanjang hidupnya terus menerus dalam keadaan naik-turun dalam hierarki adawinya. Adakalnya ia turun dari derajat yang lebih tinggi ke derajat benda yang lebih rendah dan melakukan [aktivitas] mengetahu hal-hal indraan.

“[Dalam situasi seperti itu tentu saja] tatkala melihat hal-hal lihatan, ia menjadi daya penglihat dan mata pemandang itu sendiri; tatkala mendengar hal-hal dengaran, ia menjadi telinga pendengar itu sendiri. Demikian pula dengan indra lahiriah lainnya, bahkan indra peraba dan daya langsung gerak dimana jiwa, di derajat tiap-tiap mereka adalah mereka itu sendiri …. Jiwa ini sendiri, tatkala mengetahui akalan-akalan, sedemikian rupa meluhur hingga naik ke alam tinggi dan derajat aklani hingga mencapai derajat Akal Aktif, bahkan ia Akal Aktif itu sendiri serta menyatu dengannya.”(7)

Baca Juga :  Apa maksud dari Dzikir/Ingat Tuhan, dan Apakah Dzikr-Allah itu lebih utama dari Salat?

Kecakapan (nāthiqiyyah) sebagai diferensi (fashl) terakhir jiwa manusia mencakup aspek-aspek kesempurnaam jiwa hewani dan nabati. Oleh sebab itu, jiwa cakap bukanlah bagian dari jiwa manusia di samping jiwa nabati dan jiwa hewani. Jiwa manusia bukan sebuah struktur tiga-dimensi dengan kutub-kutub terpisah: nabati, hewani dan aklani, sehingga lantas masing-masing bertindak secara mandiri. Jiwa cakap adalah derajat tinggi jiwa manusia yang mendominasi seluruh derajatnya yang lebih rendah, yakni jiwa nabati dan jiwa hewani. Maka ia mengelola semua urusan yang terkait dengan mereka.

“Jiwa cakap pada manusia memiliki suatu Ada tunggal (wahdāniy) dimana semau daya pengetahuan hewani dan nabati merupakan urusan dan derajat-derajatnya. Jiwa ini pulalah yang mengatur objek dekatnya, yaitu badan.”(8)

Dengan demikian, jiwa cakap adalah pelaku-penakluk (taskhīrī) yang dipatuhi oleh jiwa nabati dan jiwa hewani. Dengan kata lain, dalam proses penciptaan manusia, pertama-tama terbentuk embrio yang mengandung suatu bentuk bendawi berupa mineral. Kemudian bentuk yang satu ini memperoleh derajat nabati lalu derajat hewani sampai, pada akhirnya, meraih derajat insani/cakap. Gerak menyempurna ini terus berlanjut hingga menjangkau derajat-derajat aklani.

Di semua derajat ini, adaan yang satu-bersambung kian menyempurna melalui rangkaian perubahan kemenguatan tanpa melenyapkan derajat sebelumnya; ia melangsungkan gerak kemenyempurnaanya di diferensi terakhir (derajat tertinggi), dan semua derajat sebelumnya tunduk padanya dan melayaninya. Bentuk mineral yang menjaga temperamen (mizāj) dan jiwa nabati yang melakukan konsumsi, pertumbuhan dan persalinan, serta jiwa hewani yang bekerja merasakan dan bergerak, semua derajat jiwa ini tidak menyerahkan fungsi mereka kepada jiwa cakap dan tidak rusak dengan terbentuknya jiwa cakap. Justru mereka melanjutkan fungsi masing-masing dalam jiwa cakap sebagai diferensi terakhir atau bentuk (realitas) final adaan ini dan merealisasikan fungsi-fungsinya.

Jadi, dengan tetap utuhnya kesatuan dan kesederhanaannya, jiwa menampak-nyata di semua derajat kehidupan manusia, termasuk urusan material dan spiritual. Di setiap derajat dan posisi, ia menampakkan dirinya dengan derajat tersebut. Adapun intervensi kesiapan, potensi dan daya, menurut definisi khas Mulla Sadra tentang daya dan kesiapan, tidak bertentangan dengan eksklusivitas ini.

“Jiwa adalah subjek pegerak (yang-bergerak) dengan seluruh gerak alami dan sengaja (berkehendak), dan dialah yang mengetahui seluruh tahuan. Ini tidak bertentangan dengan keperentaraan daya-daya di dalamnya.”(9)

Untuk menjelaskan hubungan jiwa dan daya-dayanya, Mulla Sadra menggunakan analogi cahaya yang juga telah ia gunakan sebelumnya dalam menguraikan prinsip Kesatuan Pemeragu Ada.(10)Bersambung

 

Share Page

Close