• LAINYA

[arabic-font] وَ تَوَكـلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ [/arabic-font]

Dan berserah-dirilah kepada [Allah] Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

(QS. Al-Syu’ara’ [26]: 217)

Hadis

  • Diriwayatkan dari Sahl ibn Ziyad dari Ibnu Hassan dari pamannya, Abdurrahman ibn Katsir, dari Abu Abdillah Imam Ja’far Al-Shadiq a.s. berkata, “Sesungguhnya kekayaan dan kehormatan itu bergulir, dan tatkala berputar di poros tawakkal, keduanya menjadi tetap.” (Ushûl Al-Kāfī, jld. 2, hlm. 65).
  • Juga diriwayatkan dari Abdullah ibn Sinan dari Abu Abdillah Imam Ja’far Al-Shadiq a.s. berkata, “Setiap hamba yang menghadap apa yang dicintai Allah Mahakuasa dan Maha Perkasa, maka Dia menghadapkannya pada apa yang Dia cintai, dan siapa saja yang berpegang teguh pada Allah maka Dia akan meneguhkannya, dan barangsiapa yang telah berada di hadapan Allah dan dalam keteguhan pada-Nya, sekalipun langit runtuh ke bumi ataupun bencana turun ke atas penduduk bumi yang menimpa keseluruhannya, maka dia terjaga dalam kelompok-Nya dengan lindungan dari setiap bencana. Bukankah Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa dalam posisi yang aman.

Tadabur

  • Secara kebahasaan, tawakkal (berserah-diri) yaitu menjadikan orang lain sebagai wakil, memasrahkan pekerjaan kepada orang lain. Namun secara istilah, tawakkal bukan berarti menyerahkan suatu pekerjaan, tetapi bermakna menerima pekerjaan dengan bersanyadarkan diri pada Allah SWT. Tawakkal diterjemahkan oleh Murtadha Muthahhari sebagai mempertanggungjawabkan semua perbuatan dengan percaya pada Allah SWT. Menjadikan orang lain sebagai wakil bukanlah tawakal, tetapi tawkil. Jadi, bertawakkal sebenarnya melakukan perbuatan sendiri dan bertanggung jawab pada Allah. Inilah yang sebenarnya disebut mempercayakan diri pada Allah SWT. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Mufradât oleh Raghib Ishfahani, “wikalah” yaitu ketika seseorang menyerahkan suatu perbuatan kepada orang lain, dan “tawkil” berarti menjadikan seorang wakil. Penyerahan dan penjadian ini dilakukan karena kepercayaan pada kemampuan orang lain atau karena ketidakmampuan dirinya dalam melaksanakan perannya. Kebalikan dari “tawkil” adalah “tawakkal”. Tawakkal dengan kata bantu li berarti menerima perwakilan, dan jika dengan kata bantu bi bermakna menjamin untuk melakukan suatu perbuatan (Lisan al-‘Arab, jld. 11, hlm. 734), jika dengan kata bantu ‘ala berarti mempercayai orang lain (Al-Mufradât, hlm. 569). Pada hemat Muthahhari, kata kerja tawakkal ‘ala tidak pernah digunakan dengan objek selain Allah, dan ini bermakna bahwa aku melaksanakan perbuatan dengan percaya pada Allah SWT. Dalam Ghuftarhai dar Akhlake Eslami, Muthahhari membahas tawakkal dan membaginya dalam dua makna: pertama, menyerahkan perbuatan kepada Allah dan menaganggap dirinya bebas tanggung jawab, kedua,  di samping bertanggung jawab atas semua jerih payahnya, dia percaya pada lindungan Allah dan harapannya pada-Nya. Mengamati berbagai ayat-ayat Al-Quran dengan pendekatan linguistik, tepat bila tawakal diartikan dengan makna kedua.
  • Seluruh rahasia suksesnya kehidupan terhimpun dalam satu ayat ini. Sesungguhnya manusia, dalam mengambil keputusan penting dan besar hidupnya, membutuhkan suatu kekuatan yang melindungi dan menopangnya. Dalam berbagai kesempatan, kadang manusia berbuat benar, namun kadang ia melihatnya tidak sesuai dengan kepentingannya sehingga dalam kesendirian ia khawatir dan gundah pada peluangnya untuk sukses. Muthahhari mencontohkan kondisi ini pada seorang staf yang, kalau bekerja jujur, tidak akan mendapatkan uang dan kemajuan, tetapi jalan sukses bisa didapat kalau dia bertindak tidak benar dengan, misalnya, menerima suap dan korupsi. Di mengira akan sukses 80 % sampai 90% dengan cara kedua tanpa menafikan kemungkinan gagal, dan dan sebaliknya bila ia berbuat dengan cara pertama, yakni jujur dan bersih. Sekarang, apakah di dunia ini tidak ada kekuatan yang dapat mendukung manusia yang melangkah di atas kebenaran? (Ghuftarhai dar Akhlake Eslami, hlm. 14). Arti tawakkal kepada Allah adalah kita percaya pada-Nya, tidak takut melakukan perbuatan yang benar, dan mantap bahwa sesungguhnya Allah akan menolong kita.
  • Ayat ini berada di surah Al-Syu‘ara’, berkaitan dengan tahan-tahap awal peran Nabi SAW sebagai utusan Allah SWT. Di dalam surah ini pula terdapat firman Allah yang memerintahkan beliau, “Peringatkanlah kerabatmu yang dekat.” Allah SWT telah menopang dan melindungi perjalanan berat Nabi. Allah mewahyukan surah Al-Syu‘ara’ setelah menyebutkan kisah-kisah para nabi besar seperti: Ibrahim, Musa, Nuh, Hud, Shaleh dan Luth a.s. dan berulang kali menekankan kalimat “dan sesunguhnya Tuhanmu Dialah yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang”. Artinya, Dialah Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Penyayang yang menolong semua nabi-Nya dan memenangkan mereka atas musuh, demikian pula pertolongan-Nya untukmu (Nabi Muhammad SAW). Oleh karenanya, Allah memerintakannya agar bertawakal kepada-Nya.
  • Begitu indahnya surah ini ditutup dengan janji Allah dengan kemenangan yang pasti bagi orang-orang yang beriman, “Mereka mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”
  • Ayat ini, meskipun dapat digeneralisasi pada semua aspek kehidupan, penekanan utamanya adalah tawakal kepada Allah SWT untuk motivasi dan tujuan yang tinggi dalam memberikan petunjuk kepada manusia. Mereka yang memiliki kepedulian pada kebahagiaan manusia di jalan agama harus lebih memiliki dua akhlak (karakter), sebagaimana asma Allah yang ‘azīz (perkasa) dan rahīm (penyayang). Maka, di samping kuasa, kuat, tidak inferior dan tak terkalahkan, mereka juga harus lebih memiliki kasih sayang pada orang-orang beriman dan para kekasih Allah. Kalau kita bertawakal kepada Allah, Wujud yang Mahakuasa dan Maha Penyayang, pekerjaan apa pun sebagaimana tugas berat Nabi Muhammad SAW pasti dapat kita lakukan.
  • Surah Al-Syu‘ara’ dengan baik dan indah menceritakan bagaimana tawakal para nabi, betapa tawakal merea ditampilkan dalam kerangka pemahaman Al-Quran sebagai konsep konstruktif, membangun dan memberi harapan, bukan keputusasaan dan desktuktif. Pada prinsipnya, apa pun upaya perubahan dan pembangunan peradaban tanpa tawakal kepada Allah akan mengalami kegagalan.
  • Karena pemahaman menyimpang tentang agama, berbagai macam keterbelakangan justru dituduhkan kepada akidah agama. Ini yang terjadi pada konsep tawakal. Banyak orang muslim yang memahaminya secara keliru hingga memandang tawakkal sebagai penyebab sikap mereka yang lepas tanggung jawab dan tidak kreatif. Padahal, dalam ajaran al-Quran, sepanjang sejarah justru pada puncaknya mereka yang bertawakal adalah para nabi dan utusan Allah SWT sebagai agen-agen utama pembangun peradaban, pelaku perubahan mendasar dalam ilmu pengetahuan dan moral manusia. Meski diuji sedemkkian berat, mereka tetap bertahan dan tidak gentar. Mereka harus berhadapan dengan kekuasaan despotik. Semua kekuatan jiwa itu diperoleh karena senantiasa berhubungan dengan kekuatan Allah SWT.
  • Menariknya, surah Al-Syu‘ara’ dimulai dengan ayat, “Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu karena mereka tidak beriman” dan diakhiri dengan “Dan berserah-dirilah kepada [Allah] Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” Ini artinya siapa pun yang lebih bertawakal kepada Allah akan lebih bersusah payah, bahkan lebih siap mempertaruhkan jiwanya. Orang yang lebih dekat dengan pintu (Allah) akan lebih mendapatkan anugerah puncak kemenangan.
  • Percaya dan tawakal kepada Allah SWT dalam setiap tugas, agenda dan pekerjaan akan menuntun kita ke jalan yang lurus, meningkatkan semangat. Tawakkal tidak hanya akan menyukseskan aktivitas kita, bahkan akan menjamin murni dan tulusnya aktivitas kita sesuai dengan tujuan mulia. Muthahhari menyatakan, “Tidak bisa seorang mengatakan, dengan tawakkal kepada Allah, aku akan mencuri!”
  • Dalam mempercayakan aktivitas hanya pada Allah Yang Mahakuasa, kita menjadi percaya diri. Mahakuasa adalah Mahakuat yang dapat mengalahkan apa pun dan yang tak terkalahkan. Manakala Tuhan yang menjadi penopang pekerjaan seseorang, pasti sekecil apa pun tidak akan pernah lepas dari-Nya.
  • Tentang arti rahim yaitu yang kasih sayangnya abadi, sifat ini dalam Al-Quran pada umumnya digunakan sekaitan dengan orang-orang mukmin karena keimanan mereka, yakni kasih sayang Tuhan yang khusus diperuntukkan bagi orang-orang beriman. Mereka berhak memperolehnya karena bertawakal kepada-Nya. Jika Allah dengan kehendak-Nya mengasihi dan menyayangi orang-orang mukmin secara khusus, sedikitpun tidak ada yang terabaikan oleh-Nya.
  • Sebagian dari kita mudah terserang putus asa dalam menyuarakan kebenaran, keadilan, dan berpikir tidak akan sukses. Patut meninjau kembali diri kita: kenapa harus berpikir sedang bekerja kesendirian dan kuatir dengan arus penentangan; kenapa perhatian kita tertuju pada omongan dan opini orang lain. Tidak sepatutnya kita percaya pada Allah SWT dan menyandarkan diri kepada-Nya lantas berputus asa dan kehilangan optimisme, padahal Allah Dialah Mahakuasa dan Maha Penyayang; kepada siapapun yang mendatangi-Nya pasti akan mempedulikan dan mensukseskan urusannya.
  • Al-Quran begitu hebatnya mengajarkan manusia dengan tegas dan gamblang bagaimana menempuh jalan kesuksesan. Namun sebagian masih ada yang harus mengikuti kelas-kelas “kiat meraih sukses” dengan harapan dapat hidup bahagia meski tanpa merujuk arahan-arahan Al-Quran. Tentu, tidak ada yang lebih bisa menjamin kesuksesan selain Allah SWT, maka tidak selayaknya kita lebih percaya kepada promosi para motivator daripada kepada Dia yang Mahakuasa dan Maha Penyayang.[ms]

Share Page

Close