• LAINYA

KALAM-BARU–Tidak sedikit orang ateis, tidak percaya Tuhan, tidak menganut agama apa pun dan hidup sekuler sekaligus serius menjalankan prinsip-prinsip moral, bahkan berperilaku lebih berakhlak dan beradab daripada sebagian orang yang percaya Tuhan dan taat agama.

Lantas, apakah mungkin seseorang begitu konsisten taat pada prinsip-prinsip moral dan nilai-nilainya namun, pada saat yang sama, dia tidak percaya ajaran agama, tidak mengakui pengawasan dan pengadilan Tuhan, tidak juga yakin akan dibangkitkan dan hidup kembali setelah kematian?

Apakah orang seperti ini tergolong kafir? Lalu kalau memang itu mungkin terjadi, lantas apa gunanya agama, wahyu, kenabian? Bukankah prinsip-prinsip dan norma-norma moral sudah cukup membuat orang menjadi manusia mulia, saleh dan ramah?

Ya, tampaknya mungkin saja dan tidak mustahil ada orang-orang seperti itu, yakni berperilaku baik dan berakhlak mulia tanpa komitmen pada ajaran agama. Karena, banyak prinsip dan nilai moral yang sesungguhnya berasal dan sudah tertanam dalam fitrah dan kesadaran batin manusia.

Nabi Muhammad dan agama yang dibawanya juga mengakui sudah ada nilai-nilai mulia moral, sehingga peran Nabi dan fungsi agama ialah menyempurnakan nilai-nilai utama itu, “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan keutamaan-keutamaan akhlak”.

Jadi, kita sangat bisa membayangkan sebuah sistem moral sekuler, tanpa peduli pada hukum dan ajaran agama. Tanpa agama, nabi dan keterangan wahyu, manusia sudah bisa menyadari sebagian keutamaan nilai-nilai moral.

Meski begitu, dalam kaidah logika disebutkan, mengafirmasi sesuatu tidak berarti menegasikan yang-lain. Menerima hukum moral tidak berarti-pasti menegasikan hukum lainnya, yaitu hukum agama.

Agama dan wahyu kenabian tidak kehilangan peran pentingnya dalam kehidupan rasional manusia. Selain telah disabdakan ihwal peran nabi sebagai penyempurna keutamaan akhlak, nilai keberadaan agama tampak pada banyak hal. Yang terpenting di antaranya adalah:

Baca Juga :  Pemilik Alquran Tertua di Indonesia, Justru Bukan Orang Islam

Pertama: agama berperan tidak kecil dalam menciptakan suasana dan lingkungan yang kondusif bagi peningkatan kesadaran moral, pengokohan prinsip-prinsipnya serta penguatan motivasi dan semangat mengamalkan nilai-nilai moral yang memang sudah ada dalam fitrah dan realitas diri manusia.

Kedua: agama, yakni Islam, memiliki kekuatan melimpah hingga berpengaruh signifikan terhadap berbagai lini kehidupan masyarakat, yaitu melalui penciptaan kepekaan moral di berbagai lapisan masyarakat serta rasa tanggung jawab yang kuat di Hari Pembalasan, yakni di kehidupan setelah kematian.

Sementara, orang-orang yang menjalani hidup tanpa agama dan tak bertuhan namun berperilaku baik dan mulia, rata-rata, berasal dari lapisan sosial tertentu.

Kesalahan terbesar sebagian orang yang menjadikan agama sebatas subjek penelitian yaitu mereka menganggap bahwa lawan-bicara agama adalah para elit masyarakat, sedangkan misi agama, secara komprehensif dan menyeluruh, menganggap dirinya berkomitmen untuk membimbing seluruh elemen masyarakat.

Ketiga, di satu sisi, agama memberikan jaminan-jaminan sehingga perilaku manusia sesuai dengan prinsip-prinsip moral dan, di sisi lain, agama menunjang pengamalan serta pembudayaan nilai-nilai moral di berbagai segmen masyarakat.

Ini tidak lantas berarti bahwa orang-orang beragama, dibandingkan dengan selain mereka, akan hidup di masyarakat secara lebih bermoral dan lebih konsisten berakhlak mulia.

Perlu dicatat bahwa pokok pembahasan dan inti pertanyaan di atas itu, pada dasarnya, bukan tentang keberagamaan dan komitmen orang beriman pada agama, tetapi tentang mentalitas, kesadaran dan perasaan umum yang tersebar luas di tengah miliaran orang yang, entah disadari atau tidak, ternyata berkaitan dengan hal-hal abstrak, metafisis, supernatural dan di-balik-materi.

Kaitan itu sedemikian erat hingga hati nurani mereka juga memahami bahwa kesadaran dan perasaan umum itu juga terhubung dengan konsep-konsep agama seperti: ketuhanan, kenabian dan kehidupan setalah kematian.

Baca Juga :  Toleran dan Intoleran: Dua Praktik Beragama yang Sama-sama Radikal

Ajaran-ajaran ini sangat besar pengaruhnya dalam membuka peluang yang memadai untuk peningkatan komitmen dan pengamalan nilai-nilai moral. Peran dan dampak dari ajatran agama itu juga tidak bisa diremehkan apalagi dipungkiri hanya karena menyaksikan adanya segelintir orang beragama yang berbuat maksiat dan berperilaku buruk. Sekali lagi, di sini ada dua masalah yang harus dibedakan, tidak dikacaukan satu dengan sama lain.

Di kesempatan ini, kita tidak sedang berbicara tentang benar-salahnya suatu ajaran agama, karena pembahasan kita terfokus pada upaya meneliti peran dan pengaruh mendalam dari konsep-konsep utama dalam agama terhadap kesadaran moral, entah konsep-konsep utama itu benar ataukah kita tidak punya bukti atas validitasnya.

Oleh karena itu, kita di sini tidak sekedar berbicara tentang Islam. Topik kita tertuju ke ranah yang lebih luas hingga adakalanya ke wilayah agama non-Abrahamik, seperti Buddha, apalagi agama samawi seperti: Yuhudi dan Nasrani. Maka itu, kita masih punya kesempatan luas untuk, di lain waktu dan momentum, membahas berbagai perbedaan antar-sistem moral di masing-masing agama.

Share Page

Close