• LAINYA

TAFSIR-SOSIAL–Alquran mengingatkan agar orang beriman tidak merasa lemah dan minder, berjiwa inferior dan kehilangan kepercayaan diri di hadapan siapa saja selain Allah dan kebenaran. Sekaligus mencela jiwa sombong dan merasa diri besar, Islam mengajarkan kewibawaan dan kemuliaan jiwa, yakni kemuliaan pribadi dan kemuliaan bangsa.

Tokoh-tokoh perjuangan Islam menanamkan jiwa ini agar masyarakat dan umat Islam percaya diri bahwa “Kita bisa” dan “Asal mau, pasti bisa!”. Ini nilai budaya Alquran bagi seorang Muslim sebagai sumber kemauan dan tekad kuat membangun diri dan bangsa, dunia dan akhirat, di atas kebenaran dan keadilan.

وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

Dan janganlah kamu merasa lemah dan bersedih, padahal kamu orang-orang yang paling unggul jika kamu orang-orang beriman.”
(QS. Al ‘Imran [3]: 139)

Ayat ini seolah mengingatkan bahwa ada relasi kontradiktif antara merasa lemah dan beriman, antara bersedih dan berstatus muslim. Sebaliknya, beriman berarti merasa kuat, percaya diri, tegar, dan tangguh. Orang yang berjiwa inferior dan berkeluh kesah bukanlah orang beriman dan muslim sejati. Iman dan keislamannya hanya di lisan dan pernyataan kata-kata.

Iman dan kepercayaan akan keunggulan dan ketinggian merupakan sarana keunggulan orang beriman dan masyarakat Islam. Keunggulan dan ketinggiannya bukan semata-mata spiritual, ruhani dan ukhrawi, tetapi juga material dan duniawi. Maka, iman seseorang akan menempatkan dirinya di atas derajat kewibawaan dan kemuliaan.

ORANG MUSLIM ADALAH PEMENANG DI DUNIA SEKALIGUS AKHIRAT.

Ayat ini menegaskan bahwa keunggulan seorang Muslim bukan karena darah dan keturunan, ras dan suku, ikatan kekeluargaan dan kebangsaan, bukan juga karena wilayah geografis dan kurun masa tertentu. Tetapi prinsipnya adalah keunggulan berkat keterikatan jiwa pada Allah SWT, pada manusia-manusia Allah, pada agama-Nya yang mengajarkan hidayah, cinta, keselamatan dan kesempurnaan hakiki bagi umat manusia.

Baca Juga :  QS. Al-Ikhlas [112]: 1, Ketuhanan Yang Maha Esa

Diriwayatkan oleh Hasyraj ibn Abdullah ibn Hasyraj dari ayah dari datuknya bahwa tatkala ia datang bersama Abu Sufyan bin Harb di hari penaklukan kota Mekkah, Nabi SAW sedang dikerumuni para sahabat, lalu mereka berkata, “Ini dia Abu Sufyan dan A’idz ibn Amr.” Maka Nabi bersabda, “Ya, ini A’idz ibn Amr dan Abu Sufyan, namun Islam lebih hebat dari planet; Islam unggul dan tak terungguli” (Sunan Al-Bayhaqi: 6/205).

Sejarah era awal Islam telah membuktikan keunggulan dan ketinggian Islam serta umatnya. Sulit membayangkan bagaimana Nabi SAW mengemban amanah kenabian dan hidayah untuk segenap umat manusia di negeri jazirah Arab, di era Jahiliyah, di antara dua kekuatan besar dunia: Timur (Persia) dan Barat (Romawi).

Namun dalam waktu yang begitu singkat, ia berhasil mengangkat agama dan umatnya berada di atas masanya dengan iman dan jihad (amal shaleh). Sebaliknya, kemunduran, kehinaan, dan kejatuhan umat Islam terjadi karena melemahnya iman mereka pada Allah dan agama.

Khalifah Ali ibn Abi Thalib ra. berkata, “Wahai manusia! Andai saja engkau gigih dalam memperjuangkan kebenaran dan tidak merasa lemah dalam melemahkan kebatilan, pastilah orang-orang yang bukan sepertimu tidak akan bermuslihat terhadap engkau juga tidak akan kuat orang yang berkuasa atas dirimu” (Nahj Al-Balâghah, pidato no. 166).

Semua faktor, yakni Islam dan figur-figurnya yang telah berhasil menciptakan peradaban besar di Abad Keemasan Muslimin, masih tersedia dan berada di genggaman mereka, sekarang ini.

Dalam ayat, Hai orang-orang yang beriman, sambutlah Allah dan Rasul pabila menyeru kalian kepada apa yang menghidupkan kalian (QS. Al-Anfal [6]: 24), Islam meyakinkan bahwa agama Allah ini sanggup mengangkat umatnya ke puncak peradaban, keunggulan ilmu dan kewibawaan di dunia.

Baca Juga :  QS. Al-Baqarah [2]: 42; Cara Membuat Hoax dan Manipulasi Fakta

Hanya iman rasional, bekerja keras dan bersatu tanpa pecah-belah merupakan tiga syarat mencapai tujuan tinggi tersebut:

Dan orang-orang yang berjihad demi Kami pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang berbuat kebaikan (QS. Al-Ankabut [29]: 12).

Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya, dan janganlah kalian bertikai sehingga kalian gagal dan hilang kekuatan kalian, dan bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar (QS. Al-Anfal [6]: 46).

Lemahnya tiga dasar pembangunan dan pencapaian tujuan itu akan berakibat kegagalan dan kemunduran umat Islam: Dan janganlah kamu merasa lemah dan bersedih, padahal kamu orang-orang yang lebih unggul jika kamu beriman.” Maka, jiwa dan pikiran setiap manusia muslim jangan sedikit pun terasuki rasa lemah dan dilemahkan oleh diri sendiri ataupun oleh orang lain.

PEJUANG KEBENARAN DAN KEADILAN ADALAH PEMENANG, MESKI TERLIHAT KALAH DAN HANCUR DI MATA ORANG. KEKUATAN ADA DI BATIN, BUKAN DI LAHIR.

Ayat ini mengajak setiap Muslim untuk instrospeksi diri dan jujur terhadap kondisi diri sendiri: apakah kita benar-benar unggul di dunia ini dalam budaya, sosial, politik, ekonomi, teknologi, media massa, ilmu-ilmu kemanusiaan, sains-sains empirik, dan bidang-bidang peradaban lainnya? Jika tidak unggul, dan memang demikian adanya, sudah sepatutnya kita mengoreksi iman kita, pemahaman kita, serta komitmen kita.

Salah satu problem utama bahkan di kalangan elit formal dunia Islam adalah kebodohan ganda: mereka yakin tahu, padahal sesungguhnya mereka tidak tahu; mereka berpikir dunia Islam dan kaum Muslimin sudah cukup unggul, padahal realitasnya tidaklah demikian.

Menengok sejenak tulisan, statemen, pidato, dan analisis di media-media cukup untuk menampilkan gejala kebodohan ganda itu; betapa sejumlah tokoh dari kalangan ulama, cendekiawan dan aktivis tidak memiliki kekuatiran dan kegelisahan lagi akan realitas kemandekan dan kemunduran dalam sejarah kontemporer umat Islam.

Baca Juga :  QS. Al Imran [3]: Ayat 135-136; Pemuda Tampan Tapi Keji (2)

Seorang mukmin adalah manusia yang beriman dan percaya pada Allah dan komit seteguh-teguhnya dalam mengamalkan kepercayaannya. Kualitas ini akan mengangkatnya ke tingkat yang tinggi sehingga ia tidak akan dapat dikuasai oleh siapa pun. Berdasarkan ayat ini, seorang mukmin tidak akan merasa lemah, inferior dan kecil hati.

Seperti ditekankan dalam pidato Khalifah Ali bin Abi Thalib, sebagian orang memasang nama ‘muslim’ pada dirinya, namun dia lemah dan merasa tak berdaya dalam memperjuangkan kebenaran di hadapan kebatilan. Muslim seperti ini, bukan hanya tidak pantas mencapai kedudukan lebih unggul dan lebih utama, tetapi juga musuh-musuhnya lebih bergairah dalam melemahkan, menjatuhkan, menghinakan hingga menguasainya.

Manusia yang sungguh-sungguh beriman tidak pernah merasa lemah dan tak berdaya di hadapan bencana, musibah, tekanan dan tantangan. Sebaliknya, perasaan lemah dan kurang sabar dalam mempertahankan kebenaran merupakan indikasi lemahnya iman kita.

Maka, manusia mukmin sejatinya adalah muslim yang berkomitmen kuat dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya; dia tidak merasa lemah, putus asa atau panik atas apa yang terjadi dalam pelaksanaan tersebut, karena dia percaya bahwa semua terjadi dengan kehendak Allah SWT dan, tentunya, Dia menginginkan yang terbaik di balik kejadian buruk bagi hamba-Nya yang beriman tulus.

Manusia beriman tidak akan kuatir akan kehilangan posisi dan status. Baginya, di atas segalanya adalah kedudukan di sisi Allah SWT. Seseorang yang memiliki kedudukan hakiki tidak akan berkurang harkat dan martabatnya hanya karena rendah dan lemah di mata orang.

Share Page

Close