• LAINYA

QURANIKA.COM–Nama Umar Khayyam merupakan salah satu tokoh besar dalam sejarah pemikiran dan sastra Persia-Iran. Ketokohan juga ditunjang oleh kontroversialitas pendiriannya,  mencakup aspek-aspek agnostis, skeptis, dan pragmatis yang sering kali disalahpahami oleh banyak kalangan dan kritikus.

Siapakah Khayyam?

Omar Khayyam adalah sosok polimath (ahli dalam berbagai bidang ilmu) dari negeri Persia (Iran sekarang) yang hidup pada Abad Pertengahan, 1048–1131. Khayyam jauh lebih dikenal di masanya sebagai seorang ilmuwan, matematikawan, astronom, dan filsuf rasional ketimbang sebagai seorang penyair. Di bidang matematika, ia merintis konsep bilangan real dan solusi untuk persamaan derajat ketiga. Sebagai astronom, prestasinya mencakup pengamatan benda langit dan revisi atas penanggalan Persia yang berujung pada terciptanya Kalender Jalali, yang jauh lebih presisi dibandingkan dengan penanggalan lain di zamannya.

Sebenarnya, menulis puisi bukanlah profesi atau fokus utama Khayyam. Ruba’iyat (kuartet puisi empat baris) yang ia tulis hanyalah sekadar hiburan sampingan—sebuah medium informal dan tidak resmi untuk melampiaskan pemikiran-pemikiran filosofis terdalamnya yang mungkin terlalu radikal jika dituliskan dalam format keilmuan akademis atau teologis pada masa itu. Bahkan, sumber-sumber manuskrip paling tua yang ditemukan baru berhasil menyinggung sisi kepenyairan Khayyam beberapa dekade setelah kematiannya. Hal ini membuktikan bahwa Ruba’iyat itu pada awalnya hanyalah ruang pembebasan pribadi bagi sang filsuf.

 

2. Misteri Autentisitas Ruba’iyat Khayyam

Salah satu tantangan utama dalam mempelajari karya sastra Khayyam adalah keaslian bait-bait puisinya, Ruba’iyat. Dengan karya ini, Khayyam mendapatkan popularitas luar biasa selama berabad-abad, dan banyak orang mulai menisbatkan ratusan bahkan hingga dua ribu bait puisi kepadanya. Sadegh Hedayat, salah satu cendekiawan dan penulis Iran terkemuka di era modern, menulis:

“Jika seseorang hidup serratus tahun dan mengubah agama serta filsafatnya dua kali sehari, ia tidak akan pernah bisa menghasilkan semua ajaran kontradiktif yang dikaitkan dengan Khayyam.”

Hal ini menandakan bahwa kumpulan puisi yang beredar sangat tidak selaras satu sama lain. Hedayat menyimpulkan bahwa mungkin hanya 13 hingga 14 bait yang murni milik Khayyam tanpa keraguan, sementara sisa puisi lainnya meragukan atau bahkan palsu.

Ahli lain, seperti cendekiawan Denmark Arthur Christensen, memverifikasi sekitar 121 bait. Mohammad Ali Foroughi mengakui 178 bait, sedangkan Ali Dashti hanya mengonfirmasi 36 bait. Meskipun ada perdebatan yang tajam mengenai jumlahnya, para ahli sepakat bahwa puisi asli Khayyam sebenarnya jumlahnya terbatas, tetapi memiliki “satu suara yang koheren”—suara seorang filsuf rasionalis, skeptis, yang gigih mencari kebenaran namun tidak pernah tunduk pada dogmatisme mutlak mana pun.

 

3. Akar Filsafat Khayyam: Agnostisisme

Pusat dari pandangan filosofis yang ditunjukkan dalam syair-syair asli Khayyam dapat dijelaskan secara akurat melalui kacamata modern sebagai Agnostisisme. Dalam bahasa Persia, istilah ini diterjemahkan menjadi Nadanam Engari (Paham Tidak Tahu), sebuah terjemahan yang disarankan oleh pakar linguistik Iran, Darioush Ashouri, untuk membedakannya dari konotasi pasif Nadanam Gerayi yang seolah menyiratkan penolakan atau keengganan untuk tahu.

Baca Juga :  Isu Kalam Baru/New Theology (2): Akal di Kalangan Sufi

Agnostisisme, istilah yang diciptakan pertama kali pada abad ke-19 oleh Thomas Huxley, berarti pengakuan jujur akan ketidakmampuan akal manusia untuk menembus, mengetahui, dan memahami ranah metafisika, seperti hakikat sejati penciptaan, keberadaan Tuhan, dan nasib manusia setelah kematian. Khayyam mewakili suara ini dengan sempurna di abad pertengahan. Khayyam menyadari keterbatasan kognitif manusia di hadapan misteri absolut alam semesta. Alih-alih mengklaim tahu layaknya pemuka agama atau bersikeras menolak layaknya penganut nihilisme radikal, Khayyam berani berkata, “Saya tidak tahu, dan memang hal itu tidak dapat diketahui.”

Keberanian Khayyam mengakui ketidaktahuan (na-agahi) ini adalah bentuk kejujuran intelektual tertinggi bagi seorang pemikir rasional. Keterbatasan untuk tidak mengetahui takdir kosmis dipandang Khayyam bukan sebagai kekalahan, melainkan sebagai realitas objektif yang perlu diterima oleh setiap manusia.

4. Tiga Tema Utama dalam Karya-Karya Khayyam

Narator menjabarkan beberapa tema besar yang merefleksikan agnostisisme dan rasionalitas Khayyam melalui kutipan syair-syairnya:

  • Rahasia Azali (Awal Mula Kehidupan): Khayyam meyakini bahwa awal mula alam semesta tersembunyi di balik “tirai ilusi”. Dalam salah satu puisinya, Khayyam menulis bahwa tidak ada satu pun dari kita—baik kau maupun aku—yang tahu rahasia dari penciptaan alam semesta ini. Manusia hanya bisa meraba dan menerka apa yang ada di balik “tirai” tersebut, dan ketika kematian tiba, wujud manusia lenyap tanpa pernah sempat menyaksikannya. Ini merefleksikan bahwa pencarian jawaban mutlak atas tujuan penciptaan sering kali berakhir hampa. Manusia lahir tanpa alasan yang diungkap, dan kelak kembali pada ketiadaan.
  • Keraguan pada Ajaran Dogmatis dan Esatologi: Khayyam hidup di tengah dominasi otoritas keagamaan di mana para teolog (mullah/ulama) secara rinci mendeskripsikan siksa neraka dan indahnya surga. Khayyam menganggap janji-janji itu bersifat ilusionis dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah/faktual. Ia mengatakan bahwa mereka berbicara tentang surga yang dipenuhi bidadari, namun baginya secawan anggur (wine) di dunia ini jauh lebih manis dan nyata. Ia mendorong umat manusia untuk mengambil apa yang “tunai” di dunia ini, ketimbang menanti janji yang masih “kredit” (akhirat). Ia menolak narasi buta tersebut. Bagi Khayyam, karena belum ada satu orang pun yang kembali dari alam kematian untuk bersaksi mengenai surga dan neraka, tidak rasional jika manusia harus menyerahkan kenikmatan hidup saat ini demi impian akhirat.
  • Konsep Kematian sebagai Sirkulasi Alam: Khayyam tidak mempercayai keberlanjutan jiwa (rohani) setelah tubuh fisik mati. Sebaliknya, ia melihat kematian dengan sudut pandang yang sangat naturalistik dan materialistis. Dalam Ruba’iyatnya yang sangat terkenal mengenai “Kendi Tanah Liat” (Koozeh), ia membayangkan bahwa kendi tempat penuang anggur tersebut dahulu kala mungkin adalah tubuh seorang manusia yang pernah hidup dan mencintai. Tangan pada kendi mungkin sebelumnya merupakan tangan kekasih yang melingkar di leher. Dengan ini, Khayyam menegaskan bahwa yang kekal di dunia hanyalah transformasi elemen fisik; tanah kita hari ini mungkin kelak akan dipakai untuk membentuk tembikar di masa depan. Ia menolak doktrin akhirat spiritual demi sirkulasi konstan elemen fisik bumi.
Baca Juga :  Realitas Manusia (1): Di balik Badan

 

5. Epicureanisme Khayyam: Carpe Diem

Wajah kedua dari filsafat Khayyam yang terhubung erat dengan kebingungan agnostiknya adalah gagasannya tentang Carpe Diem—nikmati dan rebutlah hari ini (Ghanimat Shomordan-e Dam). Bagi Khayyam, karena masa lalu telah mati dan masa depan sangatlah tidak pasti, satu-satunya realitas mutlak yang manusia miliki adalah momen saat ini.

Oleh karena itu, ia menyerukan agar manusia bergembira, meminum anggur, dan tidak menyiksa diri dengan ratapan masa depan atau penyesalan masa lalu. Perlu digarisbawahi bahwa kenikmatan yang ditawarkan Khayyam bukanlah kebobrokan tak bermoral (hedonisme tak terkendali), melainkan hedonisme bijak khas Epicurean—sebuah kenikmatan dari seorang pemikir yang lelah dan terluka akibat dari pencariannya akan kebenaran yang tak pernah ia dapatkan jawabannya. Anggur, dalam terminologi Khayyam, adalah sebuah pereda sementara (simbol escapism) dari kesulitan intelektual dan kecemasan eksistensial. Meminum anggur membuat pikiran rasionalnya tumpul untuk sesaat, sehingga ia bisa menoleransi “sakitnya ketidaktahuan” dalam memandang semesta.

 

6. Mengembalikan Jati Diri Khayyam

Berabad-abad setelah kematiannya, Khayyam mendapatkan kembali pembelaan rasional dan objektifnya pada abad ke-20 melalui penelitian dan tulisan mendalam Sadegh Hedayat. Hedayat-lah yang paling bertanggung jawab dalam memisahkan Khayyam yang asli (sang pemikir rasional dan agnostik) dari Khayyam versi palsu (yang sering dijadikan mistikus, pemabuk tak beraturan, atau sufis oleh kaum tradisional).

Hedayat menulis karya krusial “Taraneh-haye Khayyam”, di mana ia menolak interpretasi sufistik atau spiritual atas teks-teks Khayyam. Sebelumnya, ada usaha-usaha untuk menerjemahkan “anggur” dan “kekasih” di puisi Khayyam sebagai metafora untuk “cinta ilahi/Tuhan”. Hedayat membantah keras hal ini: Khayyam adalah seorang rasionalis sejati dan tidak memiliki hubungan apa pun dengan mistisisme atau Sufisme. Ketika Khayyam bicara tentang anggur dari buah anggur, ia memang membicarakan tentang wine sungguhan. Saat ia berbicara tentang bibir kekasih, ia berbicara mengenai cinta keduniawian manusia, bukan penyatuan eksistensial dengan roh Ilahi.

Sadegh Hedayat merasa memiliki kedekatan spiritual dengan Khayyam karena mereka berdua adalah rasionalis yang mengutuk kepalsuan dogma para ulama dan otoritas religius yang munafik, dan meratapi ketiadaan kepastian akan alam semesta. Sejarawan di era Khayyam (termasuk Al-Ghazali, Shams Tabrizi, Attar) juga tercatat melihat Khayyam sebagai seorang cendekiawan yang menjauh dari agama. Hal ini mengonfirmasi keabsahan sudut pandang Hedayat bahwa Khayyam murni seorang agnostik dan materialis kosmik.

7. Ketenaran Global Khayyam Lewat Terjemahan FitzGerald

Menjelang akhir video, narator membahas fenomena luar biasa bagaimana Omar Khayyam mencapai kepopuleran global di dunia Barat pada abad ke-19, terkadang bahkan melampaui ketenarannya di tanah asalnya, Iran. Fenomena ini dimungkinkan oleh terjemahan cemerlang dari seorang penulis Inggris era Victoria, Edward FitzGerald.

Baca Juga :  Profil Pemimpin Ideal dalam Tasawuf Politik Platon dan Khomeini (1): Parodi Kekuasaan

Pada tahun 1859, FitzGerald menerjemahkan secara bebas kumpulan bait Ruba’iyat Khayyam. Terjemahannya bukan sekadar alih bahasa akademis atau literatur yang harfiah, melainkan interpretasi puitis, pengerjaan ulang yang memadukan semangat syair Khayyam dan nilai estetika Inggris. Hasilnya sungguh memukau. Karyanya “The Rubáiyát of Omar Khayyám” awalnya lambat untuk populer, tetapi menjelang akhir abad ke-19, karya ini laris manis melebihi dua juta kopi dan menjadi karya sastra paling populer di negara-negara berbahasa Inggris.

Mengapa puisi-puisi ini begitu sukses? FitzGerald berhasil menangkap esensi sejati Khayyam: sang penyair digambarkan sebagai ilmuwan yang hedonis, seorang rasionalis dan pemikir bebas (freethinker) yang berani mengkritik otoritas agama dan tidak takut pada Tuhan maupun dosa. Nuansa sekuler dan agnostik ini sangat resonan dengan para pembaca Eropa dan Amerika di era Victoria, sebuah generasi yang sedang mengalami krisis eksistensial dan pergumulan teologis di tengah lajunya revolusi ilmu pengetahuan.

Karya tersebut bahkan menjadi sebuah budaya (cultural phenomenon); para pelukis dan ilustrator (seperti William Morris) menciptakan gambar-gambar yang indah tentang Khayyam sebagai seorang kakek bijak yang meminum anggur di bawah bayang-bayang kebun. Terlepas dari protes beberapa pihak yang ingin menjadikannya sekadar puitis Sufi dan rohaniwan semata, bukti kuat dari tradisi Persia maupun Barat menahbiskan Khayyam sebagai seorang agnostik rasional. Ia bahkan sejajar dengan pemikir Ateis dan Agnostik modern, sejalan dengan kutipan dari Christopher Hitchens yang melihat Khayyam sebagai corong suara rasionalisme abad pertengahan dari Timur Tengah.

 

8. Penutup: Warisan Intelektual Khayyam di Era Modern

Sebagai konklusi, narator merangkum bahwa Hakim Omar Khayyam dari Nishapur adalah teladan cemerlang dari seorang intelektual avant-garde progresif. Ia berpikir jauh melampaui zamannya. Saat masyarakat di sekelilingnya terjerumus dalam dogma, taklid (ketaatan buta), fanatisme sektarian dan intoleransi, Khayyam merayakan rasa keraguan, skeptisisme, dan pemikiran rasional kritis. Ia adalah tokoh yang berani mengatakan “Saya tidak tahu” saat para tokoh lain saling mengklaim kepemilikan mutlak akan kebenaran agama.

Melalui dua sayap ajarannya—Skeptisisme yang mendalam akan metafisika, dan Epicureanisme yang sadar tentang hidup secara total di masa kini—ia membimbing manusia modern yang hidup dalam kebingungan informasi menuju pada kebebasan rasional. Menerima bahwa diri ini “tidak mengetahui” (Nadanestan) esensi sejati penciptaan adalah bentuk kearifan atau kesadaran tertinggi yang dapat dicapai manusia.

Pesan Khayyam mengajak kita merangkul ketidakpastian duniawi secara jujur dan merayakan setiap detik kecil keberadaan yang kita miliki di sini, saat ini juga. Warisan intelektual dan filosofis inilah yang membuatnya relevan tanpa batas melampaui rentang waktu dan tempat.

Share Page

Close