• LAINYA

RobertKagan (The Atlantic)-23/08/2026–Kekuatan dominan di Timur Tengah mulai dari sekarang bukanlah AS atau Israel, melainkan Iran. Selama bertahun-tahun, Iran menghadapi keseimbangan kekuasaan di Timur Tengah yang merugikannya. Kawasan ini didominasi oleh negara adidaya Amerika yang bermusuhan, Israel yang bersenjata nuklir dan secara militer lebih unggul, serta aktor-aktor lokal yang signifikan—Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab—yang bersekutu secara strategis dan ekonomi dengan Amerika Serikat.

Hari ini mendapati Iran dalam keadaan yang sama sekali baru. Ia telah berhadapan langsung dengan negara adidaya dan Israel, bertahan dari gempuran senjata-senjata mereka yang paling canggih, dan lebih dari sekadar bertahan hidup. Akibatnya, Iran telah, dengan bantuan Amerika, mengonfigurasi ulang sepenuhnya struktur kekuasaan di Timur Tengah dan Teluk Persia.

Kekuatan dominan di kawasan itu ke depannya adalah Iran, bukan AS atau Israel. Negara-negara tetangga sudah mulai menyesuaikan diri dengan realitas baru ini. Begitu pula dengan negara-negara yang lebih jauh. Selama bertahun-tahun, dunia telah berurusan dengan Iran yang terkekang. Dunia kini akan menemukan seperti apa jadinya jika Iran dilepaskan.

Iran tidak membutuhkan kesepakatan dengan Amerika Serikat. Asumsi umum bahwa Iran yang lemah dan miskin pada akhirnya harus membuat suatu kompromi terhadap kekuatan Amerika, membuka Selat Hormuz, dan mulai memperbaiki ekonominya yang rusak parah telah terbukti keliru. Republik Islam ini jarang terlihat lebih lemah atau lebih rentan daripada selama dua tahun terakhir.

Bulan Februari lalu, Presiden Trump memperbarui kampanye “tekanan maksimum” sanksi internasionalnya, yang sangat merusak ekonomi Iran yang sudah lemah dan memotong miliaran dolar pendapatan negara. Israel dan Amerika Serikat kemudian melancarkan perang 12 hari di bulan Juni untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran.

Perang tersebut secara signifikan merusak program Iran dan mengungkapkan betapa rentannya negara itu terhadap serangan-serangan Israel dan Amerika. Kemudian, pada bulan Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terbaru dengan pembunuhan pemimpin tertinggi rezim dan sebagian besar pejabat seniornya, diikuti oleh lebih dari lima minggu serangan tak henti-hentinya terhadap kemampuan militer Iran.

Namun melalui semua ini, rezim tersebut bertahan dan tidak membuat kelonggaran (konsesi) apa pun. Sebaliknya, Iran mengekspos tumit Achilles Amerika: kerentanan tetangga-tetangga Iran. Titik balik besar terjadi pada pertengahan Maret, ketika Israel menyerang ladang gas South Pars Iran, dan Iran membalas dengan menyerang kompleks Ras Laffan Qatar, fasilitas gas alam cair terbesar di dunia.

Serangan itu menunjukkan bahwa meskipun Iran jelas tidak dapat mengalahkan Amerika Serikat dalam perang udara, rudal dan pesawat tak berawak (drone) Iran dapat menimbulkan kerusakan yang cukup pada infrastruktur minyak dan gas Teluk untuk menjerumuskan dunia ke dalam krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Negara-negara Teluk segera memahami hal ini, dan begitu pula Trump. Dia menghentikan serangan terhadap target energi Iran, memerintahkan Israel yang enggan untuk melakukan hal yang sama, dan segera menghentikan kampanye yang lebih besar tanpa mendapatkan satu pun konsesi dari Iran. Sejak itu, dan terlepas dari banyak ancaman, Trump tidak sekalipun memerintahkan serangan lain terhadap infrastruktur energi Iran.

Hal ini saja sudah cukup untuk mengubah keseimbangan daya ungkit (leverage) antara Iran dan Amerika Serikat. Dari April hingga bulan lalu, Trump berulang kali mengancam akan meluncurkan serangan besar-besaran lagi terhadap Iran. Setiap kali, Iran mengancam akan membalas, Negara-negara Teluk memperingatkan konsekuensinya, dan Trump mundur.

Pada gertakan (bluff) ketiga atau keempatnya, Teheran punya alasan untuk menyimpulkan bahwa Amerika Serikat tidak lagi siap untuk mengikuti eskalasi Iran. Trump menjelaskannya ketika dia mencatat pada pertengahan Juni bahwa melanjutkan perang akan mengarah pada “malapetaka ekonomi,” bahkan mungkin “depresi,” dan bahwa dia tidak ingin menjadi Presiden Herbert Hoover. Sejak saat itu, Trump telah berusaha, dengan keputusasaan yang nyata, untuk mengakhiri konflik.

Nota kesepahaman (MOU) yang diadopsi AS dan Iran pada bulan Juni mencerminkan realitas ini. Meskipun disusun untuk sedapat mungkin menyelamatkan muka Amerika Serikat, MOU itu merupakan kemenangan Iran yang jelas. Nota tersebut menyatakan bahwa Republik Islam Iran, dan tidak ada negara lain, yang akan “membuat pengaturan” untuk “jalur aman kapal komersial” melalui Selat Hormuz. Dalam dialog dengan Oman, tanpa perantara atau peserta lain, Iran akan menentukan administrasi selat tersebut “sejalan dengan hukum internasional yang berlaku dan hak kedaulatan negara-negara pesisir.”

MOU tersebut tidak menyerukan untuk kembali ke status quo sebelum perang. Nota tersebut juga tidak memberikan Amerika Serikat suara apa pun mengenai administrasi selat tersebut di masa depan. Sebaliknya, nota itu menunjuk Iran sebagai satu-satunya aktor selain Oman yang lemah, dan bahkan memungkinkan Iran untuk membebankan biaya kepada negara-negara atas jalur yang aman setelah 60 hari. Dengan demikian, MOU tersebut mengkodifikasi kekalahan yang telah diderita Amerika Serikat pada bulan Maret, ketika Trump tampaknya menyadari bahwa ia tidak dapat atau tidak akan mengambil risiko atas serangan lebih lanjut terhadap fasilitas-fasilitas energi di kawasan tersebut.

Baca Juga :  Masuk Islam karena Alquran (8): Cousteau, Ilmuwan Kaliber Perancis Temukan Cahaya Islam di Surah Al-Rahman

Kalau dipikir-pikir lagi, para pemimpin Iran tampaknya tidak percaya bahwa mereka membutuhkan MOU tersebut. Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei kabarnya harus dibujuk oleh Presiden Masoud Pezeshkian untuk menandatanganinya. Sikap relatif abai Teheran dapat dimengerti: Konsesi Amerika mencerminkan keputusasaan sedemikian rupa untuk mengakhiri perang sehingga orang-orang Iran bisa saja mengharapkan bahwa AS pada akhirnya akan mundur, dengan atau tanpa kesepakatan.

Para pemimpin Iran tentu saja tidak ragu-ragu untuk meledakkan gencatan senjata hampir seketika ketika Angkatan Laut AS mulai mengawal kapal-kapal tanker melewati selat sisi Oman. Trump mungkin mengerti atau mungkin tidak mengerti sejauh mana konsesi yang telah dibuat oleh para negosiatornya mengenai kontrol selat tersebut, tetapi dari sudut pandang Iran, rute Oman adalah upaya untuk merebut kembali apa yang telah diberikan AS.

Untuk sementara waktu, Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam serangan balasan (tit-for-tat), yang berpuncak pada serangan hebat Amerika pada pertengahan Juli. Ketika ini tidak berdampak, Trump memperingatkan pada 15 Juli bahwa Amerika Serikat akan “menghancurkan semua pembangkit listrik mereka” dan “semua jembatan mereka” kecuali Iran mau bernegosiasi. Namun, sekali lagi, tidak ada serangan yang menyusul.

Lalu dunia, dan orang-orang Iran, mempelajari salah satu alasan utamanya: Pengungkapan bahwa stok amunisi krusial Amerika sangat rendah, dan bahwa ketua Kepala Staf Gabungan sendiri sedang mencari “jalan keluar,” mengirimkan sinyal yang jelas tentang arah strategi Amerika ke depan. Serangan besar-besaran terhadap Iran akan mengancam kepentingan Amerika di tempat lain dengan melemahkan Amerika Serikat jika terjadi pergerakan China di Taiwan atau serangan Rusia terhadap negara anggota NATO.

Kekurangan rudal juga akan meningkatkan bahaya yang terlibat dalam serangan besar-besaran terhadap infrastruktur Iran. AS akan dipaksa untuk mengirim lebih banyak pesawat berawak dalam jangkauan pertahanan udara Iran, dan AS akan memiliki relatif sedikit pencegat (interceptor) yang tersedia untuk melindungi Negara-negara Teluk dan pangkalan regionalnya sendiri. Risiko jatuhnya korban jiwa dari pihak Amerika akan tinggi, begitu pula bahaya bagi infrastruktur energi di kawasan itu. Dan tidak ada yang akan menjamin bahwa serangan semacam itu akan lebih efektif daripada pengeboman selama lebih dari lima minggu di awal tahun ini.

Tindakan-tindakan Amerika telah memperjelas bahwa Washington lebih takut pada eskalasi daripada Iran—tidak hanya untuk sekarang, tetapi untuk masa depan. Ini memberikan batasan pada apa yang dapat dilakukan Amerika Serikat bahkan pada tingkat konflik yang rendah. Karena tindakan militer apa pun terhadap Iran berisiko melangkah ke tangga eskalasi yang tidak ingin dinaiki oleh AS, bahkan serangan balasan tampaknya tidak lagi menjadi bagian dari strategi Amerika.

Presiden dilaporkan telah memberi tahu para penasihatnya bahwa ia tidak ingin memerintahkan lebih banyak serangan. Pihak Iran telah menyerang beberapa kapal UEA bulan ini dan bahkan menembakkan rudal balistik ke negara itu, tetapi Amerika Serikat belum merespons sejak Juli—sebuah fakta yang tidak diragukan lagi dicatat oleh UEA dan negara tetangga Iran lainnya.

Mengingat keengganan Amerika yang nyata untuk berperang dalam kampanye besar lainnya, Iran punya alasan untuk bertanya-tanya apa yang bisa didapat dari kesepakatan yang tidak akan didapatkannya tanpa kesepakatan. Pejabat senior Iran kini menyerukan penarikan pasukan Amerika, pencabutan blokade laut Amerika dan semua sanksi, pencairan aset-aset Iran yang dibekukan, dan pembayaran pampasan perang.

Pandangan konvensional adalah bahwa para pemimpin Iran tahu bahwa tuntutan-tuntutan ini adalah “non-starter” (tuntutan yang tidak mungkin diterima) bagi Washington dan bahwa mereka oleh karena itu entah sedang menggosok hidung Trump dengan kekalahan, mencoba memancing kesepakatan yang lebih baik, atau terlalu memaksakan diri. Banyak pengamat masih berasumsi bahwa kontrol atas selat itu adalah alat tawar-menawar untuk memeras lebih banyak konsesi dari Amerika Serikat atau membuat Trump kembali ke MOU. Tetapi kita sudah jauh melewati semua itu. Seorang pemenang tidak harus kembali ke meja perundingan kecuali untuk menetapkan syarat-syarat penyerahan diri.

Iran kini telah menjabarkan syarat-syarat tersebut. Syarat-syarat itu mungkin tampak maksimalis dan berlebihan, tetapi Teheran pasti tidak percaya bahwa ia punya alasan untuk meminta lebih sedikit. Iran telah menjelaskan selama berbulan-bulan bahwa kontrol selat tidak dapat dinegosiasikan. Gagasan, yang terus digaungkan oleh pemerintahan Trump dan media, bahwa pihak Iran tidak dapat memutuskan sikap mereka dan bahwa mereka terus mengubah posisi mereka adalah omong kosong.

Baca Juga :  Menyelami Kedalaman Makna Hidup: Ulasan tentang Ajaran dan Filosofi Ki Ageng Suryomentaram

Sejak April lalu, Mojtaba menyatakan bahwa Iran akan menerapkan “kerangka hukum dan manajemen baru” di selat tersebut dan bahwa “orang asing yang datang dari jarak ribuan kilometer” tidak punya tempat di Teluk, “kecuali di dasar perairannya.” Pada hari peringatan kekalahan Portugal oleh Iran di selat itu pada tahun 1622, ia mendeklarasikan bahwa “dengan kehendak dan kekuatan Tuhan, masa depan cerah wilayah Teluk Persia akan menjadi masa depan tanpa Amerika.”

Gagasan bahwa, setelah selamat dari serangan militer dan sanksi, Iran kini akan menyerah pada sanksi saja, merupakan gagasan yang keliru. Mojtaba telah merombak kepemimpinan keamanan nasional Iran dan menempatkan para veteran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di posisi teratas.

Mantan Komandan IRGC Mohsen Rezaei kini mengepalai Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, dan para pejabat keamanan garis keras lainnya telah dipromosikan. Rezim yang muncul dari perang sedang direorganisasi oleh orang-orang yang percaya bahwa Iran selamat dari upaya Amerika-Israel untuk menghancurkannya dan bahwa perlawanan, bukan kompromi, yang menghasilkan kemenangan.

Namun ini bukan sekadar eforia kemenangan. Bagi Iran, kendali atas selat tersebut bukanlah suatu kemewahan ataupun alat tawar-menawar. Mengingat kemungkinan bahwa, di titik tertentu pada masa mendatang, Israel atau Amerika Serikat akan menyerang lagi, ada kesepakatan maupun tidak, selat tersebut memberikan penangkal yang terkuat dan paling pasti bagi Iran. Ini juga menjadi kunci untuk membuka belenggu-belenggu yang mengikat Iran oleh tatanan dunia yang didominasi AS selama beberapa dasawarsa, serta untuk menghapuskan sistem ekonomi kawasan dan global yang dirancang untuk menyingkirkan dan memiskinkannya.

Beberapa orang yang disebut kaum moderat dalam pemerintahan Iran mungkin saja menganggap selat itu sebagai alat tawar-menawar, namun mereka tidak memenangkan perdebatan, karena alasan-alasan yang tidak sulit dipahami. Juru bicara IRGC menyatakan sudut pandang rezim tersebut dengan lugas: “Bagi kami, Selat Hormuz bukan sekadar jalur perairan ekonomi, melainkan komponen kunci dari kekuatan geopolitik dan strategis kami.”

Iran telah membangun mekanisme-mekanisme kontrol ini selama berbulan-bulan serta menginstruksikan kepada pemilik kapal maupun negara-negara mengenai cara pengoperasian sistem tersebut. Mereka membentuk Otoritas Selat Teluk Persia dan mensyaratkan kepada perusahaan pelayaran untuk mendaftarkan perusahaannya, mendapatkan perizinan, mengikuti rute-rute yang ditentukan oleh Iran, serta membayar asuransi dan jaminan keamanan yang disediakan Iran.

Iran juga tidak sekadar menuntut hak untuk mengumpulkan uang. Ia juga mengeklaim hak untuk memutuskan siapa yang boleh lewat. Negara itu mengusulkan pelarangan terhadap kapal-kapal dari pemerintahan yang dianggap bermusuhan, seperti AS dan Israel, dan menuntut ganti rugi dari negara-negara yang berpartisipasi dalam serangan terhadapnya. Iran menetapkan prinsip bahwa perjalanan melintasi selat itu selanjutnya merupakan hak istimewa yang bisa diberikan, disyaratkan, ditangguhkan, maupun ditolak oleh Teheran. Negara-negara lain telah mulai menyetujui perjanjian baru ini. India, Pakistan, Irak, Turki, China, dan negara lainnya telah berupaya mencapai kesepakatan.

Kontrol Iran atas Selat Hormuz merupakan instrumen kekuatan yang lebih krusial dibandingkan dengan senjata nuklir. Suatu senjata nuklir mungkin bisa menangkal ancaman, tetapi kontrol atas selat itu memberikan pengaruh dan kekuasaan bagi Iran setiap harinya terhadap puluhan negara. Dengan adanya kontrol tersebut, Iran bisa mengganjar para sekutunya, menghukum musuh-musuhnya, menambah pendapatan negara, menuntut kelonggaran sanksi, dan membuat para pemerintah berpikir ulang untuk menentang kebijakan Iran. Mereka dapat melakukan hal ini semua tanpa melancarkan serangan secuil pun dan dengan menjaga keleluasaan untuk mengancam menggunakan kekerasan saat dibutuhkan.

Strategi-strategi sanksi yang berupaya mengisolasi Iran selama beberapa dekade didasarkan pada kerja sama global. Negara-negara yang mengandalkan jalur menuju selat tersebut—seperti Jepang dan Korea Selatan—harus memilih satu dari dua hal, akses atas suplai energi yang dapat diandalkan atau bergabung dengan sanksi dukungan Amerika. Apakah mereka akan memilih setia dengan Washington—Washington masa kini—alih-alih mengutamakan perputaran ekonomi mereka? Dalam tatanan baru yang tengah dibangun Iran, serangkaian sanksi global kemungkinan tidak dapat dipertahankan.

Iran diyakini bakal menjaga kontrolnya atas pasokan dan aliran energi setidaknya selama satu hingga dua tahun. Proyeksi-proyeksi paling ideal mengindikasikan bahwa pembentukan jalur evakuasi pipa ganda (alternative pipeline) dan rute pengiriman yang menghindari Selat Hormuz bakal membutuhkan waktu selama itu. Kendati demikian, entah apakah hal-hal ini akhirnya akan dapat terwujud. Sama seperti jalur lama, infrastruktur pipa ganda, pelabuhan, serta fasilitas energi baru akan rentan terhadap rudal dan misil serang Iran.

Akankah Iran diam saja manakala negara-negara tetangga merancang upaya melepaskan diri dari kekangannya? Negara-negara kecil yang terdesak untuk membangun dan memproteksi rute-rute tersebut pasti tidak akan mau memancing murka Iran, apalagi perisai pelindung yang ditawarkan oleh AS terbukti payah. Di samping itu, Iran telah bermanuver dan berusaha menjauhkan Irak dari rencana perluasan koridor pengiriman alternatif, yang mana salah satu siasatnya adalah menawarkan akses pengiriman yang aman bagi kapal-kapal kargo Irak menurut regulasi dan ketetapan Iran.

Baca Juga :  Pilih mana: shalat tapi berperilaku buruk atau tidak shalat tapi berperilaku baik?

Adaptasi di kawasan telah dimulai. Para penguasa Teluk yang pernah mengandalkan jaminan keamanan Amerika sekarang harus berdamai dengan kekuatan yang terbukti mampu mengalahkan pelindung mereka. Penolakan Arab Saudi terhadap Perjanjian Abraham yang didukung AS dan Israel untuk mendukung perjanjian strategis dengan Pakistan dan Turki mengisyaratkan bentuk masa depan. Perjanjian Abraham mewakili konsolidasi kekuatan dan pengaruh Israel di wilayah tersebut dan pembatasan Iran lebih lanjut.

Pakta Mekkah adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Baik Pakistan maupun Turki tidak menganggap Iran sebagai ancaman besar; Pakistan, seperti Iran, memiliki hubungan dekat dengan China; Israel menganggap Turki sebagai ancaman regional kedua setelah Iran. Alih-alih tatanan Amerika-Israel, ini akan menjadi keberpihakan yang tidak terlalu bermusuhan dengan Iran, kurang bersahabat dengan Israel, dan lebih independen dari Amerika Serikat. Para penandatangan juga memiliki kesamaan senjata nuklir: Pakistan memilikinya, dan Turki dan Saudi menginginkannya.

Sementara itu, Iran akan bebas untuk melanjutkan program senjata nuklirnya tanpa takut akan serangan besar lainnya. Fakta ini dengan sendirinya akan mengubah keseimbangan regional. Tahun lalu, Israel dan Amerika Serikat membom fasilitas nuklir Iran selama 12 hari tanpa menghadapi pembalasan Iran yang serius.

Kini Iran telah berani menggunakan kontrolnya atas selat, dan ancaman terhadap negara-negara tetangga dan infrastruktur energinya, untuk mencegah serangan semacam itu di masa yang akan datang. Stok rudal dan pencegat Amerika akan memakan waktu lama untuk diisi kembali, dan mungkin akan sangat dibutuhkan di bagian lain dunia di tahun-tahun mendatang; Iran selama itu akan mempersenjatai kembali dengan bantuan Rusia dan China, yang berpotensi membuat posisi AS lebih buruk dalam setahun dari sekarang daripada saat ini.

Efeknya akan meluas jauh ke luar Timur Tengah. Sekutu Amerika di Asia dan Eropa dapat melihat bahwa perang yang relatif singkat melawan kekuatan tingkat kedua telah menghabiskan sebagian besar pasokan senjata Amerika yang dibutuhkan untuk pertahanan rudal. Mereka dapat melihat bahwa Amerika Serikat memulai perang yang tidak dapat diselesaikannya, memaparkan para mitranya pada pembalasan, dan kemudian berhenti ketika biayanya menjadi terlalu besar.

Kesimpulan Beijing tentang Taiwan, dan kesimpulan Moskow tentang Eropa, mungkin mustahil untuk diketahui. Tetapi sekutu-sekutu Amerika niscaya akan bertanya apakah Washington memiliki senjata, stamina, dan kemauan politik untuk mempertahankan konflik besar lainnya. Kenyataannya, mereka sudah melakukannya.

Bahwa rezim Iran bisa jatuh, tentu saja mungkin. Rezim ini korup, represif, tidak kompeten secara ekonomi, dan secara luas dibenci oleh rakyatnya. Tetapi ia memiliki semua kelemahan ini sebelum perang. Apa yang tidak dimilikinya adalah kendali atas titik sumbat energi terpenting di dunia, prospek pendapatan dan pengaruh yang terus tumbuh, kemampuan yang telah terbukti untuk menangkal Amerika Serikat, dan gengsi kemenangan yang tidak mungkin.

Rezim yang selamat dari apa yang diyakini oleh sebagian besar dunia akan menghancurkannya, dan kemudian memaksa negara dominan dunia untuk mundur, kemungkinan besar akan muncul dengan kekuatan yang lebih besar, setidaknya untuk sementara waktu. Keberhasilan seperti itu cenderung menumbuhkan rasa percaya diri, dan mungkin terlalu percaya diri. Tetapi hal itu tidak mungkin membuat para pemimpin Iran kurang ambisius atau kurang berkomitmen pada keyakinan yang mengantar mereka melewati kemenangan ajaib ini.

Baru-baru ini, pejabat senior Iran mulai berbicara secara terbuka tentang mengadopsi postur “ofensif penuh”, dan muncul laporan tentang rencana Iran untuk memperluas sasarannya agar mencakup negara-negara Eropa yang menampung pangkalan Amerika. Melihat berita di The New York Times bertanya, “Siapa yang akan berkedip lebih dulu?” sungguh menggelikan, mengingat orang Iran hingga saat ini belum pernah sekalipun berkedip, sementara administrasi Trump tidak melakukan apa-apa selain berkedip.

Iran bahkan mungkin mulai berperang lagi untuk memaksa AS mencabut blokade angkatan lautnya. Mengingat ketakutan pemerintahan Amerika akan eskalasi yang telah terbukti, harapan itu tidak masuk akal. Dunia telah menghabiskan beberapa dekade mengkhawatirkan apa yang mungkin dilakukan Iran jika memperoleh senjata nuklir.

Dunia seharusnya kini khawatir tentang sesuatu yang bahkan lebih berpengaruh: Iran yang telah mengalahkan Amerika Serikat, tidak lagi takut pada serangan Amerika, dan mengontrol akses ke Teluk Persia. Senjata nuklir semata tidak akan pernah bisa memberi Iran kekuatan seperti ini. Perang gagal AS dan Israel dengan Iranlah yang telah melakukannya.

Share Page

Close