QURANIKA.COM–Sering kali ateisme dan agnostisisme dianggap sebagai dua hal yang sama, padahal secara filosofis keduanya berurusan dengan dua wilayah yang sama sekali berbeda: percaya (belief) dan tahu (knowledge).
Secara sederhana, ateisme menjawab pertanyaan “Apakah Anda percaya Tuhan itu ada?”, sedangkan agnostisisme menjawab pertanyaan “Apakah Anda tahu secara pasti bahwa Tuhan itu ada?”.
Berikut adalah aspek-aspek utama perbedaan antara keduanya:
1. Titik Fokus: Percaya vs Tahu
- Ateisme: Berfokus pada ranah kepercayaan (keyakinan). Seorang ateis adalah seseorang yang tidak memiliki kepercayaan terhadap keberadaan dewa atau Tuhan. Sebagian ateis juga secara aktif meyakini bahwa Tuhan itu memang tidak ada.
- Agnostisisme: Berfokus pada ranah pengetahuan (epistemologi). Seorang agnostik berpandangan bahwa kebenaran mengenai keberadaan Tuhan atau hal-hal supranatural adalah sesuatu yang tidak diketahui atau bahkan tidak mungkin dapat diketahui oleh akal budi manusia.
- Pendirian terhadap Bukti
- Ateisme: Menolak klaim kaum teis (orang yang percaya Tuhan) karena dianggap tidak memiliki dasar yang kuat. Bagi ateis, ketiadaan bukti yang meyakinkan sudah cukup untuk tidak memercayai eksistensi Tuhan.
- Agnostisisme: Mengambil sikap menunda kesimpulan (suspension of judgment). Bagi agnostik, karena bukti empiris atau logis yang ada saat ini tidak cukup untuk membuktikan Tuhan itu ada, dan juga tidak cukup untuk membuktikan Tuhan itu tidak ada, maka sikap yang paling rasional adalah mengakui ketidaktahuan.
- Sifat Dogmatis
- Ateisme: Bisa bersifat asertif. Beberapa ateis (sering disebut gnostic atheist atau ateis kuat) mengklaim dengan pasti bahwa tidak ada Tuhan di alam semesta ini.
- Agnostisisme: Pada dasarnya anti-dogmatis. Agnostisisme menolak kepastian mutlak, baik kepastian dari kelompok agama (yang mengklaim Tuhan pasti ada) maupun dari kelompok ateis kuat (yang mengklaim Tuhan pasti tidak ada).
Tabel Perbandingan Singkat
| Aspek | Ateisme | Agnostisisme |
| Domain | Kepercayaan / Keyakinan | Pengetahuan / Pembuktian |
| Pertanyaan Inti | “Apakah Anda percaya Tuhan ada?” | “Apakah keberadaan Tuhan bisa diketahui?” |
| Jawaban Singkat | “Tidak, saya tidak percaya.” | “Saya tidak tahu.” / “Tidak ada yang bisa tahu.” |
| Posisi Kognitif | Penolakan terhadap klaim teisme. | Pengakuan atas batasan akal dan bukti. |
4. Spektrum Kombinasi
Karena keduanya membahas aspek yang berbeda (kepercayaan dan pengetahuan), ateisme dan agnostisisme bukanlah hal yang saling eksklusif (harus pilih salah satu). Keduanya sering bersinggungan dan membentuk kombinasi berikut:
- Agnostik Ateis: Tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, tetapi juga tidak mengklaim tahu secara pasti bahwa Tuhan itu tidak ada. (Ini adalah posisi mayoritas kaum ateis modern).
- Gnostik Ateis: Tidak percaya Tuhan itu ada, dan mengklaim tahu secara mutlak bahwa Tuhan itu memang tidak ada.
- Agnostik Teis: Percaya bahwa Tuhan itu ada, tetapi mengakui bahwa keberadaan Tuhan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah atau diketahui secara pasti melalui akal manusia (murni mengandalkan iman).
- Gnostik Teis: Percaya bahwa Tuhan itu ada, dan mengklaim tahu secara mutlak bahwa Tuhan itu ada, baik melalui bukti, wahyu, atau pengalaman spiritual pribadi.
Referensi
1. Stanford Encyclopedia of Philosophy (SEP) – Entri “Atheism and Agnosticism”, ed. Paul Draper, 2017. Ensiklopedia (SEP) ini adalah salah satu sumber referensi filsafat daring paling otoritatif di dunia akademis yang dikelola oleh Stanford University. Dalam entrinya, Draper membedah secara rinci bagaimana ateisme merupakan proposisi ontologis (mengenai ada atau tidaknya sesuatu/Tuhan), sedangkan agnostisisme yang dirumuskan oleh T.H. Huxley berakar pada prinsip epistemologis (mengenai batas-batas apa yang bisa dan tidak bisa diketahui secara rasional oleh pikiran manusia).
2. The Cambridge Companion to Atheism, Michael Martin, Cambridge University Press, 2006. Buku ini merupakan kompilasi esai dari berbagai cendekiawan terkemuka mengenai ateisme. Pada bab-bab awal, Martin memberikan landasan definisional yang tegas untuk membedakan antara “ateisme negatif” (sekadar tidak memiliki kepercayaan pada Tuhan) dan “ateisme positif” (menolak keberadaan Tuhan). Buku ini juga menguraikan mengapa menjadi seorang agnostik (secara pengetahuan) sangat kompatibel dengan menjadi seorang ateis negatif (secara kepercayaan).
3. Agnosticism and Christianity (dan esai-esai terkait dalam Collected Essays, Volume V). Thomas Henry Huxley, 1889. Huxley adalah seorang ahli biologi Inggris yang pertama kali menciptakan istilah “agnostik” pada tahun 1869. Membaca esai aslinya adalah cara terbaik untuk memahami akar agnostisisme. Huxley dengan jelas menyatakan bahwa agnostisisme bukanlah sebuah “kredo” (seperti agama atau ateisme dogmatis), melainkan sebuah “metode”. Metodenya adalah: jangan mengklaim bahwa kesimpulan-kesimpulan yang belum atau tidak dapat dibuktikan sebagai hal yang pasti (termasuk klaim tentang alam supranatural). Referensi ini memvalidasi poin bahwa agnostisisme murni berurusan dengan penundaan klaim pengetahuan.