Peningkatan jumlah masjid dan pusat kajian Islam di Inggris tidak boleh dianggap semata-mata sebagai penambahan jumlah bangunan keagamaan. Tren ini merupakan indikasi bahwa Islam di negara tersebut telah berubah dari fenomena yang sebagian besar berporos pada migran menjadi komponen demografis dan sosial yang berkelanjutan.
Menurut laporan “Rahbord Moaser”, dalam beberapa tahun terakhir berdasarkan statistik dan penelitian dari berbagai lembaga riset dunia, proposisi ini telah berulang kali ditekankan bahwa kecepatan pertumbuhan dan perkembangan pengaruh Islam serta masyarakat Islam di dunia sangatlah tinggi, dan tepat karena alasan inilah banyak kalangan intelijen serta politik di Barat menyatakan kekhawatiran mereka. Tentu saja, kita juga menyaksikan peningkatan Islamofobia di negara-negara Barat, sebuah isu yang bahkan telah merambah ke kebijakan resmi pemerintah-pemerintah Barat, di mana kita telah melihat dan terus melihat banyak pemerintah bergerak di jalur penerapan pembatasan serta tekanan terhadap umat Islam.
Oleh karena itu, baru-baru ini kita menyaksikan publikasi statistik yang patut direnungkan, yang juga disertai dengan berbagai tanggapan. Kisahnya bermula ketika lembaga bernama “Muslim di Inggris” mengungkapkan dalam sebuah laporan bahwa jumlah masjid di Inggris telah mencapai angka yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu 1.745 buah. Menariknya, laporan tersebut menegaskan bahwa angka ini hanya mencakup pusat-pusat resmi; jika pusat-pusat yang lebih informal turut diperhitungkan, maka harus diakui bahwa ada lebih dari 2.000 pusat Islam dan masjid yang aktif di Inggris. Angka ini menjadi penting karena pada tahun 1950, hanya ada lima pusat Islam dan masjid secara resmi di seluruh wilayah Inggris.
Peningkatan yang signifikan pada masjid dan pusat Islam di Inggris ini pada intinya disertai oleh empat poin penting dan strategis:
Pertama, peningkatan jumlah masjid dan pusat Islam di Inggris tidak boleh sekadar dianggap sebagai peningkatan jumlah bangunan keagamaan di negara ini. Tren ini, sebelum hal lainnya, merupakan indikasi kuat bahwa Islam di negara tersebut telah bertransformasi dari fenomena yang sebagian besar berbasis migran menjadi komponen demografis dan sosial yang berkelanjutan.
Laporan “Muslim Inggris dalam Angka dan Statistik” yang diterbitkan oleh Dewan Muslim Inggris pada tahun kalender ini mengumumkan populasi Muslim di negara tersebut sekitar 4 juta jiwa, yang setara dengan 6 persen dari total populasi negara. Dari jumlah tersebut, sekitar 3,8 juta jiwa tinggal di Inggris. Oleh karena itu, pertumbuhan masjid harus dipandang sebagai bagian dari proses yang lebih besar, yaitu pemantapan kehadiran Islam dalam struktur demografis Inggris.
Generasi pertama migran ke Inggris memerlukan masjid untuk menjaga identitas keagamaan mereka. Namun, generasi kedua, ketiga, dan keempat Muslim Inggris kini telah lahir serta mengenyam pendidikan di negara yang sama, sehingga bagi mereka masjid tidak lagi sekadar tempat untuk melestarikan tradisi migrasi, melainkan salah satu lembaga identitas sosial mereka. Dari sudut pandang ini, pencapaian jaringan masjid yang mendekati angka 2.000 pusat menunjukkan bahwa Islam di Inggris tidak berada di pinggiran, melainkan sedang membangun infrastruktur sosialnya sendiri.
Kedua, kekuatan nyata dari transformasi ini tidak terletak hanya pada jumlah masjidnya, melainkan pada fungsi-fungsi yang telah diemban oleh pusat-pusat tersebut. Penelitian tahun 2025 mengenai masjid-masjid di Inggris menunjukkan bahwa nilai aset masjid-masjid di negara ini diperkirakan mencapai sekitar 1,5 miliar poundsterling, dan sebagian besar dari mereka beroperasi dalam bentuk badan amal. Ini berarti masjid dalam komunitas Muslim Inggris bukan hanya tempat untuk mendirikan salat berjemaah, tetapi juga dapat menjadi sekolah, pusat pendidikan anak-anak, lokasi kegiatan amal, pusat konseling keluarga, tempat berkumpulnya para pemuda, serta simpul penghubung antarberbagai generasi.
Dari sudut pandang yang sama, pertumbuhan masjid dapat dianggap sebagai tanda peningkatan modal sosial umat Islam. Sebuah komunitas yang memiliki masjid, sekolah, asosiasi amal, organisasi sipil, dan jaringan komunikasinya sendiri, memiliki kapasitas yang lebih besar untuk hadir secara efektif di tengah masyarakat. Bahkan penelitian akademis mengenai Muslim Inggris telah menunjukkan bahwa kehadiran di masjid dapat disertai dengan partisipasi sipil dan politik yang lebih besar. Poin ini sangat penting bagi masa depan Islam di Inggris. Masjid dapat bertransformasi dari lembaga ibadah menjadi landasan pacu partisipasi sosial.
Ketiga, salah satu dampak terpenting dari peningkatan pusat-pusat Islam adalah adanya kemungkinan transmisi budaya Islam kepada generasi baru. Jika para migran generasi pertama lebih disibukkan dengan kekhawatiran menjaga iman dan tradisi mereka, generasi-generasi berikutnya menghadapi pertanyaan yang jauh lebih rumit: bagaimana bisa menjadi seorang Muslim sekaligus memiliki kehadiran yang aktif di dalam masyarakat Inggris? Di sinilah masjid-masjid menemukan peran yang menentukan. Pengajaran Al-Qur’an, bahasa, ritual keagamaan, program pemuda, kegiatan sosial, dan upacara keagamaan memberikan kesempatan kepada komunitas Muslim untuk mereproduksi identitas Islam mereka di lingkungan yang sepenuhnya bernuansa Barat.
Bahkan program-program seperti “Visit My Mosque” (Kunjungi Masjid Saya) oleh Dewan Muslim Inggris yang diselenggarakan pada tahun 2025 Masehi dengan partisipasi lebih dari 250 masjid menunjukkan bahwa sebagian dari komunitas Muslim berupaya mengubah masjid menjadi ruang untuk berdialog dengan seluruh lapisan masyarakat. Dari perspektif ini, pertumbuhan masjid tidak serta-merta bermakna menjauhnya umat Islam dari masyarakat Inggris, melainkan sebaliknya, dapat bermakna tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi bagi komunitas religius untuk hadir di ruang publik.
Keempat, jika kita mensejajarkan tren demografis, pertumbuhan jaringan masjid, dan peningkatan pengorganisasian komunitas Muslim secara bersama-sama, dapat dikatakan bahwa isu masa depan tidak lagi sekadar tentang berapa banyak Muslim yang tinggal di Inggris. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah seberapa besar kekuatan sosial, budaya, dan sipil yang akan diperoleh oleh populasi ini.
Sekitar 4 juta Muslim, jaringan yang mendekati 2.000 masjid, organisasi amal, sekolah, asosiasi sipil, dan kehadiran yang luas di kota-kota seperti London, Birmingham, Manchester, serta Bradford, telah membentuk sekumpulan institusi yang mampu memengaruhi ruang publik Inggris dalam jangka panjang. Laporan Dewan Muslim Inggris juga menunjukkan bahwa populasi Muslim terkonsentrasi di kota-kota besar. London sendiri memiliki sekitar 1,3 juta Muslim.
Oleh karena itu, angka hampir 2.000 masjid ini harus dianggap sebagai indikator kematangan kelembagaan komunitas Muslim Inggris. Islam di negara ini bukan lagi sekadar agama milik sekelompok migran, melainkan sebuah agama dengan populasi jutaan jiwa, generasi pribumi, jaringan ekonomi dan amal, infrastruktur pendidikan, serta kehadiran sosial yang luas.
Islam sedang memantapkan posisinya di Inggris. Dari sudut pandang ini, fenomena pertumbuhan masjid di Inggris bukanlah kisah tentang penambahan beberapa bangunan keagamaan, melainkan pembentukan komunitas Muslim yang mengakar, terorganisasi, memiliki kepercayaan diri, dan dikaruniai kapasitas yang terus berkembang untuk memberikan pengaruh secara budaya serta sosial. Sebuah tren yang kemungkinan besar signifikansinya bagi struktur sosial dan politik Inggris akan semakin besar di dekade-dekade mendatang.
Pengaruh Operasi “Badai Aqsa” Hamas dan “Perang Ramadhan” Iran
Pengaruh eskalasi konflik geopolitik Timur Tengah—khususnya operasi “Badai Aqsa” Hamas Palestina dan genosida Israel di Gaza (2023–2025) serta perang Ramadhan yang terjadi akibat seranganAS-Israel terhadap Iran pada Februari 2026 hingga kini—memberikan dampak yang signifikan, kompleks, dan multidimensional terhadap dinamika sosial, psikologis, serta politik komunitas Muslim di Inggris.
Berdasarkan berbagai data riset sosial, laporan kejahatan kebencian, dan kajian geopolitik (seperti data dari lembaga pemantau Tell MAMA serta riset kebijakan Policy Exchange), pengaruh utama dari rangkaian konflik tersebut dapat dijabarkan ke dalam beberapa poin berikut:
- Lonjakan Islamofobia dan Ancaman Keamanan Domestik
- Peningkatan Kejahatan Kebencian (Hate Crimes): opewrasi “Badai Aqsa” Hamas (2023–2025) bertindak sebagai katalisator yang memicu gelombang permusuhan terhadap komunitas Muslim di Inggris. Data menunjukkan lonjakan insiden Islamofobia dan pelecehan (baik daring maupun luring) yang belum pernah terjadi sebelumnya.
- Kerentanan Ruang Publik: Individu yang terlihat secara visual mengidentifikasikan diri sebagai Muslim (terutama perempuan) serta komunitas berlatar belakang Timur Tengah kerap menjadi sasaran pelecehan verbal maupun ancaman diskriminatif di ruang publik. Situasi ini turut memicu kekhawatiran jangka panjang mengenai keselamatan fisik, kohesi sosial, dan rasa kepemilikan (sense of belonging) kaum Muslimin di Inggris.
- Penguatan Solidaritas Global dan Konsep Ummah
- Tingkat Keterlibatan yang Tinggi: Isu-isu konflik di Timur Tengah tidak dipandang sekadar sebagai berita luar negeri biasa oleh umat Islam di Inggris. Muslim Inggris tercatat memiliki tingkat perhatian dan keterlibatan yang sangat tinggi (mencapai lebih dari 80%) dalam memantau perkembangan konflik, seperti perang AS-Israel dan Iran pada tahun 2026.
- Ikatan Transnasional: Hal ini memperkuat ikatan psikologis dan spiritual terhadap konsep Ummah (solidaritas persaudaraan Islam global) yang melintasi batas-batas geografis dan kebangsaan. Pengecaman terhadap agresi militer luar dianggap sebagai bentuk pembelaan moral terhadap sesama komunitas Muslim di wilayah konflik.
- Divergensi Pandangan Politik Luar Negeri (Perbedaan Perspektif dengan Publik Secara Luas)
- Jurang Perbedaan Sikap Geopolitik: Berdasarkan laporan riset opini publik (seperti studi Policy Exchange bertajuk Worlds Apart pada Maret 2026), terdapat perbedaan pandangan yang sangat tajam antara Muslim Inggris dan masyarakat umum Inggris terhadap serangan AS-Israel atas Iran dan kekalahan Washington-Tel Aviv dari Teheran.
- Sikap Kritis terhadap Kebijakan Barat: Sebagian besar Muslim Inggris memandang serangan AS-Israel terhadap Iran sebagai tindakan yang keliru secara prinsip, serta menunjukkan tingkat skeptisisme yang tinggi terhadap kebijakan luar negeri aliansi Barat (AS-Israel). Sebaliknya, proporsi pandangan yang simpatik atau netral terhadap negara-negara non-Barat seperti: Rusia dan China, terutama terhadap Republik Islam Iran, cenderung lebih tinggi di kalangan Muslim Inggris dibandingkan rata-rata populasi umum Inggris.
- Dorongan Aktivisme Sipil dan Politik Domestik
- Mobilisasi Aksi dan Protes: Konflik-konflik tersebut memicu gelombang unjuk rasa pro-Palestina terbesar dalam sejarah modern Inggris di kota-kota besar seperti London. Komunitas Muslim bersama kelompok masyarakat sipil lainnya semakin aktif menyuarakan desakan perubahan kebijakan luar negeri pemerintah Inggris.
- Keterlibatan Politik yang Bertransformasi: Tekanan dari isu-isu geopolitik ini turut mendorong kesadaran politik domestik di kalangan generasi muda Muslim Inggris untuk lebih vokal dalam menyuarakan keadilan sosial, hak asasi manusia, serta partisipasi dalam diskursus politik lokal dan nasional.