• LAINYA

Asas Penerjemahan

Akumulasi dari dampak yang diharapkan positif dan tantangan teknis serta pola-pola penanganannya dirangkum sebagai pijakan sepanjang proses penerjemahan dan penyuntingan, yaitu:

  1. Harfiah, yakni penerjemahan dilakukan secara tidak bebas, tetapi harfiah dan literal sebagaimana diatur oleh tehnik definisi kata dalam Logika. Jika tidak ditemukan kata sebanding, barulah makna kata dipertimbangkan lalu memilih makna implikatif (lāzim) yang paling dekat, seperti kata badīhiy dipadankan, melalui teknik deskripsi kata atau definisi implikatif (al-ta‘rīf bi al-lāzim), dengan swanyata, haqīqiy dengan pasti-benar, Al-Haqq (Tuhan) dengan Swaada. Harfiah juga menunjukkan nilai etimologis dan akurasi istilah asli, misalnya padanan fitri untuk istilah innate knowledge pada filsafat Kant, arketip aklani untuk mutsul ‘aqliyyah pada filsafat Platon. Bahkan nama-nama aliran filsafat Islam dipadankan juga secara harfiah, mulai dari Kebijaksanaan Utama untuk al-hikmat al-muta‘āliyah pada filsafat Mulla Sadra. Juga pencerahan lebih diprioritaskan untuk sebagai padanan isyrāq dalam filsafat Suhrawardi daripada iluminasionisme yang asalnya merupakan istilah Barat dalam doktrin Santa Agustinus sebagai lawan dari Abstraksionisme dalam topik Universalia.
  2. Keindonesiaan, memaksimalkan potensi lokal (kosakata, modus-modus derivatif dan inflektif pembentukan kata) Bahasa Indonesia dengan standar KBBI. Karena itu, dalam KB ini amat langka dijumpai kata serapan dari Arab atau Persia. Bahkan, kata serapan dari bahasa Inggris pun, sejauh itu berupa padanan Inggris dari istilah asli filsafat Islam berbahasa Arab atau Persia, sedapat mungkin dihindari dan diupayakan padanannya dalam Bahasa Indonesia sekalipun, pada mulanya, terkesan aneh. Ini dapat diamati, misalnya, dalam pemadanan empat sebab juga nama-nama mazhab filsafat Islam.
  3. Konsistensi dalam pemilihan dan penggunaan istilah serta redaksi.
  4. Keseragaman untuk menyederhanakan penggunaan istilah-istilah yang sinonim.
  5. Kritik dalam memilah makna-makna dari satu kata, seperti kata ashālah dalam pembahasan Epistemologi dan Ontologi diperlakukan secara beda menjadi dua: prinsipalitas dan kesejatian. Asas kritik ini tampak juga sebagai pelengkap dalam penerapan asas keseragaman.

Tehnik Operasional

Berikut ini tahapan-tahapan teknis penerapan asas-asas terjemahan:

  1. Definisi kata: mengganti kata dengan kata literal seperti: ashālah dengan prinsipalitas dan autentisitas, hudhūriy dengan kehadiran, hushūliy dengan kehasilan, nafs al-amr dengan perihalnya-itu-sendiri, hāyūlā/hyle dengan bahan/bakal, mā bi izā’i ‘ayniy dengan sesuatu objektif di-baliknya (referen), ālim/mudrik dengan penahu, ma‘lūm dengan tahuan, ma‘qūl dengan objek-akal, haliyyah basīthah dengan keapakahan sederhana (proposisi eksistensial).
  2. Deskripsi kata (syarh al-ism, ta’rīf ismiy): mengganti kata dengan kata berdasarkan makna implikatifnya seperti: ashālah dengan kesejatian, badīhiy dengan swanyata, nadzariy dengan spekulatif, haliyyah dengan keadakahan, ‘illah ghā’iyyah dengan sebab punca.
  3. Penyerapan: entah secara langsung (dari bahasa asli) atau tidak langsung (melalui bahasa lain seperti bahasa Inggris).
Baca Juga :  Ada Quran Village di Jombang Serba Inggris, Intip apa saja Aktivitasnya

 Ciri Khas Terjemahan

Dengan mempertimbangkan berbagai aspek di atas serta penerapan pola dan teknik penerjemahan, ada beberapa ciri khas dari hasil terjemahan buku ini:

  • Harfiah, tidak bebas.
  • Teknis dan terminologis.
  • Kreatif dan baru hingga berkesan asing, aneh dan ganjil.
  • Rumit sehingga perlu guru dan atau pembiasaan serta pengulangan. Tingkat kerumitan terjemahan KF ini dapat diukur melalui perbandingan dengan buku sejenis di bidangnya.
  • Konsisten dalam pemadanan istilah dan penerjemahan frasa serta
  • Leksikologis, yakni KF ini menjadi kamus bagi dirinya sendiri. Melalui penerapan asas konsistensi dan penyeragaman istilah serta redaksi, pembaca bisa memperoleh tambahan keterangan di halaman lain juga di ringkasan daras. Sebagian catatan kaki, glosari dan indeks di akhir buku akan membantu dalam mengidentifikasi halaman lain itu.

Contoh-contoh Kasuistik

Salah satu tantangan besar sepanjang penerjemahan dan penyeliaan buku justru ditemui pada istilah paling fundamental dan paling poros dalam filsafat Islam. Asas harfiah, seragam dan konsistensi tidak henti-hentinya diuji sejak awal hingga akhir penerjemahan buku. Itulah istilah wujūd dan mawjūd. Pengalaman ini sudah lebih dulu dijalani Dr. Driyarkara dan dicurahkan di pengantar karyanya, Pengantar Filsafat, dalam merasionalisasi prioritas diksi ‘pengada’ sebagai padanan tepat untuk istilah Inggris existence.

Ada dan Adaan

Bagaimana memilih padanan yang tepat untuk wujūd dan mawjūd? Dalam filsafat Islam, banyak kata terkait wujūd yang digunakan seperti: wujida-yūjadu, tahaqqaqa-yatahaqqaqu-tahaqquq-mutahaqqiq, hashala-yahshulu-hushūl-hāshil, tsabata-yatsbutu-tsubūt-tsābit.

Dalam buku ini, pertama-tama wujūd dipadankan dengan Ada dan mawjūd dengan adaan. Kata ada sebagai subjek utama Filsafat diganti dengan Ada, untuk memastikan perbedaannya dari ada sebagai kata kerja. Istilah Ada sepadan maknanya dengan realitas, keberadaan, kenyataan, eksistensi. Tidak sedikit literatur Barat yang juga mencetak Being dengan huruf B besar di awal sebagai subjek utama Ontologi, agar berbeda dari being dengan huruf b kecil yang berarti entitas (lih. Richardson, S.J. (1974), Heidegger through Phenomenology to Thought, The Hague, p.x). Sementara adaan sinonim dengan entitas dan sesuatu.

Namun di banyak tempat dan biasanya di awal-awal daras, Ada disambungkan oleh garis miring dengan keberadaan atau realitas sebagai penjelas misalnya: Ada/keberadaan, keberadaan/Ada, Ada/ realitas, realitas/Ada, untuk memastikan kedua kata ini digunakan dengan satu makna yang sama.

Kata Ada (dicetak dengan A besar) dan kata ada (dicetak dengan a kecil) menjadi beda makna dan penggunaannnya. Sebagai contoh, “ada suatu adaan objektif di-luar” yakni terdapat suatu entitas objektif di-luar. Bandingkan dengan “Ada suatu adaan adalah swanyata”, yakni keberadaan atau realitas suatu entitas adalah swanyata. Ada di contoh kedua dengan huruf A besar di awal adalah kata benda, sementara ada di contoh pertama dengan huruf a kecil di awal berupa kata kerja.

Baca Juga :  Profil Pemimpin Ideal dalam Tasawuf Politik Platon dan Khomeini (3): Ulama sama dengan Nabi

Keuntungan lain dari padanan Ada ialah pembedaannya dari keadaan. Bila dicetak ke-Ada-an, ini agar tidak diartikan sama dengan keadaan atau situasi. Kata ke-Ada-an digunakan sebagai sifat bagi kata sebelumnya. Misalnya, “aspek ke-Ada-an” yaitu aspek yang berkaitan dengan Ada.

Diksi Ada dan adaan semakin memfasilitasi tugas penyuntingan secara khusus dalam menerjemahkan uraian subjudul Wujūd wa Mawjūd (Daras 22), juga dalam penelitian kritis atas epistemologi Kant dan idealisme Berkeley. Meski begitu, keganjilan dan kejanggalan tampak dalam daras-daras pembuktian Ada Tuhan sebagai Yang-Niscaya-Ada. Di sana, di awal-awal, Ada kerap digarismiringkan dengan keberadaan.

Esensi dan Kuiditas

Māhiyyah dipadankan dengan kuiditas, bukan dengan esensi. Dalam terjemahan, diupayakan penggunaan esensi sebagai padanan istilah Arab dzāt secara konsisten. Memang, dalam istilah filsafat Islam, dzāt juga bisa berarti māhiyyah (kuiditas), tetapi juga istilah ini lazim digunakan sebagai sinonim māhiyyah dalam pengertian umum, yakni realitas, eksistensi, kenyataan, hakikat, yakni dalam pengertian yang sama dengan Ada (wujūd). Dalam pengertian ini pula istilah dzāt digunakan sebagai deskripsi Tuhan yang Nis-kuiditas: Esensi Suci Tuhan (dzāt aqdas ilāhī), juga dalam konstruksi frasa seperti: individu esensial kuiditas dan referen esensial Ada.

Kesejatian dan Tinjauan

Dua kata ini adalah padanan, secara berurutan, untuk ashālah dan i‘tibāriyyah dalam kaitannya dengan Ada dan kuiditas. Sejauh ini, istilah ashālah dipadankan dengan: prinsipalitas, fundamentalitas, kemendasaran, kepuncaan. Prinsipalitas tidak dipilih di sini karena sudah digunakan dalam kaitannya dengan epistemologi akal dan indra.

Jika menggunakan tehnik definisi kata, padanan ashālah adalah prinsipalitas, autentisitas dan keaslian. Sementara jika menggunakan tehnik deskripsi kata saja, padanan ashālah adalah kesejatian, kehakikian, prioritas, keutamaan, keasasian. Namun merujuk KBBI, sejati sebagai kata asli Indonesia sama arti aslinya dengan jati yang berarti: murni, asli, inti, tulen, sebenarnya. Asli dan tulen juga dijadikan padanan untuk autentisitas. Karena sepadan dengan asli, tulen, sebenarnya, dan autentik inilah maka kata sejati diprioritaskan sebagai hasil dari tehnik definisi kata. Padanan sejati dan kesejatian juga sesuai dengan deskripsi kata yang pertama kali diajukan Mulla Sadra yang juga dikutip penulis di Daras 26.

Baca Juga :  Realitas Manusia dalam Kebijaksanaan Luhur (4): Kesatuan Struktur Manusia

Perlu juga dicatat bahwa sejati juga digunakan bukan sebagai istilah teknis, tetapi sebagai kata leksikal dengan makna yang sama, yakni hakiki, sebenarnya, dan yang-sesungguhnya.

Hakikat dan Realitas

Penulis mempertahankan tradisi penggunaan istilah haqīqah dan haqīqiy. Ia mengurai makna-makna teknis hakikat di Daras 26. Dalam banyak pembahasan, ia menggunakan istilah hakikat dalam makna yang sama dengan realitas. Dalam keadaan seperti ini, berdasarkan asas keseragaman, istilah hakikat dipadankan dengan realitas. Ini juga yang dipilih penulis dalam menafsirkan hakikat sepanjang topik Kesejatian Ada, kecuali di tempat-tempat dimana penulis sedang membandingkan dua istilah hakikat dan realitas.

Referen

Kata ini adalah padanan untuk istilah mishdāq. Sejauh ini belum ada yang menggunakan padanan ini dalam diskursus metafisika berbahasa Indonesia. Aslinya, referen merupakan istilah ilmu bahasa, yaitu objek yang diacu oleh kata. Penggunaan istilah ilmu bahasa (Arab) dalam filsafat Islam sudah dilakukan oleh filosof, misalnya istilah isytirāk lafzhiy dan isytirāk ma‘nawiy, haqiqah dan majāz, ma‘nā harfiy. Di sebagian literatur filsafat Barat juga digunakan referen (reference). Barangkali yang terdekat dengan referen adalah acuan.

Rasional dan Aklani

Dalam penerjemahan juga dilaksanakan pembentukan kata baru dengan modus yang yang boleh jadi masih sangat asing dalam bahasa Indonesia. Aklani diajukan di sini sebagai contoh kasuistik yang terkesan radikal. Seperti dalam penggunaan arketip-arketip aklani dan realitas-realitas aklani, yang pertama padanan untuk mutsul ‘aqlāni dan yang kedua untuk haqā’iq ‘aqliyyah. Kata aklani berstatus sebagai ajektif yang diderivasi dari kata ‘akal’. Pola pembentukan adjektif ini sudah dikenal dalam bahasa Indonesia, seperti pada kata-kata nurani, ruhani, jasmani, wahyuni, adlani. Tampaknya pola pembentukan ini berasal dari Arab dan Persia.

Penutup

Sengaja seluk beluk pengalaman menyunting terjemahan KF ini dikemukakan di pendahuluan agar juga diterima sebagai “surat undangan”, khususnya, oleh para pakar bahasa dan terjemah untuk selanjutnya memenuhi harapan kami beroleh masukan dan penyempurnaan atas segala hal yang melatarbelakangi terjemahan ini untuk selanjutnya menjadi acuan perbaikan KF.

Kepada segenap arahan, usulan, kontribusi dan alternatif berharga dari para pakar, terutama Dr. Khalid Al Walid, Dr. Hadi Kharisman, Dr. Cipta Bakti Gama, Dr. Muhammad Shadiq, Dr. Otong Sulaiman, Dr. Abdulaziz Abbacy, Ali Zainal Abidin, MA., Azam Bakhtiar, MA., Ali Uwais, kami haturkan rasa hormat dan terimakasih, terutama balasan ketulusan dari Allah Yang Mahakuasa.[AmmarFauziHeryadi)

Sumber: Misbah Yazdi, Muhammad Taqi, Kitab Filsafat, Sadra Press, Jakarta, 2021.

Share Page

Close