Filsafat–Bukan mungkin lagi dan tidak jarang konten ateistik, dengan retorika nyinyir, berargumen atas keyakinan ateis bahwa “jika tuhan itu ada, mintalah uang kepada Tuhan sekarang ini, ternyata dia tidak memberi, kan! Tapi coba kamu minta uang kepadaku, sekarang ini juga aku kasih, nih!”
Argumen dengan logika yang persis seperti itu memang nyata dan sering dikampanyekan, terutama ke kalangan usia dini dan remaja. Wujud barang yang diminta biasanya bervariasi sesuai konteks, terkadang berupa uang, roti, atau permen.
Secara akademis dan penelusuran historis, argumen ini sebenarnya tidak dirumuskan dan dituangkan dalam karya serius pemikir ateis, melainkan lebih sebagai retorika propaganda, eksperimen psikologis empiris, dan semacam diskursus modern yang menyerang efektivitas doa (Argument from the Inefficacy of Prayer).
Rekam Jejak Argumen
Setidaknya ada dua latar belakang kesejarahan kemunculan dan popularitas argumen ateistik ini.
1. Akar Historis: Modus Indoktrinasi Rezim Komunis-Marxis
Sejauh pelacakan asal-usul paling masif dari argumen ini, kita akan tiba di ruang-ruang kelas sekolah dasar di era rezim komunis ortodoks, seperti Uni Soviet di bawah Stalin. Argumen ini digunakan secara sistematis sebagai alat indoktrinasi materialisme untuk mencerabut akar agama dari anak-anak.
Kisah klasik yang sangat terkenal dan banyak didokumentasikan oleh para korban pengasingan dari negara-negara tersebut berbunyi seperti ini:
Seorang guru yang berafiliasi dengan partai komunis menyuruh murid-muridnya menutup mata dan menginstruksikan, “Anak-anak, berdoalah dan mintalah permen (atau roti) kepada Tuhan sekarang juga.” Ketika anak-anak membuka mata, meja mereka kosong.
Kemudian sang guru melanjutkan, “Sekarang tutup mata kalian lagi, dan mintalah permen kepada Kamerad Stalin.” Saat mata murid-murid tertutup, sang guru diam-diam membagikan permen di atas meja mereka. Begitu mata mereka dibuka, permen itu ada di hadapan mereka.
Pesan propagandisnya dirancang sangat pragmatis dan manipulatif: “Tuhan itu fiktif, karena Dia tidak bisa memberi apa yang kamu minta secara riil, sedangkan negara/pemimpin itu nyata, karena mereka bisa memberimu barang secara kontan dan instan.” Argumen ateis “Meminta Uang” di atas merupakan modifikasi langsung dari taktik indoktrinasi historis ini yang kini dibangkitkan lagi.
2. Versi Modern: The New Atheism dan Kritik Doa Permohonan
Di era kontemporer, logika ini sering didaur ulang oleh para penganut New Atheism (Ateisme Baru) di Barat untuk menyerang konsep petitionary prayer (doa permohonan). Mereka menggunakan empirisme kaku: jika Tuhan ada, doa harusnya memiliki efek yang bisa dirasakan dan diukur secara statistik.
Richard Dawkins, seorang biolog evolusioner dan pentolan ateis modern: dalam bukunya, The God Delusion, sering menyoroti betapa absurdnya manusia meminta hal-hal material kepada Tuhan, karena secara empiris dan statistik, hasilnya tidak ada bedanya dengan kebetulan probabilitas semata.
Seorang kritikus sosial dan komedian satir, George Carlin, juga mengandalkan argumen pragmatis ini hingga sangat populer di ranah pop-culture. Carlin pernah melontarkan kritik satir yang tajam di atas panggung: “Saya dulu sering berdoa kepada Tuhan untuk meminta sesuatu, lalu saya sadar itu tidak berhasil. Akhirnya saya berdoa kepada Joe Pesci (seorang aktor Hollywood), dan tebak apa yang terjadi? Hasilnya sama saja!”
Inti dari argumen mereka bertumpu pada formula yang sangat materialistis: Jika subjek X eksis dan Maha Kuasa, maka ketika kita meminta materi Y secara langsung, Y harus terwujud. Jika materi itu harus diberikan oleh perantara manusia, berarti manusia itulah ‘tuhan’ yang sesungguhnya, sementara entitas gaib yang dibayangkan itu tidak terbukti nyata.
Evaluasi atas Argumen, mengapa Cacat?
Argumen ateis “Minta Uang” ini kedengarannya pragmatis dan tajam, namun secara filosofis sangat reduksionis dan mengandung cacat konseptual yang mendasar. Argumen semacam ini dapat dibongkar asumsi-asumsi lemahnya.
1. Falasi “Ga Nyambung”
Meskipun argumen ini, pada mulanya, terdengar sangat menohok, namun secara filosofis sangat lemah karena terjebak dalam Strawman Fallacy (falasi Orang-orangan Sawah).
Dengan argumen ini, seorang ateis sebenarnya tidak sedang menyerang konsep ketuhanan sebagaimana yang dirumuskan oleh kaum teolog dan filsuf beriman. Mereka justru sedang menyerang karikatur Tuhan yang mereka ciptakan sendiri, yaitu Tuhan yang direduksi fungsinya menjadi sekadar “Mesin ATM Kosmik” atau “Jin Lampu Aladin” pembantu manusia.
2. Falasi Kategori
Argumen ateistik ini memperlakukan Tuhan seolah-olah Ia adalah entitas material yang tunduk pada hukum transaksi fisik langsung. Smentara dalam keyakinan orang beriman, Tuhan bukan entitas material yang terbatas; Dia adalah Keberadaan Yang Mutlak (Al-Haqq) yang tidak berada di tingkat ruang dan waktu yang sama dengan manusia. Mengharapkan agar Dia yang Maha Sempurna Mutlak menjatuhkan uang kertas dari langit adalah sebuah kesalahan kategori; sama absurdnya dengan menuntut hukum gravitasi untuk memasakkan makan malam.
Dalam persepsi ateis, Tuhan akan memberi segera setelah diminta makhluk dan, implikasinya, orang yang memberi kapan saja diminta dialah tuhan! Tuhan tetaplah Tuhan kendati tidak memberi spontan, dan tetaplah Tuhan kendati tidak diminta dan Dia memberi.
Secepat dan sebesar apapun seseorang memberi dan memenuhi permintaan tidak membuatnya jadi tuhan. Dalam tradisi keagamaan (Islam), ada manusia yang mencipta secara luar biasa namun tidak disebut apalagi mengklaim sebagai tuhan.
3. Kausalitas dan Ilusi Kepemilikan
Ketika ateis memberikan uangnya, ia secara arogan mengklaim dirinya sebagai sumber absolut dari pemberian tersebut. Secara ontologis, ini adalah sebuah ilusi eksistensial.
Manusia memang berperan, meski sebagai penyebab sekunder. Dalam hierarki kausalitas, manusia hanyalah saluran atau perangkat. Ateis menggunakan atom, energi, hukum fisika, dan napas kehidupan—yang sama sekali tidak dia ciptakan sendiri—untuk bisa menyombongkan uang tersebut.
Segala daya, materi, dan eksistensi yang membuat ateis berdiri dan memberikan uangnya bersumber dari Tuhan, Penyebab Utama. Jika Pemilik Kekuatan Mutlak mencabut fondasi eksistensi sedetik saja, lembaran uang bahkan diri ateis sendiri akan musnah kembali ke dalam ketiadaan.
4. Materialisme Dangkal dan Makna Doa
Argumen “Minta Uang” dibangun di atas asumsi bahwa pemenuhan hasrat kebendaan adalah tolok ukur tunggal untuk menguji sebuah kebenaran.
Pertama, hakikat doa bukanlah transaksi. Meminta kepada Tuhan bukanlah instrumen untuk mendikte Kehendak Dia agar melayani egoisme manusia. Sebaliknya, doa adalah metode penyucian jiwa untuk menegaskan dirinya sebagai budak yang tidak memiliki apa-apa dan bergantung sepenuhnya pada Tuan Semesta Alam.
Kedua, Dalam epistemologi agama, tujuan doa bukanlah sebuah mesin transaksi material untuk memaksa Kehendak Yang Maha Sempurna agar tunduk melayani egoisme dan keserakahan manusia. Doa adalah instrumen penyucian diri. Jika Tuhan mengabulkan uang atau permen secara instan setiap kali manusia meminta, tatanan kosmis ini akan hancur lebur oleh eksploitasi dan kemalasan manusia itu sendiri; Dia menghancurkan ciptaan-Nya sendiri.
Ketiga, Tidak turunnya kekayaan material saat diminta justru sering kali berfungsi sebagai cara menggugurkan ilusi manusia atas kekuatan dirinya dan dunianya, mendesak fitrahnya kembali berfokus pada yang transenden, bukan pada uang kertas, permen.
Kesimpulannya, secara keseluruhan, ateis tidak sedang membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada. Ia hanya membuktikan bahwa ia gagal memahami konsep ketuhanan, sedang memproyeksikan egonya sendiri sebagai tuhan atas realitas materialnya.
Argumen “Minta Uang” memang nyata dan masih sering dilontarkan di berbagai forum debat. Namun, posisinya di dunia akademis bukanlah argumen filosofis tingkat tinggi, tetapi lebih sebagai retorika pragmatis yang diwariskan dari propaganda materialisme.