FilsafatPolitik–Dihadapkan dengan kenyataan relativisme, pemikir-pemikir lain memalingkan diri dari kenyamanan Protagoras yang menerima konvensi. Sewaktu merenungkan fakta bahwa hukum dan kebiasaan bervariasi di antara banyak masyarakat, para pemikir mulai bertanya mengapa mereka harus berperilaku sesuai dengannya. Tanggapan mereka beragam mulai dari pandangan bahwa undang-undang itu menyusahkan dan bisa dilanggar kapan saja selama seseorang bisa lolos darinya, hingga sebuah paradoks mencolok bahwa undang-undang di kota-kota yang ada itu adalah salah dan seseorang memiliki kewajiban moral untuk membuangnya.
SKEPTISISME DARI DIKOTOMI ALAM DAN KONVENSI
Kita akan mengkaji serangkaian pandangan tadi di bagian ini. Kesamaan yang dimiliki oleh kesemuanya adalah rasa tidak hormat terhadap nomoi—hukum, keyakinan, kebiasaan—yang, setelah terbukti dibuat oleh manusia dan bervariasi dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya, dapat diasumsikan tidak mencerminkan norma-norma yang berlandaskan pada ketuhanan.
Sebuah perbedaan filosofis yang penting diajukan oleh banyak pemikir yang skeptis, yaitu pemisahan antara alam (physis) dan konvensi (nomos). Yang disebutkan terakhir, seperti yang telah kita amati, merujuk pada hukum serta kebiasaan—standar moral yang diciptakan oleh manusia. Alam, kebalikan dari konvensi, menunjukkan nilai-nilai moral yang mengakar pada kekuatan ilahi atau alamiah, yang berlaku tanpa memedulikan ketetapan manusia.
Jika dielaborasi dengan merujuk pada persoalan-persoalan moral, pembedaan antara apa yang benar berdasarkan alam dan berdasarkan konvensi mengisyaratkan akan kemungkinan adanya hukum yang lebih tinggi dari hukum-hukum kota yang ada—yaitu hukum alam. Setidaknya, pembedaan tersebut menyiratkan bahwa, dalam mengikuti nomoi di kotanya, seseorang mungkin tidak sedang mengejar keuntungannya sendiri atau apa yang baik baginya “berdasarkan alam”.
Pernyataan yang gamblang tentang berbagai kerugian mengikuti hukum-hukum yang sudah ada dihadirkan oleh sang Sofis, Antiphon, di dalam karyanya, On Truth. Antiphon, yang tidak banyak diketahui mengenai dirinya, diyakini sebagai orang Athena, yang hidup pada paruh kedua abad kelima. Antiphon membedakan alam dari konvensi. Konsepsinya mengenai alam adalah sesuatu yang membawa keuntungan bagi seseorang. Pandangannya di sini sepertinya masuk akal, tanpa dikembangkan di dalam makna filosofis.
Yang lebih menarik ialah penegasannya bahwa acapkali bukan merupakan kepentingan seseorang untuk mematuhi nomoi dari masyarakatnya. Oleh karena nomoi disusun dan ditegakkan oleh manusia, penalti yang disertakan pada pelanggarnya bergantung pada manusia, sangat kontras dengan hukum-hukum alam, yang jika dilanggar pada hakikatnya tidak menguntungkan secara bawaan. Oleh sebab itu, mematuhi hukum manusia hanya menjadi kepentingan seseorang di saat terdapat saksi-saksi. Antiphon mengutarakan gagasan-gagasan ini sebagai berikut:
“Keadilan, karena itu, adalah menyelaraskan diri pada aturan dan peraturan komunitas dimana Anda menjadi warga negaranya. Oleh karena itu, cara untuk mendapatkan keuntungan optimal bagi diri Anda dari keadilan, adalah memandang hukum itu penting jika terdapat orang lain, tetapi di saat tidak ada seorang pun menemani Anda, hargailah tuntutan alam. Karena tuntutan hukum dipaksakan secara eksternal, namun tuntutan alam sifatnya esensial, serta padahal kesepakatan—bukanlah alam—yang telah menghasilkan tuntutan hukum, melainkan alam, bukan kesepakatan, yang telah melahirkan tuntutan alam tersebut.
“Maka seandainya pelanggaran Anda terhadap peraturan luput dari pantauan mereka yang telah membuat kesepakatan tersebut, Anda menghindari rasa malu dan hukuman, tetapi menanggungnya jika tidak luput; akan tetapi, seandainya Anda mencapai hal yang mustahil dan melanggar salah satu tuntutan bawaan alam, kerugian yang Anda derita tidak berkurang jika apa yang Anda lakukan sama sekali tidak diketahui, dan tidak bertambah jika semua orang melihat Anda, karena itu adalah kerugian sejati, bukan akibat dari apa yang orang lain pikirkan tentang Anda.” (Frag. 44; terjemahan Waterfield, hlm. 264-65)
Kontras antara dua cara seseorang memperoleh keuntungan—secara alamiah, atau melalui pendapat baik dari orang lain—memiliki arti yang sangat penting. Karena ada kemungkinan untuk mengamankan semua keuntungan alam dengan melakukan apa yang didiktekan alam, terlepas dari apakah hal itu sejalan dengan hukum kota seseorang atau tidak, dan kemudian mendapatkan manfaat dari pendapat baik orang lain dengan meyakinkan mereka akan kepatuhannya terhadap nomoi kota, tidak peduli bagaimana dia sebenarnya berperilaku.
Bagi Antiphon, konsep alam tampaknya tidak dijabarkan dengan jelas. Apa yang “berdasarkan alam” tampaknya adalah apa pun yang menjadi keuntungan bagi seseorang, yang kemudian menafsirkannya menurut standar kasar akal sehat. Akal sehat mengatakan bahwa merupakan keuntungan bagi seseorang untuk mengalami kesenangan daripada rasa sakit, menjadi kaya daripada miskin, memiliki reputasi yang baik. Konsep “keuntungan” yang dikemukakan Antiphon dapat disebut sebagai “keuntungan duniawi” atau “kesuksesan duniawi.”
Pria yang bahagia atau sukses dipandang sebagai seseorang yang menikmati kelimpahan hal-hal duniawi—kekayaan, kekuasaan, reputasi, kesenangan. Seperti yang akan kita lihat, pandangan tentang kesuksesan duniawi ini bertentangan dengan pandangan lain yang sama sekali berbeda, yang menyatakan bahwa kehidupan yang baik berpusat pada penanaman nilai-nilai batin atau spiritual, seperti keadilan, kesalehan, kebijaksanaan, dan hati nurani yang bersih.
Menurut akal sehat orang Yunani kuno, nilai-nilai duniawi jauh mengungguli nilai-nilai spiritual, yang mana kurang begitu diperhatikan. Bahkan sejauh opini umum memandang para dewa sebagai penegak keadilan, kesediaan orang-orang untuk mematuhi mereka bergantung pada kekhawatiran terhadap dampak yang diberikan para dewa pada bagaimana nasib seseorang dalam kehidupan ini. Jadi, dalam kutipan-kutipan dari Hesiod yang disajikan di atas, para dewa menghargai orang yang adil dengan kemakmuran duniawi dan menghukum orang yang tidak adil.
Pembedaan Antiphon antara alam dan konvensi memiliki implikasi yang, mungkin, lebih radikal daripada yang ia bayangkan. Para pemikir lain membuat pembedaan serupa, namun secara lebih cermat menjelaskan nilai-nilai yang bertentangan dengan hukum-hukum yang ada. Sebuah argumen yang mencolok disajikan oleh Thrasymachus di dalam Buku I karya Plato, Republic, sebagai tindak lanjut dari pernyataan yang telah dibahas di atas. Sambil memegang konsepsi yang jelas tentang kesuksesan duniawi, Thrasymachus menyajikan tesis radikal bahwa hal ini dicapai tidak hanya dengan mencoba menghindari nomoi yang ada tetapi dengan secara aktif melanggarnya.
Dasar pandangan Thrasymachus adalah fakta yang disayangkan bahwa kejahatan sering kali membuahkan hasil. Meskipun kebanyakan orang diajari untuk bermain sesuai aturan dan menghormati orang lain, pengalaman mengajarkan bahwa seseorang terkadang bisa maju lebih cepat dan lebih mudah dengan berbuat curang. Ini adalah fakta yang tidak suka diakui oleh banyak orang. Tetapi, kata Thrasymachus, keuntungan besar datang dari pengakuannya. Menjadi adil, menurut Thrasymachus, berarti memberikan manfaat bagi orang lain, tetapi merugikan diri sendiri.
Dalam urusan bisnis, orang yang adil, yang mengikuti aturan, menempatkan dirinya pada posisi yang mudah ditipu oleh orang yang tidak adil, yang melanggarnya. Demikian pula, orang yang adil membayar pajak lebih banyak daripada orang yang tidak adil, dengan demikian menguntungkan masyarakat namun merugikan dirinya sendiri.
Jadi, jika kesuksesan diukur dari segi material, keadilan dari orang yang adil itu membantu orang lain dan merugikan dirinya sendiri. Oleh karena itu, Thrasymachus menyebut keadilan sebagai “kebaikan bagi orang lain”. Dia memandang menjadi adil sebagai tanda kelemahan dan kebodohan (343c-e). Keuntungan dari ketidakadilan terlihat jelas ketika kita merenungkan kehidupan yang merupakan ekspresi seutuhnya dari hal itu, yakni kehidupan seorang tiran.
Menurut Thrasymachus, sang tiran, yang mengambil alih dan memperbudak sebuah kota, merupakan teladan sempurna dari seseorang yang mencemooh (melanggar) hukum, dan juga merupakan model dari kebahagiaan:
“[H]al ini adalah sesuatu yang paling mudah Anda hargai jika Anda melihat amoralitas dalam bentuknya yang paling sempurna dan melihat bagaimana hal itu meningkatkan kehidupan seorang pelaku kejahatan melampaui takaran, namun pada tingkat yang sama menghancurkan kehidupan para korbannya, yang tidak memiliki nyali untuk berbuat kejahatan.
“Tirani yang saya maksud, karena entah itu membutuhkan aksi sembunyi-sembunyi atau kekerasan terbuka, seorang tiran mencuri apa yang bukan miliknya—benda-benda yang disucikan dan tidak disucikan, barang milik pribadi, dan properti publik dan melakukannya bukan dalam skala kecil, tetapi secara komprehensif. Siapa pun yang tertangkap melakukan sebagian kecil saja dari kejahatan-kejahatan ini bukan hanya dihukum, tetapi juga diberi stigma secara menyeluruh: penjahat skala kecil yang melakukan jenis-jenis kejahatan ini disebut perampok kuil, penculik, pencuri, maling, dan perampok.
“Di sisi lain, ketika seseorang mengambil alih aset dari badan warga negara dan kemudian terus merampas kebebasan mereka sendiri dan memperbudak mereka, maka fitnah berubah menjadi ucapan selamat, dan bukan hanya sesama warga negaranya yang menyebutnya bahagia, namun juga orang lain yang mendengar tentang kejahatannya yang sempurna juga melakukan hal yang sama. (Rep. 344a-c)
Hal yang mencolok dalam kutipan ini adalah bukti adanya suatu sistem moral yang berkembang yang bertentangan secara diametral dengan nilai-nilai tradisional. Bertentangan dengan cita-cita menghormati hukum keadilan, yang tercermin dalam hukum-hukum kota seseorang, dan dengan demikian tetap berada di jalan yang benar dan diberi penghargaan oleh para dewa, Thrasymachus mengajukan cita-cita yang berbeda mengenai kesuksesan duniawi.
Dengan penuh penghinaan menepis nilai-nilai tradisional sebagai hal yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang bodoh yang mudah tertipu, Thrasymachus memosisikan cita-cita tiran yang melanggar hukum dan melakukan kesalahan besar (kesalahan dari sudut pandang nilai-nilai tradisional), dan karena hal ini, menikmati kesuksesan duniawi serta dibenci dan dikagumi. Orang dapat membayangkan betapa hinanya Thrasymachus dalam menyambut seruan pria yang adil secara tradisional terhadap sanksi ilahi yang mendasari nomoi.
Walaupun kita tidak memiliki catatan mengenai pandangan Thrasymachus di sini, orang dapat dengan yakin berasumsi bahwa dia akan memandang kepercayaan pada dewa-dewa semacam ini sebagai makanan tambahan bagi orang-orang yang mudah tertipu dan lemah.
Pandangan Thrasymachus memberikan tantangan yang sengit terhadap nilai-nilai tradisional. Seperti yang telah kita lihat di atas, yang mendasari nilai-nilai tradisional adalah iman kepada para dewa, yang memberi ganjaran pada keadilan dan menghukum ketidakadilan. Walaupun nilai-nilai tradisional tidak dikembangkan secara sistematis, nilai-nilai tersebut menyiratkan bahwa kepatuhan pada nomoi kota seseorang memberikan hasil karena para dewa akan membalasnya.
Namun, masalah yang jelas dengan pandangan ini adalah bahwa hal tersebut seringkali tidak benar. Kerap kali orang yang adil tidak makmur di dalam kehidupan ini—yang mana hal itu merupakan salah satu alasan mengapa sungguh menenangkan untuk mempercayai alam baka (akhirat), di mana mereka akan diberi ganjaran dan orang yang tidak adil akan dihukum. Jika seseorang ingin berargumen bahwa keadilan terbayar di kehidupan ini, maka ia harus menyajikan pandangan yang berbeda dan lebih kompleks mengenai kehidupan yang bahagia ketimbang yang diposisikan oleh nilai-nilai tradisional.
Sebagaimana yang akan kita lihat, ini merupakan tugas utama Socrates dan, secara khusus, Plato. (Kepedulian Plato terhadap masalah ini tentu saja menjadi salah satu alasan mengapa ia menempatkan pandangan yang berlawanan ke dalam mulut Thrasymachus di dalam Buku I Republic.) Namun, bahkan ketika dihadapkan pada argumen-argumen canggih semacam ini, si pelanggar moralitas tradisional berada pada posisi yang sangat diuntungkan. Cita-citanya mengenai kesuksesan sejalan dengan akal sehat.
Semua orang menyadari, begitulah argumennya berjalan, bahwa menjadi kaya dan berkuasa, dengan reputasi yang baik dan kedudukan sosial yang tinggi, akan menciptakan kebahagiaan. Moralitas tradisional pun mengakui berbagai manfaat ini. Akan tetapi, mereka menegaskan bahwa bersikap adil adalah jalan paling pasti untuk mendapatkannya. Tetapi dihadapkan pada fakta bahwa berbagai koneksi ini kerap kali tidak terbukti, pendukung moralitas tradisional akan ditempatkan pada posisi defensif.
Yang memperburuk keadaan, orang yang skeptis mungkin akan berlanjut untuk mempertanyakan kepercayaan kepada para dewa sepenuhnya. Para dewa, begitulah mungkin argumennya berlanjut, jelas hanyalah isapan jempol imajinasi kita, yang diciptakan oleh penegak moralitas tradisional guna menakut-nakuti orang agar mematuhi hukum.
Sebuah argumen yang sejalan dengan ini dikemukakan oleh Critias dari Athena. Critias tidak hanya seorang filsuf (semacam itu) dan penulis naskah drama, tetapi juga paman Plato dan, pada akhirnya, tokoh utama di dalam Tiga Puluh Tiran, sebuah kelompok oligarki yang menumbangkan demokrasi Athena dan merebut kekuasaan pada penutupan Perang Peloponnesos.
Pandangan Critias mengenai para dewa, dari dramanya, Sisyphus, adalah sebagai berikut:
“Ada suatu masa ketika kehidupan manusia tidak teratur, bersifat kebinatangan dan menjadi budak dari kekuatan, saat tidak ada imbalan bagi orang yang berbudi luhur dan tidak ada hukuman bagi orang yang jahat. Kemudian, saya pikir orang-orang merancang undang-undang hukuman, agar Keadilan dapat menjadi diktator dan menjadikan keangkuhan sebagai budaknya, dan jika ada yang berbuat dosa, ia dihukum.
“Kemudian, ketika hukum melarang manusia melakukan kejahatan kekerasan secara terbuka, dan mereka mulai melakukannya secara sembunyi-sembunyi, seorang pria yang bijak dan pintar menciptakan rasa takut (kepada dewa-dewa) untuk makhluk fana, agar mungkin ada semacam sarana untuk menakut-nakuti orang jahat, bahkan jika mereka melakukan apa saja atau mengatakannya atau memikirkannya secara sembunyi-sembunyi.
“Karena itu, ia memperkenalkan ketuhanan (agama), dengan mengatakan bahwa ada sesosok Tuhan yang berkembang dengan kehidupan abadi, mendengar dan melihat dengan pikiran-Nya, dan memikirkan tentang segalanya dan peduli akan hal-hal ini, dan memiliki sifat ilahi, yang akan mendengar segala hal yang dibicarakan di antara makhluk fana, dan akan sanggup melihat seluruh hal yang dilakukan.
“Dengan ketakutan semacam itulah ia mengelilingi umat manusia, yang mana melaluinya ia dengan baik memantapkan keberadaan dewa dengan argumennya, dan di tempat yang sesuai, serta meredam pelanggaran hukum di antara manusia…. Maka dari itu, saya pikir, untuk pertama kalinya seseorang membujuk makhluk fana untuk percaya pada suatu ras dewa-dewi.” (Frag. 25; terjemahan Freeman, hlm. 157-58)
Sekalipun Critias tidak mengembangkan implikasi yang merusak dari argumennya di dalam konteks ini, sangat jelas bahwa bagi seseorang yang memegang pandangan ini para dewa tidak akan menimbulkan ancaman apa pun. Seperti yang telah dicatat, kekuatan nilai-nilai tradisional bersandar pada penerimaan yang tidak-reflektif. Ketika keyakinan-keyakinan yang mendasari nilai-nilai ini dipertanyakan, kekuatannya dapat menguap begitu saja.
Pernyataan yang paling kuat dari suatu pandangan moral yang bertentangan dengan moralitas tradisional disajikan oleh Callicles, yang merupakan lawan bicara utama Socrates di dalam Gorgias karya Plato. Tidak ada yang diketahui mengenai Callicles di luar dialog Plato. Ia bukan seorang Sofis, melainkan seorang tokoh politik demokratis yang ambisius yang tertarik untuk mempelajari retorika dari Gorgias sebagai alat untuk memajukan kepentingan-kepentingan politiknya. Karena Plato jarang menggambarkan karakter fiktif di dalam dialog-dialognya dan memberikan informasi biografi spesifik mengenai Callicles, kecil kemungkinan jika Plato hanya menciptakannya.
Ada kemungkinan bahwa, sebagaimana disarankan oleh salah seorang ahli, Callicles merupakan politisi muda yang menjanjikan, yang menjadi korban gejolak politik di Athena pada akhir Perang Peloponnesos. Bagaimanapun juga, Plato memberikan Callicles sebuah presentasi mencolok mengenai pandangan moral yang mana Plato mengabdikan banyak dari karier filosofisnya untuk melawannya. Kekuatan pidato-pidato Callicles tidak secara memadai ditangkap di dalam kutipan-kutipan singkat yang diuraikan di sini. Argumennya dirujuk oleh salah satu pakar sebagai “pernyataan paling fasih dari kasus imoralis di dalam literatur Eropa.”[P. Shorey, What Plato Said (Chicago, IL, 1933), 154]
Berbeda dengan kelompok skeptis atau relativis moral, Callicles bukannya tanpa keyakinan terhadap nilai-nilai moral yang sejati. Namun ia adalah seorang “imoralis,” alih-alih seorang “moralis,” dikarenakan nilai-nilai yang ia kemukakan bertentangan dengan ketegangan yang dominan di sepanjang sejarah Barat—sebagaimana yang dilambangkan oleh pandangan tradisional.
Callicles memahami secara jelas perbedaan antara apa yang benar berdasarkan alam dengan konvensi. Dia menyajikan sebuah riwayat yang secara mengejutkan sinis mengenai asal mula dari standar-standar moral yang konvensional. Hal-hal ini dibuat oleh orang banyak, dalam pelanggaran yang disengaja terhadap apa yang benar berdasarkan alam. Orang-orang itu, yang sadar akan kelemahan mereka sendiri, menyusun hukum guna melindungi diri mereka sendiri dari sosok-sosok yang secara alami lebih kuat.
Mengetahui bahwa mereka tidak akan pernah bisa berkompetisi dengan mereka yang kuat, mereka merasa puas dengan mencapai keadaan setara bersama mereka:
“Menurut pendapat saya orang-orang lemahlah yang merupakan mayoritas umat manusia yang membuat peraturan. Dalam membuat peraturan-peraturan ini, mereka mengurusi diri mereka sendiri beserta kepentingan mereka sendiri, dan hal itu juga menjadi kriteria yang mereka gunakan sewaktu mereka memberikan pujian serta kritik. Mereka berusaha menakut-nakuti kelompok yang lebih kuat—yakni, mereka yang sanggup melipatgandakan bagian perolehan dari berbagai hal dan menghentikan mereka dari mendapatkan porsi bagian yang lebih besar, dengan mengatakan bahwa melakukan hal tersebut adalah salah dan hina serta dengan mendefinisikan ketidakadilan di dalam kerangka yang persis seperti itu, sebagai upaya untuk memperoleh lebih banyak dari yang lain. Dalam pandangan saya, hal itu dikarenakan bahwa mereka adalah orang-orang kelas dua yang menjadikan mereka berbahagia atas sesuatu hal yang didistribusikan secara merata.” (Grg. 483b-d)
Bertentangan terhadap nilai-nilai yang konvensional berdirilah wujud apa yang benar secara alamiah. Alam tidak mengajarkan tentang kesetaraan, melainkan bahwa sosok yang lebih kuat sepantasnya mengatur dan memetik keunggulan dari sang lemah dan meraup porsi distribusi yang lebih banyak dari barang-barang kehidupan. Hukum dari alam tampak tercermin di dalam hukum rimba yang eksis di lingkungan kerajaan hewani dan di dunia kancah hubungan internasional.
Pada lanjutan dari penggalan teks tersebut, Callicles mencatat bahwa standar-standar yang tampak di dunia hewan dan internasional membentuk “keadilan berdasarkan alam” (kata physin tên tou dikaiou), sungguh “hukum alam” (nomon… ton tês physeôs) yang beroposisi menantang hukum-hukum buatan menusia (Grg. 483e). Hal tersebut merupakan kemunculan perdana dari frasa “hukum alam” di dalam literatur prosa bahasa Yunani.
Akhirnya, karena pertentangan antara apa yang benar berdasarkan alam dan konvensi, Callicles menetapkan bahwa Alam sendiri mendiktekan bahwa pria kuat—yang sanggup melakukan hal itu—harus mencampakkan arahan moralitas konvensional dan mengungguli sesama warganya. Di kala ia berdiri merajai mereka, mengekspos dirinya sebagai tuan bagi mereka, lantas keadilan alami berhasil diwujudkan:
“Apa yang kita lakukan terhadap yang terbaik dan terkuat di antara kita? Kita menangkap mereka selagi muda, layaknya singa, membentuk mereka dan mengubah mereka menjadi budak dengan melantunkan mantra dan jampi-jampi kepada mereka yang menegaskan bahwa mereka harus setara dengan orang lain dan bahwa kesetaraan itu mengagumkan dan benar. Tetapi saya yakin bahwa jika seorang pria dilahirkan di mana pada dirinya alam cukup kuat, dia akan menepis semua batasan ini, menghancurkannya berkeping-keping, dan memenangkan kebebasannya; dia akan menginjak-injak semua peraturan, pesona, mantra, dan hukum kita yang tidak wajar menjadi debu; budak ini akan bangkit dan menyatakan dirinya sebagai tuan kita; dan kemudian hak alami akan memancar keluar.” (483e-84b)
IMPLIKASI
Apa yang kita temukan pada para pakar teori dan berbagai teori yang dikaji pada bagian terakhir adalah serangkaian pernyataan tentang pertentangan antara apa yang menguntungkan menurut alam (terlepas dari bagaimana persisnya “alam” tersebut ditafsirkan) dan menurut nomoi masyarakat seseorang.
Secara alami pertanyaan-pertanyaan muncul mengenai implikasi-implikasi praktis dari berbagai pandangan ini, seberapa luas mereka dianut, dan apa, jika ada, dampaknya pada politik Yunani di abad kelima dan keempat. Ini merupakan pertanyaan-pertanyaan sejarah, yang bukti-buktinya tidak mudah diperoleh.
Terlebih lagi, jawaban yang kita berikan pada pertanyaan-pertanyaan ini bergantung pada persoalan-persoalan kompleks tentang kausalitas sejarah, mengenai peran gagasan dalam sejarah, sebagai kebalikan dari peran faktor-faktor penyebab lainnya, utamanya sosial dan ekonomi. Saya tidak akan berupaya untuk menjawab berbagai pertanyaan ini secara langsung. Walau demikian, hal ini tidak diperlukan bagi pokok-pokok perhatian utama kita, yang mana terletak pada penelusuran hakikat serta perkembangan gagasan-gagasan politik Yunani.
Bukti dialog Plato—yang bagian-bagiannya didiskusikan dan direproduksi di dalam bab ini—secara gamblang mengindikasikan perhatian Plato dengan ide-ide ini dan keyakinannya mengenai dampak buruk secara moral dan politik dari pandangan tersebut. Hal yang sama rupanya berlaku pada Thucydides, yang mana di dalam karyanya, History, penuh dengan pandangan-pandangan moral seperti hal yang sedang kita bicarakan.
Di sepanjang buku History-nya, Thucydides menampilkan pidato-pidato serta pernyataan-pernyataan yang konon katanya dibuat oleh subjeknya. Akurasi sejarah dari berbagai pidato tersebut banyak diperdebatkan oleh para ahli dan kemungkinan bakal senantiasa menolak penyelesaian definitif. Segala pidato-pidato disajikan ke dalam kata-kata Thucydides, dalam gaya sastranya yang khas dan sangat kompleks.
Meskipun pada suatu titik Thucydides menggambarkan upaya keras yang ia lakukan demi memastikan pidato-pidatonya menangkap makna mengenai apa yang sebenarnya diucapkan, ia dengan segera menentang dirinya sendiri dengan melaporkan niatnya “untuk membuat masing-masing pembicara mengucapkan secara umum atas apa yang saya duga akan diperlukan pada kesempatan apa pun yang diberikan” (Thucydides, I, 22; penekanan ditambahkan).
Menurut standar ini, berbagai pidato tersebut merefleksikan tentang apa yang menurut Thucydides akan diperlukan pada peristiwa-peristiwa yang dipertanyakan tersebut, alih-alih apa yang sesungguhnya diucapkan. Bagaimanapun juga, sejauh tingkat ketepatan historis pidato-pidato Thucydides, hal tersebut menunjukkan kelaziman dari pelbagai pandangan moral yang telah kita saksikan ada di seluruh penjuru dunia Yunani selama Perang Peloponnesos.
Untuk mengilustrasikannya, kita dapat secara singkat mengkaji kutipan-kutipan dari dua bagian di buku History. Pertama adalah pidato yang disampaikan oleh utusan Athena tanpa nama sebelum perang pecah. Orang-orang Sparta takut akan kekuatan besar yang telah dikumpulkan orang-orang Athena di dalam kekaisaran mereka. Orang-orang Athena berusaha membenarkan pengambilan kekaisaran mereka dan untuk meyakinkan orang-orang Sparta agar tidak berperang dengan mereka:
“Kami belum melakukan apa-apa yang mengherankan atau bertentangan dengan sifat manusia dengan menerima sebuah kerajaan ketika ia ditawarkan kepada kami dan menolak untuk menyerahkannya, di bawah dominasi tiga motif terkuat—prestise, ketakutan, dan kepentingan diri sendiri. Kami juga tidak memulai sesuatu yang baru dalam hal ini, melainkan telah selalu menjadi jalan dunia bahwa pihak yang lebih lemah ditekan oleh pihak yang lebih kuat. Dan kami pikir kami layak atas kekuasaan kami.
“Ada suatu masa ketika Anda juga berpikiran demikian, tetapi sekarang Anda memperhitungkan keuntungan Anda sendiri dan membicarakan tentang yang benar dan yang salah—sebuah pertimbangan yang belum pernah dapat mencegah siapa pun dari menggunakan kekuatan untuk mendapatkan keuntungan ketika ada kesempatan. Adalah sesuatu yang patut dihargai ketika orang-orang yang mengikuti naluri alami untuk memerintah orang lain lalu menunjukkan lebih banyak keadilan daripada yang mereka perlukan di dalam posisi kekuatan mereka.” (I, 76)
Thucydides tampaknya menampilkan pidato ini untuk mengindikasikan sikap moderat Athena yang relatif pada saat pecahnya perang. Penduduk Athena masih mengakui—atau setidaknya mengklaim mengakui tarikan keadilan dan merasa bangga atas kepatuhan mereka terhadapnya, meskipun hal ini terbatas. Hal yang paling mengungkap dari pidato tersebut adalah sinisme mereka berkenaan dengan banyaknya moralitas tradisional.
Pertama, mereka percaya bahwa kekhawatiran moral memiliki daya motivasi yang relatif kecil. Manusia secara alami mengejar apa yang mereka anggap sebagai kepentingan mereka; mereka menikmati upaya mengumpulkan serta menjalankan kekuasaan, dan hanya sedikit terhalang dari pengejaran ini gara-gara kekhawatiran terhadap moralitas. Ini adalah klaim sederhana tentang apa yang terjadi di dunia.
Di samping itu, layaknya Callicles, penduduk Athena menyadari bahwa bahasa moral sering kali merupakan jubah pelindung bagi kepentingan pribadi. Penduduk Sparta dituduh berbicara di dalam kerangka yang benar dan yang salah hanya setelah mereka menyadari bahwa adalah demi kepentingan mereka untuk melakukannya. Secara tersirat yang bertentangan dengan moralitas konvensional adalah peraturan-peraturan yang diakui oleh orang-orang, yang mana menurut aturan tersebut mereka benar-benar berperilaku: “sudah selalu menjadi jalan dunia bahwa yang lemah ditekan di bawah yang lebih kuat”.
Meskipun penduduk Athena tidak membedakan “hukum alam” ini dengan standar moral konvensional secara eksplisit di dalam pidato ini, mereka sangat menyadari perbedaan tersebut dan membenarkan perilaku mereka—yang mereka sadari tidak adil menurut standar tradisional—sebagai sesuatu yang sejalan dengan hukum alam itu. Kontras antara moralitas tradisional dan aturan-aturan yang benar-benar mengatur urusan manusia, khususnya urusan politik, dikembangkan di sepanjang karya Thucydides, History.
Klimaks moral dari karya ini adalah sebuah perdebatan antara, sekali lagi, orang-orang Athena tanpa nama dengan perwakilan dari kota kecil Melos. Orang-orang Athena menuntut agar Melos bergabung dengan konfederasi mereka dan mengancam akan menghancurkannya jika tidak. Kurang lebih enam belas tahun telah berlalu sejak waktu pidato yang baru saja dikutip. Selama periode ini, sikap penduduk Athena telah mengeras. Mereka bahkan tidak lagi memberikan basa-basi pada moralitas tradisional. Mereka menuntut agar diskusi mereka dengan orang-orang Melos dilakukan sepenuhnya pada tataran kepentingan diri sendiri dan cara berbagai hal benar-benar bekerja di dunia:
“Kami tidak akan mempertebal argumen kami dengan bahasa yang muluk-muluk, mengklaim bahwa kekalahan kami atas bangsa Persia memberi kami hak untuk memerintah atau bahwa kami sekarang mencari pembalasan atas beberapa kesalahan yang dilakukan pada kami. Hal itu tidak akan meyakinkan Anda. Demikian pula, kami tidak berharap Anda akan berpikir bahwa ada kekuatan persuasif di dalam berbagai protes bahwa meskipun Anda adalah koloni Sparta, Anda tidak pernah bergabung dalam kampanye mereka, atau bahwa Anda tidak pernah membahayakan kami sedikit pun.
“Jadi buatlah diskusi ini tetap praktis, dalam batas-batas apa yang benar-benar kita berdua pikirkan. Anda tahu sama baiknya dengan kami bahwa ketika kita berbicara di dataran kemanusiaan, pertanyaan-pertanyaan tentang keadilan hanya muncul ketika ada kekuasaan yang setara untuk memaksa: secara praktis, pihak yang dominan menuntut apa yang mereka bisa dan pihak yang lemah menyerah pada apa yang harus mereka patuhi.” (V, 89)
Penduduk Melos mempresentasikan berbagai macam argumen demi membenarkan penolakan mereka untuk tunduk. Hal yang paling mencolok adalah harapan mereka bahwa para dewa akan membantu mereka karena mereka berada di pihak yang benar: “kami percaya bahwa pendirian lurus kami menentang ketidakadilan tidak akan merugikan kami dalam kemurahan ilahi.” (V, 104) Tetapi orang Athena memiliki balasan:
“Kami tidak berpikir bahwa kami akan kekurangan bantuan ilahi juga. Tidak ada apa pun di dalam klaim kami atau perilaku kami yang melampaui praktik kemanusiaan yang telah mapan sebagaimana yang ditunjukkan di dalam keyakinan manusia mengenai hal yang ilahi atau kebijakan mereka di antara mereka sendiri. Kami percaya akan hal itu dari para dewa, dan kami mengetahuinya secara pasti tentang manusia, bahwa di bawah suatu paksaan alam yang permanen di mana pun mereka bisa memerintah, mereka akan melakukannya.
“Kami tidak membuat hukum ini; hukum ini telah ditetapkan, dan kami bukanlah yang pertama mengikutinya; kami mewarisinya sebagai suatu fakta, dan kami akan meneruskannya sebagai sebuah fakta untuk tetap benar selamanya; dan kami mengikutinya dengan pengetahuan bahwa Anda dan orang lain yang diberikan kekuasaan yang sama seperti kami juga akan melakukan hal yang sama.” (V, 105)
Seperti Callicles, orang-orang Athena memperoleh standar-standar moral mereka di dalam kasus ini mengenai pandangan mereka tentang jenis perilaku yang akan disetujui oleh para dewa—dari cara kerja alam, alih-alih dari keyakinan-keyakinan tradisional. Ketika mereka melihat keuntungan dari mencampakkan nilai-nilai tradisional, mereka bersedia untuk melakukannya. Karena, bagi siapa pun yang tidak menipu dirinya sendiri, peraturan-peraturan yang diikuti di dunia politik kekuasaan hanya memiliki sedikit kaitan dengan “jalan yang benar”.
Pelajaran suram dari penceritaan kembali Thucydides mengenai episode ini adalah bahwa kepatuhan penduduk Melos pada nilai-nilai tradisional merupakan salah satu alasan mereka menolak untuk melihat dunia sebagaimana ia yang sebenarnya—berdasarkan alam, sebagaimana yang akan dikatakan oleh kaum Sofis—dan oleh karena itu mereka dihancurkan.
Namun, meskipun Thucydides melihat cara berbagai hal benar-benar bekerja, dia secara nyata merasa ngeri. Dia percaya bahwa pembuangan terhadap nilai-nilai tradisional, terhadap hukum-hukum tidak tertulis yang sebelumnya telah disebutkan, merupakan alasan utama bagi kemerosotan dunia Yunani ke dalam kekacauan, kengerian, dan pembantaian yang ia catat di dalam karya History-nya. Oleh karena itu, jika Thucydides patut dipercaya, ide-ide yang mirip dengan yang telah kita lihat tersebut merupakan kehadiran yang nyata di dunia Yunani pada abad kelima.
Walaupun sulit untuk mengidentifikasi sejauh mana gagasan-gagasan tersebut sungguh-sungguh memengaruhi berbagai peristiwa, adalah hal yang jelas bahwa para pakar teori politik Yunani besar memandangnya sebagai persoalan yang krusial dan mengabdikan banyak energi mereka untuk menyerangnya. Dari kacamata Plato dan Thucydides beserta para penganut lain dari berbagai wujud yang menyerupai nilai-nilai tradisional, seseorang dapat menerima perbedaan di antara alam dan konvensi namun tetap bertanya apakah alam sebenarnya bermaksud agar urusan-urusan kemanusiaan diatur oleh peraturan-peraturan yang berlaku di lingkungan kerajaan hewan.[GeorgeKlosko]
RERFERENSI
Aristoteles, Politics. E. Barker dan R. F. Stalley, penerjemah. Stalley, ed. Oxford, 1995.
Freeman, K., penerjemah. Ancilla to the Pre-Socratic Philosophers. Oxford, 1956.
Herodotus. The Histories. A. de Selincourt, penerjemah. Baltimore, MD, 1954.
Hesiod. The Works and Days, dalam Hesiod. R. Lattimore, penerjemah. Ann Arbor, MI, 1959.
Plato. Gorgias. R. Waterfield, penerjemah. Oxford, 1994. Laws. 2 jilid. R. G. Bury, penerjemah. Edisi Loeb Classics Library. Cambridge, MA, 1926. Protagoras, C. C. W. Taylor, penerjemah. Oxford, 1996.
Theaetetus, dalam Theaetetus, Sophist. H. N. Fowler, penerjemah. Edisi Loeb Classics Library. Cambridge, MA, 1921.
Sophocles. Antigone. E. Wyckoff, penerjemah. Dalam Sophocles. D. Grene dan R. Lattimore, penerjemah. New York, 1954.
Thucydides. The Peloponnesian War. M. Hammond, penerjemah. Oxford, 2009.
Waterfield, R., ed. The First Philosophers: The Presocratics and Sophists. Oxford, 2009.