• LAINYA

TAFSIR–Seiring dengan kemajuan dan prestasi luar biasa peradaban manusia, banyak kalangan yang kerap melempar pertanyaan kritis, “Memang benar Al-Qur’an telah menciptakan transformasi yang luar biasa. Itu dulu, di era awal kemunculan Islam dan turunnya wahyu. Tapi apakah kitab suci ini masih punya daya ubah di era modern ini? Ataukah masa berlakunya sudah habis?!”

Faktanya, Al-Qur’an sama sekali tidak berubah, tujuan keberadaannya juga tetap sama konsisten. Al-Qur’an tetaplah kitab suci Tuhan yang diturunkan untuk menyelamatkan manusia dan dunia; ia memiliki kapasitas penuh untuk mengambil peran sentral dalam membangun peradaban.

Lantas, apa yang berubah? Yang berubah sesungguhnya adalah umat Islam itu sendiri. Cara umat ini memperlakukan Al-Qur’an serta bagaimana mereka meresapi konsep dan visi-visinya telah berubah drastis dibanding umat terdahulu.

Generasi muslim awal memahami Al-Qur’an sebagai buku panduan kehidupan; sebuah kurikulum yang harus diaplikasikan dan dieksekusi secara nyata. Ironisnya, umat Islam hari ini justru memperlakukan Al-Qur’an dengan cara yang bertolak belakang. Lalu pertanyaannya, apakah Al-Qur’an yang harus memikul dosa para pengikutnya yang kurang literasi ini?!

Sekarang, coba meninjau bagaimana umat Islam hari ini memahami dan berinteraksi dengan kitab sucinya.Sudah sejak lama umat ini ditindih tumpukan masalah dalam cara mereka memperlakukan Al-Qur’an, dan sisa-sisa (residu) dari masalah tersebut masih menggenang luas hingga kini. Apa saja masalah-masalahnya?

Satu: Reduksionisme Fungsi

Umat Islam mulai membatasi cara mereka menggunakan Al-Qur’an ke dalam ruang-ruang yang amat sempit. Sebagian orang mengeksploitasinya semata-mata sebagai jalur komersial, transaksi dan lahan pencaharian.

Sebagian lain mereduksi Al-Qur’an sekadar menjadi “apotek dadakan”; ketika mata rabun, gigi ngilu, atau lambung perih, mereka buru-buru membaca ayat tertentu sebagai jumpa-jampi penyembuh. Namun di luar masalah fisik itu, mereka merasa tidak punya urusan apa-apa lagi dengan Al-Qur’an.

Ada pula kelompok yang baru terpanggil untuk membuka Al-Qur’an saat mau shalat Istikharah, ketika hendak bepergian, atau saat ada keluarga, kerabat, sahabat yang meninggal dunia, mau tak mau akan mebaca Alquran atau surat tertentu dalam tahlil, itu pun kalau mengadakan tahlil. Hanya sebatas itu!

Baca Juga :  Tidak Mengerti Maknanya, Buat Apa Menghafal Alquran?

Tentu saja, kita tidak sedang mengkritik cara memanfaatkan Al-Qur’an untuk hal-hal tersebut. Yang kita kritisi adalah mentalitas membatasi fungsi Al-Qur’an hanya pada kebutuhan sempit itu.

Al-Qur’an adalah kitab kehidupan. “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu” (QS. Al-Anfal [8]: 24).

Oleh karena itu, manfaat Al-Qur’an harus digali di seluruh dimensi kehidupan, bukan malah dieliminasi ke satu atau dua aspek saja.

 

Kedua: Tilawah yang Superfisial (PermukaanDangkal)

Umat Islam rajin membaca dan mendengarkan lantunan Al-Qur’an. Ada majelis Quran, ada tadarus, ada musabaqah tilawatul Quran. Sayangnya, itu acapkali diperlakukan murni sebagai huruf tanpa makna, lantunan suara merdu tanpa pesan, kulit tanpa isi, kata tanpa substansi.

Akibatnya, mereka gagal mengamalkannya sesuai standar yang dituntut, karena mereka memang belum membacanya sebagai sumber pengetahuan dan pemahaman untuk menjalani hidup. Padahal, pemahaman adalah prasyarat mutlak sebelum mengambil Keputusan dan melakukan suatu tindakan.

Coba bandingkan dengan kaum muslimin generasi awal; mereka tidak pernah membaca satu ayat pun sebelum merenungkan ragam dimensinya dan menyerap esensinya secara komprehensif. Seorang pembaca Al-Qur’an idealnya harus menggunakan akal pikirannya untuk menggali dimensi-dimensi yang tersembunyi di dalamnya. Jika tidak, ia akan terkena sindiran tajam Rasulullah SAW:

Celakalah orang yang hanya mengunyahnya di antara kedua rahangnya—yakni dua tulang mulutnya—lalu tidak men-tadabburi-nya”.

 

Tiga: Fokus pada masalah sampingan dan Kulit Luar

Karena umat ini abai mengeksplorasi inti (lubab) Al-Qur’an, energi mereka justru tersedot habis untuk mengulik kulit luarnya. Mereka menghabiskan potensi intelektual untuk berdebat soal isu-isu sampingan (marginal), padahal energi tersebut jauh lebih bermanfaat jika dialokasikan untuk hal-hal substansial dan berdampak.

Banyak orang yang puas menghabiskan bertahun-tahun hidupnya sekadar untuk mencari jawaban atas pertanyaan:

Berapa total jumlah kata dalam Al-Qur’an?

Berapa jumlah total hurufnya?

Berapa kali huruf Alif diulang di dalamnya?

Berapa kali huruf Ba’ diulang?

Berapa kali huruf Ta’ diulang?

Dan seterusnya hingga huruf abjad yang terakhir.

Baca Juga :  QS. Al-Ra’d [13]: 17; Mana Posisi dan Partai Anda? (1) Polarisasi Kubu Politik

Hanya Allah yang tahu seberapa banyak jerih payah akademis yang dihamburkan demi mengurusi persoalan-persoalan kulit ini, terlebih riset ini seringkali dikerjakan di era lampau yang belum tersentuh teknologi komputerisasi.

Kini juga masih bisa dijumpai sekian literatur dan studi tafsir yang sama sekali tidak menyentuh urusan substantif dan hanya berputar di isu-isu periferal (pinggiran). Di  ranah ini, Muhammad Ridha Al-Husseini Al-Shirazi pernah mendata 123 buku yang mengkaji Al-Qur’an, dan hasilnya menemukan bahwa 37 di antaranya murni membahas isu-isu formalitas dan sampingan belaka.

Topiknya berkisar pada perbedaan ragam qira’at, jumlah ayat, hukum waqaf dan washal, tata bahasa jamak dan mutsanna, maqshur dan mamdud, tingkatan (kasta) para qari, titik-titik huruf pada Al-Qur’an, serapan bahasa Romawi dan Arab, dan sejenisnya (lihat catatan kaki).

Ini indikasi bahwa lebih dari seperempat (25%) energi intelektualitas umat Islam menguap sia-sia untuk hal-hal supplementer yang secara substantif tidak “memuaskan” kehausan intelektual mereka.

Contoh lain dari kejebakan “kulit luar”, umat terlalu sibuk memperdebatkan sosok-sosok figur minor dalam kisah-kisah Al-Qur’an hingga amnesia pada ibrah (pelajaran utama) yang sejatinya merupakan tujuan agung di balik pengisahan peristiwa tersebut, kendati sesungguhnya tidak perlu banyak contoh untuk ini. Menilik sekilas ke realitas masyarakat kita saja sudah cukup untuk membuktikannya.

Ironis, isu-isu sekunder dimanjakan di level prioritas teratas, sementara isu-isu substansial malah dilempar ke belakang punggung!

 

Empat: Pemahaman Fragmentaris (Parsial dan Penggalan)

Ini tren dekonsolidasi pemahaman;  bagian Al-Qur’an dipahami secara terpotong-potong dan diceraikan satu sama lain. Secara bahasa, ini pola memahami setiap ayat seolah-olah ia adalah wilayah otonom yang berdiri sendiri, tanpa dirajut benang merahnya dengan konstelasi ayat-ayat yang lain.

Metode ini melahirkan runtutan konsekuensi serius; salah satunya, tafsir bi al-ra’yi, menafsirkan Al-Qur’an dengan endapat sendiri dan memaksakan pikirannya pada Al-qur’an.

 

Lima: Pemahaman Pragmatis (Kepentingan Pribadi)

Ada dua fenomena di bagian ini:

Pertama, memaknai ayat-ayat Al-Qur’an sedemikian rupa demi melanggengkan status quo kepentingan personal, sekaligus melegitimasi syahwat dan keinginan pribadi.

Kedua, mengutip dan mengambil segmen nilai Al-Qur’an tertentu seraya menelantarkan segmen lain yang sejatinya menuntut ikhtiar dan pengorbanan nyata. Sebagai contoh, orang bisa sangat patuh mempraktikkan dimensi ritual Al-Qur’an, karena itu telah menjadi rutinitas usang yang tidak menuntut banyak modal atau biaya dari dirinya. Namun di saat yang sama, ia segera menjadi apatis atau enggan memahami ayat-ayat yang menuntut perubahan perilaku praktis, etos kerja, hingga semangat jihad; murni karena hal-hal tersebut akan mengusik kepentingan diri dan zona nyamannya.

Baca Juga :  Radikalisme Positif dalam Beragama: Menjadi Tuhan itu Kewajiban juga Cita-cita

 

Enam: Pemahaman yang Mati (Ahistoris dan Apatis)

Gejala ini menguat  dengan cara memisahkan Al-Qur’an secara radikal dari realitas empiris masyarakat. Al-Qur’an lantas dialihkan sebatas menjadi wacana metafisika, ketangkasan intelektual, atau dongeng sejarah masa lalu yang nihil imbas dan dampak bagi penyelesaian konflik hari ini.

 

Tujuh: Berteori tanpa Aksi

Secara filosofis, Al-Qur’an adalah jalan dan pedoman hidup (shirath). Maka, setiap manusia  harus melangkah melalui Al-Qur’an untuk tiba di ranah praksis, yakni aksi dan implementasi konkret dari Al-Qur’an.

Para pelopor (perintis awal) di era wahyu dahulu memosisikan Al-Qur’an persis seperti kaidah di atas: sebagai kurikulum kerja atau rute perjalanan. Sebaliknya, generasi-generasi hari ini malah memfosilkan wacana teoretis “pemahaman Al-Qur’an” itu sendiri sebagai tujuan utama dan titik puncak pencapaian (end goal), bukan menjadikannya sebagai sarana operasional.

Inilah alasan logis mengapa saat ini yang tertinggal dari Islam barangkali hanyalah label namanya, dan dari Al-Qur’an hanyalah ukiran kaligrafinya, persis seperti ketepatan ramalan futuristik Imam Ali bin Abi Thalib di masa lalu.

Demikianlah, kurang-lebih, akar-akar dari problematika kronis yang selama ini menelikung interaksi umat Islam dengan kitab sucinya. Justru problem-problem krusial inilah yang menghempaskan umat ke jurang nadir kebodohan.

Kini, sudah saatnya mengibaskan debu-debu usang masa lalu dari pundak Muslimin, dan mulai merintis paradigma interaksi yang otentik dan baru bersama Al-Qur’an sebagaimana instruksi wahyu. Semua pembaharuan cara pandang ini adalah syarat mutlak agar Allah berkenan mengubah nasib keterpurukan kita dan kembali menuntun kita meraih kejayaan di puncak peradaban.

Share Page

Close