Tulisan ini dimuat di buku 40 Human Virtues: Pendar-pendar Hikmah Nurcholish Madjid koleksium tulisan tokoh-tokoh pemikiran di tanah air, terbitan Sadra Press, Jakarta, Februari 2026, 610 hlm., dengan judul: Kearifan Batin dan Kecerdasan Politik dalam Epistemologi Politik Nurcholish Madjid, oleh Ammar Fauzi, staf pengajar STAI Sadra, Jakarta
FILSAFATPOLITIK–“Setelah perjalanan bangsa telah berlangsung selama setengah abad lebih, adalah saat yang paling tepat memulai pembangunan kembali negara, mengikuti pikiran-pikiran terbaik para pendirinya. Sudah saatnya kita semua melaksanakan amanat untuk berusaha menciptakan momen keteladanan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan penggunaan kekuasaan, agar menjadi rujukan generasi-generasi berikutnya. Oleh karena itu, diperlukan tingkat kesadaran kebangsaan dan kenegaraan yang tinggi.”[1]
Catatan kritis ini ditempatkan oleh Nurcholish Madjid sebagai penutup karya terakhir “Indonesia Kita” (2003) sekaligus kalimat sebelum satu paragraf paling ujung di Karya Lengkap Nurcholishh Madjid (2019). Meski sudah lebih dari 20 tahun silam, desakannya untuk menciptakan momen keteladanan masih sama kuatnya menggugah kesadaran dan penantian generasi sekarang dan masa depan bahwa kita masih membutuhkan tingkat kesadaran yang tinggi dalam berbangsa dan bernegara.
Pada dasarnya, kesadaran dan keteladanan politik itu sendiri sudah merupakan agenda utama dan akhir dari para perancang peradaban dan pencetak sejarah bangsa dan dunia. Dalam Epistemologi Politik,[2] telaah atas kesadaran politik, setidaknya, dimulai dari dialog-dialog filosofis Sokrates. Seperti dicatat oleh Platon, kesadaran politik menemukan wujud konkretnya pada keteladanan yang dipersonifikasi oleh manusia pemimpin sebagai pelaku sejarah dan peradaban.
Maka, bukan hanya bagi Sokrates dahulu, terutama dalam krisis kepemimpinan dan kedipimpinan, pertanyaan filosofis ini penting direspon: siapakah pemimpin ideal? Apa saja kriterianya?[3] Masalah ini amat mudah diakomodasi oleh Guru Bangsa, Nurcholish Madjid, salah satu figur ilmu pengetahuan terdepan di tanah air yang paling tekun dan teguh berbicara tentang peradaban, masa depan, transformasi sosial-budaya, dan masyarakat yang adil tanpa kehilangan identitas dirinya sebagai muslim Indonesia.
Bukan sejak Solon, salah satu dari seven wise di Athena, Nurcholish bahkan melacak gugus sejarah peradaban idealnya hingga era Hammurabi dan menemukan wujud konkret pemimpin ideal pada sosok Nabi Muhammad serta Khulafa’ Rasyidun sebagai referensi utama.[4] Berpijak pada hikmah para ulama, “memelihara yang lama dan baik, sekaligus mengambil yang baru dan lebih baik”,[5] Nurcholish menolak keras nativisme dan atavisme,[6] yaitu paham bahwa apa pun yang berasal dari negeri dan bangsa sendiri serta berasal dari masa lampau akan dengan sendirinya pasti baik dan benar. Di atas pijakan afirmatif dan negatif itulah ia lantas mengidentifikasi “kearifan batin” sebagai satu dari sekian kriteria pemimpin ideal bangsa dan negara Indonesia sebagai nation-state modern sebagaimana cita-cita para pendiri.
Bangsa kita memerlukan suatu jenis kepemimpinan yang memiliki visi tentang masa depan bangsa, seseorang dengan intuisi kepemimpinan, savvy atau savoir-faire (kearifan batin, bashîrah).[7]
Tulisan ini akan menggali kandungan dua baris kalimat di atas dari Nurchalis Madjid ini di karya terakhirnya. Apakah kearifan dan kearifan batin? Dalam teks di atas, istilah madjidian ini diapit oleh dua istilah asing Perancis dan Arab: savoir-faire dan bashīrah. Penggalian kearifan batin dalam kesadaran berbangsa dan bernegara ini kiranya akan menunjang upaya pendisiplinan filsafat manusia dan filsafat politik Nurchalis Madjid sekaligus layak untuk ditempatkan sebagai bagian dari identitas orisinal pemikiran filosofisnya.
Savoir-faire: Kecakapan dan Kecerdasan Politik
Istilah ini hanya sekali digunakan Nurcholish dalam karya-karyanya. Tidak ada penjelasan apa pun selain dalam teks di atas tadi. Secara etimologis, savoir-faire adalah kata Perancis yang, secara harfiah, berarti “mengetahui cara melakukan sesuatu”,[8] atau kecakapan melakukan dan mengatakan kebenaran dalam situasi sosial apa pun.[9]
Secara teknis, savoir-faire lazim dipergunakan dalam studi psikologi sosial. Termasuk dalam studi paling belakangan, Ronald E. Riggio mengurai judul laporan singkat penelitiannya pada 2020, Why Savoir-Faire Is a Key to Social Success: apa yang melatarbelakangi keberhasilan politisi, pemimpin bisnis, dan individu biasa yang memiliki kualitas khusus untuk dapat dengan mudah memengaruhi dan membujuk orang lain? Lebih dari 40 tahun penelitian tentang kecakapan sosial menunjukkan bahwa itu adalah sesuatu yang kita sebut savoir-faire. Istilah itu diterjemahkan menjadi “mengetahui cara menjadi”.[10]
Lebih lanjut, Riggio mengeksplorasi hubungan antara savoir-faire dan karakteristik kepribadian untuk lebih jernih memahaminya, yaitu tatkala dikaitkan, pertama, dengan perannya dalam interaksi sosial, kedua, dengan ekspresi afektif yang lebih positif dan, terakhir, dengan cara meningkatkan kepercayaan diri. Riggio segera menegaskan bahwa savoir-faire merupakan konstruksi inti kecerdasan sosial (social intelligence-SQ) yang berbeda dari kecerdasan verbal (IQ) juga tampak tidak sama dengan kecerdasan emosional (EQ).
Dalam penerapan savoir-faire pada kepemimpinan, Riggio menemukan bahwa dari semua ukuran perbedaan individu yang telah dikorelasikan dari tahap persiapan hingga ke posisi kepemimpinan, savoir-faire merupakan indikator terbaik. Kecakapan ini mencakup ekspresi verbal (berbicara fasih), kemampuan melibatkan orang lain dan menarik perhatian mereka, dan keterampilan memainkan peran sosial yang membantu seseorang beradaptasi dengan semua jenis orang dan kelompok dalam berbagai lingkungan sosial.[11]
Agaknya, konsep ini, sebagaimana disarikan dalam kamus Cambridge,[12] berkorelasi dengan wacana caracter building di ranah politik. Pemimpin ideal politik adalah putra bangsa yang paling membutuhkan savoir-faire yang mengejawantah, di antaranya, dalam kecakapan berbicara, bertindak dan berperilaku hingga meyakinkan, mempengaruhi dan mengesankan publik.
Lalu, bagaimana menjelaskan esensi kecakapan dan kecerdasan politik ini? Mengikuti metode para faylasuf Peripatetik, telaah atas esensi kecerdasan politik ditempuh selanjutnya melalui penggalian sebab-sebab atau dasar-dasarnya yang mengendap dalam istilah asing kedua: bashīrah.
Bashirah: Pandangan Batin
Sama dengan savoir-faire, istilah bashīrah tampaknya hanya muncul satu kali saja dalam karya Nurcholish Madjid tanpa penjelasan apa pun. Konsentrasi besarnya pada Al-Quran sebagai basis penggagasan ide dan pijakan konseptual telah membuka kemungkina besar istilah bashirah juga berasal, pertama-tama, dari Al-Qur’an sebelum merujuk ke tradisi tasawuf. Namun, tampaknya juga tidak ada satu ayat pun yang mengandung kata itu atau seakar kata dengannya dalam karya-karyanya untuk kemudian diperoleh sekedar terjemahannya.
Bashīrah seakar kata dengan bashar, berarti mata dan indra penglihatan; ia juga berarti penetrasi ke dalam hati (nafādz fi al-qalb), bisa juga berarti penglihatan dan lintasan hati (bashar al-qalb). Sementara bashirah sendiri sepadan dengan bukti yang kokoh (al-hujjah, al-burhān) dan keyakinan hati (‘aqīdah al-qalb). Ia juga berarti kecerdasan (al-futhnah) dan pelajaran (al-‘ibrah).[13] Keterangan Ibnu Mandzur ini juga dikuatkan oleh mufasir sastrawan, Raghib Ishfahani, bahwa kata bashirah digunakan untuk daya pengetahuan hati saja.[14]
Abu al-Futuh al-Razi dalam tafsirnya atas ayat, “Dan manusia memiliki bashirah atas dirinya sendiri” (Q. 75:14) mengutip dari Ibnu Abbas bahwa bashirah di sini yaitu manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri sedemikian rupa sehingga menegakkan hujjah ‘argumen’ yang nyata dan kokoh.[15]
Sementara dalam tasawuf, telaah atas bashirah begitu ekstensif dilaksanakan oleh para sufi. Dalam kamus terminologi tasawuf, Abdurazzaq Al-Kasyani menerangkan bashirah sebagai kekuatan (al-quwwah) di hati yang diterangi oleh cahaya suci, dan membuat hati dapat melihat realitas serta hakikat segala sesuatu. Seperti mata yang dengannya jiwa mengetahui bentuk dan penampakan suatu objek, para hukama’ (orang-orang arif, para faylasuf) menyebut bashirah sebagai kekuatan akal teoritis dan al-quwwah al-qudsiyyah “kekuatan suci”.[16]
Dari pemeriksaan singkat di atas ini, kata bashirah digunakan dalam banyak makna, seperti pengetahuan, penglihatan hati, cahaya hati, kesadaran, kecerdasan, bukti, pelajaran, dan keyakinan agama yang benar. Namun perlu juga dicatat bahwa, meskipun bashirah pada dasarnya berarti pengetahuan, tidak semua pengetahuan itu bashirah, dan tidak semua ‘alim (berilmu) dapat disebut bashir (pemilik bashirah). Kata bashirah menunjukkan semacam penguasaan ilmu dan visi ke depan dengan ciri-ciri: (a) jelas dan pasti, (b) primer dan utama, (c) bersifat batin, (d) berkaitan dengan hati, (e) berderajat, dan (f) penyeberang dan pengungkap rahasia.
Makna dan ciri-ciri ini secara tidak langsung terungkap dalam sepenggal teks Nurchalis Madjid di muka: menekankan intuisi yang dekat maknanya dengan hati, visi masa depan yang segaris lurus dengan dimensi batin dan di-balik permukaan. Di banyak tempat, ia kerap menekankan i’tibar (seakar kata dengan ‘ibrah) yang berfungsi sebagai penyeberangan menuju makna batin, hakikat dan rahasia.[17] Penyeberangan menuju rahasia ini juga, dalam tasawuf, dikenal dengan ta’wil.[18]
Bila dikalkulasikan dengan savoir-faire sebelumnya, bashirah dapat disimpulkan sebagai pengetahuan batin seseorang yang mampu menembus permukaan fenomena dan kulit masalah dengan cahaya kesucian fithrah hingga menghasilkan kualitas-kualitas kecerdasan politik dalam kepemimpinan. Namun, apakah fithrah itu sendiri? Bersambung
———————————
*Referensi selengkapnya dapat dirujuk ke buku cetak dengan judul 40 Human Virtues: Pendar-pendar Hikmah Nurcholish Madjid
[1] Madjid, Nurcholish, Indonesia Kita, dalam “Karya Lengkap Nurcholishh Madjid”, hal. 4927.
[2] Epistemologi Politik merupakan salah satu bidang filsafat yang paling pesat perkembangannya. Isu-isu seputar pengetahuan dan kebenaran terasa krusial dalam kehidupan politik. Epistemologi Politik saat ini menghimpun masalah epistemik seperti post-truth, berita palsu, kemerosotan kebenaran, ruang gema, fakta alternatif, termasuk subjek dan sumber pengetahuan politik. Epistemologi Politik menyatukan para filsuf terkemuka untuk mengeksplorasi modus-modus dan alat-alat analitis serta konseptual. Bidang filsafat ini secara langsung berdampak pada atau terdampak oleh sejumlah disiplin ilmu, terutama Filsafat Politik, Epistemologi, Filsafat Etika, Filsafat Manusia, termasuk Psikologi Politik. Lih. Elizabeth Edenberg, Michael Hannon, Political Epistemology, Oxford University Press USA: 2021; Michael Hannon; Jeroen de Ridder, The Routledge Handbook of Political Epistemology, Routledge: 2021.
[3] Plato, The Republic of Plato, Book II, hal. 120.
[4] Madjid, Nurcholish, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, hal. 340; Madjid, Nurcholish, Indonesia Kita, hal. 4863.
[5] Madjid, Nurcholish, Islam Doktrin dan Peradaban, hal. 1101; Madjid, Nurcholish, Islam Agama Kemanusiaan, hal. 2029, 2176.
[6] Madjid, Nurcholish, Cita-cita Politik Islam, hal. 3926.
[7] Madjid, Nurcholish, Indonesia Kita, hal. 4889.
[8] https://www.merriam-webster.com/dictionary/savoir%20faire#h1
[9] https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/savoir-faire
[10] https://www.psychologytoday.com/us/blog/cutting-edge-leadership/202009/why-savoir-faire-is-key-social-success
[11] https://www.psychologytoday.com/us/blog/cutting-edge-leadership/202009/why-savoir-faire-is-key-social-success
[12] https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/savoir-faire
[13] Ibnu Mandzur, Lisan Al-‘Arab, jil. 4, hal. 64-65, entri ba-sha-ra.
[14] Al-Raghib Al-Ishfahani, Al-Mufradat li Alfadz Al-Qur’an, hal. 127, entri ba-sha-ra.
[15] Abu al-Futuh al-Razi, Rawdh Al-Jinan wa Ruh Al-Jinan, jld. 11, hal. 327; Zamakhshari, Al-Kasysyaf, jil. 4, hal. 661.
[16] Al-Kasyani, Ishthilahat al-Shufiyyah, hlm. 37.
[17] Madjid, Nurcholish, Islam Doktrin dan Peradaban, hal.1120; Madjid, Nurcholish, Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat, hal. 4192.
[18] Madjid, Nurcholish, Tradisi Islam, hal. 4725.