TafsirSaintifik–Banyak kalangan saintis yang menganggap bahwa Isra Mikraj, yaitu peristiwa perjalanan pulang pergi Nabi Muhammad dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsa (Jerusalem, Palestina) lalu dari bumi ke langit hanya dalam satu malam, sebagai peristiwa yang mustahil terjadi. Maka, wajar jika atheis tidak mempercayainya sebelum lantas mereka menjadikan argumen atas irasionaltas wahyu dan kemitosan Alquran, tepatnya di pembukaan surat Al-Isra’:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
Benarkah Peristiwa Isra Mikraj itu Mustahil?
Menurut kosmologi modern, jarak bumi ke pinggir alam semesta sekitar 14 miliar tahun Cahaya. Artinya dengan kecepatan cahaya, perjalanan itu membutuhkan waktu 14 miliar tahun untuk keluar dari langit dunia.
Einstein mengatakan bahwa tidak ada benda ber-massa yang bisa melampaui kecepatan cahaya. Lalu, orang bertanya: kalau begitu, bagaimana mungkin Nabi Muhammad bisa Isra Mi’raj hanya dalam satu malam?
Di sinilah menariknya. Banyak orang diuji objektivitasnya. Mereka mencoba menjelaskan peristiwa langit dengan menggunakan fisika bumi, padahal hukum dua realitas langit dan bumi itu berbeda.
Penjelasannya, kita hidup di alam materi langit pertama sebagai ruang tiga dimensi plus waktu. Sementara makhluk seperti: malaikat, jin dan arwah berada pada dimensi yang lebih tinggi dari manusia. Karena itu, mereka adalah makhluk gaib yang tidak bisa kita jangkau dengan panca indra kita yang berada di alam materi ini.
Kita kita tidak bisa membayangkan bagaimana dimensi ruang keempat dan seterusnya, karena akal kita yang, sekali lagi, hidup di alam materi ini terbatas pada ruang tiga dimensi. Katakanlah ada makhluk yang hidup di alam dua dimensi seperti Chalk Zone; makhluk ini tidak akan mampu memahami ruang tiga dimensi.
Contoh lainnya, seekor semut berjalan di atas kertas persegi empat. Untuk pindah dari ujung kiri ke ujung kanan kertas itu, seekor semut harus berjalan jauh dan membutuhkan waktu yang panjang menyusuri permukaan kertas. Tetapi, bagi manusia yang berada di ruang tiga dimensi, kita tinggal angkat semut itu dari posisi pertama lalu kita pindahkan ke posisi kedua. Perjalanan jauh bagi semut menjadi jauh lebih singkat ketika dibantu oleh makhluk berdimensi lebih tinggi, atau kertas itu tinggal dilipat saja sehingga dua titik bisa langsung bertemu.
Dalam fisika modern, konsep seperti ini mirip ide wormhole-nya Einstein. Artinya, bisa jadi peristiwa Isra Mi’raj bukan melanggar hukum fisika dunia kita, tetapi menggunakan hukum fisika yang lebih tinggi yang sejuah ini belum mampu dipahami oleh kekuatan akal manusia sekarang ini.
Dalam permainan rubik, misalnya, orang tidak mungkin menyelesaikan rubik 3×3 dengan hanya menggunakan algoritma rubik 2×2; dia perlu algoritma rubik 3×3.
Kalau manusia saja bisa membuat internet yang menghubungkan miliaran orang dalam hitungan detik, tentu Allah Pencipta langit dan jagad raya beserta ruang dan waktunya mampu memperjalankan hamba-Nya dalam satu malam.
Mencari rumus Isra Mi’raj di fisika hari ini ibarat mencari aplikasi Instagram di kalkulator cabe, tentu salah kaprah. Jadi, dengan sehebat apapun sains dan secanggih apapun teknologi, manusia selalu punya batas observasi, sehingga ada wilayah yang dipahami dengan logika sains, dan ada wilayah yang harus didekati dengan logika iman.
Agustino Zulys, Guru Besar FMIPA UI