• LAINYA

ETIMOLOGI-ALQURAN–Banyak kosakata Arab yang mengandung arti bertentangan. Misalnya, kata haram berarti terhormat sekaligus terlarang. Tentu ada relasi di antara keduanya, yakni sesuatu itu terlarang agar terlindung saking suci dan terhormatnya.

Dalam Alquran, kosakata seperti ini juga dapat dijumpai. Di antaranya, kata hawn dan huwn. Dua kata ini berasal dari satu akar kata: ha-wa-na. Kedua-duanya sama dalam struktur morfologis hurufnya, yaitu Ha’ (هـ), Waw (و), dan Nun (ن), namun berbeda dalam bacaannya hanya karena beda harakat di huruf pertama masing-masing.

Pada kata pertama, huruf pertamanya berharakat fathah sehingga dibaca hawn, sedangkan yang pada kata kedua, huruf pertamanya berharakat dhammah sehingga dibaca huwn.

Pertanyaannya, apakah makna kedua kata itu sama? Jawabannya, tidak sama. Ini mungkin salah satu karakteristik dan keunikan bahasa Arab.

Kata hawn artinya tenang dan lembut, seperti dalam QS. Al Furqan [25]: 63:

وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلَّذِینَ یَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنࣰا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَـٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَـٰمࣰا
Adapun hamba-hamba [Tuhan] Yang Mahakasih adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan tenang (lembut dan rendah hati), dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, ‘salam!’”

Orang yang taat pada Allah sebagai Sumber Pelimpah kasih sayang akan menyebarkan kasih sayang ilahi kepada manusia dan segenap makhluk. Berada dalam kasih sayang Allah akan menciptakan ketenangan dan kedamaian dalam jiwanya sehingga dia tidak bersulut dan terhasut oleh penghinaan dan kata-kata kasar orang-orang jahil. Alih-alih membalas dengan cara yang sama kasarnya, hamba Allah yang Mahakasih justru membalas kebodohan oang-orang dengan kebaikan dan ucapan santun dan harapan mulia.

Sebaliknya kata huwn berarti hina dan rendah. Ini disebutkan dalam QS. Al-Nahl [16]: 59:

Baca Juga :  Balada Cinta Istri Kepala Keamanan Raja dan Ajudan Tampan dalam Alquran (2): Cinta Tuhani, Cinta Insani, Cinta Hewani

وَاِذَا بُشِّرَ اَحَدُهُمْ بِالْاُنْثٰى ظَلَّ وَجْهُهٗ مُسْوَدًّا وَّهُوَ كَظِيْمٌۚ يَتَوٰرٰى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوْۤءِ مَا بُشِّرَ بِهٖۗ اَيُمْسِكُهٗ عَلٰى هُوْنٍ اَمْ يَدُسُّهٗ فِى التُّرَابِۗ اَلَا سَاۤءَ مَا يَحْكُمُوْنَ
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat kesal. Dia bersembunyi dari orang banyak karena kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah betapa buruk (putusan) yang mereka tetapkan itu.”

Orang beriman pasti mulia, wibawa dan penuh kasih sayang, sementara orang terhina sudah terhina dan rendah dengan sifat pemarahnya dan menderita beban menanggung rasa kesal serta memendam kesumat dalam hatinya sehingga pikiran dan keputusannya buruk.[AbdullahAbdulqadir]

Share Page

Close