• LAINYA

FILSAFAT-ULUMUL QURAN–Kenapa harus ada nabi? Apa perlunya Allah memilih seseorang jadi nabi lalu mengutusnya kepada kita? Apa yang membuat kita di dunia yang sudah maju, berperadaban dan serbacanggih ini masih butuh kepada nabi dan wahyu? Pada dasarnya, apa fungsi nabi dan wahyu untuk manusia?

Pertanyaan ini penting, selain menyangkut hakikat diri manusia, juga secara langsung menentukan pilihan kita: beragama atau tidak beragama.

Alquran merangkum falsafah dan keniscayaan adanya nabi dan penurunan wahyu, yakni fungsi nabi dan kebutuhan manusia pada nabi serta wahyu Tuhan, dalam beberapa fokus berikut:

SESUNGGUHNYA AKU HANYALAH DIUTUS UNTUK MENYEMPURNAKAN AKHLAK–Baginda Nabi SAW

 

PERTAMA, MERDEKA DAN JADI TUAN

Nabi dan wahyu didatangkan agar manusia hidup merdeka dan jadi tuan atau, dalam bahasa Alquran, jadi khalifah dan maha penguasa di muka bumi. Caranya, mengenal diri sendiri sebagai semata-mata hamba Allah sehingga, konsekuensi logisnya, dia tidak menjadi budak bagi siapa saja selain Allah:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ
“Kami telah mengutus dalam setiap umat seorang rasul agar sembahlah Tuhan dan jauhilah taghut” (QS. Al-Nahl [16]: 36).

Menjadi hamba Allah sepenuhnya yaitu hanya tunduk di bawah kehendak dan hukum Allah. Maka sebaliknya, hamba Allah tidak akan tunduk di bawah kekuasaan dan sistem hukum selain kekuasaan dan hukum Allah. Begitulah setiap jadi tuan dan penentu hidup dan masa depan diri sendiri.

Dia hamba sepenuhnya di hadapan Allah, maka dia tuan bagi dirinya dan hidupnya, sekaligus merdeka dan setara di hadapan siapa saja selain Allah. Kemerdekaan hakiki hanya diperoleh dari hanya menghamba kepada Allah dan tidak menghamba kepada siapa pun kecuali diizinkan oleh Allah.

Baca Juga :  Al-Kasysyaf, Tafsir Sastra Penyingkap Makna Abad 6 Hijriyah

 

KEDUA, MENCERAHKAN AKAL DAN MENYUCIKAN JIWA

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
“Dialah yang telah mengirim di tengah orang-orang ummiy seorang utusan dari mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan kebijaksanaan” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 2).

Wahyu berupa kitab suci Alquran diturunkan Allah melalui nabi bukan sekedar untuk dibaca dan didengar, tetapi yang lebih penting dari itu ialah Alquran dipahami dengan akal dan dihayati dengan sepenuh hati hingga menjadi keimanan yang mengubah jadi sikap dan pendirian.

Semua kandungan Alquran sesuai dengan suara hati dan sebangun dengan logika akal. Dengan membaca dan berusaha memahami maknanya, akal jadi hidup bersinar dengan pengetahuan yang benar dan hati jadi tanggap menguatkan iman dan amal.

UNTUK MENGHIDUPKAN KEMBALI JANJI FITRAHNYA DAN MEMBANGKITKAN KANDUNGAN AKALKhalifah Ali bin Abi Thalib ra.

 

KETIGA, MENEGAKKAN KEADILAN

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۖ
“Sungguh Kami telah mengirim utusan-utusan Kami dengan bukti-bukti dan Kami telah turunkan bersama mereka Kitab dan neraca agar manusia menegakkan keadilan” (QS Al-Hadid [57]: 25).

Keadilan agama dari nabi adalah keadilan Tuhan. Penegakan keadilan bergantung, tentu saja, pada pengetahuan manusia akan nilai-nilai keadilan itu sendiri di semua dimensi dan bidang. Keadilan juga ditegakkan dalam kerangka hukum Allah dan, tentu saja, kearifan akal.

Nabi SAW menegakkan keadilan dengan dua aspek sekaligus: menjaga hak bagi pemiliknya dan merebut hak dari perampasnya. Memerangi tindak pembodohan warga dan kejahatan sosial adalah bagian dari penegakan keadilan (lihat QS. Al-Qashash [28]: 77).

Baca Juga :  Radikalisme Positif dalam Beragama: Menjadi Tuhan itu Kewajiban juga Cita-cita

 

KEEMPAT, MENCIPTAKAN KEAMANAN DAN PERDAMAIAN

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا
“Manusia merupakan umat yang satu, lalu Allah mengutus nabi-nabi sebagai pembawa berita baik dan ancaman, dan Dia menurunkan bersama mereka Kitab dengan kebenaran untuk memutuskan di antara manusia tentang apa yang mereka perselisihkan” (QS. Al-Baqarah [2]: 213).

Tentu, perselisihan manusia itu tidak terbatas pada keyakinan saja, tetapi juga muncul di berbagai aspek dan bidang kehidupan. Nabi diutus dan wahyu diturunkan dalam rangka memutuskan perkara-perkara konflik dan perselisihan atas dasar hukum keadilan Allah dalam kitab suci dan akal sehat sehingga perdamaian dan keamanan terbangun, terbina dan berperikemanusiaan.

Tanpa keadilan dan hukum yang adil, kedamaian dan perdamaian menjadi rapuh dan palsu. Maka, perlu keadilan untuk menjadi panglima supremasi hukum guna menciptakan perdamaian hakiki.

 

KELIMA, BUKTI PAMUNGKAS 

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
“Rasul-rasul pembawa berita baik dan peringatan agar tidak ada bukti bagi manusia terhadap Allah setelah pengutusan rasul-rasul itu. Sesungguhnya Allah Mahakuat dan Maha Bijaksana” (QS. Al-Nisa’ [4]: 165)

Sebagai Maha Bijaksana, Allah menciptakan manusia dengan tujuan dan maksud yang tidak akan terpenuhi kecuali dengan mengajukan paket petunjuk untuk semua urusan hidup manusia. Paket itu harus sampai kepada dan terjangkau oleh manusia-manusia pilihan Allah juga sebagai perantara dan bukti Allah atas umat manusia. Dengan fasilitas wahyu dan nabi dari Allah, setiap orang tidak punya lagi alasan untuk mengatakan, “Aku tidak tahu apa tujuan hidupku dan bagaimana seharusnya aku hidup”.

Baca Juga :  QS. Al-Anfal [8]: 60, Kewajiban Tanpa Batas (1): Jadi Bangsa Terkuat dan Paling Wibawa

Sebagai bukti pamungkas menyatakan bahwa Alquran mengakui adanya bukti lain dari Allah seperti bukti-bukti nyata akal. Wahyu dan nabi datang dalam rangka menyempurnakan bukti-bukti akal, yakni menggali dan menguatkan bukti-bukti terpendam akal, melengkapi bukti-bukti akal yang belum tuntas. Wahyu tidak bertentangan dengan akal, tetapi saling menguatkan. Ini sesuai dengan hadis masyhur, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”

Lima alasan di atas terangkum dalam dua ayat pendek berikut:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا * وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا
“Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar bahagia dan pemberi peringatan, dan sebagai penyeru kepada Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya penerang” (QS. Al-Ahzab [33]: 45-46).

Share Page

Close