• LAINYA

TASAWUF-POLITIK–Secara konseptual maupun faktual, pemimpin tidak bisa dipisahkan dari yang dipimpin. Ada hubungan ketat yang saling mengisi di antara keduanya, yaitu hubungan kepemimpinan. Dalam wacana politik, kepemimpinan bangsa kerap dengan kepemerintahannya.

Seorang pemimpin dalam kepemerintahannya menggunakan suatu pola atau model kepemerintahan. Yang belakangan ini hanya akan menemukan arti yang sesungguhnya tatkala ia memegang kekuasaan atas kehendak orang lain. Dengan demikian, pemimpin merupakan elemen dasar pemerintahan. Posisinya di tengah masyarakat ialah salah satu kekuatan kehendak atau hukum.

Baca sebelumnya: Profil Pemimpin Ideal dalam Tasawuf Politik Platon dan Imam Khomeini (1): Sebuah Parodi

 

PEMIMPIN VERSI PLATON
Berpijak pada elemen tersebut, Platon mendata pemerintahan bangsa-bangsa lewat petualangan dan pengalaman yang panjang. Di dalam daftarnya, ada lima macam pemerintahan, dan riwayat umat manusia, dari sisi penataan politik, melalui urutan yang khas. Tatanan pemerintahan di Athena, Sparta dan dataran lainnya pada masa itu berkembang sesuai urutan berikut ini: Aristokrasi, Timokrasi, Oligarki, Demokrasi, dan Tirani.

Dengan menentang kelima macam pemerintahan di atas, sesungguhnya Platon juga menolak setiap pemimpin yang duduk di atas masing-masing pemerintahan itu. Mulai dari sinilah akan diselidiki sejauhmana Platon mampu mengajukan tesisnya mengenai pemimpin ideal.

 

KEADILAN
Emerson menuturkan, nama Platon identik dengan filsafat dan, filsafat identik dengan Platon.[14] Emile Brehier menambahkan, pemisahan filsafatnya dari politik tidaklah tepat.[15] Hasilnya, Platon bukan sekadar identik dengan filsafat, tetapi juga identik dengan politik.

Namun demikian, tidak dapat disangkal bahwa Platon juga pemikir etika sebelum menjadi pemikir dan aktor politik. Pendirian etisnya amat tegas terhadap aktifis-aktifis muda yang berpolitik dengan penuh gairah dan ambisi, tapi miskin kesiapan dan moralitas.[16]

Tak pelak lagi, konsep keadilan pun menempati titik sentral dalam diskusi-diskusi etika Platon. Kebanyakan dialog yang tercatat dalam Republic berkisar pada konsep itu. Dalam analisis Guthrie, Republic itu sendiri adalah kata Yunani yang berarti manusia adil atau perihal keadilan.[17]

Keadilan adalah keutamaan (arete) yang membangun kepribadian manusia secara utuh dan, pada saat yang sama, menghidupkannya aktif dalam dinamika sosial. Poin ini, yakni memandang citra keadilan pada pembinaan jiwa individu sama dengan citranya pada pembinaan karakter sosialnya, adalah bagian lapisan paling dasar dalam filsafat politik Platon.

Ketika para peserta dialog mendiskusikan hakikat keadilan, Socrates mengusulkan supaya pertama-tama mengkaji keadilan dan ketidakadilan pada tingkat negara, kemudian mengkajinya pada tingkat individu; menelusurinya dari yang besar ke yang kecil lalu membandingkannya.[18]

Gloucon, salah satu peserta, malah memuji usul ini sembari sepakat dengan kesimpulan Socrates, bahwa “Tidak ada bedanya antara seorang yang adil dan masyarakat yang adil, maka keduanya sama, karena sama-sama membawa hakikat keadilan”.[19]

Masalahnya, apakah hakikat keadilan? Dengan kata Copleston, apakah prinsip-prinsip keadilan individu dan keadilan sosial?

Keadilan menjalani definisasi yang beragam di sepanjang diskusi. Mulai dari “memenuhi hak orang lain”[20] melalui “kepentingan orang yang lebih kuat”[21] sampai “menjalankan tugas masing-masing dan tidak campur tangan dalam tugas orang lain”[22].

Definisi terakhir ini dikontraskan dengan penerjangan atau pemerkosaan politis[23] yang, pada gilirannya, menimbulkan kekacauan sebelum dapat membubarkan kehidupan bernegara. Dari sinilah Platon meyakinkan bahwa keadilan, menurut definisi ketiga, merupakan landasan kehidupan bermasyarakat.[24]

Dalam rangka itu, diperlukan spesialisasi. Yakni, setiap anggota memerlukan keahlian dalam menjalankan tugasnya, kecil ataupun besar, sekalipun dia tukang kayu atau pengesol sepatu. Platon menyatakan bahwa perkara pengelolaan masyarakat memerlukan lebih dari sekadar keahlian. “Lebih dari sekadar keahlian” memperingatkan aksioma yang berlaku bahwa pemerintahan bukan hanya bekerja guna memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga menyediakan lahan-lahan pengembangan spiritual dan moral masyarakat.

Baca Juga :  Profil Pemimpin Ideal dalam Tasawuf Politik Platon dan Khomeini (4): Kriteria Wali Faqih

“Oleh karena ini”, tutur Socrates, “kamu hanya akan menyerahkan kendali masyarakatmu ke tangan orang-orang yang dari satu sisi mengetahui syarat-syarat kebajikan hakiki masyarakat lebih dari yang lain, dan dari sisi lain mereka berwenang menerima kehormatan di atas posisi memerintah”.[25] Lalu, siapakah mereka itu?

 

PEMIMPIN FILOSOF
Adapun definisi kedua, seperti yang ditawarkan Thrasymachus, ialah kepentingan orang yang lebih kuat. Atas dasar ini, pertanyaan di atas tadi bisa diperjelas menjadi, siapakah orang yang kuat itu?

Brehier menyimpulkan bahwa hakikat keadilan berpijak pada hubungan-hubungan yang diatur oleh kekuatan. Maka, siapa saja yang lebih kuat, dialah yang berkuasa.

Tetapi, kekuatan tidak hanya bersifat fisikal atau material seperti halnya dalam pandangan orang awam. Manusia kuat yaitu manusia yang pandai mempelajari hukum dan perundang-undangan. Jadi, kekuatan yang sesungguhnya ialah yang seutuh dengan “kebijakan” mengenai politik dengan syarat: ada “keberanian” dalam melaksanakannya.

Hanya saja keberanian, yang dengannya kita bisa menundukkan orang lain, juga harus bisa kita terapkan dalam menyikapi diri kita, yakni “menguasai diri”. Pada karakter yang terakhir ini kita bisa menyeimbangkan keputusan serta tindakan.[26]

Keseimbangan adalah keutamaan yang menciptakan keharmonisan antara itikad, nafsu dan akal. Dan, keutamaan mutlak hanya akan tercapai tatkala setiap unsur jiwa melakukan fungsinya masing-masing secara harmonis.[27] Inilah keadilan individu. Sebagaimana di dalamnya terdapat tiga karakter, dalam masyarakat yang adil pun harus ada tiga karakter yang sepadan, yaitu pegawai sipil, prajurit dan pemimpin. Maka, hakikat keadilan itu sama, dalam tingkat perseorangan maupun dalam kehidupan bernegara.

Menjawab pertanyaan di atas, Platon mengatakan bahwa mereka yang berhak mendapatkan kehormatan lebih dari sekadar memimpin dan memerintah ialah manusia-manusia adil dan berkeutamaan; yang sempurna dari segala sisi.[28]

Sembari mengidentikkan keutamaan dengan kebijakan (pengetahuan hakiki), Platon hendak menunjukkan dalam Republic bahwa seseorang hanya mampu mengajarkan keutamaan tatkala ia memiliki kebijakan dan pengetahuan yang sesungguhnya (episteme) tentang kemaslahatan manusia.[29] Mereka itulah filosof.

 

SIAPAKAH FILOSOF? ANJING!
Ya, Anjing. Inilah binatang yang bisa kita temukan sebagai jawaban Socrates dalam Republic.[30] Sebelum saya atau mungkin juga Anda, Glaucon sudah lebih dahulu kebingungan saat ditanya sang guru, “Adakah bedanya antara anjing dan pemuda berani?”

Tak lama setelah mereka sepakat bahwa penguasa itu mesti berbelas kasih pada kawan-kawannya sekaligus beringas terhadap musuh-musuhnya, dan bahwa kedua karakter yang saling bertentangan itu mungkin sekali menyatu pada satu sosok sebagaimana pada seekor anjing ronda, lagi-lagi Glaucon kebingungan tatkala Socrates menanyakan karakter dasar anjing yang melatari dua karakternya yang terdahulu.

“Penangguhan keramahan atau kemarahan anjing pada sekedar pengetahuan dan ketidaktahuannya merupakan naluri yang teramat bijak padanya dan sebuah kiasan tentang hasratnya pada pengetahuan. Bukankah ini fenomena filsafat yang sesungguhnya?”

Dengan cara ini, Socrates memberikan sentuhan awal ihwal sosok penguasa yang filosof kepada kita. Di sepanjang Republic sendiri, sesungguhnya Platon memberikan jawaban yang beragam. Dan boleh jadi kiasan anjing untuk profil filosof amat berlebihan, atau terkesan dipaksakan. Sebagaimana pada alur dialog mengenai konsep keadilan terdahulu, kiasan itu lebih tepat bila dipandang sebagai pendakian dialektis untuk menemukan jawaban yang diupayakan sebagai kesimpulan yang relatif final.

Baca Juga :  Filsafat Nikah dan Keluarga dalam Alquran (2): Keniscayaan Individual dan Sosial

Menurut telaah Brehier, di antara sifat-sifat yang diberikan untuk sang filosof, ada dua hal esensial yang kerap mengecoh prima facie kita sampai mungkin mempertentangkannya. Dari satu sisi, seorang filosof harus lari dari dunia fana ini guna menyucikan diri dan memasuki alam hakikat (idea), dan di sisi lain, ia pun harus membangun masyarakat berperadaban dan mendisiplinkan lalu lintas interaksi sosial secara tertib di dalamnya. Filosof ialah manusia bijak yang membebaskan diri dari dunia sekaligus pelaku politik yang adil.[31]

Guthrie mengatakan, filosof ialah totalitas semua karakter mulia; keseutuhan hakikat, keadilan, keberanian, penguasaan diri, kecerdasan, kehormatan dan kecintaan dalam dirinya, sehingga ia dapat menyaksikan realitas sebagaimana adanya. Filosof ialah manusia yang menyandang sifat-sifat mulia tersebut.[32]

Pada dasarnya, ketajaman rasionalitas, kelembutan tasawuf dan kebijaksanaan politik merupakan sel-sel dasar sosok filosof Platonian. Kelengkapan dan keutuhan sifat-sifat mulia itu yang menggenapkan definisi Plato atas filsafat bukan semata-mata philo-sophia (cinta kebijaksanaan), tetapi juga realisasi nilai-nilai keutamaan dan kebaikan hakiki pada dirinya hingga menjadi personifikasi Tuhan, menjadi Tuhan (becoming god), divinisasi dan theosis (Dombrowski, 2005, A Platonic Philosophy of Religion, chapter 6).

 

BAGAIMANA MENJADI FILOSOF?
Dalam hal ini, Socrates segera menunjukkan bagaimana pemimpin idamannya bisa memiliki pengetahuan hakiki dan menerapkannya dalam kehidupan bernegara. Berdasarkan pandangan epistemologisnya, ada dua macam pengetahuan yang bisa kita miliki; pengetahuan sensual (doxa) dan pengetahuan rasional (episteme).

Pengetahuan sensual terbagi kepada dua macam yang semuanya tidak layak diangkat sebagai pengetahuan hakiki lantaran parsial, tidak konstan, dan tidak pasti. Bersandar pada pengetahuan sensual, kita hanya bisa mengetahui sesuatu sebagaimana yang tampak pada pandangan kita, bukan sebagaimana adanya pada dirinya.

Adapun pengetahuan rasional berurusan dengan alam hakikat. Padanya terbuka kemungkinan mendapatkan pengetahuan yang hakiki; yang bersifat niscaya, konstan, universal, yang sebenarnya pernah diketahuinya sejak sebelum kedatangannya di dunia yang fana.[33]

Kalau Anda sepakat dengan Platon, segara keluarkan diri Anda dari dunia materi (kosmos oisthetos) menuju dunia transendental (kosmos noetos). Selanjutnya, Platon akan membantu Anda tidak untuk belajar dan mencari ilmu, tetapi melatih, mendidik dan mengembangkan diri guna mengingat kembali hakikat yang terlupakan itu akibat ruhnya yang berlumuran materi. Yaitu dengan cara:

1. Dia mendorong Anda menyadari kekurangan pengetahuan sensual, dan membenturkan perhatian pada hal-hal luar biasa di alam materi.
2. Mengajak Anda menelaah Aritmetika, Geometrika dan Astrometrika untuk melatih pikiran mengkaji hal-hal abstrak dan universalia.
3. Untuk tujuan yang sama, Platon akan menganjurkan Anda mempelajari nada-nada suara dan musik.
4. Akhirnya, Anda menjadi siap melepaskan diri sepenuhnya dari dunia materi dengan metode kajian dialektis. Tatkala Anda memulai menyingkap hakikat absolut hanya dengan akal nurani secara tekun sampai menyaksikan kebajikan mutlak, saat itulah Anda telah mendapatkan diri Anda di puncak alam transendental.[34]

Jelas bahwa rangkaian perjalanan ini bukan sekadar usaha intelektual-kultural, tetapi juga suluk ruhani, pengawasan atas diri dan kemaslahatan bangsa.[35]

Dua bentuk usaha ini dimaksudkan sebagaimana yang dilukiskan Socrates dalam alegori guanya yang masyhur itu.

“Mereka yang tidak tahu filsafat seperti tahanan-tahanan yang tersekap dalam gua. Karena terbelenggu, mereka hanya bisa melihat ke satu arah sembari menghadap dinding, sementara api menyala di belakang mereka. Ketika itu, mereka hanya melihat bayangan diri mereka serta bayangan apa-apa di balik punggung mereka yang dipantulkan api itu ke layar dinding. Dengan begitu, mereka menganggap deretan bayangan itu sebagai kenyataan. Mereka tidak tahu asal semua bayangan itu.

Baca Juga :  “There is A God” Karya Pembelotan Ateis Paling Terkemuka yang Menghebohkan Dua Kubu

“Akhirnya, seseorang meloloskan diri, keluar dari gua, menjejaki hamparan cahaya matahari, sehingga ia melihat realitas segala sesuatu untuk pertama kalinya. Ia baru sadar bahwa selama ini ia tertipu oleh semua bayangan tersebut. Jika tahanan pelarian ini ialah seorang filosof yang layak memimpin, maka ia wajib kembali ke gua. Di dalamnya ia menerangkan hakikat yang sebenarnya kepada para tahanan serta menunjukkan jalan selamat.”[36]

 

APAKAH AMANAH FILOSOF?
Melalui alegori gua sang guru, Platon menunjukkan profil filosofnya bahwa dia adalah sosok pemimpin ideal yang terdidik dan telah mencapai derajat tinggi melalui pencapaian intelektual dan spiritual. Dialah yang telah keluar dari gua materi, menapaki dunia nur hakikat-makrifat hingga mencapai Mentari, Sang Sumber Cahaya. Kemudian dia kembali ke gua dan membebaskan orang-orang yang terpenjara di dalamnya.[37]

Socrates mengatakan, “Di dalam gua itu, mula-mula dia akan menghadapi karakter dan tabiat masyarakat tak ubahnya kanvas yang penuh dengan lukisan jelek dan acak, lalu menghapus dan senantiasa mengapusnya sampai kanvas itu bersih.”

Yakni, pemimpin Platonian tidak hanya bertanggung jawab memakmurkan kehidupan materi bangsa. Dia laksana cahaya yang mengarahkan mereka menuju kebajikan dan kebaikan absolut, dengan cara membersihkan karat-karat kehinaan dan menaburkan nilai-nilai keutamaan sejati dalam diri dan hidup mereka. Cara ini mempertegas bahwa pemimpin juga bertanggung jawab memakmurkan jiwa dan spiritualitas rakyat.

“Dia akan konsisten melaksanakan tugas ini sampai karat-karat yang merusak itu hilang dan jiwa mereka ibarat lembaran yang putih bersih. Percayalah hal ini bukanlah perkara mudah.”[38]

Begitu banyak orang yang percaya pada pengakuan tulus Platon ini, bahwa perihal menjadi pemimpin Platonian dan menjalankan tugasnya memang tidak mudah. Kalau Copleston masih setengah hati memahami ketidakmudahan ini sama dengan kemustahilan,[39] tampak bagaimana R.K.Popper dalam separuh The Open Society and Its Enemies begitu gigih membuktikan pemerintahan dan pemimpin arahan Platon lebih merupakan utopia, mimpi di siang bolong. Kendati Bertrand Russell mengajukan Sparta dan pemerintahan Pitagorian sebagai wujud konkret dari impian Platon, tapi ia sendiri menyadari kemustahilannya dalam ukuran zaman sekarang.[40]

Platon sendiri, seandainya diberi kesempatan untuk reinkarnasi setetangga dengan Copleston atau Russell di London, tentu ia tidak akan mengikuti pemilu di sana. Tapi, kalau lalu ia diterbangkan ke Tehran, barangkali ia lebih suka berada di pengajian Jamaran. Pemiliknya adalah satu dari sisa keturunan keluarga besar sufi. Hanya dia bersama filosof-sufi-mufassir Thabathabai yang berani membuka kuliah filsafat Hikmah Muta’aliyah dan tasawuf Ibnu Arabi di kalangan Hauzah Ilmiyah.

Bernama Ruhullah putra Musthafa Khomeini, bergelar ayatullah (mujtahid mutlak), ia baru disebut-sebut Imam (sang pemimpin) tatkala bangkit menyerukan gerakan revolusioner kepada rakyat Iran. Sampai sekarang, sebutan imam ini masih lebih populer ketimbang namanya.

Boleh jadi Platon juga tidak berlama-lama di sana, sebab Imam Khomeini ternyata mengakui Demokrasi; model pemerintahan yang sangat dibencinya. Atau, malah semakin betah lantaran kiasan guanya itu begitu dekat dengan Asfar Arba’ah (empat perjalanan ruhani) yang dipercayai Imam Khomeini dari tradisi kaum sufi. Titik temu inilah yang akan membawa kita menelusuri dialog singkat di antara mereka.BERSAMBUNG

Share Page

Close