• LAINYA

TASFIR-SOSIAL-SUFI—Bertolak dari dua jenis cinta sebelumnya: cinta tuhani dan cinta insani, orang yang memilih dan menikmati sekedar cinta birahi adalah manusia bodoh; dia sudah menghilangkan kesempatan memperoleh dua cinta itu dari dirinya karena sudah membiarkan bahkan menikmati dirinya sederajat dengan binatang, Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung.”  

Di balik perbedaan tiga jenis cinta ini, ada kesamaan di antara mereka yang diungkapkan oleh ayat selanjutnya di bawah ini dengan satu diksi himmahyakni kehendak dan keinginan yang kuat. Namun, kehendak Yusuf tidak sama derajatnya dengan derajat kehendak Zulaikha. Kehendak Zulaikha adalah cinta binatang, sementara kehendak Yusuf adalah cinta Tuhan. Cinta Zulaikha akan tersambut cinta Yusuf bila cinta mereka berada di tingkat yang sama: sama-sama binatang.

Dari sini tampakna undang-undang keempat cinta, bahwa cinta akan menyatukan dan bersatu bila ada kesetaraan dan kesenyawaan. Nyatanya, cinta Zulaikha bertepuk sebelah tangan, karena tidak setara bahkan jauh di bawah cinta tuhani Yusuf.

Sungguh, perempuan itu benar-benar telah berkehendak kepadanya (Yusuf), dan Yusuf pun berkehendak kepadanya sekiranya ia tidak melihat tanda nyata Tuhannya. Demikianlah Kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya ia (Yusuf) termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (QS. Yusuf [12]: 24).

Dengan cinta luhur dan suci tuhani itu, Yusuf kokoh, konsisten, tidak tergoda oleh godaan besar dari cinta rendahan. Cinta tuhani (ilahi) akan melindungi seseorang dari hidup terhina dan menjaganya tetap hidup mulia.

Kendati berbeda, cinta Zulaikha juga cinta Yusuf sama-sama tunduk di bawah undang-undang kelima dari cinta bahwa “Cinta itu gerak”. Cinta adalah energi, menciptakan semangat, gairah dan dinamika. Sebaliknya, orang yang kehilangan semangat hidup, gairah kerja, menolak dinamika serta transformasi hingga bermalas-malasan dan hidupnya begitu-begitu saja dapat dipastikan sudah tidak punya cinta.

Artinya, tidak hanya bukan lagi manusia, manusia yang hidup tanpa harapan dan monoton sudah bukan lagi binatang juga setan, bahkan bukan apa-apa. Keberadaannya sama dengan ketiadaannya. Tidak berlebihan bila undang-undang cinta ini selanjutnya dijadikan pijakan untuk memahami filsafat cinta dalam Kebijaksanaan Luhur (al-hikmat al-muta‘aliyah) bahwa ”cinta adalah ada, dan ada adalah cinta.”

Baca Juga :  Konsep Umat: Menggali Nilai-nilai Apriori dan Aposteriori Sosial Alquran (1): Esensi Umat

Laksana dwifungsi lokomotif, cinta mendorong pecinta dari belakang sekaligus menariknya dari depan untuk (a) terhindar dari kekurangan dan kerugian, (b) meraih kesempurnaan dan kebahagiaan. Dua hal ini juga mendasari perencanaan Zulaikha. Mengamankan lokus dan tempos kekerasan, menutup pintu-pintu yang jumlahnya mencapai 11 pintu adalah bagian dari skenario yang dirancang dan dieksekusi oleh cinta hewani Zulakha dalam memperdaya Yusuf.

Dengan konsistensi dalam cinta hakiki dan abadi, setiap orang dapat meredam dan meluluhkan kekuatan cinta hewani. Yusuf selamat dari perangkap cinta birahi dengan keteguhannya menatap burhan ‘bukti nyata’ Tuhan.

Ayat selanjutnya menjelaskan ujian berikutnya dari cinta Yusuf pada Tuhannya. Dan di sepanjang ayat itu pula kita akan menyimak degradasi cinta Zulaikha dari cinta hewani ke cinta setani.

Mereka berdua berlomba mencapai pintu hingga perempuan itu menarik bajunya (Yusuf) dari belakang hingga terkoyak, dan keduanya mendapati suami perempuan itu di depan pintu. Dia (perempuan itu) pun berkata, ‘Apakah hukuman bagi orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu selain dipenjarakan atau siksaan yang pedih?!’” (QS. Yusuf [12]: 25).

Cinta Setani 

Ayat ini dimulai dengan kalimat: mereka berdua berlomba, berebut kecepatan untuk lebih dahulu mencapai pintu keluar. Zulaikha dan Yusuf sama-sama bergerak dan berlari karena dorongan hati dan cinta mereka; yang satu lari turun menuju binatang, yang lain lari naik menuju Allah, Dan dari setiap sesuatu Kami ciptakan dua pasangan agar kalian sadar. Maka berlarilah kepada Allah (QS. Al-Dzariyat [51]: 49-50).

Karena melahirkan gairah dan gerak, maka dalam cinta ada tujuan, ada yang dikejar. Dalam Alquran, tujuan itu dilambangkan dengan “pintu”. Pecinta akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya; tidak lagi peduli apa pun yang merintangi cintanya kecuali dia  menerjangnya. Dalam cinta, tidak ada basa-basi, tidak ada awar-menawar, tidak akan menunda-nunda. Setiap manusia waras tidak akan mendahulukan orang lain merebut tujuan cintanya. Dia akan berlari, mengejar dalam perlombaan untuk lebih dahulu meraih tujuan.

Baca Juga :  Hasil Penelitian di Amerika: Banyak Baca Alquran Tingkatkan Imunitas Tubuh

Yusuf dan Zulaikha berlomba dan beradu cepat hingga istri kepala keamanan negara itu menarik baju ajudannya sampai terkoyak. Adegan ini menunjukkan hukum keenam cinta bahwa “cinta itu buta”. Bila mata sang ayah, Ya’qub, buta lantaran cinta buta dan rindu sepenuh mati pada Yusuf dengan segenap kesabaran jiwa, kini Yusuf juga dengan cinta buta melihat burhān ‘bukti’ dan petunjuk Tuhan sedemikian nyata dan kuatnya hingga membutakan mata hatinya, memalingkan pandangannya dari yang lain dan tertuju hanya pada Tuhan. Dampaknya, cinta tuhani telah membuat nabi agung ini maksum dan kemuliaan dirinya terjaga utuh, Demikianlah Kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian.

Ini sebaliknya dari keadaan Zulaikha. Oleh cinta binatang, dia justru dibutakan hingga pikiran dan hatinya tersesat. Perkalian cinta binatang dan pikiran sebulus apa pun hanya menghasilkan tipu muslihat. Di situlah cinta hewani membuat seseorang terperosok jatuh ke tingkat cinta setani.

Sedemikian gelap cinta buta seseorang hingga membutakan kewarasan akal pikiran dan kesadaran hati nurani dari mempertimbangkan resiko serta akibat dari caranya bersemangat dan berlomba merealisasikan cinta. Dia tidak lagi peduli dengan kalkulasi untung-rugi diri sendiri, bahkan bila perlu akan merugikan serta mencelakakan orang lain, termasuk orang yang dicintainya.

Mereka berdua berlomba mencapai pintu hingga perempuan itu menarik bajunya (Yusuf) dari belakang hingga terkoyak, dan keduanya mendapati suami perempuan itu di depan pintu. Dia (perempuan itu) pun berkata, ‘Apakah hukuman bagi orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu selain dipenjarakan atau siksaan yang pedih?!’” (QS. Yusuf [12]: 25).

Cinta buta, bila di level binatang, akan tidak jauh berbeda dari dua singa jantan yang memperebutkan seekor pasangan hingga berkelahi sampai saling meniadakan nyawa lawannya. Tetapi pada manusia, bukan hanya lawan dapat dikorbankan dan dimatikan, bahkan cinta buta seseorang dapat membuatnya merencanakan kematian orang yang dicintainya.

Baca Juga :  Mengenal Tafsir Sufistik-Filosofis Surat Al-Fatihah, Karya Mulla Sadra (2): Isti’adzah, Analisis Aklani (1)

Artinya, cinta birahi sudah anjlok menjadi cinta setani yang tidak hanya menganiaya diri sendiri, tetapi juga berpikir dan membuat perencanaan-perencanaan jahat bagaimana menganiaya orang yang dicintainya serta mempersiapkan argumen-argumen atas aksi penganiyaaannya.

Dalam ayat di atas, skenario gagal Zulaikha di dalam ruangan tertutup membuat cintanya pada Yusuf menjadi buta hingga melakukan pembunuhan terhadap Yusuf sendiri. Ya, begitulah dampak cinta setani Zulaikha telah membuatnya lantas merancang skenario lebih kejam lagi, yaitu membunuh Yusuf dengan cara keji, dengan kebohongan dan fitnah hingga seolah-olah dialah korban dan menuduh Yusuf sebagai pelaku tindak kekerasan seksual, Apakah hukuman bagi orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu selain dipenjarakan atau siksaan yang pedih?!

Tidak keliru bila publik beropini, “fitnah lebih kejam dari pembunuhan”, karena fitnah adalah membiarkan orang tetap hidup dengan menghinakan dan membuatnya kehilangan harkat-martabat, hidup ternista dan wajah tercoreng. Pembunuhan karakter lebih kejam dari membunuh nyawa. Pemfitnah dan perancang skenario keji adalah manusia berhati setan. Orang seperti Zulaikha ini akan melakukan kekejaman setaninya dengan “maling teriak maling”; mulai dari playing victim, muncul atau diopinikan sebagai pihak teraniaya, menuduh lawan sampai aktif mengancam, lalu mengadukan dan menuntut lawan, Apakah hukuman bagi orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu selain dipenjarakan atau siksaan yang pedih?!.

Alhasil, peristiwa kekerasan seksual Zulaikha terhadap Yusuf sangat personal dan subjektif; tidak ada yang mengetahuinya kecuali mereka berdua. Tidak ada juga alat bantu yang dapat mengungkap fakta kejadian. Sebagai korban, Yusuf tidak dapat sekedar mengandalkan bisikan rahasia dan pertolongan gaib Tuhan untuk menyakinkan publik yang diwakili oleh suami Zulaikha. Lantas, apa yang dapat dilakukan Yusuf dan bagaimana ia membela dirinya?

Bersambung ke: “Balada Cinta Istri Kepala Keamanan Raja dan Ajudan Tampan dalam Alquran (4): Tidak Ada Kebohongan Sempurna”

 

Share Page

Close